#30 tag 24jam
Bisnis Indonesia Menang di WAN-IFRA Digital Media Awards 2026
Bisnis Indonesia raih penghargaan di WAN-IFRA Digital Media Awards 2026 untuk Best Newsletter dan Best Reader Revenue Strategy, menegaskan inovasi jurnalisme digital [228] url asal
#bisnis-indonesia #wan-ifra-awards #digital-media-awards #apac-2026 #best-newsletter #reader-revenue-strategy #premium-audience-engagement #small-medium-media #jurnalisme-digital #inovasi-media #strate
(Bisnis.Com - Terbaru) 04/05/26 16:55
v/210626/
Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis Indonesia kembali menorehkan prestasi di kancah internasional dengan meraih penghargaan dalam ajang WAN-IFRA Digital Media Awards APAC 2026. Penghargaan ini menegaskan komitmen Bisnis Indonesia dalam menghadirkan inovasi dan kualitas jurnalisme digital yang relevan serta berdampak bagi pembaca.
Dalam ajang tersebut, Bisnis Indonesia berhasil meraih penghargaan pada kategori Small / Medium Media, yakni:
- Best Newsletter melalui karya “Rapor Ekonomi Satu Tahun Prabowo-Gibran”
- Best Reader Revenue Strategy melalui inisiatif “Premium Audience Engagement.”
Penghargaan ini diberikan oleh WAN-IFRA sebagai bagian dari ajang tahunan yang menjadi tolok ukur global dalam menilai inovasi, strategi, dan transformasi media digital.
Ajang ini diselenggarakan dengan melibatkan lebih dari 150 entri dari kawasan Asia Pasifik, meliputi Asia Timur, Asia Tenggara, dan Oseania. Setiap karya dinilai berdasarkan inovasi, dampak terhadap audiens, serta kontribusinya dalam membentuk masa depan jurnalisme digital.
Pencapaian ini mencerminkan upaya berkelanjutan Bisnis Indonesia dalam mengembangkan produk digital yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membangun hubungan yang lebih kuat dengan audiens. Melalui penguatan strategi konten dan monetisasi, Bisnis Indonesia terus beradaptasi dengan dinamika industri media yang semakin kompetitif.
Selanjutnya, karya-karya pemenang dari ajang ini akan melaju ke tahap global dalam Digital Media Awards Worldwide, bersaing dengan pemenang dari berbagai wilayah dunia.
Prestasi ini menjadi momentum bagi Bisnis Indonesia untuk terus berinovasi, memperkuat kualitas jurnalisme, serta menghadirkan produk digital yang relevan dengan kebutuhan pembaca di era yang terus berkembang.
Tekanan ke Rupiah Makin Brutal, Indonesia Menunggu Jurus Pamungkas BI
Pengumuman BI-rate dan gejolak Wall Street bisa menjadi penggerak pasar hari ini. [2,715] url asal
#ihsg #pasar-saham #nilai-tukar-rupiah #bank-indonesia #suku-bunga #investasi #laporan-keuangan #sektor-perdagangan #imbal-hasil-sbn #ekonomi-indonesia #newsletter
(CNBC Indonesia - Research) 18/11/25 18:08
v/42747/
- Pasar di Indonesia mengalami pelemahan secara keseluruhan baik dari saham, SBN, maupun nilai tukar Rupiah
- Wall Street kembali ambruk berjamaah pada perdagangan kemarin dipicu kekhawatiran mengenai AA
- Pengumuman BI-rate dan gejolak Wall Street bisa menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ambruk berjmaah pada perdagangan kemarin, baik saham dan rupiah melemah.
Pasar keuangan hari ini diperkirakan masih bergejolak pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak bak roller-coaster pada perdagangan kemarin, Selasa (18/11/2025). Setelah dibuka menguat tipis, IHSG melanjutkan penguatan di awal sesi sebelum balik arah tertekan dalam, memangkas koreksi hingga turun lagi di akhir perdagangan.
Pada penutupan perdagangan, IHSG terkoreksi 54,96 poin atau melemah 0,65% ke level 8.361,92. Sebanyak 230 saham naik, 418 turun, dan 162 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 19,56 triliun yang melibatkan 40,85 miliar saham dalam 2,52 juta kali transaksi.
Nyaris seluruh sektor perdagangan melemah dengan koreksi terbesar dicatatkan sektor kesehatan energi dan industri. Sedangkan sektor properti menjadi satu-satunya yang mengalami penguatan kemarin.
Saham Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan pelemahan terbesar hingga 10,76 indeks poin dan diikuti oleh saham Barito Pacific (BRPT)
Kemudian ada juga saham-saham ekstraksi dan energi tercatat menjadi beban utama IHSG kemarin.
Saham emiten tambang lain yang ikut terkoreksi dalam termasuk Bayan Resources (BYAN), Merdeka Copper Gold (MDKA), Adaro Andalan Indonesia (AADI), United Tractors (UNTR) dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN).
Sementara itu sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tercatat masuk dalam penopang IHSG untuk tidak jatuh lebih dalam di zona merah.
Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (18/11/2025).
Melansir data Refinitiv, nilai tukar rupiah kembali tertekan dari greenback dengan melemah 0,18% ke posisi Rp16.735/US$. Level ini menjadi penutupan terendah sejak 26 September 2025.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat dibuka stagnan di level Rp16.720/US$ sebelum mengalami tekanan dan menyentuh titik terlemah secara intraday di Rp16.763/US$, sebelum pelemahan akhirnya sedikit berkurang menjelang penutupan.
Di saat yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB tengah mengalami pelemahan sebesar 0,12% atau turun ke level 99,470.
Pelemahan rupiah juga terjadi bertepatan dengan berlangsungnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 November 2025. Para pelaku pasar menantikan keputusan penting terkait arah suku bunga BI, apakah akan kembali dipertahankan atau akan melakukan pemangkasan lanjutan.
Sebagai pengingat, pada RDG sebelumnya yang berlangsung pada 21-22 Oktober 2025, BI memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% setelah sepanjang 2025 melakukan pemangkasan dengan total 125 basis poin (bps).
Keputusan kali ini dinilai krusial bagi stabilitas nilai tukar, terutama dengan arus modal asing yang masih terus keluar dari pasar keuangan domestik, terutama dari pasar surat berharga negara (SBN).
Lanjut ke pasar keuangan di mana imbal hasil dari Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 Tahun tidak mengalami perubahan signifikan imbas hasil dari adanya RDG pada waktu mendatang sehingga investor masih wait and see terhadap surat utang.
SBN 10 Tahun mengalami sedikit kenaikan dari level 6.141% ke level 6.142% naik sebesar 0.001 poin dari penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kembali ambruk berjamaah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari wkatu Indonesia.
Bursa saham kembali melemah seiring berlanjutnya aksi jual di sektor teknologi akibat kekhawatiran atas valuasi saham terkait kecerdasan buatan (AI). Bitcoin juga sempat turun di bawah US$90.000, menandakan melemahnya selera risiko investor.
Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 498,50 poin (1,07%) menjadi 46.091,74.
Indeks S&P 500 melemah 0,83% ke 6.617,32, menandai penurunan empat hari beruntun atau terpanjang sejak Agustus. Nasdaq Composite turun 1,21% menjadi 22.432,85. Pada level terendah sesi perdagangan, Dow sempat merosot hampir 700 poin (1,5%), sementara S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi masing-masing 1,5% dan 2,1%.
Aksi jual hari ini dipicu oleh penurunan saham Nvidia, bintang chip AI yang anjlok hampir 3%, serta saham-saham "Magnificent Seven" lainnya seperti Amazon dan Microsoft. Amazon turun lebih dari 4%, sedangkan Microsoft merosot hampir 3%.
"Kita bisa melihat penurunan 8%-9% ketika semua ini berakhir. Namun koreksi bisa saja berhenti lebih cepat jika laporan laba Nvidia sesuai ekspektasi analis kami, dan jika data pekerjaan melemah tapi tidak mengarah ke resesi," ujar Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi CFRA, soal proyeksi S&P 500. " kepada CNBC International.
Nvidia telah anjlok lebih dari 10% bulan ini, menjelang laporan keuangan kuartal ketiga yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu. Perusahaan ini menjadi pusat perdebatan mengenai kekuatan reli pasar berbasis AI tahun ini, terutama karena kekhawatiran atas valuasi teknologi yang mahal dan fundamental AI yang diragukan, menyusul ledakan penerbitan utang oleh Big Tech.
"Jika perusahaan terbaik di industri teratas dalam sektor paling kuat menyampaikan pandangan sangat positif tentang masa depan, sembari melaporkan laba, pendapatan, dan margin yang lebih baik dari ekspektasi, itu akan sangat menenangkan pasar," kata Stovall.
"Pertanyaan sebenarnya adalah, 'Kapan semua belanja capex ini menghasilkan uang?' Itu bukan sesuatu yang akan terjadi kuartal ini atau berikutnya, tetapi diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama." Imbuhnya.
Sebuah kemitraan AI besar yang diumumkan Selasa gagal mengangkat saham terkait seperti sebelumnya.
Startup AI Anthropic mengatakan akan membelanjakan US$30 miliar dengan Microsoft, dan sebagai gantinya Microsoft serta Nvidia akan menginvestasikan miliaran dolar di Anthropic. Namun, Nvidia dan Microsoft tetap melemah setelah pengumuman tersebut.
"Kita sedang melalui fase natural digestion of gains, dan investor mulai mempertanyakan fundamental. Harus ada sesuatu yang membuat investor berkata, 'Mungkin kekhawatiran saya terlalu berlebihan.'"," lanjut Stovall. "
Bitcoin sempat turun di bawah US$90.000 sebelum pulih kembali. Banyak investor teknologi memiliki portofolio kripto besar, sehingga penurunan ini memicu kekhawatiran akan koreksi lebih jauh di pasar saham. Bitcoin terakhir diperdagangkan sedikit di atas US$92.000.
Di luar sektor teknologi, saham Home Depot turun setelah perusahaan perbaikan rumah itu membukukan laba di bawah ekspektasi dan memangkas proyeksi kinerja tahun penuhnya.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen pasar hari ini, terutama dari pengumuman BI rate.
Di balik layar hijau IHSG yang sukses mencetak rekor, tersimpan arus bawah ekonomi makro yang bergerak liar. Bagi investor cerdas, euforia sesaat ini tak boleh menutupi potensi risiko besar yang sedang mengintai portofolio.
Halaman ini hadir untuk membedah realita tersebut secara tuntas. Kita tidak hanya menghadapi ancaman eskalasi konflik di Asia Utara yang berpotensi membunuh rantai pasok industri vital, tetapi juga paradoks besar ekonomi domestik. Indonesia duduk di atas harta karun energi, namun investasi asing justru lebih nyaman "transit" di negara tetangga.
Belum lagi, Bank Indonesia kini harus berdiri sebagai benteng terakhir pertahanan Rupiah menghadapi Dolar AS yang kembali mengamuk.
Berikut analisis mendalam terkait isu strategis yang wajib masuk radar hari ini.
BI Rate Diramal 'Anteng' Demi Jaga Benteng Rupiah
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada hari ini, Rabu (19/11/2025). Berdasarkan hasil polling yang dihimpun CNBC Indonesia, pasar memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga acuannya pada RDG November ini.
Dalam RDG sebelumnya pada 21-22 Oktober 2025, BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI Rate) di 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%.
Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali, masing-masing 25 bps pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September. Total pemangkasan mencapai 125 bps, dari 6,00% di akhir 2024 menjadi 4,75% saat ini.
Polling CNBC Indonesia terhadap 12 lembaga/institusi keuangan menunjukkan hasil yang sangat solid. Seluruh responden memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada RDG kali ini.
Hasil konsensus yang kompak ini mencerminkan pandangan bahwa kondisi saat ini belum memberikan ruang yang memadai bagi BI untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan.
Mengapa BI tidak menurunkan bunga (cut rate) untuk memacu ekonomi yang sedang butuh stimulus (seperti kasus UMKM di atas)? Jawabannya adalah prioritas stabilitas rupiah.
Rupiah hanya sekali menguat dalam enam hari terakhir. Dalam sebulan mata uang Garuda juga sudah ambruk 0,7%.
Faktor Eksternal: Dolar AS sedang "mengamuk" (DXY naik) dan Yield US Treasury masih tinggi. Jika BI memangkas bunga, selisih imbal hasil (spread) antara aset Indonesia dan AS akan menipis. Investor asing akan kabur (capital outflow), dan Rupiah bisa jebol ke level yang berbahaya (di atas Rp16.800/USD).
Risiko Geopolitik: Ketidakpastian China-Jepang membuat investor global risk-off. Dalam kondisi ini, mata uang emerging market seperti Rupiah sangat rapuh.
Gubernur BI Perry Warjiyo memilih langkah konservatif. Dengan menahan bunga, BI menjaga daya tarik aset Rupiah (SBN) agar asing tetap mau bertahan.
Konsekuensinya, sektor riil dan properti harus bersabar lebih lama dengan bunga kredit yang tinggi. Ini adalah pil pahit yang harus ditelan demi mencegah krisis nilai tukar yang bisa berdampak jauh lebih fatal berupa inflasi barang impor.
Pasar kini menanti sinyal forward guidance yaitu kapan pelonggaran akan dimulai? Banyak yang bertaruh pada Kuartal I-2026, saat badai global diprediksi mulai mereda.
Hingga saat itu tiba, saham-saham perbankan (Big Banks) tetap menjadi pilihan paling defensif dan logis karena margin bunga bersih (NIM) mereka masih terjaga di era suku bunga tinggi ini.
RI Kaya Raya, Tapi Duitnya 'Nyangkut' di Singapura?
Kabar yang menohok datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Ia secara terbuka mengeluhkan fenomena investasi Amerika Serikat (AS) ke Indonesia yang mayoritas hanya parkir di Singapura.
Fakta ini menelanjangi kelemahan struktural ekonomi kita yaitu Indonesia dijadikan pasar dan basis produksi (tempat lelah), namun "kue" jasa keuangan dan kantor pusat regionalnya tetap dinikmati Negeri Singa.
Mengapa investor AS enggan parkir langsung di Jakarta? Masalahnya klasik namun kronis yaitu kepastian hukum, insentif pajak, dan ease of doing business. Investor global lebih nyaman menaruh entitas legal (Special Purpose Vehicle/SPV) di Singapura karena sistem hukumnya yang pro-bisnis dan transparan.
Dampaknya bagi kita? Cadangan devisa kita tidak menebal secepat yang seharusnya. Dolar masuk ke Singapura dulu, baru dikonversi atau dipinjamkan ke Indonesia. Ini membuat Rupiah rentan.
Pemerintah perlu segera melakukan bedah total-bukan sekadar gimmick pemasaran-untuk menarik Foreign Direct Investment (FDI) masuk langsung ke rekening perbankan nasional. Tanpa reformasi ini, RI hanya akan terus menjadi "halaman belakang" ekonomi Singapura.
Harta Karun Nuklir & Jurus Minyak Bahlil
Di sektor energi, Indonesia ternyata menyimpan potensi yang bisa mengubah peta geopolitik energi masa depan. Temuan terbaru mengonfirmasi bahwa tambang timah di Indonesia tidak hanya berisi logam dasar, tetapi juga mengandung monasit (bahan baku nuklir) dan logam tanah jarang (rare earth).
Ini adalah "harta karun" strategis. Dunia saat ini sedang berlomba beralih ke energi bersih dan teknologi tinggi yang membutuhkan rare earth.
Jika dikelola dengan benar (hilirisasi), valuasi aset tambang negara (MIND ID, PT Timah) bisa melesat jauh di atas valuasi saat ini. Indonesia punya daya tawar (bargaining power) untuk mendikte pasar global, mirip dengan strategi nikel.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bermain pragmatis untuk jangka pendek. Ia memastikan impor minyak dari Amerika Serikat akan mulai berjalan Desember ini. Ini adalah langkah cerdas diversifikasi energi. Selama ini kita terlalu bergantung pada minyak Timur Tengah yang harganya fluktuatif dan jalur distribusinya rawan konflik.
Dengan membeli dari AS, kita mengamankan pasokan energi dalam negeri sekaligus "mengambil hati" AS sebagai mitra dagang. Kombinasi antara penguasaan bahan baku masa depan (nuklir/rare earth) dan keamanan pasokan energi fosil (minyak AS) adalah strategi "dua kaki" yang solid untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Konflik China-Jepang Bukan Sekadar Sentimen
Investor domestik sering kali terjebak dalam bias lokal, merasa aman karena konflik terjadi "jauh" di sana. Namun, apa yang terjadi di Asia Utara saat ini bukan lagi sekadar friksi diplomatik atau sentimen sesaat.
