Industri plastik Indonesia tertekan akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku. Pengusaha beralih ke Afrika dan AS, meski waktu pengiriman lebih lama. [893] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Industri petrokimia nasional menghadapi tekanan akibat konflik Timur Tengah yang tak kunjung mereda, sehingga mengganggu rantai pasok. Stok bahan baku menipis, sementara jalur alternatif membutukan durasi waktu pengiriman 3 kali lipat lebih lama.
Penutupan Selat Hormuz pada awal Maret 2026 memaksa para pengusaha plastik dalam negeri untuk berburu Nafta, bahan baku plastik, hingga ke Afrika guna menjaga napas produksi.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran telah memutus rantai pasok konvensional. Selama ini, industri plastik domestik sangat bergantung pada Timur Tengah, dengan porsi mencapai 70% dari total kebutuhan bahan baku.
Pelaku usaha pun mencari pasar alternatif untuk memitigasi meski menanggung risiko waktu tempuh yang jauh lebih lama.
"Saat ini, pasokan Nafta yang selama ini bergantung pada Timur Tengah harus dialihkan ke sumber alternatif seperti Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika Serikat," ujar Fajar kepada Bisnis, Minggu (5/4/2026).
Fajar menjelaskan pengalihan rute pasokan ke luar kawasan Timur Tengah memicu pembengkakan waktu pengiriman (lead time) yang sangat signifikan. Hal ini berpotensi mengganggu ritme produksi di tingkat hilir jika tidak dikelola dengan perencanaan yang presisi.
Berdasarkan kalkulasi Inaplas, jika pengiriman dari Timur Tengah biasanya hanya memakan waktu 10 hingga 15 hari, pasokan dari Afrika atau Amerika Serikat membutuhkan waktu minimal 50 hari untuk sampai ke pelabuhan Indonesia. Selisih waktu lebih dari satu bulan ini menuntut ketahanan stok bahan baku yang lebih kuat di dalam negeri.
"Kita sudah mengantisipasi hal tersebut sampai dengan 50 hari ke depan untuk mendapatkan alternatif pasokan. Bahan baku yang tersisa sekarang harus benar-benar direncanakan agar suplai ke lokal tidak terganggu," tambahnya.
Di tengah ketidakpastian ini, Fajar memaparkan industri plastik saat ini beroperasi pada level kapasitas terendah. Langkah ini diambil secara sengaja sebagai bagian dari strategi bertahan (survival mode) agar perusahaan tetap mampu menjaga nilai ekonomi di tengah mahalnya biaya logistik dan keterbatasan bahan baku.
Situasi ini kian pelik karena disrupsi terjadi tepat saat industri sedang fokus pada distribusi produk jadi untuk kebutuhan Lebaran. Momentum gejolak harga minyak mentah global yang melonjak sejak pekan kedua Maret 2026 pun langsung memberikan tekanan pada struktur biaya produksi.
Pihak asosiasi berharap para pelaku usaha tetap disiplin dalam mengelola stok sisa sembari menunggu ketibaan pasokan dari sumber-sumber baru. Meski biaya pengiriman dipastikan melonjak akibat jarak tempuh yang lebih jauh, diversifikasi ke Afrika dan Asia Tengah dianggap sebagai langkah paling rasional untuk menghindari kelangkaan produk plastik di pasar domestik dalam jangka menengah.
Ilustrasi pabrik petrokimia
Mitigasi
Fajar juga mendorong para pelaku industri untuk melakukan inovasi pada komposisi bahan baku. Salah satu langkah konkretnya adalah meningkatkan porsi konten daur ulang (recycled content) dari sebelumnya hanya 5%—10% menjadi 10%—30%.
Dia menjelaskan langkah mitigasi ini mendesak dilakukan untuk menyiasati "harga normal baru" yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Selain daur ulang, industri juga disarankan menggunakan material pengisi (filler) seperti kapur, kalsium karbonat, talek, hingga silika untuk menekan biaya tanpa menghilangkan fungsi utama plastik.
