Bisnis.com, JAKARTA - Bulan Ramadan selalu dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan ampunan bagi umat Islam. Kehadirannya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, serta membersihkan diri lahir dan batin. Namun, tidak sedikit orang yang merugi di bulan suci ini karena melakukan perbuatan yang menggugurkan pahala puasanya.
Menjalankan puasa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, serta perilaku dari hal-hal yang dilarang. Rasulullah SAW sendiri telah mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga menyebutkan lima perkara yang dapat membatalkan pahala orang yang berpuasa:
خمسٌ يُفطِرن الصّائِم: الغِيبةُ، والنّمِيمةُ، والكذِبُ، والنّظرُ بِالشّهوةِ، واليمِينُ الكاذِبةُ
Artinya: “Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu” (HR Ad-Dailami).
Puasa Ramadan sendiri merupakan perintah wajib bagi umat Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah: 183).
Puasa pada hakikatnya adalah menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang dapat membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat karena Allah SWT. Namun lebih dari itu, puasa juga mengajarkan pengendalian diri dari berbagai perbuatan dosa.
Hal yang harus dihindari karena dapat menggugurkan pahala puasa
1. Berdusta
Berdusta atau berbohong adalah ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam Islam, dusta termasuk dosa besar karena dapat menjadi pintu bagi berbagai kemaksiatan lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan," (H.R. Bukhari).
Artinya, seseorang yang tetap berdusta saat berpuasa, maka puasanya hanya sebatas menahan lapar dan haus tanpa nilai ibadah di sisi Allah SWT.
2. Ghibah
Ghibah berarti membicarakan keburukan orang lain, meskipun apa yang dibicarakan itu benar adanya. Perbuatan ini termasuk perilaku tercela dan diibaratkan dalam Al-Qur’an seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.
Dalam ajaran Islam, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang merusak pahala.
"Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan rafats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, 'Aku sedang puasa, aku sedang puasa'," (H.R. Ibnu Khuzaimah).
Ketika seseorang berghibah saat berpuasa, maka pahala puasanya dapat hilang dan ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata.
3. Adu Domba (Namimah)
Adu domba atau namimah adalah menyebarkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan. Perilaku ini biasanya lahir dari rasa iri, dengki, atau kebencian. Islam dengan tegas melarang perbuatan ini. Rasulullah SAW bersabda:
"Pelaku adu domba tidak akan masuk surga," (H.R. Muslim).
Perbuatan adu domba tidak hanya merusak hubungan antar sesama manusia, tetapi juga menghapus pahala ibadah yang sedang dijalankan.
4. Bersumpah Palsu
Bersumpah palsu berarti mengucapkan sumpah yang tidak sesuai dengan kenyataan, apalagi jika mengatasnamakan Allah SWT. Perbuatan ini termasuk dosa besar dalam Islam. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya [dengan] Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian [pahala] di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak [pula] akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih," (QS. Ali-Imran: 77).
Sumpah palsu dapat menghilangkan keberkahan dan pahala puasa, bahkan mendatangkan ancaman berat di akhirat.
5. Memandang dengan Syahwat
Puasa juga berarti menahan diri dari hawa nafsu atau syahwat. Salah satu pintu masuk syahwat adalah melalui pandangan mata. Karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga pandangan, terutama terhadap lawan jenis yang bukan mahram. Rasulullah SAW bersabda:
"Pandangan merupakan salah satu anak panah iblis," (H.R. Al-Hakim dan Thabrani).
Memandang dengan penuh syahwat dapat merusak kesucian puasa dan menggugurkan pahala ibadah yang sedang dijalankan.
Ramadan adalah bulan untuk melatih ketakwaan dan pengendalian diri. Jangan sampai puasa yang dijalankan seharian penuh hanya berakhir dengan rasa lapar dan dahaga tanpa pahala. Dengan menjaga lisan, hati, dan pandangan, insyaAllah puasa yang dijalankan akan bernilai ibadah sempurna di sisi Allah SWT.
Mari jadikan Ramadan sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, bukan hanya selama satu bulan, tetapi juga pada bulan-bulan setelahnya. Setiap rasa lapar mengingatkan kita pada saudara yang kekurangan, setiap doa yang terucap menjadi penghapus dosa, dan setiap ibadah yang dilakukan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan. Dengan demikian, kita tidak hanya meraih keberkahan Ramadan, tetapi juga keluar darinya sebagai insan yang lebih bersih hati dan lebih dekat kepada Allah SWT.