Laporan terbaru yang menyebutkan bahwa konflik fisik antara China dan Jepang telah memakan korban jiwa dan memicu gelombang pengungsian masif hingga 500.000 orang adalah sinyal bencana kemanusiaan sekaligus ekonomi yang nyata.
Mengapa investor RI harus cemas? China dan Jepang adalah "Jantung dan Paru-paru" manufaktur Asia, sekaligus dua mitra dagang (ekspor-impor) terbesar bagi Indonesia. Analisis kami melihat risiko spillover yang mengerikan jika eskalasi ini berlanjut:
Supply Chain Shock: Jika jalur logistik di Laut China Timur terganggu, pasokan bahan baku industri, suku cadang mesin, hingga elektronik ke Indonesia akan terhenti. Ini bisa memicu kelangkaan barang dan lonjakan inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation).
Demand Destruction: China adalah pembeli utama komoditas kita (nikel, batu bara, CPO). Jika ekonomi mereka lumpuh karena perang, permintaan akan anjlok. Harga komoditas bisa terjun bebas, menyeret turun saham-saham sektor energi dan material dasar (Basic Materials) di IHSG.
Istilah "Bear Killer" yang menghantui pasar di bulan Oktober-November ini tampaknya menemukan validasinya. Bukan dari data inflasi AS, melainkan dari ledakan geopolitik di halaman depan rumah kita sendiri. Bursa Asia yang kompak "kebakaran" kemarin adalah peringatan dini: Cash is King mungkin menjadi mantra sementara bagi investor regional hingga debu konflik mulai mereda.
Pengangguran AS Naik
Klaim tunjangan pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims) di Amerika Serikat. Jumlah warga yang terus menerima bantuan pengangguran naik menjadi 1,957 juta untuk pekan yang berakhir pada 18 Oktober 2025, level tertinggi sejak awal Agustus. Angka ini meningkat dari 1,947 juta pada pekan sebelumnya, menurut data yang tersedia di basis data daring Departemen Tenaga Kerja AS per 18 November.
Agenda dan rilis data yang terjadwal
- Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
- Pengumuman BI-rate Bank Indonesia
- Export dan Import Amerika Serikat
- Inflasi Inggris
Waste To Energy Investment Forum 2025: Economic Gains, Environmental Wins di Auditorium Menara Bank Mega, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN
Talkshow Bincang Bahari dengan tema "Harkannas 2025: Protein Ikan untuk Generasi Emas 2045" di Media Center KKP GMB IV, Kota Jakarta Pusat
Seremoni Groundbreaking Pabrik Modular Bosch di Kawasan Industri BD Delta Mas Cikarang, Kabupaten Bekasi
Rakornas Kepegawaian 2025 yang akan berlangsung di Hotel Pullman Jakarta Central Park, Kota Jakarta Barat
Konferensi Utama Pembangunan Berkelanjutan melalui Program Strategis Nasional MBG Tahun 2025 di Ruang Rapat DH 1-5 kantor Kementerian PPN/Bappenas, Kota Jakarta Pusat
ANTARA BUSINESS FORUM di The Westin, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan CIO Danantara Indonesia
MayBank Indonesia menggelar Media Update - Exploring Privilege Banking Segment yang akan diselenggarakan di Multifunction Room 3 Maybank Indonesia, Kota Jakarta Selatan
Paguyuban Lender Dana Syariah Indonesia akan melaksanakan konferensi pers hasil pertemuan Tim Paguyuban dan DSI yang diadakan di Walking drums, Kota Jakarta Selatan
Puncak Anugerah Jurnalistik Komdigi 2025 yang akan dilaksanakan di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Komunikasi dan Digital.
Agenda emiten di dalam negeri
- Pemberitahuan RUPS Rencana Bumi Resources Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana Astra International Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
- Tanggal cum Dividen Tunai Interim Elang Mahkota Teknologi Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Perang Data Bikin Tegang: BI Rate, Transaksi Berjalan-Kabar Genting AS
Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini [3,323] url asal
#rupiah #ihsg #yield-sbn #pasar-saham #bank-indonesia #suku-bunga #investasi #volatilitas-pasar #ekonomi-indonesia #laporan-pasar #newsletter #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 15/11/25 19:04
v/40050/
- Pasar keuangan Indonesia dan rupiah melemah sementara harga SBN nyaris stagnan
- Wall Street ditutup bervariasi menunggu rapor Nvidia dan data ekonomi AS
- Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar di Indonesia bergerak beragam pada akhir pekan lalu. Penguatan dapat dilihat pada nilai tukar rupiah, imbal hasil obligasi stagnan tetapi di lain sisi bursa saham melemah pasar Jumat (14/11/2025)
Pasar keuangan Indonesia diproyeksikan akan mengalami volatilitas pada hari ini hingga satu pekan ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melandai di 8.370,43 (-0,02%) pada perdagangan Jumat pekan lalu (14/11/2025) dengan total market cap menyentuh angka Rp 3.591 triliun pada penutupan pasar.
Terjadi net foreign sell sebesar Rp 73,42 milyar. Pasar saham Indonesia pada saat ini ditopang besar oleh investor domestik hingga kurang lebih 76% dari saham keseluruhan pasar dikuasai oleh investor dalam negeri.
Terdapat 480 saham mengalami pelemahan, 241 saham mengalami penguatan, dan 245 saham tidak bergerak dengan nilai transaksi mencapai Rp 20,82 triliun pada Jumat (14/11/2025).
Pasar ditopang oleh kinerja saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang beberapa hari ke belakang tengah rally sampai dengan double digit persen akibat dari sisi indikator, serta adanya sentimen selesainya akuisisi BUMI dalam akuisisi perusahaan pertambangan emas dan tembaga di Australia bernama Wolfram senilai hampir 100% dengan nilai transaksi mencapai hampir Rp 700 milyar.
Selain itu PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) +70 (+15.91%), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) +50 (+0,6%), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) +150 (+5,19%), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) +525 (+3,70%) menjadi saham dengan nilai transaksi tertinggi pada Jumat (14/11/2025)
Kemudian DSSA, MORA, dan TLKM menjadi tiga perusahaan tertinggi penggerak naiknya IHSG, sementara AMMN, BREN, dan BRMS menjadi tiga perusahaan dengan penggerak turunnya IHSG hingga penutupan pasar pada sore hari.
Beralih ke pasar rupiah, mata uang ditutup ditutup di Rp16.690/US$ atau mengalami penguatan sebesar 0,18%.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan tipis bahkan hampir stagnan ke angka 6.1196% dari hari sebelumnya yang ditutup pada level 6,1123%.
Stagnasi pada imbal hasil ini diakibatkan oleh adanya investor yang masih wait and see dan menentukan arah kebijakan dan data penting yang akan keluar pada beberapa waktu mendatang.
Berdasarkan hasil dari perdagangan pasar saham di Wall Street pada Jumat (14/11/2025), masing-masing ditutup bervariasi.
Nasdaq ditutup pada level 22.900 naik sebesar 30,23 poin (+0,13%). Sementara S&P 500 ditutup sedikit melemah sebesar 0,05% ke level 6.734,11.
Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) menjadi index yang tertekan pada penutupan pasar mengalami penurunan sebesar -0,65% ke level 47.147 bahkan tidak pernah menyentuh area hijau pada waktu perdagangan.
Sesi perdagangan terakhir ini diwarnai oleh kehati-hatian investor yang menimbang ulang ekspektasi mereka terhadap pemotongan suku bunga The Fed lebih lanjut di bulan Desember. Terhentinya rilis data ekonomi penting seperti inflasi dan ketenagakerjaan akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang terjadi sebelumnya, membuat bank sentral AS kekurangan data acuan untuk mengambil keputusan.
Data Index yang bervariasi ini mengindikasikan adanya kebingungan dalam pasar walaupun pada saat ini Fear and Greed Index pada pasar saham di Amerika masih berada pada level 20-an (Extreme Fear) selama beberapa minggu ini.
Hal ini dipacu oleh adanya ketakutan pada AI Bubble yang semakin hari semakin nyata dirasakan oleh pasar akibat valuasi perusahaan-perusahaan AI di AS yang semakin tidak terkendali akibat pergerakan harga sahamnya yang ekspansif.
Di tengah kebimbangan pasar ini, dua berita besar dari Washington dan Omaha menyita perhatian investor.
Pertama, dari sisi kebijakan, Presiden Donald Trump secara mengejutkan menandatangani perintah eksekutif pada Jumat untuk memotong atau menghapus apa yang disebutnya tarif "resiprokal" pada berbagai komoditas impor, terutama bahan pangan.
Langkah ini mencakup produk-produk utama seperti daging sapi, kopi, pisang, tomat, dan berbagai buah-buahan tropis.
Ini juga merupakan sebuah pengakuan implisit bahwa kebijakan tarifnya selama ini turut berkontribusi pada kenaikan harga, sebuah sentimen yang santer terdengar pasca-kemenangan Demokrat dalam pemilihan sela (off-year elections) baru-baru ini di mana isu ekonomi menjadi faktor penentu.
Kedua, dari jagat korporasi, investor legendaris Warren Buffett kembali membuat gebrakan. Dalam laporan terbarunya, Berkshire Hathaway mengungkap kepemilikan saham baru senilai US$ 4,3 miliar di Alphabet, induk perusahaan Google.
Ini adalah taruhan besar yang mengejutkan, mengingat Buffett secara historis dikenal menghindari saham-saham teknologi yang tumbuh cepat, meski Apple telah lama menjadi portofolio terbesarnya.
Banyak analis meyakini langkah ini didorong oleh manajer investasinya, Todd Combs dan Ted Weschler, yang lebih terbuka pada sektor teknologi.
Pada saat yang sama, Berkshire juga terlihat kembali memangkas kepemilikan sahamnya di Apple, meskipun raksasa iPhone itu masih menjadi investasi terbesarnya. Langkah ini menjadi sorotan karena diambil menjelang akhir era kepemimpinan Buffett selama 60 tahun di Berkshire.
Kembali ke pasar, dengan sentimen yang masih rapuh, investor kini mencari katalis baru. Laporan pendapatan dari raksasa teknologi menjadi fokus utama minggu depan.
Pasar tengah menyoroti laporan keuangan Nvidia sebagai pemantik potensial yang akan dipublikasikan pada Rabu (19/11/2025) mendatang.
Dengan saham Nvidia yang berhasil pulih dari tekanan jual pada hari Jumat, laporan yang kuat dari raksasa AI ini diyakini dapat menjadi pemicu yang dibutuhkan pasar untuk memulai reli yang lebih luas, dan menarik sektor teknologi keluar dari bayang-bayang kekhawatiran valuasi.
Namun potensi eskalasi geopolitik kian memanas antara Jepang dan juga China akibat perkataan yang dilontarkan oleh PM Sanae Takaichi pada akhir pekan lalu, dibahas pada halaman selanjutnya.
Fokus utama pasar domestik pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan juga ucapan PM Jepang Takaichi yang berpotensi meningkatkan tensi geopolitik di lautan China.
Dari Amerika Serikat, keputusan Trump membatalkan tarif impor sejumlah komoditas pertanian menjadi kabar positif. Berikut sejumlah sentimen pasar pekan depan:
Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) September 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode September pada hari ini, Senin (17/11/2025).
Sebagai catatan, pada Agustus 2025 utang luar negeri tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$ 431,9 miliar , atau secara tahunan tumbuh 2,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,2% (yoy) pada Juli 2025.
Perkembangan ini terutama bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN sektor swasta.
Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$213,9 miliar dolar AS, tumbuh sebesar 6,7% (yoy), atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan 9,0% (yoy) pada Juli 2025.
Posisi ULN swasta tercatat sebesar US$194,2 miliar dolar, atau mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,1% (yoy) pada Agustus 2025, lebih besar dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,2% (yoy)
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI)
Bank Indonesia akan menggelar RDG pada Selasa dan Rabu pekan ini (18-19/11/2025) dan akan mengumumkan kebijakan pada Rabu.
Berbeda dengan RDG-RDG sebelumnya yang sarat akan tekanan eksternal, pertemuan kali ini digelar di tengah lanskap makroekonomi global yang secara signifikan lebih menguntungkan bagi aset emerging markets, termasuk Indonesia.
Narasinya telah bergeser 180 derajat. Pertanyaan pasar kini bukan lagi "apakah BI akan menaikkan suku bunga untuk bertahan?" melainkan "seberapa besar ruang kebijakan yang kini dimiliki BI di tengah sinyal pivot The Fed, yang akan menghentikan reducing balance sheetnya pada Desember mendatang?"
Ini adalah inti dari perubahan paradigma pasar. Bank Indonesia saat ini mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Di seberang Pasifik, Federal Reserve AS (The Fed) memiliki suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada rentang 3,75% - 4,00%.
Secara matematis, ini menempatkan Indonesia pada posisi interest rate differential (spread) positif yang atraktif sebesar 75 hingga 100 basis poin (bps). Skenario ini secara fundamental sangat menguntungkan.
Spread positif yang solid ini berfungsi sebagai insentif kuat bagi capital inflow ke instrumen SBN (Surat Berharga Negara) dan menjadi 'jangkar' alami untuk stabilitas, bahkan potensi apresiasi, nilai tukar Rupiah ke depan apabila Bi-Rate tetap ditahan pada level saat ini.
Posisi superior ini memberikan kemewahan bagi BI untuk tidak perlu reaktif terhadap kebijakan The Fed dan dapat lebih fokus pada mandat stabilitas domestik, apabila kondisi pasar tetap berjalan sesuai dengan rencana.
Dari sisi domestik, data-data terbaru justru memberi BI justifikasi untuk tetap prudent (hati-hati). Pertumbuhan Kredit (Loan Growth) per Oktober tercatat melambat ke level 7,7% (YoY).
Moderasi ini mengindikasikan bahwa transmisi kebijakan moneter BI-pasca kenaikan terakhir ke 4,75%-sudah berjalan efektif dan mulai mendinginkan permintaan kredit di sektor riil, sehingga mengurangi risiko overheating.
Rilis FOMC, Sinyal 'Pivot' The Fed Semakin Kuat?
Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan merilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (20/11/2025). Rilis ini akan menjadi pegangan bagi pelaku pasar mengenai arah kebijakan The Fed ke depan.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini terbelah (split) dalam memproyeksikan langkah The Fed.
Meskipun 55,6% pelaku pasar masih berekspektasi The Fed akan menahan (hold) suku bunga, porsi yang signifikan 44,4% justru telah melakukan pricing-in atas skenario pemangkasan suku bunga (rate cut).
Chairman The Fed Jerome Powell bulan lalu mengatakan pemangkasan Desember belum pasti. Namun, data ekonomi menunjukkan pemburukan.
Pasar meyakini The Fed akan segera melakukan berbagai cara untuk menghindari hard landing ekonomi imbas dari kebijakan pada masa Covid beberapa tahun ke belakang.
Bagi Indonesia, sinyal dovish The Fed adalah katalis bullish primer, yang berpotensi menekan Indeks Dolar (DXY) dan membuka ruang penguatan Rupiah lebih lanjut. Namun tetap harus waspada terhadap adanya ancam di mana The Fed yang akan mempertahankan suku bunganya pada FOMC mendatang.
Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan
Pada Kamis (21/11), Bank Indonesia mengumumkan data NPI dan Transaksi Berjalan kuartal III-2025. Data ini sangat penting dan ditunggu pelaku pasar dan publik karena menjadi cerminan seberapa kekuatan fundamental Indonesia di tengah tekanan eksternal.
Sebagai catatan, NPI Kembali mengalami defisit pada kuartal II-2025. Defisit dipicu derasnya arus keluar modal asing di saham dan obligasi. Kondisi ini membuat defisit neraca transaksi finansial membengkak.
Data Bank Indonesia mencatat defisit NPI pada kuartal II-2025 tercatat mencapai US$6,74 miliar,sekaligus menjadi defisit yang tertinggi sejak kuartal II-2023.
Bila dibandingkan dengan periode kuartal pertama tahun ini, terjadi kenaikan defisit yang sangat besar, dimana pada kuartal I-2025 defisit NPI tercatat sebesar US$800 juta. Artinya terjadi kenaikan deficit NPI sebesar US$5,94 miliar.
Transaksi berjalan membukukan defisit sebesar US$3,01 miliar pada kuartal II-2025 atau 0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut adalah yang tertinggi sejak kuartal I-2020 yang tercatat sebesar US$3,36 miliar.
Defisit pada transaksi berjalan ditengarai oleh meningkatnya defisit pada pendapatan primer, yang tercatat defisit sebesar US$35,87 miliar di kuartal II-2025, naik dari defisit di periode sebelumnya yakni US$9,04 miliar.
Kondisi ni diperparah dengan menurunnya surplus pada neraca perdagangan barang. Pada kuartal II- 2025, tercatat surplus US$10,6 milia turun dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat surplus US$13 miliar.
Perkembangan Uang Beredar Oktober 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data uang beredar pada Oktober 2025 pada Jumat (21/11/2025). Data ini akan menjadi pegangan seberapa besar belanja masyarakat di awal kuartal IV-22025.
Data ini juga menjadi indikator penting bagi likuiditas perbankan dan permintaan kredit. Kenaikan likuiditas dapat mendukung aktivitas ekonomi, namun pasar juga mempertimbangkan implikasinya terhadap inflasi dan strategi kebijakan BI ke depan.
Sebagai catatan, uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh lebih tinggi.Pertumbuhan M2 pada September 2025 sebesar 8,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,6% (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun. Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2% (yoy).
Faktor Penopang Kebijakan Akomodatif China
People's Bank of China (PBoC) akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis (20/11/2025). PBoC diperkirakan akan menahan Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun di level 3,0%.
Kebijakan moneter China yang tetap akomodatif ini krusial untuk menjaga harga komoditas global. Bagi Indonesia, ini membantu menjaga floor price untuk ekspor andalan (batu bara, CPO, nikel), yang pada gilirannya menopang surplus neraca perdagangan dan memberi fondasi kuat bagi stabilitas Rupiah.
Di lain sisi, China saat ini memfokuskan kebijakannya pada penjagaan nilai tukar CNY seperti yang terjadi pada pekan sebelumnya di mana CNY ditekan untuk tetap berada di level rendah guna meningkatkan ketergantungan dagang dan stabilitas akibat tarif yang kian ditetapkan oleh Amerika.
Stagflasi Jepang dan Ancaman Repatriasi Yen
Jepang akan mengumumkan sejumlah data penting mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 pada hari ini, Senin (17/11/2025), neraca perdagangan Oktober pada Rabu (19/11/2025) dan inflasi pada Jumat (21/11/2025).
ata ekonomi Jepang menunjukkan dilema stagflasi yang sempurna. Pertumbuhan melambat sementara inflasi tinggi.
Ini menempatkan Bank of Japan (BoJ) dalam posisi terjepit. Risiko terbesarnya adalah jika BoJ terpaksa mengorbankan pertumbuhan dan mulai menormalisasi suku bunga negatifnya untuk memerangi inflasi. Jika ini terjadi, 'pesta' Yen Carry Trade akan berakhir.
Ini berpotensi memicu repatriasi modal (capital outflow) besar-besaran dari investor Jepang-salah satu pemegang SBN terbesar-yang menarik dana mereka kembali ke Yen. Ini adalah risiko eksternal utama yang kini menggantikan The Fed.
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia) |
Hancurnya Hubungan Jepang dan China
Seluruh rencana di atas dapat berubah karena satu perbuatan yang dilakukan oleh PM Baru Jepang Sanae Takaichi yang baru menjabat beberapa waktu ini. Suatu perkataan krusial baru saja dilontarkan pada akhir pekan lalu.
Takaichi mengucapkan sinyal buruk terkait potensi naiknya tensi geopolitik di Taiwan ini menjadikan suatu ancaman besar bagi perekonomian dunia. Hal ini membentuk suatu kekhawatiran di pasar akibat respon balik oleh China untuk rakyatnya tidak datang ke Jepang terlebih dahulu.
Hal ini mampu membentuk suatu gangguan supply chain di kawasan Taiwan, terutama TSMC yang merupakan perusahaan pembuat semi-conductor terbesar di dunia. Gangguan ini berpotensi menghilangkan momentum rally AI yang sekarang tengah terjadi pada Wall Street.
Diproyeksikan penutupan pasar saham di Amerika pada pagi esok hari nanti akan berisi pelemahan terutama ditopang oleh sektor teknologi dan juga AI.
Selain itu, konflik ini juga mengganggu potensi pendapatan perusahaan-perusahaan AI yang berada di Amerika sehingga forecast investasi juga akan berubah dan terganggu dalam waktu dekat apabila hal ini tidak berkepanjangan.
Tensi geopolitik ini sangat krusial bagi Amerika dan China karena masa depan dunia dan AI sangat bergantung pada produksi chip yang dibuat oleh TSMC yang memiliki weight market share terbesar di dunia.
Data Ekonomi Amerika
Dengan berakhirnya shutdown pemerintahan terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, berbagai lembaga statistik utama kini mengumumkan rencana untuk menerbitkan jadwal terbaru bagi rilis data ekonomi yang tertunda.
Namun ketidakpastian masih ada, karena beberapa laporan kunci kemungkinan pada akhirnya dibatalkan jika lembaga terkait tidak dapat menyelesaikannya akibat terganggunya proses pengumpulan data. Meski begitu, serangkaian indikator swasta dan regional tetap akan memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi ekonomi AS.
Penjualan rumah existing diperkirakan tidak banyak berubah pada Oktober. Indeks Pasar Perumahan NAHB diperkirakan turun sedikit, sementara Indeks Manufaktur Empire State New York kemungkinan melemah lebih lanjut.
Data lain mencakup S&P Global Flash PMI, laporan pekerjaan mingguan ADP, pembacaan akhir Sentimen Konsumen Michigan, serta survei manufaktur Fed Philadelphia dan Kansas. Dari sisi laba perusahaan, beberapa perusahaan besar yang akan melaporkan kinerjanya minggu depan termasuk Nvidia dan Walmart.
Trump Berikan Pengecualian Tarif
Presiden Donald Trump pada hari Jumat mengecualikan sejumlah impor pertanian utama seperti kopi, kakao, pisang, dan produk daging sapi tertentu dari tarif tinggi yang ia berlakukan.
Langkah ini diambil saat Trump menghadapi tekanan politik akibat tingginya harga di toko bahan makanan AS. Sejumlah distributor daging sapi, kopi, cokelat, dan bahan pangan umum lainnya telah menaikkan harga sejak tarif Trump diberlakukan tahun ini, menambah tekanan pada anggaran rumah tangga yang sudah terpukul oleh inflasi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Tindakan Trump pada Jumat itu juga mengecualikan berbagai jenis buah, termasuk tomat, alpukat, kelapa, jeruk, dan nanas. Selain kopi, penurunan tarif juga mencakup teh hitam dan hijau, serta rempah-rempah seperti kayu manis dan pala.
Langkah ini menandai perubahan sikap bagi Trump, yang sebelumnya bersikeras bahwa tarif diperlukan untuk melindungi bisnis dan pekerja AS. Ia mengklaim bahwa konsumen AS pada akhirnya tidak akan menanggung beban tarif yang lebih tinggi tersebut.
Pengecualian tarif ini muncul hanya sehari setelah Trump mencapai kerangka kesepakatan dagang dengan empat negara Amerika Latin-termasuk tarif 10% untuk sebagian besar barang dari Argentina, Guatemala, dan El Salvador, serta 15% untuk barang dari Ekuador. Kebijakan ini juga menghapus bea masuk untuk produk yang tidak ditanam atau diproduksi dalam jumlah cukup di AS, seperti pisang dan kopi.
Harga pangan yang terus naik telah membebani rumah tangga AS selama beberapa tahun terakhir. Data Indeks Harga Konsumen menunjukkan harga bahan makanan di rumah meningkat sekitar 2,7% secara tahunan pada September. (Data terbaru tertunda akibat shutdown pemerintah).
Pengecualian tarif ini bertujuan membantu meredam kenaikan harga bahan makanan, meskipun para ahli memperingatkan bahwa faktor lain seperti kekurangan pasokan global juga memengaruhi harga, terutama untuk kopi dan daging sapi.
Dalam setahun terakhir, AS telah memberlakukan tarif tinggi terhadap pemasok utama termasuk Brasil, Australia, Selandia Baru, dan Uruguay. Brasil-produsen daging sapi terbesar kedua di dunia-menghadapi tarif efektif yang mencapai lebih dari 75%, sehingga menurunkan volume impor ke AS pada saat populasi ternak di negara tersebut berada di level terendah dalam hampir 75 tahun.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- GDP Growth Jepang
- Industrial Production Jepang
- FDI YoY China
Pertemuan Menteri Perdagangan dengan Menteri UMKM dengan agenda pembahasan "Isu Thrifting" di Gedung Utama, Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.
Press conference Orange Forum 2025 "From The South To The Future: Financing Global Sustainability Through Inclusion" di Main Hall BEI, Jakarta Selatan.
National Seminar & FEB UI Tax Clinic Launch - Reinventing Tax Compliance: From Enforcement to Cooperative Comliance di Auditorium FEB UI, Depok, Jawa Barat. Turut hadir Direktur Jenderal Pajak dan Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan.
13th US-Indonesia Investment Summit dengan tema "Turning Headwinds into Opportunities: Unlocking Investment Potential to Power Indonesia's Growth" di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Konferensi pers Indonesia AI Day for Higher Education bertema "Experience The Shift: From Traditional to Tech-Driven Education" di Meeting Room MX Center, Gedung Indosat, Jakarta Pusat. Narasumber: Director & Chief Business Officer Indosat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interims Darya Varia Laboratoria Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
Shutdown Berakhir, Tapi Dunia Diguncang Ketakutan Baru dari The Fed
Berakhirnya shutdown dan pemangkasan suku bunga akan menjadi penggerak pasar hari ini [2,532] url asal
#ihsg #rupiah #newsletter #pasar-keuangan #saham #bumi-resources #nilai-transaksi #investasi #analisis-pasar #sektor-kesehatan #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 13/11/25 15:28
v/38106/
- Pasar keuangan Indonesia, baik saham dan nilai tukar melemah pada perdagangan kemarin
- Wall Street ambruk berjamaah karena pesimisme pemangkasan suku bunga
- Berakhirnya shutdown dan pemangkasan suku bunga akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Tanah Air kompak lesu pada perdagangan kemarin. Bursa saham dan nilai tukar rupiah melemah meski shutdown di Amerika Serikat (AS) berakhir.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan tenaga pada akhir perdagangan Kamis (13/11/2025). Indeks ditutup di level 8.372, turun 0,2%.
Sebanyak 314 saham berada di zona hijau. Saham yang mengalami koreksi 345 dan sisanya 154 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 25,5 triliun, melibatkan 62,4 miliar saham dalam 2,73 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar terkoreksi menjadi Rp 15.311 triliun
Asing mencatat net buy sebesar Rp 2,91 triliun di semua pasar.
Mengutip Refinitiv, sektor kesehatan melambung tinggi atau 4,68%. Hal ini seiring dengan lompatan Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) sebesar 12,77% ke level 13.250.
Sementara itu, saham yang paling banyak diburu hari ini adalah Bumi Resources (BUMI). BUMI pun tercatat sebagai penopang utama IHSG kemarin dengan kontribusi 9,74 indeks poin. Hingga akhir perdagangan, BUMI naik 16,67% ke level 224.
Beralih ke pasar valuta asing, mata uang garuda ditutup melemah hingga menembus level psikologi nya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring dengan berakhirnya penutupan pemerintahan AS.
Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (13/11/2025) rupiah harus mengakui kekuatan dolar AS menembus level psikologisnya di Rp16.700/US$ ke level Rp16.730/US$ atau melemah 0,15%.
Angka penutupan ini pun sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sejak 26 September 2025.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tengah mengalami pelemahan sebesar 0,12% di level 99,353.
Pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis (13/11/2025), terjadi meskipun indeks dolar AS justru berada di zona pelemahan.
Melemahnya dolar terjadi setelah pemerintah AS resmi mengakhiri government shutdown selama 43 hari, sehingga meredakan ketidakpastian fiskal dan mendorong pelaku pasar untuk kembali masuk ke aset berisiko.
Namun, momentum penguatan tersebut belum mampu dimanfaatkan rupiah yang masih tertekan oleh dolar AS.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) turun ke 6,11% dari 6,15% pada perdagangan Rabu. Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Saham-saham melemah karena investor semakin pesimistis terhadap prospek suku bunga.
Dow Jones Industrial Average turun 797,60 poin, atau 1,65%, dan ditutup di 47.457,22,
Indeks S&P 500 merosot 1,66% menjadi 6.737,49. Indeks berbasis luas ini mengalami penurunan signifikan pada sektor communication services, dipimpin oleh penurunan hampir 8% saham Disney akibat hasil kuartal IV fiskal yang beragam, serta sektor teknologi informasi.
Nasdaq Composite turun 2,29% ke 22.870,36. Ketiga indeks utama, termasuk Russell 2000, mencatat hari terburuk sejak 10 Oktober.
Para investor terus menjual saham-saham teknologi, terutama yang terkait perdagangan artificial intelligence, di tengah kekhawatiran atas valuasi yang terlalu tinggi.
Meski Nasdaq mengawali minggu ini dengan kuat, indeks sarat teknologi itu mencatat penurunan untuk hari ketiga berturut-turut pada Kamis, tertekan oleh saham-saham raksasa seperti Nvidia, Broadcom, dan Alphabet.
"Menurut saya ini terlihat seperti konsolidasi yang alami," kata Ron Albahary, Chief Investment Officer di Laird Norton Wealth Management, kepada CNBC, menyebut koreksi hari itu sebagai sesuatu yang "sehat."
Perubahan mendadak dalam ekspektasi pemangkasan suku bunga juga membebani pasar saham.
Pasar sebelumnya memperkirakan peluang lebih dari 51% bahwa Federal Reserve yang bergantung pada data akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pertemuan terakhir tahun ini di Desember.
Menurut CME FedWatch Tool, angka ini turun tajam dari probabilitas 62,9% yang terlihat sehari sebelumnya,
Bank sentral sempat "terbang tanpa data" selama penutupan pemerintahan AS yang terpanjang dalam sejarah, karena tidak adanya laporan ekonomi penting seperti data pekerjaan Oktober dan inflasi.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pada Rabu bahwa laporan-laporan itu mungkin tidak akan pernah dirilis.
Penutupan tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi kuartal keempat hingga 2 poin persentase. Namun sebagian besar ekonom memperkirakan dampaknya terhadap PDB AS akan minimal.
Penutupan yang berlangsung lebih dari enam minggu itu berakhir Rabu malam, ketika Presiden Donald Trump menandatangani undang-undang pendanaan pemerintah.
RUU akan mendanai operasi pemerintah hingga akhir Januari.
"Meski kami memang sudah memperkirakan bahwa banyak data yang terlewat selama penutupan tidak akan muncul kembali, masih ada pertanyaan tentang seperti apa data inflasi dan pekerjaan ketika laporan-laporan itu diterbitkan lagi," kata Carol Schleif, Chief Market Strategist di BMO Private Wealth, ujarnya kepada CNBC International.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang akan berdampak terhadap rupiah hingga saham pada hari ini. Berakhirnya shutdown bisa menjadi kabar positif tetapi pesimisme pemangkasan suku bunga The Fed bisa menggoyang pasar.
Trump Teken RUU, Krisis Shutdown AS Akhirnya Tamat
Drama panjang penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) akhirnya berakhir. Presiden Donald Trump resmi menandatangani rancangan undang-undang (RUU) pendanaan yang mengakhirishutdownterlama dalam sejarah Negeri Paman Sam pada Rabu malam waktu setempat.
Krisis ini berlangsung sejak 1 Oktober, membuat sebagian besar layanan publik lumpuh dan ratusan ribu pegawai federal tak menerima gaji. Dalam pidato sebelum penandatanganan, Trump menuding Partai Demokrat telah melakukan "pemerasan politik" selama kebuntuan 43 hari tersebut.
"Hari ini kami kirim pesan tegas: kami tidak akan tunduk pada pemerasan," ujar Trump di Ruang Oval Gedung Putih, disambut tepuk tangan dari anggota parlemen Partai Republik. Ia menambahkan bahwa Partai Republik tidak pernah menginginkan shutdown dan menegaskan agar hal serupa tak terulang lagi.
Sebelumnya, Senat AS telah menyetujui RUU pendanaan pada Senin malam. Undang-undang ini akan menjamin operasional pemerintahan hingga akhir Januari mendatang dan mengembalikan pembayaran gaji bagi seluruh pegawai federal yang terdampak.
Selain itu, paket pendanaan ini juga memastikan keberlanjutan program bantuan panganSupplemental Nutrition Assistance Program(SNAP) yang menopang kebutuhan 42 juta warga AS. Sebelumnya, pemerintahan Trump sempat berencana memangkas tunjangan tersebut dengan alasan keterbatasan anggaran akibat shutdown.
Dalam kesepakatan itu, Senat juga akan menjadwalkan pemungutan suara terkait rencana pencabutan subsidi asuransi kesehatanObamacare-program andalan Demokrat yang telah lama menjadi sasaran pembatalan Trump karena dianggap menguntungkan imigran.
Sebelum sampai di meja presiden, RUU ini telah lebih dulu disetujui oleh Dewan Perwakilan AS. Seperti diketahui, sistem legislatif AS menganut dua kamar, yakni DPR dan Senat, yang keduanya harus menyetujui undang-undang sebelum disahkan presiden.
Dengan penandatanganan ini, AS resmi keluar dari krisis politik dan fiskal yang sempat mengguncang perekonomian nasional, sekaligus menutup babak kelam dalam sejarah pemerintahan Trump.
Berakhirnyashutdownpemerintahan Amerika Serikat (AS) membawa angin segar bagi pasar global, termasuk Indonesia. Kembalinya aktivitas fiskal dan rilis data ekonomi di AS akan mengembalikan arah pasar, memengaruhi rupiah, ekspor, dan arus modal asing.
1. Nilai Tukar Rupiah
Selama penutupan pemerintah sejak 1 Oktober 2025, investor global beralih ke asetsafe havenseperti dolar AS. Indeks Dolar (DXY) sempat naik 1,98%, membuat rupiah melemah sekitar 0,78%.
Kini, setelah shutdown berakhir, pasar menantikan rilis data ekonomi AS seperti inflasi dan tenaga kerja yang sempat tertunda. Jika data menunjukkan perlambatan, peluang The Fed memangkas suku bunga terbuka lebar skenario yang bisa menekan dolar dan memperkuat rupiah.
2. Dampak pada Perdagangan dan Investasi
AS adalah mitra dagang terbesar kedua Indonesia. Normalisasi ekonomi di sana berpotensi meningkatkan permintaan impor, terutama untuk produk unggulan RI seperti sepatu, alat listrik, karet, minyak sawit, dan panel surya. Hingga September 2025, ekspor Indonesia ke AS mencapai US$23,03 miliar, dan nilainya bisa naik seiring pemulihan konsumsi di AS.
Dari sisi investasi, AS juga termasuk lima besar negara asal PMA ke Indonesia dengan realisasi US$0,8 miliar di kuartal III-2025. Tahun lalu, total investasi AS mencapai US$3,7 miliar. Pulihnya stabilitas fiskal di AS bisa meningkatkan kembali keyakinan investor Amerika untuk menanam modal di sektor manufaktur, energi, dan teknologi di Indonesia.
3. Arus Modal ke Pasar Keuangan Indonesia
Meredanya ketidakpastian fiskal AS memberi kejelasan baru bagi pasar global. Dengan kondisi yang lebih stabil, investor institusional berpotensi mengalihkan dana ke aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika imbal hasil obligasi AS turun dan volatilitas global mereda, pasar saham dan obligasi RI bisa kembali kebanjiran modal asing.
Singkatnya, berakhirnya shutdown AS bukan hanya kabar baik bagi Washington, tapi juga membuka peluang penguatan rupiah, ekspor, dan investasi di tanah air.
China Industrial Production YoY & China Retail Sales YoY
Hari ini, dua data penting akan diisi oleh rilis data borongan dari China, yang pertama adalah Produksi Industri (Industrial Production) untuk Oktober.
Data ini mencerminkan kesehatan sektor manufaktur dan pabrik di China. Pada periode September, data ini tampil sangat kuat di 6,5% YoY, jauh melampaui konsensus 5,0%. Namun, konsensus pasar untuk Oktober memperkirakan adanya moderasi atau perlambatan ke level 5,6% YoY.
Produksi Industri adalah potret sisi supply (penawaran) dari ekonomi China. Data yang kuat di September menunjukkan bahwa stimulus yang digelontorkan Beijing ke sektor manufaktur mulai berjalan. Bagi Indonesia, data ini sangat vital.
Jika Produksi Industri Oktober berhasil mengalahkan ekspektasi (misalnya, tetap di atas 6,0%), ini adalah kabar baik. Ini berarti permintaan dari pabrik-pabrik China terhadap bahan baku mentah akan tetap kencang. Ini adalah katalis positif langsung bagi emiten-emiten komoditas andalan Indonesia di IHSG, seperti batu bara, nikel, dan logam dasar lainnya. Namun, jika data ini meleset dari perkiraan, harga komoditas berisiko terkoreksi.
Data kedua dari China adalah Penjualan Ritel (Retail Sales), yang akan dirilis bersamaan. Ini adalah kebalikan dari Produksi Industri; data ini mengukur sisi demand (permintaan) alias konsumsi domestik masyarakat China.
Sementara produksi industrinya kuat, penjualan ritel September tumbuh sangat loyo di 3,0% YoY, menandai pertumbuhan terlemah sejak November 2024. Ini menunjukkan konsumen China masih menahan belanja dan lebih memilih menabung.
Inilah tantangan ekonomi China saat ini yaitu ketidakseimbangan antara supply yang kuat dan demand yang lemah. Pelaku pasar akan mengamati apakah konsumen China mulai membaik di bulan Oktober.
Pemangkasan Suku Bunga The Fed Menjauh?
Chairman The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada rapat bulan lalu mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga Desember belum menjadi sesuatu yang pasti.
Pernyataan terbaru dari para koleganya menunjukkan banyak keraguan tentang apakah bank sentral sebaiknya melakukan pelonggaran kebijakan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut pada rapat berikutya di 9-10 Desember.
Akibatnya, pasar telah menyesuaikan kembali ekspektasinya. Beberapa hari lalu, para trader masih mematok probabilitas setidaknya 2 banding 1 untuk terjadinya pemangkasan 25 basis poin. Namun kini peluang itu berubah menjadi 50:50, menurut data pasar berjangka yang dihitung oleh CME Group dalam alat FedWatch.
"Perkembangan ini sedikit mengikis keyakinan kami bahwa The Fed akan memangkas suku bunga di [Desember] tanpa memberi kami keyakinan lebih bahwa menunda ke (Januari) adalah pilihan yang lebih baik," kata Krishna Guha, kepala kebijakan global dan strategi bank sentral di Evercore ISI, dalam sebuah catatan, dikutip dari CNBC International.
"Ini membuat kami masih melihat pemangkasan di [Desember] lebih mungkin terjadi, namun hanya 55-60 persen." Imbuhnya,
Probabilitas implisit terjadinya pemangkasan berada di 49,3%. Probalitas ini merujuk pada alat CME yang menggunakan harga kontrak futures fed funds 30 hari untuk menginterpolasi probabilitas perubahan suku bunga. Harga futures menunjuk pada suku bunga 3,775% pada akhir 2025, dibandingkan level saat ini 3,87%.
Sebulan lalu, pasar menempatkan peluang pemangkasan sebesar 95%.
Foto: Fed Watch ToolProyeksi baru fed cut rate dari The Fed Watch Tool |
Minimnya data menjadi salah satu alasan pesimisme. Shutdown membuat rilis data tertunda dan pejabat The Fed khawatir akan menentukan arah kebijakan yang salah.
Keraguan tersebut muncul melalui pernyataan yang sangat blak-blakan dari Presiden Fed Boston, Susan Collins.
Selama ini Collins selalu menggunakan bahasa yang sangat hati-hati dalam menyampaikan pandangannya. Namun pidatonya kali ini menunjukkan dengan jelas kegelisahannya terkait inflasi dan pentingnya Fed mempertahankan kebijakan saat in, setidaknya untuk sementara hingga ada kejelasan ekonomi yang lebih baik.
"Berdasarkan proyeksi dasar saya, kemungkinan besar akan tepat untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini untuk beberapa waktu guna menyeimbangkan risiko inflasi dan ketenagakerjaan dalam kondisi yang sangat tidak pasti ini," kata Collins.
Bagian penting dari argumennya adalah bahwa perekonomian secara umum masih tampak solid meski terjadi perlambatan perekrutan. Menurut Collins, pemangkasan tambahan berisiko mendorong inflasi naik lagi di saat dampak tarif impor masih belum jelas.
"Level suku bunga saat ini, menurut saya, membuat kebijakan berada pada posisi yang baik untuk menghadapi berbagai kemungkinan hasil dan menyeimbangkan risiko di kedua sisi mandat kami," ujarnya, merujuk pada mandat ganda Fed untuk memaksimalkan lapangan kerja dan menjaga stabilitas harga.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- China Industrial Production & China Retail Sales YoY
Kemenko Perekonomian akan menyelenggarakan Media Briefing mengenai Perkembangan Posisi Pemerintah Indonesia dalam Forum G20 dan Kebijakan Penyelenggaraan Perizininan Berusaha Berbasis Risiko (OSS)
Coffee Morning Session Danantara
Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyelenggarakan diskusi diseminasi hasil studi bertajuk "Meninjau Efektivitas Birokrasi Impor di Indonesia"
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Tanggal DPS Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
RUPS Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON)
RUPS PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP)
RUPS PT Nusantara Infrastructure Tbk (META)
RUPS PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF)
RUPS PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS)
RUPS PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE)
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Graha Mitra Asia Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Indo Tambangraya Megah Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
Tanggal DPS Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk.
Tanggal DPS Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Too Much Risk! Awas, Guncangan Voting Shutdown-Ambruknya Harga Minyak
Voting shutdown, data inflasi AS dan harga minyak akan menjadi penggerak pasar hari ini [2,927] url asal
#newsletter #ihsg #rupiah #pasar-keuangan #nilai-tukar-rupiah #investasi #saham #kapitalisasi-pasar #perdagangan-saham #bank-indonesia #volatilitas-pasar #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 12/11/25 14:38
v/36977/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam kemarin. Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
- Wall Street bergerak beragam, Dow Jones pesta dan rekor
- Voting shutdown, data inflasi AS dan harga minyak akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam kemarin. Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bangkit pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin Rabu (12/11/2025). Indeks ditutup naik 0,26% atau 22,06 poin ke level 8.388,57. Sebanyak 343 saham naik, 323 turun, dan 147 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 22,3 triliun, melibatkan 51,3 miliar dalam 2,6 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 15.303 triliun.
Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 1,23 triliun.
Mengutip Refinitiv, konsumer non-primer naik paling kencang, yakni 1,41%. Kemudian diikuti oleh teknologi (1,32%) dan properti (0,85%).
Saham yang menjadi penopang utama adalah emiten Prajogo Pangestu, yaitu Barito Pacific (BRPT) yang berkontribusi 15,61 indeks poin. BRPT pada perdagangan kemarin naik 7,08% ke level 3.780.
Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (12/11/2025).
Melansir Refintiv, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,09% ke level Rp16.695/US$. Rupiah bergerak di rentang level Rp16.680 - Rp16.725/US$ pada perdagangan hari ini.
Pelemahan rupiah ini terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tersebut pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat walau hanya tipis 0,06% di posisi 99.505.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kehati-hatian pelaku pasar global menjelang pemungutan suara di DPR AS (House of Representatives) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (12/11/2025) sore waktu AS.
Voting tersebut akan menentukan apakah government shutdown terpanjang dalam sejarah AS yang telah berlangsung sejak 1 Oktober 2025 akhirnya berakhir atau justru berlanjut.
Ketidakpastian ini membuat investor cenderung menahan posisi di aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah, dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) melandai tipis ke 6,15% pada perdagangan kemarin, dari 6,16% pada hari sebelumnya. Melandainya imbal hasil menandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street pesta pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari nanti. Wall Street optimistis menjelang kemungkinan berakhirnya shutdown pemerintahan AS yang memecahkan rekor terpanjang dalam sejarah.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat penutupan rekor pertamanya di atas level 48.000 melanjutkan reli dari sesi sebelumnya.
Indeks Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan naik 326,86 poin atau 0,68% menjadi 48.254,82, sekaligus mencetak rekor tertinggi intraday baru.
Sementara itu, S&P 500 nyaris tak bergerak dan ditutup naik tipis 0,06% ke 6.850,92, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,26% menjadi 23.406,46.
Investor memantau perkembangan di Washington, karena pemerintah federal tampak siap dibuka kembali pada akhir pekan ini.
Senat AS pada Senin malam telah meloloskan rancangan undang-undang pendanaan (spending bill) yang kini diteruskan ke Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) untuk pemungutan suara final.
Pemimpin Mayoritas DPR AS Steve Scalise (R-Louisiana) mengatakan kepada CNBC pada Rabu bahwa voting kemungkinan dilakukan sekitar pukul 7 malam waktu Washington D.C. (07.00 WIB Kamis pagi).
"Kita sedang berada dalam penutupan terpanjang sepanjang sejarah. Fokus saat ini adalah mengakhiri shutdown secepatnya. Setelah ketentuan pembukaan kembali ditetapkan, barulah mungkin kita perlu khawatir soal perpanjangan pendanaan hingga Januari," ujar Josh Chastant, manajer portofolio investasi publik di GuideStone Funds, kepada CNBC International.
Dia menambahkan bahwa pelaku pasar akan menyambut baik kembalinya rilis data ekonomi, mengingat ada tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja.
Menurut Chastant, pasar kini memperlihatkan reaksi "terbelah" seiring investor bersiap menyambut berakhirnya shutdown yang telah memasuki hari ke-43. Optimisme terhadap pembukaan kembali pemerintahan terlihat dari penguatan saham-saham sektor keuangan.
Kinerja Dow Jones didukung oleh saham-saham perbankan besar seperti Goldman Sachs, JPMorgan Chase, dan American Express, yang semuanya mencetak rekor tertinggi baru. Saham Caterpillar, yang sensitif terhadap kondisi ekonomi riil, juga menguat.
Saham bank lainnya seperti Morgan Stanley, Wells Fargo, dan Bank of America turut mencetak level tertinggi baru. Indeks Financial Select SPDR Fund (XLF), yang melacak sektor keuangan di S&P 500, naik hampir 1%.
Di luar sektor keuangan, saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) kembali menunjukkan volatilitas tinggi bulan ini.
Investor masih berhati-hati karena valuasi sektor teknologi dinilai sudah sangat mahal setelah lonjakan besar baru-baru ini. Saham Advanced Micro Devices (AMD) melonjak 9%, namun Oracle dan Palantir Technologies justru melemah.
"Permintaan dan penerapan AI nyata adanya. Laporan laba perusahaan teknologi sejauh ini cukup kuat, jadi kami tidak melihat adanya gelembung, hanya saja valuasinya memang sudah tinggi," ujar Chastant kepada CNBC.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang diperkirakan menggerakkan saham, rupiah, hingga SBN. Dari luar negeri, sentimen terbesar akan datang dari voting shutdown dan inflasi AS.
Dari dalam negeri, sejumlah isu di DPR bisa menjadi sentimen pasar hari ini.
Voting Shutdown
DPR Amerika Serikat berencana memulai pemungutan suara pada Rabu untuk membahas rancangan undang-undang yang telah disetujui Senat guna membuka kembali pemerintahan federal, menurut pemberitahuan dari Majority Whip Tom Emmer.
Pemungutan suara tersebut dijadwalkan sekitar pukul 7 sore waktu Washington D.C. (ET) atau 07.00 Waktu Indonesia Barat (WB). Diperkirakan akan ada beberapa sesi voting pada hari yang sama.
Voting tersebut nantinya akan menentukan apakah penutupan terpanjang sejarah AS, yang telah berlangsung sejak 1 Oktober 2025 akhirnya berakhir atau justru masih akan berlanjut.
Penutupan pemerintahan AS ini yang telah berlangsung selama lebih dari 43 hari telah menimbulkan dampak yang luas khususnya bagi perekonomian AS. Mulai dari gaji pegawai pemerintahan yang belum terbayarkan, gangguan penerbangan, hingga tidak terbitnya data-data indikator ekonomi vital.
Seluruh mata penjuru dunia akan menanti hasil dari voting tersebut yang pada akhirnya akan ada dua skenario.
Skenario pertama adalah voting berhasil menyetujui pendanaan untuk pemerintahan bisa berjalan lagi setidaknya hingga 30 Januari 2026. Kemudian, ada skenario kedua yakni apabila voting untuk pendanaan ini masih gagal otomatis, pemerintahan AS ini akan kembali melanjutkan penutupannya hingga waktu yang tidak diketahui.
Penutupan pemerintahan AS selama lebih dari enam minggu membuat publikasi data ekonomi penting seperti inflasi, tenaga kerja, dan penjualan ritel terhenti total. Kondisi ini membuat The Federal Reserve (The Fed) kehilangan panduan utama untuk membaca kondisi ekonomi terkini menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 9-10 Desember 2025.
Ketua The Fed Jerome Powell bahkan mengibaratkan situasi ini seperti "driving in the fog," menandakan bahwa bank sentral harus berhati-hati dalam mengambil keputusan di tengah kabut ketidakpastian.
Shutdown juga memukul sektor layanan publik. Lebih dari 5.500 penerbangan telah dibatalkan karena kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara yang disebabkan oleh gaji yang belum diterima.
Menurut Tourism Economics, penutupan selama enam minggu berpotensi mengurangi belanja perjalanan sebesar US$2,6 miliar, dengan dampak lanjutan terhadap hotel, restoran, dan transportasi darat.
