Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) memproyeksikan industri kosmetik nasional terus tumbuh pada 2026 seiring meningkatnya permintaan pasar domestik, dengan nilai yang diperkirakan menembus Rp158 triliun tahun ini.
Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyebutkan pada 2025 nilai industri kosmetik tercatat sekitar Rp138 triliun. Angka itu meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp110 triliun.
“Kalau dibanding tahun sebelumnya, itu naik sekitar 4 sampai 4,7 persen. Tahun 2026 ini kita prediksi bisa mencapai Rp158 triliun,” ujarnya dalam konferensi pers Nosé Innovation Day , Jakarta Utara, Senin (23/2/2026).
Taruna menegaskan pertumbuhan tersebut harus dibarengi pengawasan yang ketat. Menurut dia, peningkatan nilai industri tidak boleh mengorbankan aspek keamanan, khasiat, dan kualitas produk.
“Konsep peningkatan ini harus dibarengi dengan kontrol keamanan, kontrol efikasi atau khasiat yang baik, dan kontrol kualitas. Badan POM tidak main-main, kami akan turun langsung,” katanya.
Kepala BPOM tersebut juga ingin memastikan industri kosmetik nasional mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus berdaya saing di pasar global. Karena itu, tindakan tegas terhadap pelanggaran tetap dilakukan.
Dia mencontohkan, dari hasil pengawasan sebelumnya terdapat 41 produk yang ditindak dan 16 di antaranya dicabut izin edarnya. Langkah tersebut diambil untuk melindungi produk legal yang telah memenuhi standar agar tidak dirugikan oleh praktik yang tidak bertanggung jawab.
“Kita tidak ingin produk yang sudah sesuai kualitas dan aturan hancur nama baiknya karena ulah pihak yang tidak bertanggung jawab. Itu sebabnya BPOM punya komitmen bertindak tegas,” ujarnya.
Di sisi lain, Taruna juga menjelaskan potensi besar bahan alam Indonesia dalam industri kosmetik dan obat tradisional. Berdasarkan data, Indonesia memiliki sekitar 31 ribu spesies tanaman yang berpotensi dikembangkan.
Saat ini terdapat lebih dari 20 ribu nomor izin edar untuk produk berbasis herbal, baik untuk pemakaian luar maupun konsumsi. Namun, jumlah produk yang benar-benar berbasis riset ilmiah masih sangat terbatas.
“Yang sudah berbasis riset dan penelitian itu baru sekitar 71 sampai 90-an produk. Artinya masih kurang dari satu persen dari total 20 ribu lebih izin edar,” katanya.
Menurut dia, selama ini banyak produk herbal digunakan secara turun-temurun sehingga dianggap aman berdasarkan pengalaman panjang masyarakat. Namun untuk naik kelas menjadi obat herbal terstandar, diperlukan riset, termasuk uji praklinis hingga uji klinis.
Karena itu, BPOM mendukung pendirian pusat inovasi seperti innovation center yang diharapkan mampu mempercepat pengembangan produk berbasis riset. Ke depan, porsi produk yang melalui proses ilmiah ditargetkan meningkat secara bertahap.
“Mudah-mudahan suatu saat bisa 10 persen, bahkan 20 persen. Kalau ini bergerak, efeknya seperti bola salju, akan berkembang dan menginspirasi industri lain untuk berbasis riset,” tutupnya.
Sementara itu, PT Nosé Herbal Indo berkomitmen dalam mendorong kemajuan industri kosmetik dan wellness nasional.
Vice-CEO PT Nosé Herbal Indo, Sri Rahayu Widya Ningrum mengatakan industri kosmetik dan wellness nasional saat ini terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dan membutuhkan dukungan inovasi yang berkelanjutan, kolaborasi multipihak, serta kepatuhan terhadap regulasi yang kuat.
Dia mengatakan sebagai perusahaan manufaktur kosmetik lokal, pihaknya berkomitmen menghadirkan inovasi berbasis riset, teknologi, dan prinsip keberlanjutan guna mendukung perkembangan industri kecantikan nasional.
"Selama lebih dari enam tahun terakhir, Nosé secara konsisten menjalin kolaborasi dengan berbagai universitas dan instansi pemerintah dalam riset ilmiah untuk mendukung pengembangan kosmetik unggulan berbasis ingredient lokal Indonesia. Penyelenggaraan Nosé Innovation Day juga menjadi momentum penting pasca diraihnya penghargaan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kepada PT Nosé Herbal Indo sebagai perusahaan yang telah berdiri selama satu dekade dan berperan aktif sebagai kolaborator Academic, Business, and Government (ABG)," ujarnya.
Pihaknya berharap kegiatan Nose Innovation Day menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam membangun ekosistem industri yang inovatif, patuh regulasi, dan berdaya saing.
Melalui kegiatan ini, PT Nosé Herbal Indo secara resmi memperkenalkan Nosé Innovation Center sebagai pusat kolaborasi ABG sekaligus simbol komitmen perusahaan dalam menghadirkan keunggulan 100% Local OEM yang berbasis inovasi dan kepatuhan regulasi. Peresmian fasilitas ini dilakukan oleh Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., selaku Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.
Ke depan, dia juga berharap bisa menjadi katalis dalam memperkuat kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, serta brand owner. Inisiatif ini diharapkan mampu mendorong terciptanya industri kosmetik dan wellness nasional yang semakin kompetitif, berbasis inovasi lokal, serta memiliki kredibilitas tinggi dalam penerapan standar mutu dan regulasi.