#30 tag 24jam
Hati-Hati! Beberapa Hal Sepele Ini Dapat Membatalkan Pahala Puasa Ramadan
Hindari lima hal ini saat puasa Ramadan: berdusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat, agar pahala puasa tidak hilang. [773] url asal
#puasa-ramadan #pahala-puasa #membatalkan-pahala #dosa-besar #menjaga-lisan #menjaga-pandangan #menjaga-perilaku #berbohong-saat-puasa #ghibah-saat-puasa #adu-domba #sumpah-palsu #pandangan-syahwat #pu
(Bisnis.Com - Terbaru) 26/02/26 12:04
v/148030/
Bisnis.com, JAKARTA - Bulan Ramadan selalu dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan ampunan bagi umat Islam. Kehadirannya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, serta membersihkan diri lahir dan batin. Namun, tidak sedikit orang yang merugi di bulan suci ini karena melakukan perbuatan yang menggugurkan pahala puasanya.
Menjalankan puasa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, serta perilaku dari hal-hal yang dilarang. Rasulullah SAW sendiri telah mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga menyebutkan lima perkara yang dapat membatalkan pahala orang yang berpuasa:
خمسٌ يُفطِرن الصّائِم: الغِيبةُ، والنّمِيمةُ، والكذِبُ، والنّظرُ بِالشّهوةِ، واليمِينُ الكاذِبةُ
Artinya: “Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu” (HR Ad-Dailami).
Puasa Ramadan sendiri merupakan perintah wajib bagi umat Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah: 183).
Puasa pada hakikatnya adalah menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang dapat membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat karena Allah SWT. Namun lebih dari itu, puasa juga mengajarkan pengendalian diri dari berbagai perbuatan dosa.
Hal yang harus dihindari karena dapat menggugurkan pahala puasa
1. Berdusta
Berdusta atau berbohong adalah ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam Islam, dusta termasuk dosa besar karena dapat menjadi pintu bagi berbagai kemaksiatan lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan," (H.R. Bukhari).
Artinya, seseorang yang tetap berdusta saat berpuasa, maka puasanya hanya sebatas menahan lapar dan haus tanpa nilai ibadah di sisi Allah SWT.
2. Ghibah
Ghibah berarti membicarakan keburukan orang lain, meskipun apa yang dibicarakan itu benar adanya. Perbuatan ini termasuk perilaku tercela dan diibaratkan dalam Al-Qur’an seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.
Dalam ajaran Islam, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang merusak pahala.
"Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan rafats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, 'Aku sedang puasa, aku sedang puasa'," (H.R. Ibnu Khuzaimah).
Ketika seseorang berghibah saat berpuasa, maka pahala puasanya dapat hilang dan ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata.
3. Adu Domba (Namimah)
Adu domba atau namimah adalah menyebarkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan. Perilaku ini biasanya lahir dari rasa iri, dengki, atau kebencian. Islam dengan tegas melarang perbuatan ini. Rasulullah SAW bersabda:
"Pelaku adu domba tidak akan masuk surga," (H.R. Muslim).
Perbuatan adu domba tidak hanya merusak hubungan antar sesama manusia, tetapi juga menghapus pahala ibadah yang sedang dijalankan.
4. Bersumpah Palsu
Bersumpah palsu berarti mengucapkan sumpah yang tidak sesuai dengan kenyataan, apalagi jika mengatasnamakan Allah SWT. Perbuatan ini termasuk dosa besar dalam Islam. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya [dengan] Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian [pahala] di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak [pula] akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih," (QS. Ali-Imran: 77).
Sumpah palsu dapat menghilangkan keberkahan dan pahala puasa, bahkan mendatangkan ancaman berat di akhirat.
5. Memandang dengan Syahwat
Puasa juga berarti menahan diri dari hawa nafsu atau syahwat. Salah satu pintu masuk syahwat adalah melalui pandangan mata. Karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga pandangan, terutama terhadap lawan jenis yang bukan mahram. Rasulullah SAW bersabda:
"Pandangan merupakan salah satu anak panah iblis," (H.R. Al-Hakim dan Thabrani).
Memandang dengan penuh syahwat dapat merusak kesucian puasa dan menggugurkan pahala ibadah yang sedang dijalankan.
Ramadan adalah bulan untuk melatih ketakwaan dan pengendalian diri. Jangan sampai puasa yang dijalankan seharian penuh hanya berakhir dengan rasa lapar dan dahaga tanpa pahala. Dengan menjaga lisan, hati, dan pandangan, insyaAllah puasa yang dijalankan akan bernilai ibadah sempurna di sisi Allah SWT.
