PHNOM PENH, KOMPAS.com — Gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM) mulai terasa di Kamboja seiring lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Pemerintah setempat mencatat ratusan depot dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih menghentikan operasional karena keterlambatan distribusi stok baru.
Dikutip dari Khmer Times, Senin (16/3/2026), Kementerian Perdagangan Kamboja menyatakan lebih dari 400 depot dan SPBU masih tutup atau menangguhkan layanan hingga pertengahan Maret 2026.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM).Penutupan ini terjadi setelah sebelumnya sekitar 2.000 dari total 6.300 fasilitas penjualan BBM di negara tersebut menghentikan penjualan dalam beberapa hari terakhir dengan alasan kekurangan pasokan.
Menteri Perdagangan Kamboja Cham Nimul mengatakan hasil inspeksi pemerintah menunjukkan sebagian besar SPBU yang sempat tutup telah kembali beroperasi.
“Setelah kelompok kerja bersama kami melakukan inspeksi dan penilaian terhadap depot dan stasiun bahan bakar tersebut, dengan kerja sama pemiliknya, kami menemukan hanya lebih dari 400 depot dan stasiun bahan bakar yang masih tutup atau menangguhkan operasional karena keterlambatan kedatangan stok baru,” kata dia dalam pernyataan resmi.
Menurut warta The Star, pemerintah Kamboja juga memperingatkan pelaku usaha agar tidak memanfaatkan situasi untuk menahan stok demi menjual BBM dengan harga lebih tinggi di kemudian hari.
Jika ditemukan praktik manipulasi pasokan, otoritas mengancam akan menjatuhkan sanksi berupa denda hingga pencabutan izin usaha.
SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.Lonjakan harga minyak dunia tekan pasar domestik
Gangguan distribusi BBM di Kamboja terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia. Sejak eskalasi konflik di Timur Tengah, harga bensin reguler di negara tersebut meningkat sekitar 35 persen, sementara harga solar melonjak hingga 66 persen.
Pemerintah menetapkan harga bensin reguler sebesar 5.200 riel atau sekitar Rp 22.025 (asumsi kurs Rp 4,24 per riel) per liter untuk periode tertentu pada pertengahan Maret 2026. Pada saat yang sama, harga solar mencapai 6.400 riel atau sekitar Rp 27.108 per liter.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada biaya transportasi dan logistik domestik.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan kerentanan ekonomi Kamboja terhadap gejolak pasar energi global, mengingat negara tersebut sepenuhnya bergantung pada impor produk minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Pemerintah selidiki penutupan ribuan SPBU
Selain gangguan pasokan yang nyata, pemerintah Kamboja juga menyelidiki kemungkinan adanya penahanan stok secara sengaja oleh pelaku usaha.
Juru bicara Kementerian Perdagangan Penn Sovicheat mengatakan sekitar 2.000 SPBU sempat tutup sementara dengan alasan kekurangan BBM.
Otoritas kini menelusuri apakah penutupan tersebut benar-benar disebabkan kehabisan stok atau karena upaya menahan pasokan untuk mendapatkan keuntungan saat harga naik.
“Apakah mereka benar-benar kehabisan persediaan atau menahan bahan bakar untuk dijual nanti ketika harga naik,” ujar Sovicheat, dikutip dari The Star.
Ia menegaskan pelaku usaha yang terbukti memberikan alasan palsu dapat dikenai sanksi administratif hingga pencabutan izin operasional.
Pemerintah Kamboja juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penimbunan BBM di tengah situasi pasar yang tidak stabil.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi kapal tanker.Ketergantungan impor dan gangguan rantai pasok
Kamboja merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang sangat bergantung pada impor minyak.
Seluruh kebutuhan diesel dan sebagian besar produk minyak lainnya dipasok dari luar negeri karena cadangan minyak domestik belum dieksploitasi secara komersial.
Dalam kondisi normal, pengiriman BBM ke Kamboja berasal dari beberapa negara di kawasan, termasuk Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Namun, kenaikan harga minyak global serta potensi gangguan jalur distribusi akibat ketegangan geopolitik meningkatkan risiko keterlambatan pasokan.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana perubahan harga energi internasional dapat dengan cepat berdampak pada pasar domestik negara yang tidak memiliki produksi minyak sendiri.
Keterlambatan distribusi stok baru juga memicu gangguan operasional di tingkat ritel, termasuk penutupan sementara SPBU di berbagai wilayah.
Upaya pemerintah Kamboja menjaga stabilitas pasokan BBM
Untuk meredam dampak krisis, Kementerian Perdagangan bersama instansi terkait membentuk kelompok kerja guna memantau kondisi pasokan BBM di seluruh negeri.
Pemeriksaan dilakukan terhadap depot dan SPBU yang menghentikan operasional guna memastikan penyebab sebenarnya dari gangguan distribusi.
Pemerintah menegaskan, sebagian besar fasilitas penjualan BBM yang sempat tutup telah kembali beroperasi setelah pasokan mulai masuk.
Meski demikian, lebih dari 400 titik distribusi masih menghadapi keterlambatan stok sehingga belum dapat melayani konsumen secara normal.
PIXABAY/ENGIN AKYURT Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM).Di sisi lain, otoritas juga terus mengatur harga BBM secara berkala untuk mengendalikan dampak lonjakan harga minyak global terhadap konsumen.
Penetapan harga dilakukan dalam periode singkat, biasanya setiap beberapa hari, mengikuti perkembangan pasar energi internasional.
Dampak ekonomi yang lebih luas
Gangguan pasokan energi di Kamboja berpotensi memicu tekanan inflasi jika berlangsung berkepanjangan.
Kenaikan harga BBM dapat meningkatkan biaya transportasi, distribusi barang, serta produksi di berbagai sektor ekonomi.
Kondisi ini terjadi ketika pasar global masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan fluktuasi harga komoditas. Dengan ketergantungan tinggi pada impor energi, stabilitas pasokan BBM menjadi faktor penting dalam menjaga aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang