Bisnis.com, JAKARTA — Rencana pembukaan rekrutmen hingga 30.000 tenaga profesional dalam upaya percepatan pembangunan 83.000 Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Putihmenyisakan sejumlah catatan kritis, terutama terkait kesiapan sumber daya manusia (SDM) hingga potensi beban anggaran negara.
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengatakan bahwa perekrutan 30.000 manajer tersebut menjadi bagian dari tahap operasionalisasi koperasi yang kini tengah digenjot pemerintah.
Dia menjelaskan para tenaga profesional yang akan mengisi posisi manajer akan memegang peran sentral dalam mengelola berbagai lini usaha koperasi, mulai dari gerai sembako, klinik desa, lembaga keuangan mikro, hingga sektor logistik dan pergudangan.
“Khusus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang jumlahnya 30.000 itu nanti memang punya tanggung jawab manajerial untuk mengelola semua jenis kegiatan yang ada di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” kata Ferry saat ditemui di Kantor Kementerian Koperasi (Kemenkop), Jakarta, Senin (20/4/2026).
Dengan cakupan usaha yang luas, Ferry berharap manajer yang ditugaskan memiliki kemampuan kewirausahaan yang memadai agar mampu mengelola koperasi secara profesional dan berkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah menyiapkan program pelatihan bagi para manajer terpilih.
“Kami, Kementerian Koperasi memang diminta untuk memberikan modul-modul pelatihan bagi manajer-manajer yang setelah lolos dari hasil seleksi nanti dibekali dengan, yangpertama, tentu pengetahuan tentang koperasinya itu sendiri, yangkedua, tentang kemampuan manajerialnya,” jelasnya.
Ferry juga memastikan proses rekrutmen dilakukan melalui panitia seleksi (pansel). Status para manajer nantinya bukan aparatur sipil negara (ASN), melainkan pegawai BUMN. Adapun terkait skema penggajian, pemerintah masih mematangkan regulasi sebagai dasar pembiayaan melalui Peraturan Presiden (Perpres). Karena itu, Ferry belum dapat memastikan apakah sumber gaji akan berasal dari APBN atau skema lainnya.
“Nah ini akan dikeluarkan Peraturan Presiden khusus untuk pengadaan SDM, termasuk di dalamnya adalah sumber keuangan untuk pembiayaan gaji para manajer yang diterima,” ujarnya.
Berdasarkandashboardresmi Simkopdes, sebanyak 5.653 titik pembangunan fisik KopDes Merah Putih telah rampung per 20 April 2026. Adapun, total pembangunannya sebanyak 35.498 titik.
Risiko Anggaran dan Kesiapan SDM
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai pembentukan KopDes/Kel Merah Putih sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan serentak seperti saat ini.
Dia mengemukakan pengalaman empiris menunjukkan banyak koperasi yang tidak bertahan, sehingga diperlukan proyek percontohan (pilot project) terlebih dahulu. Jika terbukti berhasil, lanjut dia, model tersebut dapat direplikasi di berbagai daerah lain.
Di sisi lain, dia menilai perekrutan manajer besar-besaran berisiko menimbulkan tekanan fiskal jika tidak diimbangi dengan perencanaan matang, terlebih di tengah dinamika ekonomi global.
“Kalau sekarang perekrutan langsung 30.000 [manajer], jika gagal maka boncos di APBN. Apalagi banyak manajer KopDes yangfresh graduatedan minim pengalaman,” kata Esther ketika dihubungi, Senin (20/4/2026).
Dia menambahkan kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya, Israel, perlu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan anggaran negara.
Indef menilai konflik geopolitik berisiko menekan daya beli masyarakat, seiring dengan kenaikan harga energi dan meluasnya inflasi, terutama jika konflik berlangsung lebih lama hingga mengganggu kinerja ekspor dan impor.
“Harus menyiapkan bantalan bansos untuk menjaga daya beli masyarakat. Tetapi ini tentu punya risiko menggerus ruang fiskal yang makin sempit dalam APBN. Ini mitigasi dan strategi untuk meminimalkan dampak negatif dari perang ini,” ujarnya.
| Pembangunan Bangunan Fisik KopDes/Kel Merah Putih |
| Pembangunan | Titik |
| Progres ≤ 20% | 12.886 |
| Progres 21%-50% | 10.177 |
| Progres 51%-75% | 4.197 |
| Progres >75% | 2.585 |
| Pembangunan 100% | 5.653 |
| Total | 35.498 |
| |
Sumber: Dashboard Simkopdes, 20 April 2026 | |
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah koperasi sempat meningkat dari sekitar 150.223 unit pada 2015 menjadi 152.174 unit pada 2017, sebelum kemudian mengalami penurunan cukup tajam hingga 123.048 unit pada 2019.
Setelah itu, jumlah koperasi kembali menunjukkan tren pemulihan secara bertahap hingga mencapai 131.617 unit pada 2024. Pada 2023, total koperasi yang beroperasi tercatat sebanyak 130.119 unit yang didominasi oleh koperasi konsumen, disusul koperasi produsen, simpan pinjam, jasa, dan pemasaran.
Dihubungi terpisah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai program ini berpotensi membuka lapangan kerja baru. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas implementasi di lapangan.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa menilai rencana pemerintah merekrut 30.000 manajer untuk KopDes/Kel Merah Putih merupakan langkah yang positif dan strategis, namun perlu diimplementasikan secara terukur agar efektif.
“Secara jumlah, target ini cukup ambisius tetapi masih realistis, mengingat setiap tahun Indonesia menghasilkan lulusan D4/S1 dalam jumlah besar,” kata Erwin.
Kendati demikian, tantangan utama bukan terletak pada kuantitas, melainkan kualitas dan kesiapan sumber daya manusia, khususnya dalam mengelola entitas usaha di tingkat desa yang memiliki kompleksitas tersendiri. Dia menyorotiaspek kualitas tenaga kerja, terutama bagi lulusan baru yang masih membutuhkan pelatihan, pendampingan, dan pengawasan.
Kadin menilai para manajer harus dibekali sejumlah kompetensi utama, mulai dari manajemen usaha dan keuangan, pemahaman rantai pasok dan distribusi, kemampuan membaca pasar dan mengembangkan produk, kepemimpinan serta pemberdayaan masyarakat lokal, termasuk literasi digital untuk mendukung pemasaran dan pencatatan keuangan.
“Program ini berpotensi membuka lapangan kerja baru secara signifikan, tidak hanya dari sisi manajer, tetapi juga dari aktivitas ekonomi turunan di desa. Jika berjalan efektif, KopDes bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal,” tuturnya.
Namun, dalam jangka pendek, Erwin menilai terdapat potensi persaingan perebutan talenta, khususnya tenaga muda dengan kemampuan manajerial, meskipun dalam jangka panjang program ini dapat menjadi sumber pengembangan SDM nasional yang bermanfaat bagi dunia usaha.