Mari jadikan Ramadan sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, bukan hanya selama satu bulan, tetapi juga pada bulan-bulan setelahnya. Setiap rasa lapar mengingatkan kita pada saudara yang kekurangan, setiap doa yang terucap menjadi penghapus dosa, dan setiap ibadah yang dilakukan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan. Dengan demikian, kita tidak hanya meraih keberkahan Ramadan, tetapi juga keluar darinya sebagai insan yang lebih bersih hati dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Amalan-Amalan di Bulan Ramadan untuk Menyempurnakan Ibadah Puasa
Amalan sunnah di bulan Ramadan meliputi menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, menjaga lisan, membaca Al-Qur'an, sedekah, doa, tarawih, i'tikaf, dan memberi makan berbuka. [998] url asal
#ramadan #ibadah-puasa #amalan-sunnah #menyegerakan-berbuka #mengakhirkan-sahur #menjaga-lisan #membaca-al-quran #memperbanyak-sedekah #memperbanyak-doa #solat-tarawih #i-039-tikaf #malam-lailatul-qad
(Bisnis.Com - Terbaru) 21/01/26 14:50
v/109543/
Bisnis.com, JAKARTA - Bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa dalam Islam. Pada bulan inilah umat Islam diwajibkan menunaikan ibadah puasa bagi mereka yang telah memenuhi syarat.
Selain sebagai bentuk ketaatan, puasa Ramadan juga menjadi sarana penyucian jiwa, peningkatan ketakwaan, serta penghapus dosa-dosa yang telah lalu. Dalam pelaksanaannya, puasa Ramadan tidak hanya berkaitan dengan syarat dan rukun yang menentukan sah atau tidaknya puasa.
Lebih dari itu, terdapat berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan selama berpuasa. Meskipun meninggalkannya tidak membatalkan puasa, amalan-amalan sunnah ini memiliki peran penting dalam menyempurnakan kualitas dan keutamaan ibadah puasa.
Para ulama klasik telah merinci berbagai kesunnahan dalam puasa Ramadan. Salah satunya adalah Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi dalam kitab Fathul Qarib, yang menjelaskan tiga kesunnahan utama dalam puasa. Penjelasan tersebut sebagaimana tertuang dalam ibarah berikut
(وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ) أَحَدُهَا (تَعْجِيْلُ الْفِطْرِ) إِنْ تَحَقَّقَ الصَّائِمُ غُرُوْبَ الشَّمْسِ فَإِنْ شَكَّ فَلَا يُعَجِّلُ الْفِطْرَ وَيُسَنُّ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى تَمْرٍ وَإِلاَّ فَمَاءٍ
(وَ) الثَّانِيْ (تَأْخِيْرُ السَّحُورِ) مَالَمْ يَقَعْ فِيْ شَكٍّ فَلَا يُؤَخِّرُ وَيَحْصُلُ السَّحُوْرُ بِقَلِيْلِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ (وَ) الثَّالِثُ (تَرْكُ الْهَجْرِ) أَيِ الْفُحْشِ (مِنَ الْكَلَامِ) الْفَاحِشِ فَيَصُوْنُ الصَّائِمُ لِسَانَهُ عَنِ الْكَذِبِ وَالْغِيْبَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ كَالشَّتْمِ وَإِنْ شَتَمَهُ أَحَدٌ فَلْيَقُلْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا إِنِّيْ صَائِمٌ إِمَّا بِلِسَانِهِ كَمَا قَالَ النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ أَوْ بِقَلْبِهِ كَمَا نَقَلَهُ الرَّافِعِيِّ عَنِ الْأَئِمَّةِ وَاقْتَصَرَ عَلَيْهِ.
Berdasarkan keterangan tersebut, berikut penjelasan rinci mengenai amalan-amalan sunnah puasa Ramadan.
1. Menyegerakan Berbuka Puasa
Menyegerakan berbuka puasa merupakan salah satu kesunnahan yang sangat dianjurkan, apabila telah diyakini matahari benar-benar terbenam. Jika masih terdapat keraguan, maka tidak diperbolehkan untuk segera berbuka.
Disunnahkan pula berbuka dengan kurma kering, dan apabila tidak tersedia, maka dengan air putih. Anjuran ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا اْلفِطْرَ
Artinya: "Diriwayatkan dari Sahal Ibn Sa’ad, Rasulullah SAW bersabda: “Manusia selamanya dalam kebaikan, selama ia menyegerakan berbuka puasa”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim)
2. Mengakhirkan Sahur
Kesunnahan berikutnya adalah mengakhirkan sahur, selama tidak menimbulkan keraguan terhadap masuknya waktu Subuh (terbitnya fajar). Sahur tidak harus dengan makanan banyak, karena kesunnahan sahur telah diperoleh meskipun hanya dengan sedikit makan atau minum.
