NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia naik lebih dari 3 persen pada akhir perdagangan Selasa (17/3/2026) waktu setempat atau Rabu (18/3/2026) pagi WIB.
Kenaikan itu dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global setelah Iran kembali melancarkan serangan ke Uni Emirat Arab (UEA).
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik 3,21 dollar AS atau 3,2 persen menjadi 103,42 dollar AS per barrel.
Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,71 dollar AS atau 2,9 persen ke level 96,21 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga terjadi di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang kini memasuki pekan ketiga, tanpa tanda-tanda mereda.
Serangan terhadap fasilitas minyak serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz memperkuat kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berdampak besar terhadap harga energi global
Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengatakan risiko eskalasi konflik masih sangat tinggi di kawasan tersebut dan dapat kembali memicu lonjakan harga minyak.
"Risikonya tetap besar, hanya diperlukan satu milisi Iran untuk menembakkan rudal atau menanam ranjau pada kapal tanker yang melintas untuk kembali memicu situasi secara keseluruhan," ujarnya.
Iran dilaporkan kembali menyerang UEA pada Selasa, yang menyebabkan aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Fujairah sempat terhenti sebagian.
Serangan ketiga dalam empat hari tersebut bahkan memicu kebakaran di terminal ekspor.
Pelabuhan Fujairah yang terletak di Teluk Oman, tepat di luar Selat Hormuz, merupakan titik keluar penting bagi pasokan minyak setara sekitar 1 persen permintaan global.
Penutupan efektif Selat Hormuz juga memaksa UEA, produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), memangkas produksinya lebih dari separuh.
Kondisi ini membuat harga minyak acuan Timur Tengah melonjak ke rekor tertinggi dan menjadi yang termahal di dunia akibat berkurangnya pasokan yang tersedia.
Di sisi lain, gangguan pengiriman minyak dinilai akan berlangsung cukup parah meski beberapa kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz.
Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan kapal tanker minyak mulai kembali melintas secara terbatas.
"Kapal tanker minyak mulai perlahan-lahan melintas di Selat Hormuz," katanya.
Namun, bank investasi Cavendish menilai kondisi tersebut belum cukup meredakan kekhawatiran pasar.
"Meskipun hal itu mengurangi kekhawatiran terhadap dampak langsung dari terhentinya pasokan Timur Tengah, para pelaku pasar masih memperkirakan gangguan akan tetap parah," tulisnya.
Sementara itu, Analis Oanda Kelvin Wong memperkirakan harga minyak masih berpotensi naik hingga akhir Maret.
Ia menyebut secara teknikal, harga WTI memiliki level resistensi jangka menengah di 124 dollar AS per barrel.
Adapun untuk menekan lonjakan harga energi, International Energy Agency (IEA) menyarankan negara-negara anggota mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak tambahan, di luar 400 juta barrel yang sebelumnya telah disepakati.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang