Bisnis.com, JAKARTA —Nilai tukar rupiahmelemah ke level terendah sepanjang sejarah. Lantas, bagaimana impaknya terhadap sektor perbankan Indonesia?
Rena Kwok,senior credit analystpada Bloomberg Intelligence, menjelaskan bahwa ambrolnya nilai tukar rupiah ke level terendah dalam sejarah yakni Rp16.988 per dolar AS dipicu oleh kembali mencuatnya kekhawatiran pasar terhadap otonomi bank sentral yang menambah tekanan pada isu fiskal yang telah selama ini menjadi sorotan.
Kendati begitu, Rena menegaskan bahwa pelemahan rupiah tersebut tidak serta-merta meningkatkan risiko langsung bagi sektor perbankan Indonesia. Hal itu tecermin dari posisi devisa neto (net open FX position) yang relatif rendah, yakni sekitar 7% pada kuartal II, serta struktur pinjaman dan simpanan valuta asing yang secara umum seimbang.
“Kondisi tersebut membuat risiko langsung dari pelemahan rupiah masih relatif terkendali bagi perbankan,” tulis Rena dalam laporannya, Selasa (20/1/2026).
Di sisi lain, dia mengingatkan adanya risiko tidak langsung yang berpotensi muncul apabila debitur berbasis ekspor mengalami tekanan keuangan akibat volatilitas nilai tukar. Tekanan tersebut dapat berdampak pada kualitas aset perbankan.
Namun, risiko terhadap kualitas aset tersebut diperkirakan akan sebagian teredam oleh tingkat pencadangan yang solid pada bank-bank besar di Indonesia, sehingga ketahanan sektor perbankan dinilai masih terjaga di tengah pelemahan rupiah.
“Risiko terhadap kualitas aset tersebut diperkirakan akan sebagian teredam oleh tingkat pencadangan yang solid pada bank-bank besar,” pungkasnya.
Berdasarkan dataBloomberg, rupiah ditutup melemah 0,40% atau 68 poin ke level Rp16.995 per dolar AS pada Senin (19/1/2026). Adapun pada saat bersamaan, indeksdolar ASjuga melemah 0,19% menuju level 99,20.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan tekanan pada rupiah datang dari sisi internal. Kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia mencuat setelah data menunjukkan defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum 3%, sementara penerimaan pajak masih belum menunjukkan penguatan signifikan.
“Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Senin (19/1/2026).
Di sisi eksternal, meski indeks dolar AS tidak menunjukkan penguatan hari ini, ancaman tarif Presiden ASDonald Trumpsebesar 10% hingga 25% terhadap negara-negara Eropa menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, telah memicu kehati-hatian para investor terhadap mata uang pasar berkembang atauemerging markets.
Di sisi lain, sentimen internal juga datang dari sorotan terhadap independensi Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan usai Presiden Prabowo Subianto mencalonkan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas A. Djiwandono sebagai kandidat anggota Dewan Gubernur BI.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede, pencalonan Tommy pada dasarnya akan dinilai pasar bukan hanya dari kapasitas pribadi, tetapi terutama dari sinyal kelembagaan yang ditimbulkannya.
Kendati Tommy tidak berasal dari bank sentral sebelumnya, tetapi dia memiliki pengalaman analisis pasar keuangan dan dunia usaha. Belum lagi, sejak 2024 dia telah menjabat Wamenkeu serta memahami dinamika kebijakan fiskal.
Di sisi lain, keterkaitan politik yang kuat seperti afiliasi di partai politik membuat isu independensi lebih sensitif. Sebab, menurutnya pelaku pasar khawatir kebijakan moneter dapat lebih mudah dipengaruhi agenda jangka pendek, terutama ketika pemerintah mengejar target pertumbuhan tinggi dan ruang fiskal dipersepsikan menipis.
"Kekhawatiran ini menjadi lebih relevan saat arus keluar dana asing dari aset berdenominasi rupiah sedang besar, khususnya dari surat utang negara dan instrumen BI, sehingga rupiah melemah dan tekanan pasar mudah membesar bila ada sedikit saja keraguan terhadap konsistensi kebijakan BI," terang Josua kepadaBisnis, Selasa (20/1/2026).