Tekanan terhadap ekonomi riil makin terasa menjelang akhir shutdown. Sentimen konsumen AS anjlok ke titik terendah dalam 3,5 tahun pada awal November, mencerminkan penurunan keyakinan rumah tangga menjelang musim liburan. Para ekonom turut memperingatkan, semakin lama shutdown berlangsung, semakin besar risiko pelemahan konsumsi dan PDB kuartal IV-2025.
Program bantuan sosial seperti Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP) yangn mana memberikan bantuan pangan bagi keluarga berpendapatan rendah di seluruh AS dan program sosial Women Infant and Children (WIC) yang menyediakan bantuan nutrisi khusus bagi ibu hamil, hingg anak-anak di bawah usia lima tahun juga terdampak.
DPR dan Pemerintah Bahas Ulang 29 Isu Krusial dalam RKUHAP
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah kembali membedah 29 isu penting dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP). Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan draf aturan dengan berbagai masukan masyarakat yang dinilai perlu diakomodasi dalam sistem hukum pidana Indonesia.
Pembahasan RKUHAP berlangsung dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi III DPR Habiburokhman dan dihadiri oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharif Hiariej bersama jajaran pemerintah.
Agenda pembahasan akan berlanjut pada Kamis (13/11/2025) dengan fokus pada sejumlah materi yang masih terbuka, seperti ketentuan penyitaan, mekanisme bantuan hukum, serta ganti kerugian bagi pihak yang dirugikan dalam proses hukum. Pemerintah menilai beberapa aspek tersebut perlu dijabarkan lebih rinci agar memiliki dasar hukum yang jelas dan dapat diterapkan secara konsisten.
Secara keseluruhan, DPR dan pemerintah telah menghimpun lebih dari 40 masukan publik yang kemudian dikelompokkan dalam beberapa klaster.
Isu yang paling banyak disorot mencakup perlindungan terhadap penyandang disabilitas dan kelompok rentan, termasuk anak, perempuan, dan ibu hamil. Dalam draf yang dibahas, posisi dan hak kelompok tersebut akan dijamin setara, baik dalam proses pemeriksaan maupun pembuktian di pengadilan.
Panja juga menyepakati pentingnya keterbukaan dalam proses penyidikan. Seluruh tahapan pemeriksaan nantinya wajib terekam melalui kamera pengawas, sementara tersangka berhak didampingi advokat sejak awal pemeriksaan. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan transparansi dan mencegah potensi pelanggaran hukum dalam proses penyelidikan.
Selain itu, mekanisme keadilan restoratif (restorative justice) menjadi salah satu fokus utama. Prinsip ini diusulkan untuk diterapkan di setiap tahap proses hukum guna menyeimbangkan kepentingan hukum dengan pemulihan hubungan sosial antara pelaku dan korban. Pemerintah dan DPR masih menyempurnakan rumusan final agar implementasinya memiliki dasar hukum yang kuat.
Dalam pembahasan lain, DPR dan pemerintah juga telah menyepakati posisi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai penyidik utama.
Ketentuan ini mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU-XXI/2023, yang menegaskan bahwa Polri memegang fungsi koordinasi dan pengawasan terhadap Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).
Meski sejumlah isu telah disepakati, pembahasan mengenai pelaksanaan penyitaan masih berlanjut dan dijadwalkan dibahas kembali dalam rapat berikutnya. DPR memastikan bahwa seluruh klaster masalah akan dibahas secara menyeluruh sebelum RKUHAP dibawa ke tahap pengambilan keputusan.
Berdasarkan hasil kajian sementara, terdapat 29 klaster utama yang menjadi fokus pembahasan, mulai dari perlindungan kelompok rentan, hak bantuan hukum, mekanisme penyitaan, pemblokiran aset, hingga pelaksanaan keadilan restoratif.
DPR menilai seluruh isu ini perlu difinalisasi dengan melibatkan pandangan masyarakat agar RKUHAP yang baru benar-benar mencerminkan prinsip keadilan dan transparansi dalam hukum acara pidana Indonesia.
Inflasi AS
Pada Kamis malam waktu Indonesia, seluruh pasar keuangan global akan menahan napas menanti angkaConsumer Price Index(CPI) Amerika Serikat (AS) untuk Oktober. Angka ini akan menjadi kunci arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed), pergerakan Dolar AS, Rupiah, IHSG, SBN, hingga harga emas dan Bitcoin.
Pada September lalu, inflasi AS mendingin lebih cepat dari ekspektasi. Inflasi inti (Core CPI) melandai ke 3,0% (yoy), dan inflasi utama (Headline CPI) juga di 3,0%. Untuk Oktober, konsensus pasar memperkirakan inflasi tetap stabil di 3,0% untuk kedua indikator tersebut.
Pasar kini menanti dua kemungkinan besar yang akan menentukan arah pergerakan aset global
Jika CPI Oktober berada di 3,0% atau bahkan turun ke 2,9%, terutama pada inflasi inti, pasar akan merespons dengan euforia.
Ini menegaskan bahwa siklus kenaikan suku bunga The Fed telah selesai. Jerome Powell akan mendapat "lampu hijau" untuk mulai bersikap dovish.
Dampaknya: indeks Dolar AS (DXY) kemungkinan melemah tajam, imbal hasil (yield) US Treasury turun, dan selera risiko (risk-on sentiment) meningkat. Aset berisiko seperti saham (termasuk IHSG), mata uang emerging market seperti Rupiah, serta komoditas seperti emas berpotensi menguat signifikan.
Sebaliknya, jika inflasi justru naik misalnyacore CPImenanjak ke 3,1% atau 3,2% yoy - pasar akan langsung panik.
NarasipivotThe Fed akan runtuh. Ekspektasi akan beralih ke potensi kenaikan suku bunga tambahan pada Desember. Imbasnya: Dolar AS menguat tajam, yield Treasury naik, dan Rupiah berpotensi kembali tertekan ke kisaran Rp16.500-17.000 per dolar AS. IHSG dan pasar obligasi pemerintah (SBN) bisa terpuruk.
Bank Indonesia (BI) terus menurunkan volume penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan likuiditas di sistem perekonomian Indonesia.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, penurunan volume penerbitan SRBI itu telah turun dari awal 2025 mencapai kisaran Rp 916,9 triliun, menjadi tersisa Rp 705,8 triliun saat ini.
"Sehingga kami telah memberikan ekspansi likuiditas dari sisi moneter dengan penurunan SRBI sebesar Rp211,2 triliun," ucap Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (12/11/2025).
Meski penerbitan SRBI terus dikurangi untuk menjaga likuditas sistem perekonomian domestik, BI tetap memastikan instrumen kebijakan moneter itu ke depannya akan terus dipertahankan.
"SRBI ini adalah instrumen moneter yang tentunya masih akan terus diperlukan. Operasi moneter itu kan menarik likuiditas dari sistem apabila diperlukan, dan melakukan tambahan likuiditas ke sistem apabila kebijakan kita ekspansif," ucap Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya saat di Bukittinggi pada akhir Oktober 2025.
Namun, saat ini, posisi instrumen moneter SRBI terus diturunkan BI untuk mengimbangi aksi ekspansi likuiditas yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Harga Minyak Ambruk
Harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) berjangka turun lebih dari 4% ke sekitar US$58,49 per barel pada Rabu, menyentuh level terendah dalam tiga minggu setelah sebelumnya mencatat kenaikan tiga sesi berturut-turut. Penurunan tajam ini terjadi setelah OPEC merevisi proyeksi pasokan globalnya dan kini memperkirakan akan terjadi surplus pasokan pada kuartal III.
Sepanjang tahun ini, harga minyak sudah jeblok 18%.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kini memperkirakan pasokan global melebihi permintaan sekitar 500.000 barel per hari, berbalik arah dari perkiraan sebelumnya yang menunjukkan defisit pasokan. Revisi ini mencerminkan produksi AS yang lebih kuat dari perkiraan serta kenaikan output di negara-negara OPEC sendiri.
Badan Informasi Energi AS (U.S. Energy Information Administration - EIA) dijadwalkan merilis laporan bulanan pada Rabu malam waktu setempat, disusul oleh laporan prospek energi dari Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis. IEA baru-baru ini melunakkan pandangannya terhadap puncak permintaan minyak, dan kini memperkirakan bahwa konsumsi global bisa terus meningkat hingga tahun 2050.
Harga minyak dunia memang melemah sepanjang tahun ini di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan, seiring OPEC+ mulai memulihkan kapasitas produksinya dan produsen non-anggota meningkatkan aktivitas pengeboran.
Namun demikian, sanksi AS terhadap perusahaan minyak besar Rusia yang terlibat dalam konflik Ukraina mulai menunjukkan dampak nyata. Salah satunya, Lukoil dilaporkan menyatakan force majeure (keadaan kahar) pada salah satu ladang minyaknya di Irak.
Di satu sisi, ambruknya harga minyak bisa menjadi kabar baik karena bisa menekan impor BBM. Namun, jatuhnya harga minyak juga akan berdampak besar terhadap sejumlah emiten minyak di Tanah Air seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), hingga PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- US Inflation Rate / Inflasi AS YoY
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan Dirjen IKMA Kementerian Perindustrian dan asosiasi-asosiasi di ruang rapat Komisi VII DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Kerja Komisi IX DPR dengan antara lain Menteri Kesehatan dan Direktur Utama BPJS Kesehatan di ruang rapat Komisi IX DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Pemaparan laporan e-Conomy SEA 2025 yang akan digelar di kantor Google Indonesia, Gedung Pacific Century Place Lantai 43, Kota Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
RUPS PT Nanotech Indonesia Global Tbk
RUPS PT Lovina Beach Brewery Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Avia Avian Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Indo Tambangraya Megah Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk.
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggal akhir perdagangan hmetd PT PT Bukit Uluwatu Villa Tbk
Tanggal akhir perdagangan hmetd PT PT Bukit Uluwatu Villa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Shutdown AS Akan Berakhir, Wall Street Euforia, IHSG-Rupiah Siap Pesta
Data ekonomi dalam negeri dan shutdown Amerika Serikat (AS) akan menjadi penggerak pasar hari ini [2,379] url asal
#newsletter #ihsg #rupiah #pasar-keuangan #saham #analisis-pasar #investasi #dolar-as #sektor-saham #transaksi-saham #ekonomi-indonesia
(CNBC Indonesia - Research) 10/11/25 15:51
v/34565/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG melemah sementara rupiah menguat
- Wall Street pesta pora di tengah optimisme berakhirnya shut down
- Data ekonomi dalam negeri dan shutdown Amerika Serikat (AS) akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Tanah Air kemarin bergerak dua arah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menguat di awal perdagangan akhirnya ditutup melemah tipis 0,04% ke level 8.391,24 pada Senin (10/11/2025). Sementara di sisi lain, rupiah justru melanjutkan tren positifnya dengan menguat 0,21% ke posisi Rp16.645 per dolar AS.
Pasar keuangan hari ini diharapkan kompak menguat. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin ditutup melemah berbalik arah pada Senin (10/11/2025). IHSG ditutup koreksi tipis 0,04% atau -3,35 poin ke level 8.391,24.
Walau pada pagi hari kemarinvindeks dibuka naik 0,58% dan sempat melesat 1% pada satu jam pertama sesi I. Penguatan IHSG terpangkas pada akhir sesi I menjadi 0,25%.
Sepanjang hari, indeks bergerak pada rentang 8.391,24-8.478,15. Sebanyak 389 saham naik, 300 turun, dan 267 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 20,61 triliun, melibatkan 43,38 miliar saham dalam 2,6 juta kali transaksi.
Mengutip Refinitiv, mayoritas sektor berada di zona hijau. Utilitas memimpin dengan penguatan 2,3% dan diikuti oleh properti (1,73%) serta bahan baku (1,07%).
Kemudian sektor energi turun paling dalam, yakni -3,52%. Finansial, kesehatan, dan konsumer primer, masing-masing turun 0,57%, 0,48%, dan 0,13%.
Sebanyak 371 saham menguat, 282 melemah dan 157 stagnan. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 416,04 miliar.
Adapun IHSG berbalik arah disebabkan oleh koreksi tajam saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA). Saham emiten milik Sinar Mas ini turun 12% ke level 88.000. DSSA menyeret indeks sebanyak -46,28 indeks poin.
Sementara itu, tiga saham terkuat yang mencoba mengungkit indeks hari ini adalah GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Barito Renewables Energy (BREN), dan Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE).
Beralih ke pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat pada Senin (10/11/2025), Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi sebesar 0,21% ke level Rp16.645/US$. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah yang telah berlangsung selama tiga hari beruntun sejak 6 November 2025.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami pelemahan 0,05% ke level 99,548.
Penguatan rupiah hari ini terjadi seiring dengan berlanjutnya pelemahan indeks dolar AS. DXY tercatat melemah sejak 5 November 2025 dan terus berlanjut hingga perdagangan Senin (10/11/2025).
Sementara pelemahan dolar AS terjadi setelah adanya kemajuan pembahasan di Kongres Amerika Serikat terkait upaya mengakhiri penutupan pemerintahan (government shutdown). Senat pada Minggu waktu AS, menyetujui langkah awal untuk meloloskan rancangan undang-undang pendanaan pemerintah hingga 30 Januari 2026.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 6,13% dari 6,14% pada akhir pekan lalu. Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN sedang naik karena diburu investor.
Saham-saham di Wall Street berakhir menguat pada perdagangan Senin atau Selasa pagi waktu Indonesia. Bursa terbang setelah para senator mengambil langkah penting untuk mengambil kesepakatan untuk mengakhiri penutupan (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat yang bersejarah.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 381,53 poin atau 0,81% ke level 47.368,63. S&P 500 menguat 1,54% menjadi 6.832,43, sementara Nasdaq Composite melonjak 2,27% ke 23.527,17.
Nvidia, Broadcom, dan sejumlah pemimpin reli saham kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama penguatan pasar, karena kemungkinan berakhirnya shutdown kembali meningkatkan selera risiko investor.
Saham Microsoft juga naik 1,9%, memutus tren penurunan delapan hari beruntun yang merupakan penurunan harian terpanjang sejak 2011.
Pekan lalu, saham-saham tersebut justru menarik pasar lebih rendah karena kekhawatiran di Wall Street terkait valuasi tinggi pada saham-saham AI.
Investor terus memantau negosiasi para legislator terkait pengesahan rancangan anggaran federal yang akan mengakhiri shutdown.
Sebuah langkah prosedural yang memungkinkan pemungutan suara lanjutan mengenai kesepakatan tersebut pada Senin telah disetujui dengan minimal 60 suara, setelah delapan senator dari Partai Demokrat memilih berbeda dari pimpinan partai untuk mendukung kesepakatan tersebut.
Kekhawatiran atas shutdown telah menekan sentimen konsumen ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun, mendekati level terburuk dalam sejarah, menurut survei University of Michigan yang dirilis Jumat lalu.
Karena penutupan tersebut, lembaga pemerintah tidak lagi merilis sejumlah data ekonomi kunci, termasuk indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) yang dijadwalkan rilis minggu ini.
"November menjadi bulan yang bergejolak bagi aset berisiko," ujar Tim Holland, Chief Investment Officer di Orion, kepada CNBC, dengan mengutip kekhawatiran investor terhadap shutdown, valuasi pasar, dan potensi gelembung AI sebagai pemicu sentimen negatif belakangan ini.
Dalam sepekan terakhir, Nasdaq yang sarat saham teknologi mencatat kinerja terburuk sejak aksi jual yang dipicu perang tarif pada April, turun sekitar 3%. Baik S&P 500 maupun Dow Jones (30 saham) terkoreksi lebih dari 1% dalam sepekan.
"Kekhawatiran pekan lalu memang masuk akal, tetapi saya pikir setidaknya satu dari tiga kekhawatiran itu kini telah keluar dari radar, dan itu hal penting," lanjutnya.
Pasar keuangan hari ini diharapkan kompak menguat dengan adanya kabar positif dari Amerika Serikat (AS). Mulai menggeliatnya daya beli juga diharapkan bisa menggerakan ekonomi dalam negeri lebih cepat sehingga pasar saham dan rupiah bergarah.
Sejumlah sentimen diperkirakan akan menjadi penggerak pasar hari ini, terutama shutdown pemerintah AS
Shutdown Berpotensi Berakhir
Penutupan (shutdown) pemerintah terpanjang dalam sejarah AS berpotensi berakhir pekan ini setelah kompromi untuk memulihkan pendanaan federal lolos tahap awal pemungutan suara di Senat pada Minggu malam. Kendati demikian belum jelas kapan Kongres akan memberikan persetujuan final.
Kesepakatan tersebut akan memulihkan pendanaan bagi lembaga-lembaga federal yang masa pendanaannya dibiarkan kedaluwarsa pada 1 Oktober.