Dalam sahur terdapat keberkahan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ اَنَسٍ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَسَحَّرُوا فَاِنَّ فِى السُّحُوْرِ بَرَكَةٌ
Artinya: "Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terkandung berkah”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim)
3. Menjaga Lisan dan Meninggalkan Ucapan Kotor
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan tercela. Oleh karena itu, orang yang berpuasa disunnahkan untuk menjaga lisannya dari perkataan bohong, ghibah, mengumpat, dan ucapan kotor lainnya.
Apabila seseorang mencaci orang yang sedang berpuasa, maka disunnahkan baginya untuk mengatakan:
“إِنِّيْ صَائِمٌ”
Baik diucapkan secara lisan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar, maupun cukup dihadirkan dalam hati, sebagaimana pendapat yang dinukil oleh Imam ar-Rafi’i.
Selain tiga kesunnahan di atas, amalan Sunnah Tambahan Menurut Syekh Zainuddin Al-Malibarii menambahkan beberapa amalan sunnah lain dalam puasa Ramadan, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fathul Mu'in:
وَسُنَّ غُسْلٌ عَنْ نَحْوِ جَنَابَةٍ قَبْلَ الفَجْرِ
وَسُنَّ كَفُّ نَفْسٍ عَنْ طَعَامٍ فِيهِ شُبْهَةٌ
وَشَهْوَةٌ مُبَاحَةٌ، مِنْ مَسْمُوعٍ، وَمُبْصَرٍ، وَمَسِّ طِيبٍ، وَشَمِّهِ
Artinya: "Termasuk kesunnahan dalam puasa adalah mandi dari hadats besar (seperti junub) sebelum fajar agar air tidak sampai ke bagian dalam seperti telinga atau duburnya. Disunnahkan pula menahan diri dari makanan yang syubhat, serta dari berbagai keinginan yang mubah, baik dari apa yang didengar, dilihat, menyentuh wewangian, maupun mencium baunya".
Jika terjadi pertentangan antara makruhnya menyentuh wewangian bagi orang yang berpuasa dan menolak wewangian tersebut, maka menghindari sentuhan lebih utama, karena dapat mengurangi kesempurnaan ibadah.
Amalan-Amalan Sunnah Lain di Bulan Ramadan
Selain kesunnahan yang berkaitan langsung dengan puasa, terdapat pula berbagai amalan sunnah di bulan Ramadan yang sangat dianjurkan, di antaranya:
Berikut versi keterangan yang diperpanjang, lebih mengalir, dan siap dipakai untuk artikel tanpa mengubah inti poinnya:
1.Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Ramadan dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an (syahrul Qur’an), sehingga memperbanyak membaca, memahami, dan mentadabburi Al-Qur’an menjadi amalan utama yang sangat dianjurkan. Di bulan ini, setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an dilipatgandakan pahalanya. Karena itu, banyak umat Islam menargetkan khatam Al-Qur’an satu kali atau lebih selama Ramadan. Selain membaca, memahami makna dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bentuk ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT.
2. Memperbanyak Sedekah
Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadan. Sedekah di bulan suci ini tidak hanya berupa harta, tetapi juga bisa berupa bantuan tenaga, makanan, atau kebaikan lainnya. Sedekah memiliki keutamaan untuk membersihkan harta, menumbuhkan rasa empati, serta membantu meringankan beban sesama. Di bulan Ramadan, pahala sedekah dilipatgandakan, sehingga menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
3. Memperbanyak Doa
Doa orang yang berpuasa, terutama saat menjelang berbuka puasa, termasuk doa yang mustajab. Ramadan adalah waktu yang penuh dengan keberkahan, di mana pintu-pintu rahmat dibuka dan doa-doa lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Selain memohon ampunan dan rahmat, bulan Ramadan juga menjadi waktu yang tepat untuk berdoa bagi keluarga, kerabat, serta umat Islam secara keseluruhan.
4. Solat Tarawih
Solat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang hanya ada di bulan Ramadan dan memiliki keutamaan besar. Solat ini dikerjakan pada malam hari setelah solat Isya dan dapat dilakukan secara berjamaah maupun sendiri. Melaksanakan solat Tarawih dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan menjadi salah satu cara untuk menghidupkan malam-malam Ramadan. Selain mendatangkan pahala, solat Tarawih juga menjadi sarana mempererat kebersamaan umat Islam, terutama saat dilaksanakan berjamaah di masjid.
5. I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir
I’tikaf menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dalam rangka mencari malam Lailatul Qadar. I’tikaf dilakukan dengan berdiam diri di masjid sambil memperbanyak ibadah seperti solat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan doa. Malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga i’tikaf menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk meraih keutamaan tersebut dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
6. Memberi Makan Orang Berbuka
Memberi makan orang yang berbuka puasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala puasanya sedikit pun. Amalan ini mencerminkan kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama. Memberi makan berbuka tidak harus berupa hidangan mewah, tetapi cukup dengan makanan sederhana yang dapat menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Di bulan Ramadan, amalan ini menjadi ladang pahala yang besar sekaligus mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Demikianlah berbagai amalan sunnah yang dapat dilakukan untuk menyempurnakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Dengan menjaga kesunnahan-kesunnahan ini, diharapkan puasa yang dijalankan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai tinggi dan berkualitas di sisi Allah SWT.
