Bisnis.com, JAKARTA — Dampak kenaikan harga bahan baku plastik mulai menjalar ke komoditas minyak goreng kemasan premium. Lonjakan biaya kemasan membuat harga di tingkat ritel perlahan terkerek, meski pemerintah memastikan pasokan tetap aman.
Berdasarkan penelusuranBisnisdi sejumlah ritel modern kawasan Parung Panjang, Jawa Barat, pada Selasa (21/4/2026), harga minyak goreng premium ukuran 2 liter berada di kisaran Rp42.900–Rp47.000. Sementara itu, kemasan 1 liter dijual sekitar Rp21.600–Rp23.100, dan ukuran 1,8 liter sekitar Rp40.500.
Produk yang tersedia antara lain Sovia, Sunco, Tropical, Fortune, hingga Filma. Adapun, minyak goreng berbahan kelapa seperti Barco dijual jauh lebih tinggi, mencapai Rp59.900 per liter.
Merujuk pada laman resmi Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP Kemendag), harga minyak goreng sawit kemasan premium menunjukkan tren kenaikan dalam sebulan terakhir. Pada Selasa (21/4/2026), harga tercatat mencapai Rp21.796 per liter, naik tipis 0,19% dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di level Rp21.755 per liter.
Kenaikan serupa juga terjadi pada minyak goreng sawit curah, meski sangat terbatas, yakni sebesar 0,03% dari Rp19.467 per liter pada Senin (20/4/2026) menjadi Rp19.473 per liter pada Selasa (21/4/2026). Sebaliknya, harga Minyakita justru mengalami penurunan sebesar 0,24%, dari Rp15.980 per liter menjadi Rp15.942 per liter pada periode yang sama.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan bahwa kenaikan harga minyak goreng premium bukan disebabkan kelangkaan pasokan, melainkan dampak dari sisi hulu, khususnya bahan kemasan plastik.
“Kalau minyak goreng premium itu terutama memang yang daerah kayak Papua itu karena kan memang distribusinya. Nah tadi kami sudah komunikasi dengan para produsen, yang pada prinsipnya stok barang ada, nggak ada masalah. Jadi ketersediaan pasokan ada. Memang salah satu imbas kenaikan itu karena harga plastik,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Untuk itu, Budi menyampaikan pemerintah tengah menyelesaikan permasalahan terkait merangkaknya harga plastik yang merembet ke komoditas pangan, termasuk minyak goreng.
“Salah satu faktornya karena kemasan, kan rata-rata kemasan dari plastik semua. Nah sekarang ya dari hulunya. Kalau kesediaan minyaknya nggak ada masalah, tetapi kan tadi faktor dari plastiknya. Makanya plastik yang harus kita selesaikan,” ujarnya.
Adapun, Budi mengatakan pemerintah melalui Kemendag telah berkomunikasi langsung dengan industri plastik guna memastikan keberlanjutan produksi di tengah tekanan pasokan bahan baku.
Namun, dia memastikan produksi plastik pada prinsipnya tetap berjalan. Hal ini didukung oleh upaya impor bahan baku yang terus dioptimalkan agar kebutuhan tetap terpenuhi, sehingga diharapkan persoalan yang terjadi dapat segera terselesaikan.
Di sisi lain, Kemendag juga tengah mempercepat pasokan bahan baku nafta impor dari pasar alternatif Afrika, India, dan Amerika Serikat (AS) agar produksi plastik dalam negeri kembali normal.
Budi menyebut pasokan nafta impor dari tiga negara tersebut saat ini tengah dalam proses pengiriman dan dipastikan segera tiba di dalam negeri. Meski belum merinci jadwal kedatangannya, dia menegaskan tidak ada kendala berarti dalam proses tersebut.
Lebih lanjut, Kemendag juga akan kembali memastikan waktu kedatangan dengan berkoordinasi langsung kepada produsen yang melakukan impor bahan baku tersebut.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag Nawandaru Dwi Putra sebelumnya mengatakan tren harga minyak goreng kemasan premium terkerek. Hal ini sejalan dengan kenaikan harga biji plastik yang menjadi bahan utama kemasan, sehingga berdampak langsung terhadap biaya produksi.
“Yang warna oren ini adalah kemasan minyak goreng kemasan premium. Sedikit terkontraksi dengan adanya isu kenaikan bahan baku biji plastik, di mana ini kemungkinan besar memengaruhi harga komoditas minyak goreng premium, yang dengan kemasannya juga sangat berkualitas,” kata Nawandaru dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah, Senin (20/4/2026).
Namun, Nawandaru menjelaskan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi pada minyak goreng, melainkan juga berpotensi memengaruhi berbagai komoditas lain yang menggunakan kemasan plastik.
“Ini tidak hanya terjadi di komoditas minyak goreng, untuk komoditas-komoditas lainnya yang dikemas dengan plastik, ini juga akan mengalami kontraksi,” ujarnya.
Di sisi lain, harga Minyakita secara rata-rata nasional menunjukkan tren stabil bahkan cenderung menurun dalam setahun terakhir. Secara tahunan, harga rerata Minyakita turun 7,18% namun naik 0,66% dibandingkan bulan lalu. Per 17 April 2026, harga rata-rata Minyakita dibanderol Rp15.982 per liter.
Lebih lanjut, dia menepis isu kelangkaan minyak goreng yang beredar di masyarakat yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Kemendag menyebut ketersediaan minyak goreng, baik premium maupun merek lain, masih dalam kondisi aman dan mencukupi di berbagai kanal distribusi, mulai dari ritel modern hingga pasar rakyat.
