Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia melaporkan Utang Luar Negeri Indonesia mencapai US$423,9 miliar per akhir Oktober 2025 atau sekitar Rp7.059 triliun (asumsi kurs JISDOR 13 Desember 2025 sebesar Rp16.652 per dolar AS).
Dibandingkan bulan sebelumnya atau September 2025 sebesar US$425,6 miliar, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia itu turun 0,4%. Sementara secara tahunan (year on year/YoY), posisi utang eksternal itu meningkat 0,3%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso menjelaskan ULN terbagi ke utang pemerintah dan swasta. Perinciannya, ULN pemerintah tercatat sebesar US$210,5 miliar atau tumbuh 4,7 YoY.
"Perkembangan ULN [pemerintah] tersebut dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara [SBN] internasional," jelas Denny dalam keterangannya, Senin (15/12/2025).
Dia menyebut ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas yang mendorong keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional.
Berdasarkan sektornya, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,2% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (19,6%); Jasa Pendidikan (16,4%); Konstruksi (11,7%); hingga Transportasi dan Pergudangan (8,6%).
"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN pemerintah," paparnya.
Swasta Tahan Ekspansi Utang Luar Negeri
Meski ULN pemerintah meningkat, ULN swasta justru terus menurun dari US$192,5 miliar pada September 2025 menjadi sebesar US$190,7 miliar per akhir Oktober 2025.
Perkembangan itu melanjutkan tren penurunan ULN swasta pada bulan sebelumnya: dari US$194,2 miliar pada Agustus 2025 menjadi US$192,5 miliar per September 2025
"Secara tahunan, ULN swasta [juga] mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,9%," ungkap Denny.
Perinciannya, kontraksi pertumbuhan terjadi kepada ULN lembaga keuangan atau financial corporations yakni 4,7% YoY. Sementara itu, ULN bukan lembaga keuangan atau nonfinancial corporations terkontraksi 1,2% YoY.
Berdasarkan sektor ekonomi, pangsa ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,9% terhadap total ULN swasta.
Sejalan dengan itu, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) turun menjadi 29,3% per akhir Oktober 2025, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 29,5%. Dominasi ULN jangka panjang juga sebesar 86,2% terhadap total ULN, sedikit meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 86,1%.
"Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tutup Denny.