Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bhaktiar mengatakan, mandatori Biosolar B50 yang akan dimulai pada 1 Juli 2026 ... [318] url asal
Pemanfaatan B50 ini bisa menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan bauran energi.
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bhaktiar mengatakan, mandatori Biosolar B50 yang akan dimulai pada 1 Juli 2026 sebagai upaya transisi energi terbarukan, mengingat ke depan energi fosil dipastikan terus berkurang.
"Pemanfaatan B50 ini bisa menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan bauran energi," kata Bisman saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, dengan mandatori Biosolar B50, maka diharapkan dapat mengurangi kebutuhan solar, karena bahan bakar tersebut dicampur dengan 50 persen bahan nabati.
Ia menjelaskan bahwa B50 juga salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan bauran energi yang sebelumnya tergantung pada energi fosil lambat laun mulai berganti menjadi energi baru terbarukan.
Untuk itu, kata Dosen Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (UHAMKA), penerapan Biosolar B50 juga sebagai upaya transisi energi yang dapat diperbaharui lagi.
"Ini untuk menuju transisi energi karena ke depan dipastikan fosil BBM akan terus berkurang, maka harus ditingkatkan menjadi energi terbarukan, dan ini bagus," ujarnya.
Selain itu, penerapan B50 dari sisi aspek keuangan akan bisa mengurangi impor BBM diesel khususnya solar sangat signifikan, sehingga bagus bagi efisiensi negara.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar tahun ini, menyusul mandatori biodiesel 50 persen (B50) per Juli 2026.
“Besok Juli akan kita resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita. Mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (25/6).
Ia menjelaskan bahwa total konsumsi solar di Indonesia saat ini telah mencapai 39 juta kiloliter (kl), dengan mandatori biodiesel 40 persen (B40) yang sudah diterapkan pemerintah.
“Dari 39 juta kiloliter itu kemarin B40, itu 40 persen pakai FAME. FAME itu adalah dari CPO dengan metanol dicampur, jadilah FAME. Kemudian dicampur menjadi solar yang namanya B40,” katanya lagi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai melakukan uji penggunaan bahan bakar B50 pada mesin diesel kereta api, salah satunya di PUK ... [573] url asal
Yogyakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai melakukan uji penggunaan bahan bakar B50 pada mesin diesel kereta api, salah satunya di PUK Lempuyangan, Kota Yogyakarta.
"Yang sektor kereta api ini dilakukan uji dua hal. Di Lempuyangan sampai dengan Jakarta untuk uji genset, seperti yang kita lihat pengisian di genset yang nantinya dilakukan selama 2.400 jam," kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Alistiani Dewi dalam sambutan di PUK Lempuyangan Yogyakarta, Senin.
Dia mengatakan B50 merupakan campuran bahan bakar minyak solar sebesar 50 persen dengan bahan bakar nabati jenis biodiesel sebesar 50 persen. Uji coba juga dilakukan di lokomotif kereta api Surabaya-Jakarta selama enam bulan.
"Jadi nanti terakhir untuk uji penggunaan B50 di perkeretaapian pada Oktober 2026. Jadi kita melaksanakan uji di kondisi yang sesungguhnya untuk kita bisa melihat hasilnya seperti apa," katanya.
Dirjen EBTKE mengatakan, pelaksanaan uji penggunaan B50 sudah dilakukan sejak tahun lalu, sebagai kesiapan penggunaan B50 yang dimulai 1 Juli 2026. Uji jalan untuk real condition sudah dimulai sejak 9 Desember 2025, dan sudah melalui rangkaian uji teknis laboratorium.
"Jadi sejak 9 Desember kita sudah mulai seluruh rangkaian dari uji pelaksanaan di otomotif, di pertambangan, di alat pertanian, di perkapalan, di genset, dan terakhir ini uji di perkeretaapian karena harus nunggu Lebaran selesai. Jadi baru kali ini kita uji untuk yang kereta," katanya.
Dia menjelaskan, program B50 mempunyai sejarah panjang sejak 15 tahun lalu, dan bahan bakar B50 itu hanya ada di Indonesia. Bahkan saat ini di Indonesia, capaiannya sudah nomor satu di dunia.
"Bahkan tidak ada rujukan teknis yang bisa kita akses. Jadi tidak ada contohnya, ini yang membuat kebanggaan kita sendiri. Bahkan, saat ini negara lain buru-buru berbondong-bondong ke negara kita, berkontak bagaimana menjalankan B50, karena benar rujukan, contohnya tidak ada selain di kita," katanya.
Oleh karena itu, kata dia, uji penggunaan B50 ini merupakan langkah yang sangat penting dan harus dilakukan saat ini. Pihaknya berharap pelaksanaan uji penggunaan B50 bisa lancar, dan bisa bersama menyaksikan bagaimana proses penggunaan bahan bakar ini.
"Dan yang perlu diketahui badan usaha saat ini juga meningkatkan spesifikasi dari B50, spesifikasi dari FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang dicampur dengan solar yang disediakan oleh Pertamina Patra Niaga," katanya.
Sementara itu, Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT KAI Heru Kuswanto mengatakan selaku perwakilan direksi PT KAI, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan uji penggunaan B50 pada sektor kereta api.
"Tujuan utama biodiesel B50, campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar adalah untuk memperkuat ketahanan energi nasional, dan mewujudkan energi hijau yang lebih berkelanjutan," katanya.
Dia mengatakan, manfaat strategis dari program B50 di Indonesia adalah untuk mendukung kemandirian energi, pengurangan emisi karbon, ketahanan ekonomi, diversifikasi energi, dan optimalisasi sektor domestik.
PT KAI memberikan dukungan terhadap penerapan B50 melalui uji coba pada kereta Api Bogowonto, dan akan berkolaborasi dengan Kementerian ESDM dan Lemigas untuk mengevaluasi performa mesin lokomotif, dan generator genset saat beban tinggi menggunakan B50 dan B30.
"Hal yang paling penting dipastikan adalah menjaga keselamatan, keamanan, dan evaluasi teknis berkelanjutan untuk menjaga keandalan sarana. Harapannya ini berjalan lancar dan memberikan manfaat optimal bagi industri perkeretapaian dalam mendukung transisi energi nasional, dan transportasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," katanya.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Alistiani Dewi meninjau proses uji penggunaan bahan bakar B50 pada sektor kereta api di PUK Lempuyangan Yogyakarta. Senin (27/4/2026). (ANTARA/Hery Sidik)