Namun, Nawandaru mengakui sempat terjadi penurunan pasokan ke pasar rakyat dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut, menurutnya, lebih disebabkan oleh penyesuaian dari sisi pelaku usaha akibat kenaikan biaya bahan baku kemasan.
“Memang dalam kurun satu minggu, memang terinformasi bahwa ada sedikit penurunan, sedikit penurunan bukan kelangkaan, sedikit penurunan pasokan ke pasar rakyat. Mungkin salah satunya adalah kontraksi dari pengaruh kenaikan harga bahan biji plastik,” jelasnya.
Selain faktor biaya kemasan, penyaluran Minyakita juga dipengaruhi oleh prioritas distribusi untuk mendukung program pemerintah lainnya. Meski demikian, Kemendag menekankan agar pasokan untuk pasar rakyat tetap menjadi prioritas utama guna menjaga stabilitas harga.
Secara kumulatif, realisasi Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng tercatat mencapai 455.739 ton dalam periode 26 Desember 2025—17 April 2026.
Penyaluran ke distributor lini 1 (D1) didominasi oleh BUMN pangan dengan volume 228.198 ton atau sekitar 50,07%, sementara sisanya sebesar 227.541 ton atau 49,93% berasal dari pelaku non-BUMN. Kontribusi terbesar dari kelompok BUMN tersebut disumbang oleh Perum Bulog sebesar 182.690 ton atau 40,09%, diikuti oleh ID Food yang mencatatkan realisasi 45.508 ton atau setara 9,99%.
Kekhawatiran Pelaku Industri
Dari sisi industri, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat M. Sinaga menilai mahalnya kemasan memang menjadi beban utama dalam distribusi minyak goreng kemasan.
Menurut Sahat, sejak lama biaya pengemasan sudah menjadi faktor yang membuat harga minyak goreng lebih tinggi, mulai dari investasi mesin pengemasan hingga distribusi dalam bentuk kemasan kecil.
“Sekarang harga plastik membubung tinggi dan bahkan bukan karena harga, juga kemungkinan produksi barang plastik akan mandek, karena tidak ada sumber bahan baku,” kata Sahat kepadaBisnis, Selasa (21/4/2026).
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Gimni mendorong penerapan kembali alternatif distribusi, antara lain melalui penggunaan dispenser di tingkat pengecer dengan pasokan minyak goreng dalam bentuk curah (bulking), serta membuka kembali penjualan minyak goreng curah.
Menurutnya, skema tersebut tetap dapat diawasi dengan pencatatan distribusi melalui Sistem Informasi Minyak Goreng Curah (Simirah) sehingga penyaluran tetap terkontrol.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengatakan kenaikan harga minyak goreng kemasan premium dari produsen mulai terasa di tingkat ritel, meski belum merata.
“Belakangan ini memang sudah ada, tapi bergerak nggak semuanya. Saya belum monitor, tapi pergerakan sudah ada. Namun, berapa besarnya, saya tidak monitor,” kata Solihin saat dihubungiBisnis.
Dia menegaskan bahwa peritel hanya menyesuaikan harga jual berdasarkan harga beli dari distributor ditambah margin standar. Solihin juga mengungkapkan adanya fenomena kekosongan sementara di rak ritel, yang lebih disebabkan strategi pembelian pelaku usaha dalam menghadapi fluktuasi harga.
“Kami membeli dengan memperkirakan harga jual kita. Jadi kita pilih-pilih yang layaknya konsumen kita masuk, baru kita jual barangnya,” ujarnya.
Di sisi lain, ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai kenaikan harga nafta berdampak signifikan terhadap harga minyak goreng premium karena plastik merupakan komponen utama kemasan.
“Sangat berpengaruh, karena nafta merupakan bahan utama plastik yang menjadi kemasan minyak goreng premium, apalagi kenaikan harga nafta ini terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya logistik dan kenaikan harga CPO,” kata Wija kepadaBisnis.
Dia mengingatkan agar pelaku usaha tidak memanfaatkan situasi untuk menaikkan margin secara berlebihan, di tengah situasi sulit akibat kenaikan biaya, termasuk dari lonjakan harga bahan baku plastik.
Meski begitu, menurutnya, konsumen minyak goreng kemasan premium pada dasarnya bukan kelompok yang sensitif terhadap harga, sehingga kenaikan harga tidak langsung berdampak signifikan terhadap daya beli.
“Tetapi, mengingat kenaikan ini terjadi bersamaan dengan kenaikan harga BBM, LPG, maka sebagain mereka akan melakukan upaya penghematan dengan melakukandown trading, yaitu mengkonsumsi produk minyak dengan kualitas lebih rendah atau dengan sedikit mengurangi konsumsi,” sambungnya.
Lebih lanjut, Wijayanto menilai potensi pergeseran konsumsi ke produk yang lebih terjangkau seperti Minyakita tetap ada, meski tidak akan terjadi secara masif karena perbedaan segmen pasar.
Selain minyak goreng, kenaikan harga bahan baku plastik juga berpotensi memengaruhi berbagai produk consumer goods yang menggunakan plastik sebagai kemasan maupun bahan baku, seperti mainan dan peralatan rumah tangga.
Dia juga mengingatkan risiko inflasi yang lebih luas jika kenaikan harga kemasan plastik terus berlanjut. Untuk itu, dia menilai perlu adanya solusi strategis, antara lain dengan mengurangi penggunaan plastik dan beralih ke alternatif seperti kemasan berbahan kertas atau penggunaan tas yang dapat dipakai ulang.