Bisnis.com, JAKARTA — Ancaman kekeringan panjang akibat fenomena El Niño pada 2026 berpotensi memicu lonjakan serangan hama tanaman yang dapat memperburuk risiko gagal panen di sentra produksi padi nasional.
Tekanan ini tidak hanya berdampak pada penurunan produksi pangan, tetapi juga meningkatkan kerentanan terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama penggerek batang padi dan wereng coklat.
Profesor Fakultas Pertanian IPB Hermanu Triwidodo menjelaskan bahwa pola El Niño umumnya diikuti peningkatan intensitas serangan hama, yang bisa menjadi lebih parah jika tidak diantisipasi sejak awal musim tanam.
“El Niño biasanya diikuti oleh OPT, dengan kecenderungan penggerek batang, dan serangannya biasanya parah. Jika tindakan pencegahan tidak dilakukan sejak musim tanam, dampaknya bisa meluas,” jelasnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (19/4/2026).
Fenomena yang kerap disebut sebagai “El Niño Godzilla” diproyeksikan berlangsung pada April hingga Oktober 2026, dengan potensi kekeringan berkepanjangan di berbagai wilayah produksi utama.
Menurutnya, strategi pengendalian hama terpadu perlu difokuskan pada langkah preventif sejak fase awal pertumbuhan tanaman, yang dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan penanganan saat wabah sudah meluas.
Salah satu metode yang direkomendasikan adalah pengumpulan kelompok telur penggerek batang pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Cara ini dinilai sederhana dan dapat diterapkan petani tanpa membutuhkan teknologi mahal.
“Alatnya sederhana, bisa menggunakan botol plastik terbalik. Ini langkah praktis untuk mencegah wabah sejak dini,” katanya.
Dari sisi ekonomi, pencegahan dini juga dinilai mampu menekan potensi kerugian secara signifikan.
Dia menjelaskan, satu kelompok telur yang berisi sekitar 50 butir dapat merusak hingga 300 malai padi atau setara 1,2 kilogram gabah kering panen. Dengan asumsi harga Rp6.500 per kilogram, potensi kerugian mencapai sekitar Rp8.125 per kelompok telur.
Selain penggerek batang, ancaman lebih besar berasal dari wereng coklat yang dapat menyebabkan gagal panen dalam waktu singkat, sekaligus berperan sebagai vektor penyakit virus yang membuat tanaman tidak produktif.
Hermanu menekankan pentingnya pendekatan partisipatif dalam pengendalian hama, termasuk melibatkan masyarakat dan mahasiswa melalui program pengumpulan telur dengan skema insentif.
“Selain membantu petani, ini juga bisa menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap pertanian,” ujarnya.
Menurutnya, langkah pengendalian sejak dini tidak hanya menjaga produktivitas, tetapi juga membantu mempertahankan keseimbangan ekosistem sawah serta mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan insektisida.