Kalbe Farma berikan hibah penelitian kepada tiga tim periset Indonesia dalam RKSA 2025, fokus pada AI dan hilirisasi riset kesehatan untuk produk inovatif. [492] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten kesehatan, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) memberikan dana hibah penelitian kepada tiga tim periset Tanah Air yang bergabung dalam program Ristek Kalbe Science Awards (RKSA), Rabu (3/12/2025).
RKSA merupakan program rutin Kalbe sejak 2008 dengan tujuan memperkuat iklim riset nasional pada bidang kesehatan. Pada 2025, RKSA mengusung tema “Kerja Sama Pentahelix dalam Menunjang Hilirisasi Penelitian”.
Presiden Direktur Kalbe Farma Irawati Setiady menerangkan bahwa ketiga tim periset yang mendapatkan hibah tersebut merupakan hasil seleksi yang dilakukan dewan juri terhadap setidaknya 420 judul penelitian yang diajukan oleh ratusan periset berkewarganegaraan Indonesia.
Pada program RKSA tahun ini, Kalbe memprioritaskan pada proposal penelitian dalam bidang Pharma & Biopharma, Allogeneic Cell Therapy, e-Health, Medical Devices, Diagnostics, Food & Beverages, dan Natural Products. Pada tahun ini, Kalbe juga mendorong penelitian dengan memanfaatkan akal imitasi (AI).
Dengan begitu, tiga tim yang mendapatkan hibah dari Kalbe dalam program ini sebagian besar menawarkan proposal penelitian berbasis AI. Ketiga pemenang ini datang dari Universitas Hasanuddin, Swiss German University, dan Universitas Gadjah Mada.
Pertama, berjudul AI-assisted Diagnostics of Atopic Dermatitis: Combination of Photographic Recognition and Transdermal Biomarker Sampling to Replace Dated Clinical Scoring.
Kedua, berjudul Perangkat EKG Cerdas 5-Lead Portabel dengan AI untuk Skrining Kardiovaskular secara Real-time. Ketiga, berjudul Hilirisasi Tablet Effervescent Kombucha Rosella sebagai Minuman Fungsional Andtidiabetik dengan Integrasi Kalibrasi AI-NIR untuk Pengendalian Mutu Real-time.
“Secara konsisten melalui RKSA, Kalbe mendukung perkembangan dunia penelitian, khususnya di bidang kesehatan dan berharap proses hilirisasi ini dapat menghasilkan produk serta jasa yang mampu menyehatkan bangsa Indonesia,” kata Irawati di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Dalam menjalankan program ini, Kalbe turut bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kalbe menaruh asa pada sinergi antara industri dan peneliti guna mempercepat hilirisasi.
“Tujuannya adalah agar penerapan riset memiliki hasil berupa produk dan jasa yang bermanfaat, baik secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat Indonesia,” kata Irawati saat ditemui di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Selain itu, program ini juga mengikutsertakan sejumlah peneliti Tanah Air guna melakukan kurasi secara komprehensif. Diketuai oleh Amin Soebandrio, sejumlah anggota dewan juri lainnya merupakan kombinasi dari tenaga peneliti di Kementerian Kesehatan, Kemendiktisaintek, Kalbe, hingga BPOM.
Dengan menggandeng BPOM dan Kementerian Kesehatan dalam program ini, Kalbe berupaya memastikan hilirisasi dari hasil riset berjalan optimal ke depan. Irawati memberikan contoh program serupa pada tahun sebelumnya, di mana Kalbe berupaya melakukanscaling updari hasil penelitian tersebut ke industri.
“Tujuannya agar penerapan riset memiliki hasil berupa produk dan jasa yang bermanfaat, baik secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat Indonesia,” tutupnya.
Ke depan, Ketua Dewan Juri Amin Soebandrio menegaskan pentingnya kualitas riset yang terintegrasi dengan tujuan kemandirian kesehatan Tanah Air. Menurutnya, potensi kesuksesan inovasi ini bakal dipengaruhi oleh pengaplikasian hasil riset dan pemahaman peneliti terhadap regulasi.