Hal ini memberi kelegaan bagi keluarga berpenghasilan rendah yang terdampak gangguan subsidi pangan, ratusan ribu pegawai federal yang tidak digaji selama lebih dari sebulan, serta para pelancong yang menghadapi ribuan pembatalan penerbangan.
Kesepakatan ini akan memperpanjang pendanaan hingga 30 Januari, yang berarti pemerintah federal untuk sementara akan tetap berada di jalur menambah utang sekitar US$1,8 triliun per tahun dari total utang yang sudah mencapai US$38 triliun.
Partai Republik di bawah Presiden Donald Trump menguasai mayoritas di kedua kamar Kongres. Namun, Partai Demokrat memanfaatkan aturan yang mensyaratkan persetujuan 60 dari 100 senator untuk sebagian besar legislasi.
Hal ini untuk mendorong perpanjangan subsidi asuransi kesehatan bagi 24 juta warga Amerika yang akan berakhir pada akhir tahun ini. Kompromi di Senat tersebut akan menjadwalkan pemungutan suara terkait subsidi kesehatan pada bulan Desember.
Keputusan delapan senator Demokrat moderat untuk meloloskan kesepakatan hanya satu minggu setelah Demokrat memenangkan pemilu penting di New Jersey dan Virginia serta terpilihnya seorang demokrat sosialis sebagai Wali Kota New York. Hal ini memicu kemarahan internal partai. Banyak yang mencatat tidak ada jaminan bahwa pemungutan suara soal subsidi kesehatan akan lolos di Senat atau DPR.
"Kami berharap bisa melakukan lebih banyak. Shutdown pemerintah tampak seperti kesempatan untuk mendorong kebijakan yang lebih baik. Itu tidak berhasil."," kata Senator Dick Durbin dari Illinois, pimpinan Demokrat nomor dua di Senat, dikutip dari Reuters.
Trump secara sepihak telah membatalkan belanja miliaran dolar dan memangkas jumlah pegawai federal hingga ratusan ribu, yang dinilai mencampuri kewenangan konstitusional Kongres dalam hal fiskal. Tindakan tersebut melanggar undang-undang pengeluaran sebelumnya yang disahkan Kongres, dan beberapa Demokrat mempertanyakan mengapa mereka perlu menyetujui kesepakatan belanja apa pun ke depannya.
Ketua DPR, Mike Johnson, mengatakan DPR dapat mengesahkan RUU tersebut paling cepat pada Rabu dan mengirimkannya kepada Trump untuk ditandatangani menjadi undang-undang, jika Senat bergerak cepat.
"Saya pikir kami bisa mengesahkannya di DPR dan mengirimkannya ke meja Presiden," katanya kepada Fox Business.
Jika pemerintah tetap tutup lebih lama lagi, pertumbuhan ekonomi bisa berubah negatif pada kuartal IV terutama jika perjalanan udara tidak kembali normal sebelum libur Thanksgiving pada 27 November.
Optimisme Konsumen Meningkat, Harapan Ekonomi Menguat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2025
Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2025 hari Senin, (10/11/2025) yang mencerminkan tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi enam bulan ke depan.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mengalami peningkatan pada Oktober 2025 ke level 121,2 dibanding catatan per September 2025 sebesar 115.
Angka ini menegaskan bahwa masyarakat masih berada dalam zona optimis, dengan pandangan yang lebih positif baik terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospeknya enam bulan mendatang.
Peningkatan IKK ini terutama didorong oleh menguatnya dua komponen utamanya, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).
IKE yang mencerminkan persepsi rumah tangga terhadap situasi ekonomi terkini naik ke 109,1 dari 102,7 pada bulan sebelumnya, sementara IEK yang menggambarkan ekspektasi terhadap ekonomi ke depan juga melonjak ke 133,4 dari 127,2. Keduanya menunjukkan bahwa masyarakat mulai merasakan perbaikan ekonomi yang nyata sekaligus menaruh harapan terhadap arah pemulihan yang lebih kuat menjelang akhir tahun.
Indeks Penghasilan Saat Ini tercatat naik ke 117,1 dari 112,9, sementara Indeks Pembelian Barang Tahan Lama meningkat ke 107,5 dari 103,2.
Adapun Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja, yang sebelumnya masih berada di zona pesimis, kini menembus batas optimis di level 102,6 setelah bulan sebelumnya hanya 92,0. Hal ini menunjukkan mulai terbukanya peluang kerja baru serta meningkatnya daya beli masyarakat di berbagai kota besar.
Dari sisi ekspektasi ke depan, konsumen kian yakin bahwa kondisi ekonomi enam bulan mendatang akan lebih baik. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mencapai 133,4 didorong oleh kenaikan seluruh komponennya, termasuk ekspektasi terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha.
Masyarakat memperkirakan peningkatan aktivitas ekonomi akan terus berlanjut, seiring dengan stabilnya inflasi dan pulihnya mobilitas pasca perlambatan ekonomi global. BI mencatat bahwa kenaikan ekspektasi paling kuat terjadi di kota-kota seperti Medan, Pontianak, dan Bandar Lampung, yang menunjukkan optimisme daerah non-Jawa terhadap arah pemulihan ekonomi nasional.
Namun di tengah meningkatnya optimisme, survei juga mengindikasikan adanya perubahan perilaku keuangan rumah tangga yang lebih berhati-hati.
Rata-rata proporsi pendapatan yang dialokasikan untuk konsumsi (average propensity to consume) menurun ke 74,7% dari 75,1% pada bulan sebelumnya. Sebaliknya, porsi tabungan (saving to income ratio) meningkat menjadi 14,3%, sementara pembayaran cicilan (debt to income ratio) relatif stabil di sekitar 11,0%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung memperkuat posisi tabungan di tengah ketidakpastian ekonomi global, sembari menahan laju konsumsi menjelang akhir tahun.
Laporan Survei Penjualan Eceran September 2025
Pada hari iniSelasa (11/11/2025), publik akan menantikan data kerasnya Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk September 2025. Angka ini akan menjadi ujian penting bagi kekuatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Bulan lalu, BI memperkirakan penjualan eceran tumbuh solid 5,8% YoY lonjakan besar dibandingkan realisasi Agustus yang hanya 3,5%.
Jika realisasi IPR kali ini mampu memenuhi atau bahkan melampaui ekspektasi itu, pasar berpotensi bereaksi positif. Artinya, pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di September belum berimbas signifikan terhadap penjualan di lapangan.
Sebaliknya, jika hasilnya meleset jauh di bawah 4%, pasar bisa menilai BI terlalu optimistis. Ini menandakan tekanan pada daya beli masyarakat semakin nyata. BI pun akan berada di posisi dilematis: menjaga stabilitas Rupiah di tengah konsumsi yang mulai melemah.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Laporan Survei Penjualan Eceran September 2025
Coffee Morning CNBC Indonesia: Tech & Telco Edition di Queens Head, Kemang, Kota Jakarta Selatan.
Puncak Perayaan Hari Ritel Nasional Tahun 2025 di Balai Sudirman, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Perdagangan, Menteri UMKM, dan Ketua Umum APRINDO.
Penandatanganan Surat Keputusan Bersama antara Menteri Pertanian, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Kepala Badan Pangan Nasional, dan Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara tentang Penugasan Percepatan Pelaksanaan Penyediaan Infrastruktur Pascapanen dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kota Jakarta Pusat.
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan Dirjen Agro dengan Asosiasi-asosiasi tentang "Kebijakan Peningkatan Daya Saing Industri Nasional" di ruang rapat Komisi VII DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
L'Oréal-UNESCO For Women in Science National Fellowship 2025 Award Ceremony yang akan diselenggarakan di Ruang Auditorium Graha Diktisaintek, Kemendiktisaintek, Kota Jakarta Pusat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
RUPS PT Mitra Tirta Buwana Tbk (SOUL)
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Sinergi Inti Plastindo Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Selamat Sempurna Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Triputra Agro Persada Tbk.Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Chandra Asri Pacific Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Tempo Scan Pacific Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Medco Energi Internasional TbkTanggal cum Dividen Tunai Interim PT Avia Avian Tbk
Tanggal DPS Dividen Saham Suparma Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Buka-Bukaan! Kemampuan Belanja Warga RI, AS & China Diadu Pekan Ini
Data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar pekan ini [2,570] url asal
#newsletter #ihsg #rupiah #dolar-as #cadangan-devisa #saham #ekonomi-indonesia #analisis-pasar #sentimen-positif #investasi #pasar-keuangan
(CNBC Indonesia - Research) 09/11/25 21:06
v/33199/
- Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada akhir pekan lalu
- Wall Street ditutup beragam pada pekan lalu, Nasdaq melemah sementara S%P dan Dow Jones menguat
- Data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar pekan ini
Jakarta, CNBC Indonesia-Pasar keuangan Indonesia menutup pekan lalu kompakdi zona hijau. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.394,59, sementara rupiah turut menguat tipis ke posisi Rp16.680 per dolar AS.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan tren positifnya pada pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dan sepanjang pekan depan bisa dibaca d halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir pekan lalu, Jumat (7/11/2025) kembali mencetak rekor harga penutupan tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH).
Indeks ditutup naik 57,53 poin atau 0,69% ke level 8.394,59. Sebanyak 303 saham naik, 332 turun, dan 321 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 15,5 triliun, melibatkan 25,29 miliar saham dalam 1,94 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar mencapai Rp 15.316 triliun.
Dengan demikian sepanjang pekan lalu, IHSG menguat 2,26%. Mengutip Refinitiv, mayoritas sektor berada di zona hijau, meskipun jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan dengan yang naik. Energi dan properti tercatat sebagai sektor yang mengalami kenaikan lebih dari 2%.
Beralih ke pasar valuta asing, rupiah melemah dalam sepekan perdagangan terhadap dolar Amerika Serikat (AS)
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.680/US$, menguat 0,06% pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (7/11/2025).
Namun secara kumulatif, rupiah masih melemah 0,33% sepanjang pekan, dengan rentang pergerakan berada di Rp16.610-Rp16.740/US$.
Penguatan rupiah di akhir pekan turut ditopang oleh sentimen positif dari dalam negeri, terutama setelah Bank Indonesia (BI) melaporkan kenaikan cadangan devisa (cadev) pada Oktober 2025.
BI mencatat posisi cadev mencapai US$ 149,9 miliar, naik dari US$ 148,7 miliar pada September 2025. Peningkatan ini dipicu oleh penerbitan surat utang global pemerintah serta setoran pajak yang masuk ke kas negara.
Dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun melandai ke 6,14% pada Jumat pekan lalu, dari 6,17% pada perdagangan sebelumnya. Imbal hasil yang melandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.
Bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (7/11/2025).
Nasdaq Composite ditutup melemah karena kerugian lebih lanjut di saham kecerdasan buatan (AI).
Indeks Nasdaq turun 0,21% untuk ditutup pada 23.004,54. Sebaliknya, S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average bergerak naik tipis.
Indeks broad-based S&P 500 naik 0,13% menjadi 6.728,80, sementara indeks 30 saham Dow menguat 74,80 poin, atau 0,16%, menjadi 46.987,10.
Saham-saham mulai bangkit dari titik terendah setelah Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer, D-N.Y., menawarkan rencana baru kepada Partai Republik yang memungkinkan berakhirnya penutupan pemerintah AS yang memecahkan rekor.
Dalam proposal tersebut, pendanaan jangka pendek akan diberikan untuk operasi pemerintah federal dengan imbalan perpanjangan satu tahun kredit pajak tambahan dari Affordable Care Act.
Di tengah penutupan ini, kekhawatiran investor mengenai kekuatan ekonomi AS semakin meningkat.
Survei dari University of Michigan mengungkapkan pada hari Jumat bahwa sentimen konsumen mendekati level terendah sepanjang masa. Data ini muncul hanya sehari setelah firma Challenger, Gray & Christmas melaporkan bahwa pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober mencapai level tertinggi dalam 22 tahun untuk bulan tersebut.
Investor mendapat sedikit informasi dari data ekonomi karena penutupan pemerintah yang sedang berlangsung.
Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) seharusnya merilis laporan nonfarm payroll pada hari Jumat, tetapi untuk bulan kedua berturut-turut tidak dapat melakukannya.
Para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan laporan tersebut akan menunjukkan penurunan 60.000 pekerjaan dan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,5%.
Senat diperkirakan akan melakukan pemungutan suara pada Jumat untuk melanjutkan langkah pendanaan sementara yang telah disahkan DPR. Keterlambatan pendanaan federal terpanjang sepanjang sejarah ini menimbulkan ancaman terhadap aktivitas ekonomi, termasuk gangguan penerbangan akibat kekurangan pengendali lalu lintas udara yang telah bekerja tanpa gaji sejak Oktober.
Menteri Transportasi Sean Duffy mengatakan pada Rabu bahwa dia akan memangkas 10% penerbangan di 40 bandara besar mulai Jumat, langkah yang bisa memengaruhi 3.500 hingga 4.000 penerbangan per hari. Hingga Jumat pagi, lebih dari 700 penerbangan AS telah dibatalkan.
"Tidak ada yang menyukai kegelapan, dan kita telah berada dalam ketidakpastian untuk sementara terkait data pemerintah, tetapi saya pikir hal ini bisa memengaruhi perilaku lebih lanjut," kata Leah Bennett, kepala strategi investasi di Concurrent Asset Management, kepada CNBC.
Ketiga indeks acuan ditutup melemah pekan lalu karena kekhawatiran tentang valuasi sektor teknologi yang tinggi dan pasar yang sangat terkonsentrasi tetap ada.
Nasdaq turun sekitar 3% sepanjang pekn lalu, mencatat kinerja terburuk dalam lima hari sejak minggu yang berakhir 4 April, ketika indeks turun 10%. S&P 500 dan Dow masing-masing kehilangan lebih dari 1% dalam sepekan.
Di antara saham yang tertinggal pada hari Jumat adalah pemain AI terkemuka, Oracle, yang turun hampir 2%. Hal ini membuat penurunannya sepanjang pekan lalu mencapai sekitar 9%. Advanced Micro Devices (AMD), yang turun hampir 9% dalam pekan lalu, dan Broadcom, turun lebih dari 5% sepanjang pekan lalu, juga mengalami penurunan.
Pemimpin AI utama kehilangan momentum pada Kamis, dengan Nvidia, AMD, Tesla, dan Microsoft mencatatkan penurunan signifikan yang menekan pasar secara luas. Indeks saham utama AS ditutup lebih rendah secara keseluruhan, dengan Nasdaq Composite yang didominasi teknologi turun 1,9% dan Dow 30 saham menutup hampir 400 poin lebih rendah.
Pekan ini pasar global dan domestik bersiap menghadapi periode yang padat data ekonomi. Setelah minggu lalu relatif tenang, bursa, obligasi, dan nilai tukar berpotensi bergerak dinamis akibat rilis penting dari Amerika Serikat, China, dan Jepang.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga akan merilis dua data yang mencerminkan kekuatan konsumsi masyarakat. Sorotan utama tetap tertuju pada inflasi Amerika Serikat yang akan keluar Kamis malam, penentu arah kebijakan The Fed berikutnya. Sementara pada Jumat, data dari China akan menjadi barometer utama apakah pemulihan ekonomi negara itu benar-benar berlanjut atau mulai kehilangan tenaga.
Mayoritas data yang dirilis pekan ini adalah terkait penjualan ritel dan inflasi yang terkait dengan kemampuan daya beli. Setelah China mengumumkan data inflasi di luar dugaan pekan lalu maka pekan ini terdapat rilis sejumlah penjualan dari Indonesia ataupun IHK dari Amerika Serikat.
Awal pekan ini dibuka dengan rilis data penting dari dalam negeri.
Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2025 hari ini Senin, (10/11/2025) yang mencerminkan tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi enam bulan ke depan.
Ini akan menjadi perhatian utama pelaku pasar karena berfungsi sebagai indikator awal untuk mengukur arah konsumsi rumah tangga komponen terbesar penyumbang PDB nasional. Pada September 2025, IKK tercatat di level 115,0, turun dari 117,2 di bulan sebelumnya. Meski masih berada di zona optimis (di atas 100), tren penurunan ini mengindikasikan munculnya kekhawatiran di kalangan konsumen.
Jika IKK Oktober kembali melemah hingga mendekati atau bahkan di bawah 110, pasar akan menafsirkan hal itu sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap daya beli masyarakat semakin nyata. Inflasi, harga pangan yang belum turun, serta kebijakan suku bunga tinggi BI-Rate bisa menjadi faktor utama yang menekan konsumsi. Dampaknya, sektor-sektor seperti barang konsumsi, ritel, dan otomotif di IHSG berpotensi tertekan.
