Bisnis.com, JAKARTA - Setelah lama dikenal melalui bisnis rokok, perbankan, elektronik, hingga infrastruktur digital, kini Grup Djarum milik keluarga Hartono mulai membangun pijakan baru ke sektor industri peternakan sapi perah di Brebes, Jawa Tengah dengan prospek permintaan yang cenderung stabil.
Melalui PT Global Dairi Alami dan PT Global Dairi Bersama, Grup Djarum menargetkan memiliki hingga 36.000 ekor sapi perah dalam beberapa tahun ke depan.
CEO Savoria Group Ihsan Mulia Putri mengatakan bisnis susu ini adalah bagian dari pilar Fast Moving Consumer Good atau FMCG Djarum Group dalam naungan Savoria Group.
Bisnis Savoria Group mencakup bisnis kopi melalui merek Kopi Tubruk Gadjah dan Caffino, bisnis confectionery melalui permen FOX’S, bisnis pastry melalui merek 5Days, minuman isotonik HydroPlus, serta minuman berbasis teh Sariwangi.
Investasi tersebut disebut menjadi bagian dari dukungan terhadap program prioritas pemerintah dalam percepatan produksi susu dan daging nasional, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dalam negeri.
“Jika proyek sudah beroperasi penuh, kapasitas produksi susu yang dihasilkan diperkirakan dapat menyumbang sekitar 18% terhadap target produksi susu segar nasional,” terangnya, Selasa (13/5/2026).
Wilayah Brebes, Jawa Tengah, dipilih sebagai pusat pengembangan bisnis susu karena dinilai memiliki posisi strategis, dekat dengan sentra produksi jagung sebagai sumber utama pakan ternak, sekaligus memiliki akses yang relatif dekat ke pasar susu segar terbesar di kawasan Jabodetabek.
Bukan Ekspansi Biasa
Langkah ini dinilai bukan sekadar ekspansi biasa dan menjadi sinyal kuat perubahan arah diversifikasi usaha kelompok bisnis tersebut menuju sektor yang lebih defensif dan berorientasi jangka panjang, khususnya pangan dan agrikultur.
Head of research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia mengatakan masuknya Grup Djarum ke industri dairy mencerminkan strategi bisnis yang masih sejalan dengan karakter utama grup, yakni masuk ke sektor dengan pasar besar, arus kas berulang atau recurring income, serta memiliki peluang integrasi dari hulu hingga hilir.
“Ini bukan sekadar ‘bisnis iseng’, karena pola ekspansinya masih cukup selaras dengan DNA bisnis lama grup yakni masuk ke industri dengan demand besar, recurring, cashflow kuat, dan mampu dibangun secara terintegrasi dari hulu hingga hilir,” ujarnya, Selasa (13/5/2026).
Langkah ini juga bisa dibaca sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap industri rokok yang menghadapi tekanan struktural dari kenaikan cukai dan perubahan pola konsumsi.
Dengan dukungan modal besar dan jaringan bisnis yang luas, proyek tersebut berpotensi berkembang menjadi ekosistem bisnis pangan terintegrasi. Tidak hanya berhenti di peternakan, peluang ekspansi dapat merambah pengolahan makanan dan minuman berbasis susu, produk konsumen harian, hingga integrasi pembiayaan dan distribusi melalui PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).
Dia menilai kekuatan Grup Djarum terletak pada kemampuan membangun bisnis jangka panjang berbasis efisiensi dan integrasi operasional. Pendekatan tersebut dapat menjadi keunggulan kompetitif di industri dairy yang selama ini dikenal memiliki margin tipis dan kebutuhan investasi awal yang besar.
Meski prospeknya menarik, tantangan industri susu juga tidak ringan. Bisnis dairy sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pakan ternak, produktivitas sapi, serta kebijakan impor susu yang dapat memengaruhi harga pasar domestik.
Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah menilai ekspansi ini berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru yang kuat di tengah tekanan berkepanjangan pada industri rokok nasional.
Dia menilai karakter bisnis susu yang berbasis kebutuhan primer membuat sektor ini lebih defensif dibanding industri rokok yang saat ini menghadapi tekanan struktural dari kenaikan cukai hingga perubahan pola konsumsi masyarakat.
“Karakteristik bisnis yang defensif dan berbasis kebutuhan primer menjadikan lini ini sebagai pilar pertumbuhan baru yang stabil dalam jangka panjang,” katanya.
Selama ini, paparnya, konsumsi susu masyarakat terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah, sementara kapasitas produksi dalam negeri belum mampu mengejar permintaan pasar.
Hari melihat Grup Djarum memiliki keunggulan besar dari sisi integrasi ekosistem bisnis. Jaringan distribusi grup dinilai dapat dimanfaatkan sebagai jalur pemasaran produk susu, sementara infrastruktur digital yang dimiliki GDP Venture berpotensi memperkuat efisiensi rantai pasok. Tak hanya itu, dukungan kekuatan permodalan dari BBCA mampu memberikan akses pembiayaan yang kompetitif untuk mempercepat pengembangan bisnis.
Meski prospeknya besar, Hari mengingatkan terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi Grup Djarum dalam mengembangkan bisnis susu skala besar.
Salah satu tantangan utama adalah periode pengembalian investasi atau payback period yang relatif panjang. Selain itu, industri peternakan sapi perah juga sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pakan yang banyak dipengaruhi nilai tukar rupiah.
“Tantangan lainnya adalah risiko kebijakan impor susu serta kompleksitas membangun jaringan distribusi nasional yang efisien,” katanya.
Menurutnya dengan kapasitas produksi yang dapat mencapai ratusan ribu ton per tahun, Grup Djarum berpeluang menjadi pemain dominan di pasar susu segar domestik.
“Jika dieksekusi dengan baik, grup berpotensi membangun model industri susu terintegrasi dari hulu ke hilir yang sulit ditandingi kompetitor,” ujar Hari.
Namun demikian keberhasilan ekspansi ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan Grup Djarum membangun rantai industri susu yang efisien dan terintegrasi secara menyeluruh, mulai dari peternakan, pengolahan, distribusi, hingga penguatan pasar konsumsi. Bukan sekadar memiliki peternakan skala besar saja.