"Kita harus bisa mengontrol apa yang bisa kita lakukan agar barang jadi plastik ini tetap terjangkau. Caranya adalah dengan inovasi, termasuk melakukan down-gauging atau pengurangan ketebalan dan dimensi produk," ujar Fajar.
Kondisi pasar saat ini, menurut Fajar, mulai menunjukkan pola anomali yang menyerupai krisis hebat pada tahun 1998 dan 2008. Meski saat ini selisih harga terendah dan tertinggi bahan baku mulai menyempit ke level US$400 per ton, tren fluktuasi ekstrem tetap membayangi.
Sebagai gambaran, pada krisis 2008, harga bahan baku melonjak dari US$800 ke level ekstrem US$2.100 per ton sebelum akhirnya mendarat di titik keseimbangan baru US$1.000 per ton. Fajar memproyeksikan, meskipun perang di Timur Tengah mereda, harga plastik tidak akan kembali ke level semula, melainkan akan menetap di angka yang lebih tinggi.
Lonjakan harga yang menekan industri ini berhulu dari konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat. Ketegangan di Jazirah Arab tersebut memicu harga minyak mentah jenis Brent menembus level US$100 per barel.
Dampak paling signifikan terasa pada jalur logistik Selat Hormuz. Sebagai urat nadi yang menopang 70% pasokan minyak global, pembatasan di jalur ini menghambat distribusi sekitar 102 juta barel per hari. Akibatnya, harga komoditas turunan seperti polypropylene telah meroket hingga 250% sejak awal tahun.
Di sektor hulu, pengusaha kini mulai melirik alternatif Nafta dengan memanfaatkan kondensat, LPG, atau propan. Inaplas juga mendesak pemerintah melakukan kajian ulang terhadap pasokan impor dari negara non-Timur Tengah, termasuk melirik China yang saat ini tengah mengalami surplus pasokan.
"Pemerintah tidak bisa mengintervensi dinamika global ini secara langsung. Jadi yang bisa kita kontrol adalah mitigasi alternatif pasokan dan bahan baku. Itu yang perlu dikaji bersama," pungkas Fajar.
Foto bangunan di Israel terkena rudal Iran
Sebelumnya, lonjakan harga plastik dipicu oleh konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat di kawasan Jazirah Arab. Konflik ini berdampak langsung pada stok dan harga minyak dunia sebagai bahan baku utama petrokimia.
Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menyentuh level di atas US$100 per barel, sementara aktivitas logistik internasional terhambat akibat pembatasan di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak dunia yang menopang 70% pasokan global, di mana 20% berasal dari negara-negara Teluk.
Tersendatnya lalu lintas perdagangan sekitar 102 juta barel per hari tersebut menyebabkan komoditas turunan minyak mentah seperti polypropylene mengalami kenaikan harga hingga 250% sejak awal tahun. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa kenaikan harga plastik hingga ke level konsumen di pasar tradisional maupun ritel modern.
Industri plastik Indonesia beralih ke Afrika untuk bahan baku akibat konflik di Timur Tengah, memperpanjang pengiriman hingga 50 hari dan meningkatkan biaya. [516] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Industri petrokimia nasional tengah memutar kemudi pasokan bahan baku secara drastis menyusul lumpuhnya jalur logistik di Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz pada awal Maret 2026 memaksa para pengusaha plastik dalam negeri untuk berburu Nafta hingga ke Afrika guna menjaga napas produksi.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran telah memutus rantai pasok konvensional. Selama ini, industri plastik domestik sangat bergantung pada Timur Tengah, dengan porsi mencapai 70% dari total kebutuhan bahan baku.
Pelaku usaha pun mencari pasar alternatif untuk memitigasi meski menanggung risiko waktu tempuh yang jauh lebih lama.
"Saat ini, pasokan Nafta yang selama ini bergantung pada Timur Tengah harus dialihkan ke sumber alternatif seperti Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika Serikat," ujar Fajar kepada Bisnis, Minggu (5/4/2026).
