Bisnis.com, JAKARTA - Diet Mediterania merupakan diet yang berasal dari pola makan tradisional penduduk di wilayah pesisir Laut Mediterania. Diet ini belakangan populer karena dinilai efektif menurunkan berat badan sekaligus diklaim mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
Dokter Spesialis Gizi, Febe Christianto, mengatakan menerapkan diet mediterania sebenarnya bukan hal yang sulit di Indonesia. Meski beberapa makanan akan lebih sulit dicari, item tersebut masih bisa diganti dengan sumber lain yang lebih mudah ditemui di dalam negeri.
Dokter Febe menjelaskan bahwa prinsip utama pola makan sehat ini adalah memperbanyak konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta polong-polongan. Sumber lemak utama dalam diet ini berasal dari minyak zaitun, dengan konsumsi ikan dan seafood secara rutin. Adapun daging merah sebaiknya dibatasi.
Dia menambahkan, produk susu seperti yogurt dan keju masih boleh dikonsumsi dalam jumlah sedang. Sebaliknya, makanan olahan, gula rafinasi, dan lemak jenuh perlu dibatasi. Menurutnya, pola makan ini dinilai tepat untuk diterapkan sebagai gaya hidup berkelanjutan karena menekankan konsumsi makanan alami, segar, dan minim proses.
Tak hanya penurunan berat badan. Dokter Febe menyebut kombinasi konsumsi sayur dan buah, biji-bijian utuh, serta lemak sehat memang dapat memberikan efek protektif terhadap risiko stroke. Lemak sehat seperti minyak zaitun dan ikan berlemak mengandung lemak tak jenuh serta omega-3 juga berperan membantu menurunkan kadar kolesterol LDL sekaligus meredakan peradangan.
Selain itu, kandungan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan dari buah serta sayuran turut mendukung kesehatan pembuluh darah. Namun, perlu diketahui bahwa manfaat tersebut tidak berasal dari satu jenis makanan saja, melainkan dari perpaduan pola makan yang utuh, seimbang, dan berkelanjutan.
"Secara umum banyak orang bisa mencoba prinsip diet Mediterania, namun perlu disesuaikan untuk orang dengan kondisi medis tertentu, seperti penyakit ginjal, alergi kacang/seafood, atau kebutuhan khusus, sehingga sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis gizi klinik," katanya.
Meski demikian, dokter Febe menyebut banyak panduan diet Mediterania menggunakan bahan pangan yang tidak selalu mudah ditemukan di Indonesia. Namun, pola makan ini tetap dapat diterapkan dengan menyesuaikannya pada kearifan lokal dan bahan yang tersedia di dalam negeri.
Sebagai contoh, gandum utuh bisa diganti dengan beras merah, sorgum, atau gandum lokal. Sumber protein dari ikan laut dapat disubstitusi dengan ikan lokal kaya omega-3 seperti makarel dan tuna, sementara kacang-kacangan dapat diperoleh dari kacang tanah, kacang hijau, serta olahan kedelai seperti tempe dan tahu.
Untuk sayur dan buah, masyarakat dapat mengonsumsi produk segar sesuai musim, seperti bayam, kangkung, pepaya, jambu, dan mangga. Pada akhirnya, yang terpenting adalah mengganti makanan olahan tinggi gula dan lemak jenuh dengan bahan pangan utuh yang lebih sehat.