Namun, jika IKK justru menguat, ini bisa menjadi kabar baik bagi pasar di awal pekan. Kenaikan indeks akan menandakan bahwa keyakinan masyarakat terhadap ekonomi mulai pulih di kuartal IV, memberikan harapan bahwa konsumsi domestik masih mampu menjadi penopang utama pertumbuhan.
Laporan Survei Penjualan Eceran September 2025
Pada Selasa (11/11/2025), publik akan menantikan data kerasnya Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk September 2025. Angka ini akan menjadi ujian penting bagi kekuatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Bulan lalu, BI memperkirakan penjualan eceran tumbuh solid 5,8% YoY lonjakan besar dibandingkan realisasi Agustus yang hanya 3,5%.
Jika realisasi IPR kali ini mampu memenuhi atau bahkan melampaui ekspektasi itu, pasar berpotensi bereaksi positif. Artinya, pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di September belum berimbas signifikan terhadap penjualan di lapangan. Sebaliknya, jika hasilnya meleset jauh di bawah 4%, pasar bisa menilai BI terlalu optimistis. Ini menandakan tekanan pada daya beli masyarakat semakin nyata. BI pun akan berada di posisi dilematis: menjaga stabilitas Rupiah di tengah konsumsi yang mulai melemah.
Inflasi Amerika Serikat
Inilah data paling ditunggu pekan ini. Dari Negeri Paman Sam, pada Kamis malam, pasar global akan menanti rilis Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Oktober pada Kamis (13/11/2025).
Data ini menjadi salah satu penentu arah kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, hingga sentimen aset berisiko seperti IHSG, SBN, dan emas.
Inflasi AS pada September sebelumnya melandai ke 3,0% baik untuk headline maupun core CPI, memberi sinyal pendinginan harga. Konsensus memperkirakan inflasi Oktober tetap stabil di level yang sama. Ada dua kemungkinan besar.
Jika inflasi tetap di 3,0% atau bahkan turun ke 2,9%, pasar berharap The Fed akan memangkas suku bunga lagi pada Desember 2025. Dolar AS bisa melemah, yield US Treasury turun, dan aset berisiko di negara berkembang termasuk rupiah dan IHSG berpotensi menguat.
Namun,jika inflasi naik kembali ke 3,1-3,2%, pasar akan khawatir The Fed masih akan menahan pemangkasan. Dolar AS berpotensi melonjak, yield Treasury meningkat, dan Rupiah bisa kembali tertekan di kisaran 16.500-17.000 per dolar AS.
China Industrial Production YoY & China Retail Sales YoY
Menuju akhir pekan, perhatian beralih ke data ekonomi China. Jumat pagi (14/11/2025) akan dirilis angka produksi industri Oktober, indikator penting untuk mengukur kekuatan sektor manufaktur.
Pada September, data ini melonjak 6,5% YoY di atas perkiraan 5,0%. Namun untuk Oktober, pasar memperkirakan perlambatan ke 5,6%. Jika hasilnya tetap kuat di atas 6%, ini menjadi sinyal positif bagi permintaan global, terutama untuk bahan baku seperti batu bara, nikel, dan logam dasar, komoditas unggulan Indonesia. Sebaliknya, jika data melemah, harga komoditas berisiko terkoreksi, yang dapat menekan kinerja emiten sektor tambang di IHSG.
Masih dari China, data penjualan ritel Oktober akan dirilis bersamaan. Berbeda dengan produksi industri yang mewakili sisi pasokan, data ini menunjukkan kekuatan konsumsi domestik masyarakat China.
Pada September, penjualan ritel hanya tumbuh 3,0% YoY terlemah dalam hampir satu tahun terakhir. Ini menandakan konsumen masih menahan belanja di tengah ketidakpastian ekonomi. Jika tren lemah ini berlanjut, berarti pemulihan ekonomi China masih timpang: pabrik berproduksi, tapi daya beli belum bangkit.
Penjualan Mobil dan Motor Indonesia
Penjualan mobil baru di Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2025 tercatat sebanyak 635.844 unit, turun sekitar 10,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai lebih dari 711 ribu unit. Penurunan ini mencerminkan tekanan pada daya beli masyarakat sekaligus dampak kebijakan fiskal yang memengaruhi harga kendaraan.
Di sisi lain, penjualan sepeda motor justru menunjukkan tren positif. Berdasarkan data terbaru, penjualan motor meningkat 8,4% secara tahunan menjadi 590.362 unit pada Oktober 2025, setelah tumbuh 7,3% di September. Ini menandai bulan ketiga berturut-turut dengan kenaikan tahunan, seiring dengan pemangkasan suku bunga sebesar 150 bps oleh bank sentral sejak September 2024.
Secara kumulatif, penjualan sepeda motor untuk sepuluh bulan pertama 2025 naik tipis 0,2% dibanding periode sama tahun lalu. Secara bulanan, penjualan motor juga naik 4,1% di Oktober, bangkit dari penurunan 1,9% di September.
IHK China Naik
Minggu pekan lalu (9/11/2025), China mengumumkan data Indeks Harga Konsumen (IHK).
Indeks Harga konsumen (IHK) China naik 0,2% secara tahunan (yoy) pada Oktober 2025, melampaui ekspektasi dan tidak ada perubahan dan bangkit dari penurunan 0,3% pada bulan sebelumnya. Ini merupakan kenaikan pertama inflasi konsumen sejak Juni dan laju tercepat sejak Januari.
Inflasi non-makanan meningkat (0,9% dibanding 0,7% di September), didorong oleh perluasan program tukar tambah konsumen dan peningkatan belanja liburan selama Golden Week, yang keduanya membantu mendorong permintaan domestik. Harga terus meningkat untuk sektor perumahan (0,1% vs 0,1%), pakaian (1,7% vs 1,7%), kesehatan (1,4% vs 1,1%), dan pendidikan (0,9% vs 0,8%). Sementara itu, biaya transportasi turun dengan laju lebih lambat (-1,5% vs -2,0%).
Kenaikan IHK ini diharapkan bisa mencerminkan kebangkitan konsumsi warga China yang akan berimbas kepada ekonomi mereka.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Laporan Survei Konsumen Oktober 2025
Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR dengan antara lain Menteri Perdagangan, CEO Danantara Indonesia, dan Direktur Utama Krakatau Steel membahas industri baja nasional di ruang rapat Komisi VI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan Dirjen KPAII dan Dirjen ILMATE Kementerian Perindustrian serta Satgas CS-137 membahas kontaminasi radioaktif CS-137 di kawasan Industri Cikande, Serang, Banten
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan BKSJI Kementerian Perindustrian dan Dirut PT Tirta Investama dan perusahaan Air Minum dalam Kemasan (AMDK) lain membahas Standardisasi Bahan Baku AMDK di ruang rapat Komisi VII DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Kota Jakarta Pusat
OJK akan menyelenggarakan kegiatan Edukasi Keuangan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) sekaligus memperingati Hari Pahlawan Tahun 2025 di Puri Ardhya Garini, Kota Jakarta Timur.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Tanggal akhir perdagangan waran pasar reguler dan negosiasi PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)
RUPS Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA)
RUPS PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI)
RUPS PT Futura Energi Global Tbk (FUTR)
RUPS PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
RUPS PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (PORT)
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA)
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Multipolar Technology Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Segar Kumala Indonesia Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Triputra Agro Persada Tbk (TPAG)
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Pesta IHSG & Rupiah Terancam Bubar Karena Serbuan Data AS & China
Pelaku pasar akan menantikan rilis data cadangan devisa dan uang primer periode Oktober 2025 yang diumumkan Bank Indonesia hari ini. [3,012] url asal
#newsletter #pasar-keuangan #ihsg #rupiah #sbn #investasi #data-ekonomi #obligasi #yield #dolar-as #bank-indonesia
(CNBC Indonesia - Research) 06/11/25 15:34
v/30503/
- Pasar keuangan Tanah Air bergerak beragam. IHSG mencetak rekor tertinggi, rupiah menguat, namun SBN kembali dijual investor
- Wall Street ambruk berjamaah karena kekhawatiran terhadap valuasi AI yang sangat tinggi
- Pelaku pasar akan menantikan rilis data cadangan devisa dan uang primer periode Oktober 2025 yang diumumkan Bank Indonesia hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri bergerak tak senada pada perdagangan kemarin, Kamis (5/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah, rupiah mampu menguat terhadap dolar AS, namun yield Surat Berharga Negara (SBN) kembali naik seiring tekanan jual oleh pelaku pasar.
Pasar keuangan Tanah Air diharapkan mampu kembali bergerak positif pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/11/2025). Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman3 pada artikel ini.
IHSG kembali mencetak level penutupan tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) pada perdagangan Kamis (6/11/2025). IHSG ditutup menguat 18,53 poin atau 0,22% ke level 8.337,06, menandai rekor baru.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 8.289,89 hingga 8.362,91 dengan nilai transaksi mencapai Rp18,48 triliun. Total saham yang diperdagangkan mencapai 25,97 miliar lembar dari 2,39 juta transaksi, di mana 394 saham menguat, 259 melemah, dan 158 stagnan.
Sementara itu, investor asing justru tercatat melakukan aksi jual dengan total net sell sebesar Rp113,4 miliar.
Secara sektoral, energi menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan 3,05 persen, disusul oleh utilitas yang naik 1,68 persen, industri sebesar 1,13 persen, serta barang konsumsi siklikal yang menguat 1,08 persen.
Sementara itu, pelemahan terjadi pada sektor konsumsi non-siklikal yang turun 0,67 persen, kesehatan turun 0,53 persen, serta keuangan yang terkoreksi 0,39 persen.
Dari sisi emiten, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi penyumbang terbesar terhadap penguatan IHSG dengan bobot penguatan 30,07 indeks poin, diikuti oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 6,67 poin, serta PT Astra International Tbk (ASII) sebesar 3,34 poin.
Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penahan laju kenaikan dengan beban 10,76 indeks poin, disusul oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 6,87 poin, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 6,76 poin.
Beralih ke nilai tukar, rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (6/11/2025). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp16.690/US$ atau menguat 0,06%, sekaligus mematahkan tren pelemahan tiga hari beruntun.
Sejak pembukaan perdagangan, rupiah sempat dibuka naik tipis 0,03% di posisi Rp16.680/US$, lalu melemah hingga sempat menembus level Rp16.700/US$ sebelum akhirnya berbalik menguat menjelang penutupan.
Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global. Indeks dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia mengalami koreksi setelah reli panjang sejak akhir Oktober lalu.
Pelemahan dolar menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai mengurangi kepemilikan aset berdominasi dolar, memberikan ruang penguatan bagi mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Sebelumnya, dolar AS sempat menyentuh level tertingginya dalam lima bulan terakhir, terdorong oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang kuat. Laporan ADP private payrolls menunjukkan sektor swasta AS menambah 42.000 lapangan kerja pada Oktober, sementara indeks aktivitas jasa ISM juga melampaui ekspektasi pasar.
Namun, data tersebut justru menimbulkan keraguan terhadap peluang pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve pada Desember mendatang, setelah sebelumnya Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan nada hati-hati dalam memberi sinyal pelonggaran kebijakan lebih lanjut.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau naik 0,21% ke level 6,171%. Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield naik berarti harga obligasi turun, hal ini menandakan bahwa investor tampak melakukan aksi jual.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Bursa ambruk karena perusahaan-perusahaan yang diuntungkan dari perdagangan kecerdasan buatan (AI) kembali mendapat tekanan di tengah kekhawatiran terhadap valuasi mereka yang sangat tinggi.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 398,70 poin atau 0,84%, menutup perdagangan di 46.912,30.
Indeks S&P 500 jatuh 1,12% menjadi 6.720,32, sementara Nasdaq Composite anjlok 1,9% menjadi 23.053,99.
Indeks Nasdaq 100 turun lebih dari 2% sejak penutupan Jumat lalu dan menuju minggu terburuknya sejak awal April. Dampak penurunan terbesar datang dari Nvidia, Microsoft, Palantir Technologies, Broadcom, dan Advanced Micro Devices (AMD).
Saham AI bergerak tidak merata sejak awal November, dan tren ini berlanjut pada sesi Kamis.
Qualcomm turun hampir 4% setelah pembuat chip ini melaporkan hasil kuartalan lebih baik dari perkiraan, namun memperingatkan potensi kehilangan bisnis dengan Apple di masa depan.
AMD, yang menonjol pada Rabu, turun 7%, sementara Palantir dan Oracle masing-masing turun hampir 7% dan 3%. Saham favorit AI Nvidia dan anggota "Magnificent Seven" lainnya, Meta Platforms, juga ikut merosot.
Mike Mussio, presiden di FBB Capital Partners, menunjukkan dari sisi valuasi, banyak hal ini sudah sangat tinggi dan dihargai untuk kesempurnaan.
Ada dikotomi di pasar antara perusahaan yang melampaui ekspektasi dan menaikkan panduan dibandingkan mereka yang mungkin melampaui pendapatan tetapi memberikan panduan yang lemah pada laba bersih atau laba operasional.
"Itulah perbedaan antara beberapa perusahaan yang labanya naik dua digit versus turun dua digit, dan hampir tidak ada tengah-tengahnya." kata Mike Mussio, kepada CNBC International.
Koreksi pada Kamis juga diperparah oleh kekhawatiran mengenai kondisi pasar tenaga kerja, karena Oktober mencatat pengumuman pemutusan kerja yang signifikan.
Challenger, Gray & Christmas menunjukkan jumlah pemutusan kerja pada bulan itu mencapai lebih dari 153.000, hampir tiga kali lipat tingkat September dan 175% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Ini adalah level tertinggi yang tercatat untuk Oktober dalam 22 tahun, di tahun yang diprediksi menjadi terburuk untuk pemutusan kerja sejak 2009.
Data ini menggambarkan gambaran ekonomi AS yang goyah, terutama mengingat minimnya laporan ekonomi akibat penutupan pemerintah AS yang sedang berlangsung. Shutdown telah berlangsung lebih dari sebulan dan menjadi yang terpanjang dalam sejarah.
"Kita mulai mendapatkan potongan-potongan data ekonomi... yang tidak terkait pemerintah, dan itu tidak terlalu menggembirakan," kata Mussio.
Dia percaya bahwa jika pemerintah dibuka kembali dan data setelahnya menunjukkan konsumen "tidak benar-benar mati" saat musim liburan berlangsung, kemungkinan terjadi reli khas akhir tahun masih terbuka.
Investor juga menantikan kabar dari Washington pada Kamis, setelah Mahkamah Agung mendengar argumen pro dan kontra terhadap kebijakan tarif pemerintahan Trump. Dalam sesi tanya jawab Rabu, para hakim Mahkamah Agung menunjukkan skeptisisme terhadap legalitas pajak perdagangan tersebut, yang membuat banyak investor memperkirakan putusan akan menentang tarif tersebut.
Pada perdagangan hari ini, Jumat (7/11/2025), pasar keuangan domestik diperkirakan akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri.
Dari dalam negeri, perhatian utama tertuju pada rilis data cadangan devisa dan uang primer (M0) periode Oktober 2025 yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia (BI). Kedua data tersebut akan memberikan gambaran terkini mengenai kekuatan eksternal dan likuiditas sistem keuangan nasional. Dari sisi eksternal, pelaku pasar juga mencermati hasil keputusan Bank of England (BoE) yang kembali menahan suku bunga acuannya di level 4%.
Terdapat juga kabar penting mengenai lonjakan PHK Amerika serta akan ada data perdagangan dari China. Keduanya bisa berdampak besar terhadap Indonesia dan dikhawatirkan bisa merusak tren positif IHSG dan rupiah.
Berikut rangkuman sentimen utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar hari ini:
Cadangan Devisa RI Oktober
Pada hari ini, Jumat (6/11/2025) Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan posisi cadangan devisa periode Oktober 2025.
Sebagai catatan, pada akhir September 2025, posisi cadangan devisa tercatat sebesar US$148,7 miliar atau turun sebesar US$2 miliar dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$150,7 miliar.
Cadev menjadi salah satu indikator penting bagi perekonomian nasional karena berfungsi sebagai penopang stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan bahwa perkembangan cadangan devisa tersebut dipengaruhi antara lain oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
"Posisi cadangan devisa akhir September 2025 tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," ujar Denny dalam rilis resmi BI, Selasa (7/10/2025).
Di sisi lain, pemerintah dan BI saat ini tengah mengevaluasi efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang sebelumnya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan aturan tersebut akan mengalami sedikit revisi, menyusul hasil evaluasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Meski begitu, Purbaya mengaku belum bisa mengungkapkan detail dari revisi yang akan dilakukan terhadap PP 8/2025. PP itu sebelumnya meningkatkan kewajiban penempatan DHE SDA dari para eksportir sebesar 100% ke dalam sistem keuangan Indonesia.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menilai bahwa meski tingkat kepatuhan eksportir terhadap kewajiban penempatan DHE telah mencapai 95%, dampaknya terhadap peningkatan cadangan devisa masih terbatas.