Fajar menjelaskan pengalihan rute pasokan ke luar kawasan Timur Tengah memicu pembengkakan waktu pengiriman (lead time) yang sangat signifikan. Hal ini berpotensi mengganggu ritme produksi di tingkat hilir jika tidak dikelola dengan perencanaan yang presisi.
Berdasarkan kalkulasi Inaplas, jika pengiriman dari Timur Tengah biasanya hanya memakan waktu 10 hingga 15 hari, pasokan dari Afrika atau Amerika Serikat membutuhkan waktu minimal 50 hari untuk sampai ke pelabuhan Indonesia. Selisih waktu lebih dari satu bulan ini menuntut ketahanan stok bahan baku yang lebih kuat di dalam negeri.
"Kita sudah mengantisipasi hal tersebut sampai dengan 50 hari ke depan untuk mendapatkan alternatif pasokan. Bahan baku yang tersisa sekarang harus benar-benar direncanakan agar suplai ke lokal tidak terganggu," tambahnya.
Di tengah ketidakpastian ini, Fajar memaparkan industri plastik saat ini beroperasi pada level kapasitas terendah. Langkah ini diambil secara sengaja sebagai bagian dari strategi bertahan (survival mode) agar perusahaan tetap mampu menjaga nilai ekonomi di tengah mahalnya biaya logistik dan keterbatasan bahan baku.
Situasi ini kian pelik karena disrupsi terjadi tepat saat industri sedang fokus pada distribusi produk jadi untuk kebutuhan Lebaran. Momentum gejolak harga minyak mentah global yang melonjak sejak pekan kedua Maret 2026 pun langsung memberikan tekanan pada struktur biaya produksi.
Pihak asosiasi berharap para pelaku usaha tetap disiplin dalam mengelola stok sisa sembari menunggu ketibaan pasokan dari sumber-sumber baru. Meski biaya pengiriman dipastikan melonjak akibat jarak tempuh yang lebih jauh, diversifikasi ke Afrika dan Asia Tengah dianggap sebagai langkah paling rasional untuk menghindari kelangkaan produk plastik di pasar domestik dalam jangka menengah.
Sebelumnya, lonjakan harga plastik dipicu oleh konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat di kawasan Jazirah Arab. Konflik ini berdampak langsung pada stok dan harga minyak dunia sebagai bahan baku utama petrokimia.
Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menyentuh level di atas US$100 per barel, sementara aktivitas logistik internasional terhambat akibat pembatasan di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak dunia yang menopang 70% pasokan global, di mana 20% berasal dari negara-negara Teluk.
Tersendatnya lalu lintas perdagangan sekitar 102 juta barel per hari tersebut menyebabkan komoditas turunan minyak mentah seperti polypropylene mengalami kenaikan harga hingga 250% sejak awal tahun. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa kenaikan harga plastik hingga ke level konsumen di pasar tradisional maupun ritel modern.
Bisnis, JAKARTA — Industri air minum dalam kemasan (AMDK) tengah menghadapi lonjakan harga bahan baku kemasan plastik imbas perang antara Amerika Serikat-Israel vs Iran. Intervensi pemerintah dinilai mendesak untuk menjamin keberlanjutan industri AMDK.
Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) Karyanto Wibowo menyampaikan bahwa dampak perang di Timur Tengah langsung dirasakan oleh industri AMDK, terutama melalui tekanan pada rantai pasok bahan baku. Dari sisi produksi, dia menyebut harga bahan baku kemasan plastik seperti PET (Polyethylene Terephthalate) resin, HDPE (High-Density Polyethylene), dan PP (Polypropylene) mengalami lonjakan tajam di kisaran 25–60%.
Harga plastik di Indonesia naik akibat konflik Timur Tengah, memicu kekhawatiran pasokan. Pemerintah dan industri mencari solusi alternatif untuk mengatasi dampaknya. [53] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Kenaikan harga plastik terjadi di sejumlah wilayah Indonesia di tengah eskalasi konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Harga plastik dilaporkan mengalami kenaikan beragam di berbagai wilayah Tanah Air. Salah satu laporan terbaru yang dihimpun Bisnis terungkap harga plastik naik dua kali lipat di Palembang, Sumatra Selatan.