“Demi memastikan seluruh aspek dipertimbangkan secara matang, hasil penelitian siap dihilirisasi hingga dipasarkan, proses penjurian RKSA dirancang secara holistik dengan melibatkan akademisi, pemerintah, dan industri. Kami akan memantau proses penelitian pemenang secara berkala,” katanya dalam kesempatan yang sama, Rabu (3/12/2025).
Pemerintahan Prabowo-Gibran tingkatkan dana riset 218%, fokus pada energi terbarukan dan ketahanan pangan, dengan dukungan LPDP untuk penelitian dan beasiswa. [440] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencatat peningkatan signifikan terhadap dana riset hingga 3 kali lipat, lebh tepatnya 218 persen.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Stella Christie mengungkapkan, dana riset nasional tahun ini melonjak 218 persen dibandingkan periode sebelumnya, mencerminkan komitmen kuat pemerintah untuk memperkuat fondasi sains dan teknologi Indonesia.
“Dana riset tidak satu sen pun dipotong, bahkan bertambah 218 persen. Dan ini dibagikan bagi ribuan peneliti serta dosen yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Stella usai menghadiri Sidang Kabinet Paripurna 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran, di Istana Negara, Senin (20/10/2025) malam.
Dalam sidang tersebut, Presiden Prabowo menyinggung pentingnya penguatan riset di bidang pengelolaan air dan energi terbarukan, termasuk pemanfaatan limbah menjadi energi (waste-to-energy). Stella menjelaskan, Kemendikti Saintek telah mengembangkan dashboard nasional riset yang memetakan ribuan penelitian di berbagai bidang strategis.
“Di dashboard itu, kita bisa langsung lihat riset mengenai air, energi, limbah, atau ketahanan pangan dilakukan oleh siapa, di mana, dan dalam konteks apa. Data ini kita kumpulkan dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya.
Dia menambahkan, keberadaan universitas di berbagai daerah membuat riset menjadi lebih kontekstual dengan kebutuhan lokal.
“Perguruan tinggi di pelosok adalah yang paling mengerti kondisi daerahnya—jenis airnya, tantangan lingkungan, dan solusi yang dibutuhkan. Karena itu, kebijakan pemerintah akan jauh lebih efisien jika berbasis pada riset dan data dari mereka,” jelasnya.
Dalam rapat kabinet, Presiden Prabowo juga memberi arahan agar Rp13 triliun dana negara dialihkan ke Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memperkuat program dana abadi pendidikan dan riset. Stella menyebut, Kemendikti Saintek akan segera melakukan pemetaan bersama LPDP agar penyalurannya lebih tepat sasaran.
“Tindak lanjutnya, kami akan langsung memetakan bersama LPDP karena selama ini sudah bekerja sama erat. LPDP punya dana abadi yang diperuntukkan untuk pendidikan tinggi dan penelitian,” jelasnya.
Dia menegaskan, peningkatan dana riset 218 persen tahun ini sebagian besar juga berasal dari dukungan LPDP yang memperluas skema hibah penelitian dan beasiswa ilmiah.
“Dana LPDP tidak hanya untuk mahasiswa S1 atau S2, tapi juga untuk dosen dan peneliti agar bisa meningkatkan kompetensinya. Bahkan dana abadi riset di bawah LPDP sudah menyalurkan hasil pengembangannya (yield) langsung ke universitas melalui Kemendikti Saintek,” kata Stella.
Pemerintah kini memfokuskan arah riset nasional pada bidang-bidang strategis, termasuk ketahanan energi, pangan, dan teknologi inovatif. Menurut Stella, Kemendikti Saintek sedang menyusun peta kebutuhan riset nasional agar pendanaan bisa diarahkan sesuai prioritas negara.
“Misalnya kalau bidang teknologi masih kurang, kita bisa buat program beasiswa tambahan. Lalu di bidang energi atau pangan, risetnya harus ditingkatkan. Karena kita ingin sumber daya manusia unggul di bidang sains dan teknologi, tapi juga relevan dengan kebutuhan bangsa,” tandas Stella.