Bisnis.com, JAKARTA – Lonjakan harga bahan baku plastik kembali menjadi sorotan menyusul peningkatan tajam harga nafta yang berpotensi memicu tekanan inflasi dalam waktu dekat.
Kenaikan ini terjadi di tengah gangguan pasokan global, termasuk dampak ketegangan geopolitik yang mengganggu jalur distribusi energi dan petrokimia.
Berdasarkan data Trading Economics, harga nafta menunjukkan tren kenaikan signifikan sejak akhir Februari 2026. Pada 28 Februari, harga masih berada di level US$588,2 per ton, kemudian naik menjadi US$637,3 pada 2 Maret dan terus menguat ke US$670,3 pada 4 Maret. Tren ini berlanjut hingga menyentuh US$738,2 pada 6 Maret dan US$778,9 pada 9 Maret.
Kenaikan berlanjut lebih agresif memasuki April. Pada 1 April, harga mencapai US$918,1 per ton, lalu melonjak ke US$984,7 pada 2 April dan US$994,9 pada 6 April. Bahkan, harga sempat menembus level psikologis US$1.010,5 per ton pada 7 April—level tertinggi dalam periode pengamatan ini.
Meski sempat mengalami koreksi setelah puncak tersebut, harga nafta masih bertahan di level tinggi. Pada 8 April, harga turun ke US$894,2, kemudian kembali naik ke US$918,4 pada 9 April, sebelum melemah ke US$901,9 pada 10 April dan US$893,1 pada 11 April. Level ini tetap jauh lebih tinggi dibandingkan posisi akhir Februari.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa jika melihat struktur ekonomi Indonesia, kenaikan harga plastik itu memang sering dianggap sebagai second-round effect. Namun, dalam kondisi saat ini, dampaknya bisa jauh lebih signifikan dan cepat menjalar ke inflasi berbasis biaya.
“Plastik itu bukan barang akhir, melainkan input yang digunakan hampir di semua sektor. Jadi ketika harganya naik tajam, efeknya langsung masuk ke struktur biaya industri hilir yang bisa mencapai 30%—50%,” kata Yusuf kepada Bisnis, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, kontribusi kenaikan harga plastik terhadap inflasi dorongan biaya atau cost-push inflation menjadi cukup besar. Sebab, pelaku usaha di banyak sektor menghadapi tekanan biaya secara bersamaan.
Yusuf menilai transmisi paling cepat biasanya terjadi di sektor makanan dan minuman. Apalagi, hampir semua produk makanan dan minuman bergantung pada kemasan plastik, mulai dari air minum dalam kemasan, makanan instan, hingga produk UMKM.
Selain itu, sektor ritel dan logistik juga terdampak karena plastik digunakan dalam distribusi dan pengemasan. Sementara itu, farmasi relatif cepat tertransmisi karena penggunaan blister dan kemasan plastik.
“Karena sifatnya sebagai biaya produksi, dampak awalnya lebih dominan masuk ke inflasi inti [core inflation]. Akan tetapi, karena plastik juga digunakan dalam distribusi pangan, efek lanjutannya bisa merembet ke harga makanan,” tuturnya.