Dosa-dosa Wanita karena Lisannya, Cek di Sini Saja!
Dosa-dosa kaum wanita karena lisannya ini penting diketahui. Apa dan bagaimana dosa-dosa karena lisan wanita ini? Simak ulasannya di bawah ini. Dosa-dosa kaum wanita... | Halaman Lengkap [722] url asal
#menjaga-lisan #bahaya-lisan #penyakit-lisan #dosa-dosa-wanita #dosa-karena-lisan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/11/25 11:01
v/54714/
Dosa-dosa kaum wanita karena lisannya ini penting diketahui. Apa dan bagaimana dosa-dosa karena lisanwanita ini? Simak ulasannya di bawah ini.Dalam Islam, Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya telah memberikan arahan agar lisan tidak tergelincir pada dosa . Apalagi untuk kaum wanita, sering diingatkan harus menjaga lisannya.
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”. (HR Muslim).
Mendengar hadis ini, Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Betapa sering hadis ini mengurungkanku untuk berbicara.”
Artinya, seorang yang mengaku beriman harus hati-hati menggunakan lisannya. Sebab menjaga lisan termasuk ajaran Islam yang mulia. Agama ini mengajarkan bagaimana berakhlak kepada Sang Pencipta dan bagaimana berakhlak kepada sesama manusia. Bahkan akhlak yang mulia itu dijadikan sebagai wujud nyata keimanan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ulama mengatakan, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam. Artinya ucapannya adalah ucapan yang baik dan memiliki tujuan yang baik. Terkadang ucapan itu baik, tapi yang diinginkan bukan kebaikan.
Lantas, apa saja ucapan atau lisan yang menjadi dosa dari kaum wanita ini:
1. Adu domba
Adu domba adalah seseorang mengabarkan realita kepada orang ketiga. Tapi tujuannya adalah untuk merusak . Jadi, kalimat yang diucapkan adalah baik, realita, bukan dusta, dan maksud mengatakannya pun baik.Abdullah bin Abbas mengatakan, “Semoga Allah merahmati seseorang yang berbicara lalu ia mendapatkan kebaikan. Atau diam dari ucapan buruk sehingga ia selamat.” Ucapan Ibnu Abbas ini adalah ucapan yang indah. Kalau seseorang harus berbicara, bicaralah dengan sesuatu yang dapat menuai pahala dan memberi kemanfaatan . Kalau tidak demikian, maka lebih baik diam. Itu membuatnya selamat dan orang lain selamat.
Diamnya seseorang agar tidak jatuh pada keburukan, ini adalah keutamaan. Ibnu Mundzir rahimahullah mengatakan, “Kalau sekiranya berucap dalam rangka menaati Allah itu senilai perak, maka diam supaya tidak terjatuh pada kemaksiatan adalah senilai emas.”
Jadi, perintah diam dalam hadis Rasulullah adalah agar lisan tidak terjerumus pada perkataan yang sia-sia atau bahkan perkataan yang buruk.
2. Suka melaknat
Di antara yang harus dihindari adalah melaknat atau saling melaknat. Dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit di bawahnya. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri. Jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika orang itu memang layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (HR. Abu Dawud)
Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu‘anhu, ada seseorang yang melaknat angin karena selendangnya diterbangkan oleh angin tersebut. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Janganlah Engkau melaknatnya, karena sesungguhnya dia diperintah (oleh Allah). Sungguh, orang yang melaknat sesuatu padahal dia tidak pantas mendapatkan laknat, maka laknat tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dari sahabat ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, ada seorang wanita Anshar yang tengah mengendarai unta. Namun, unta yang sedang dikendarainya itu memberontak dengan tiba-tiba. Lalu dengan serta-merta wanita itu melaknat untanya. Ketika Rasulullah mendengar ucapan wanita itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda :
“Turunkanlah beban di atas unta dan lepaskanlah unta tersebut, karena ia telah dilaknat.” Imran berkata, “Sepertinya sekarang saya melihat unta tersebut berjalan di tengah-tengah manusia, tanpa ada seorang pun yang mengganggunya.” (HR. Muslim)
Begitulah Islam menjaga umatnya agar lisannya terhindar berkata buruk atau suka melaknat. Kadang, dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim dengan ringannya tidak membendung lisannya untuk melaknat muslim yang lain.
Allah Ta'ala berfirman :
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS Qaf: 18].
Hisabnya adalah terkait ucapan yang bernilai pahala dan dosa.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)