Pasalnya, mayoritas dolar hasil ekspor yang ditempatkan di rekening khusus (reksus) langsung dikonversi ke rupiah untuk kebutuhan pasar valas domestik, sehingga tidak menambah cadangan devisa secara langsung.
Uang Primer (M0) RI Oktober 2025
Selain cadangan devisa, Bank Indonesia (BI) juga akan mengumumkan posisi uang primer (M0) adjusted periode Oktober 2025 pada hari ini.
Sebagai catatan, pada September 2025, posisi uang primer tercatat sebesar Rp2.152,4 triliun, tumbuh 18,6% (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,3% (yoy).
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 37,0% (yoy) serta uang kartal yang diedarkan sebesar 13,5% (yoy).
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 37,0% (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 13,5% (yoy)," ujar Denny dalam rilis resmi BI, Selasa (7/10/2025).
Berdasarkan data BI, uang kartal yang beredar di masyarakat per September 2025 mencapai Rp1.204 triliun, sedangkan uang kartal yang disimpan bank umum dan BPR tercatat sebesar Rp1.062,7 triliun.
Uang primer, atau yang juga dikenal sebagai base money, merupakan uang yang diterbitkan oleh bank sentral, terdiri dari uang kartal (koin dan uang kertas) serta simpanan bank umum di BI. Indikator ini berfungsi sebagai fondasi bagi penciptaan uang dan likuiditas dalam sistem keuangan nasional.
Rebalancing MSCI
indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) baru saja melakukan review terhadap daftar saham dalam indeksnya, dan langsung mendapatkan respon pasar berupa volatilitas harga pada sejumlah emiten yang terdampak, baik yang masuk maupun yang dikeluarkan dari indeks MSCI.
Pengumuman hasil rebalancing indeks MSCI periode November 2025 ini sejatinya baru akan efektif berlaku mulai 25 November 2025, setelah dilakukan penyesuaian portofolio pada penutupan perdagangan 24 November 2025. Namun, seperti biasa, pasar sudah lebih dulu merespons hasil pembaruan tersebut.
Hal ini terlihat dari pergerakan harga saham emiten yang masuk dan keluar dari indeks. Dua saham baru yang resmi masuk ke dalam MSCI Global Standard Indexes, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), langsung menunjukkan arah berlawanan.
Saham BRMS terkoreksi tajam 5,88% ke level Rp960 per saham, sementara BREN justru berhasil naik 1,79% ke level Rp9.925 per saham.
Sebaliknya, dua emiten yang dikeluarkan dari daftar indeks global utama, yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), kompak melemah masing-masing 1,44% dan 5,30% pada perdagangan Kamis (6/11/2025).
Dari daftar MSCI Small Cap Indexes, saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,38%, sedangkan PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menjadi yang terlemah dengan penurunan 4,52%.
Bank Sentral Inggris Tahan Suku Bunga
Bank Sentral Inggris (BoE) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 4% pada pertemuan Kamis (6/11/2025). Keputusan ini diambil dengan suara ketat 5 banding 4, di mana sebagian anggota komite menilai kondisi ekonomi Inggris belum cukup kuat untuk mendukung penurunan suku bunga lebih cepat.
Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan bank sentral lebih memilih menunggu dan melihat perkembangan inflasi sebelum melakukan langkah pelonggaran lebih lanjut.
Ia menegaskan bahwa inflasi Inggris dinilai telah mencapai puncaknya, namun masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%, yakni di kisaran 3,8% pada September.
BoE menilai perlambatan pertumbuhan upah dan penurunan harga jasa menjadi alasan utama menahan suku bunga saat ini. Meski demikian, bank sentral memperkirakan inflasi akan turun mendekati 3% pada awal 2026, sebelum kembali menuju target 2% pada 2027.
Keputusan ini melanjutkan kebijakan penahanan suku bunga yang sebelumnya dilakukan pada rapat Oktober 2025, setelah periode pemangkasan bertahap yang dimulai pertengahan tahun lalu.
Dalam pernyataannya, BoE menegaskan bahwa biaya pinjaman kemungkinan besar akan tetap berada pada jalur penurunan bertahap, seiring ekspektasi inflasi yang kian terkendali.
Purbaya Bongkar Dugaan Pelanggaran Ekspor Produk Turunan CPO
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Kementerian Perindustrian dan Kepolisian Republik Indonesia menggelar Konferensi Pers Operasi Gabungan DJBC-DJP Kemenkeu dan Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara Polri, di Buffer Area MTI NPCT 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (6/11/2025).
Dalam konferensi pers tersebut, Purbaya bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap dugaan pelanggaran ekspor produk turunan crude palm oil (CPO) oleh PT MMS di Pelabuhan Tanjung Priok.
Sebanyak 87 kontainer dengan total berat bersih 1.802 ton senilai Rp28,7 miliar dilaporkan dalam tujuh Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Barang-barang tersebut diberitahukan sebagai Fatty Matter, yaitu kategori yang tidak dikenakan bea keluar dan tidak termasuk larangan dan pembatasan ekspor (Lartas).
Namun, hasil pemeriksaan tim gabungan mengindikasikan bahwa barang tersebut sebenarnya tergolong produk turunan CPO, yang semestinya dikenakan bea keluar. Berdasarkan data ekspor 2025, terdapat 25 wajib pajak, termasuk PT MMS, yang melaporkan komoditas serupa dengan nilai PEB mencapai Rp2,08 triliun.
Operasi gabungan ini menjadi langkah nyata pemerintah dalam memperkuat pengawasan penerimaan negara dan menekan potensi kebocoran fiskal, sejalan dengan arahan Kementerian Keuangan untuk mengoptimalkan penerimaan ekspor dan mencegah praktik manipulasi dokumen perdagangan internasional.
PHK AS Melonjak
Perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 153.074 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober 2025, jumlah tertinggi untuk bulan tersebut sejak 2003, dibandingkan 54.064 PHK pada September. Mayoritas PHK terjadi di sektor pergudangan (47.878), teknologi (33.281), makanan (10.662), dan pemerintahan (7.883).
Kecepatan PHK pada Oktober jauh lebih tinggi dibanding rata-rata bulan ini. Beberapa industri sedang menyesuaikan diri setelah lonjakan perekrutan selama pandemi, namun hal ini terjadi bersamaan dengan adopsi AI, melambatnya pengeluaran konsumen dan korporasi, serta meningkatnya biaya yang mendorong penghematan dan pembekuan perekrutan.
Mereka yang terkena PHK sekarang lebih sulit mendapatkan pekerjaan baru dengan cepat, yang bisa semakin melonggarkan pasar tenaga kerja.
Hingga Oktober, perusahaan-perusahaan telah mengumumkan 1.099.500 PHK, jumlah tertinggi sejak pandemi, meningkat 44% dibandingkan 761.358 PHK yang diumumkan sepanjang 2024. Tahun ini, sektor pemerintahan mencatat PHK terbanyak (307.638), disusul sektor teknologi (141.159).
Neraca Perdagangan China
China akan mengumumkan data neraca perdagangan Oktober 2025 pada hari ini Jumat (7/11/2025). Data ini sangat penting bagi Indonesia yang menggantungkan sekitar 27% ekspornya ke China.
Sebagai catatan, ekspor China meningkat 8,3% (yoy) menjadi US$ 328,6 miliar pada September 2025, juga merupakan level tertinggi dalam tujuh bulan, melampaui perkiraan kenaikan 6% dan mempercepat pertumbuhan dari revisi 4,3% pada Agustus. Ini menandai laju pengiriman ke luar negeri tercepat sejak Maret, seiring para produsen berhasil menemukan pasar baru di luar Amerika Serikat, sementara kesepakatan tarif dengan Presiden Donald Trump masih belum tercapai.
Impor China melonjak 7,4% (yoy) pada September 2025, mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan sebesar US$ 238,1 miliar dan jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 1,5%. Data terbaru ini juga menunjukkan percepatan tajam dari pertumbuhan yang direvisi pada Agustus sebesar 1,2%, sekaligus menjadi kenaikan bulanan keempat berturut-turut dan laju ekspansi tercepat sejak April 2024.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Media Briefing bersama Menteri Sekretaris Negara di kantor Kementerian Sekretariat Negara, Kota Jakarta Pusat
Konferensi pers Menteri Pertanian terkait pupuk di kantor Kementerian Pertanian, Kota Jakarta Selatan
Taklimat Media Bank Indonesia yang akan membahas Pendalaman Pasar Uang untuk Mendukung Penguatan Operasi Moneter Pro-market di Press Room, Kantor Pusat Bank Indonesia, Kota Jakarta Pusat
Konferensi pers virtual Otoritas Jasa Keuangan terkait hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Oktober 2025
- Cadangan Devisa Oktober Bank Indonesia
- Uang Primer (M0) Oktober Bank Indonesia
- Neraca Perdagangan China Oktober
- Indeks Sentimen Konsumen AS Michigan
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-Rencana RUPS : HRME
-Cum Dividen Interim : ESIP, SMSM, TSPC, SPMA
-Ex Dividen Interim : CNMA, NSSS, BUAH, MLPT
-DPS Dividen Interim : MARK
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Awas! Data Ekonomi RI & Perubahan MSCI Akan Beradu Lawan Keganasan AS
Pelaku pasar masih akan merespon hasil pertumbuhan PDB kuartal III-2025, hingga kondisi pasar tenaga kerja AS yang kembali menguat. [2,999] url asal
#newsletter #pasar-keuangan #ihsg #rupiah #dolar-as #pertumbuhan-pdb #investasi #obligasi #sektor-utilitas #ekonomi-indonesia
(CNBC Indonesia - Research) 05/11/25 16:22
v/29110/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan Rabu (5/11/2025), IHSG menguat sementara rupiah kembali tertekan dari dolar AS
- Wall Street bangkit dan menguat bersamaan
- Pelaku pasar masih akan merespon hasil pertumbuhan PDB kuartal III-2025, hingga kondisi pasar tenaga kerja AS yang kembali menguat.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air kembali ditutup beragam pada perdagangan Rabu (5/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah, sementara rupiah masih tertahan dari dolar AS.
Pasar diharapkan tetap bergerak positif pada perdagangan Kamis (6/11/2025). Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin kembali mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high) setelah menguat 0,93% atau 76,61 poin ke level 8.318,53 pada perdagangan Rabu (5/11/2025). Kenaikan indeks didorong oleh sentimen positif pasca rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025.
Nilai transaksi bursa tercatat Rp18,51 triliun dengan volume perdagangan 35,26 miliar saham dari 2,19 juta kali transaksi. Sebanyak 284 saham menguat, 357 melemah, dan 168 stagnan, dengan kapitalisasi pasar menembus Rp15.157,46 triliun.
Investor asing tercatat masih melakukan aksi beli dengan total inflow sebesar Rp1,31 triliun.
Secara sektoral, sektor utilitas memimpin penguatan dengan lonjakan 4,38%, diikuti sektor bahan baku naik 1,52%, dan sektor barang konsumen siklikal menguat 1,08%. Kenaikan juga terjadi pada sektor teknologi, keuangan, kesehatan, serta industri.
Sementara itu, sektor energi menjadi satu-satunya yang melemah, turun 1,22%, seiring koreksi harga minyak dunia.
Dari sisi emiten, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi penopang utama IHSG dengan tambahan 20,02 poin, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) naik 10,78 poin, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 10,14 poin.
Adapun PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi penekan laju penguatan IHSG dengan bobot 14,66 indeks poin, diikuti PT Astra International Tbk (ASII) 2,23 poin dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) 1,89 poin.
Beralih ke mata uang, Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (5/11/2025).
Melansir data Refinitiv, rupiah terkoreksi tipis 0,03% ke level Rp16.700/US$. Secara intraday, rupiah sudah melemah sejak awal perdagangan, dibuka turun 0,09% ke posisi Rp16.710/US$, dan sempat menyentuh level terendah Rp16.740/US$ sebelum akhirnya pelemahan berkurang menjelang penutupan sesi.
Tekanan terhadap rupiah masih disebabkan oleh reli dolar AS yang terus berlanjut. Penguatan indeks dolar (DXY) terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar kini mulai meragukan kemungkinan bank sentral AS akan kembali memangkas suku bunga pada akhir tahun ini.
Pekan lalu, The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) sesuai ekspektasi. Namun, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell bahwa pemangkasan tambahan pada Desember belum dapat dipastikan memicu spekulasi baru di pasar.
Sejak itu, beberapa pejabat The Fed justru mengeluarkan pandangan beragam mengenai kondisi ekonomi dan risiko yang dihadapi, terlebih di tengah terbatasnya rilis data akibat shutdown pemerintahan AS yang masih berlangsung.
Kendati demikian, sebagian analis menilai reli dolar AS bersifat sementara. Kepala Riset Valas Global Deutsche Bank, George Saravelos, menilai bahwa perbaikan ekonomi di Eropa telah mempersempit kesenjangan prospek pertumbuhan antara AS dan kawasan lainnya.
"Lingkungan pertumbuhan global yang relatif stabil tidak mendukung reli dolar berkelanjutan," tulis Saravelos dalam catatannya.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau naik 0,11% ke level 6,159%, atau naik 0,6 basis poin (bps). Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield naik berarti harga obligasi turun, hal ini menandakan bahwa investor tampak melakukan aksi jual.
Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street bangkit pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia,
Dow Jones Industrial Average naik 225,76 poin atau 0,48% menjadi 47.311,00. S&P 500 menguat 0,37% ke level 6.796,29, sementara Nasdaq Composite melonjak 0,65% ke posisi 23.499,80.
Saham-saham di Amerika Serikat menguat pada Rabu setelah Mahkamah Agung (Supreme Court) mengajukan pertanyaan bernada kritis terkait tarif Presiden Donald Trump, sehingga meningkatkan harapan bahwa sebagian bea tersebut dapat dicabut.
Saham produsen chip Advanced Micro Devices (AMD) dan saham-saham terkait perdagangan kecerdasan buatan (AI) juga rebound dari kekhawatiran valuasi yang membayangi pasar sehari sebelumnya.
Para investor menyoroti sidang Mahkamah Agung pada Rabu mengenai tarif Presiden Donald Trump.
Yang dipermasalahkan adalah apakah presiden memiliki kewenangan untuk memberlakukan bea tersebut berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA).
Para hakim fokus mempertanyakan legalitas tarif besar-besaran itu, di mana baik hakim konservatif maupun liberal menanyai Solicitor General D. John Sauer mengenai dasar justifikasi pemerintahan Trump.
Pelaku pasar pada prediction market mengurangi taruhan bahwa Mahkamah Agung akan mempertahankan tarif Trump, menyusul sikap skeptis para hakim.
Sementara itu, saham produsen otomotif Detroit Ford dan General Motors, yang menjadi indikator risiko tarif, melonjak lebih dari 2% masing-masing, dan produsen alat berat konstruksi dan pertambangan Caterpillar naik sekitar 4%.
"Kita terus melihat perdebatan mengenai ... seberapa efektif kebijakan itu. Saya rasa kita tidak akan mengetahui dampak tarif tersebut, penyelesaiannya, dan efek harganya hingga kuartal pertama tahun depan. Itu semakin menambah rasa ketidakpastian."," kata Phil Blancato, Chief Market Strategist di Osaic, kepada CNBC International.
Di antara saham pemenang hari itu, AMD sempat dibuka melemah sebelum akhirnya berbalik positif dan mengangkat saham-saham AI lainnya. Perusahaan tersebut melaporkan pendapatan dan laba kuartal ketiga yang melampaui ekspektasi analis, meski pada awalnya pasar khawatir soal prospek margin. Saham AMD ditutup naik 2,5%.
Selain AMD, saham Broadcom dan Micron Technology juga menguat, membalikkan pelemahan sesi sebelumnya dengan lonjakan masing-masing 2% dan sekitar 9%. Pemain besar AI, Oracle, juga pulih dari penurunan pada Selasa dan ikut menguat pada Rabu.
Pergerakan saham-saham AI pada Rabu terjadi setelah Palantir anjlok sekitar 8% pada Selasa karena investor khawatir bahwa valuasi perusahaan perangkat lunak tersebut dan sektor AI secara keseluruhan sudah terlalu tinggi.
Palantir diperdagangkan di atas 200 kali proyeksi laba (forward earnings). Saham tersebut kembali melemah lebih dari 1% pada Rabu. Super Micro Devices, saham terkait AI lainnya, merosot 11% akibat hasil kuartal pertama fiskal yang mengecewakan, dan saham sektor AI lain, Arista Networks, turun hampir 9% setelah laporan kinerja terbarunya.
"Lebar pasar (market breadth) saat ini tidak memadai. Ada yang jadi pemenang dan ada yang rugi di sektor AI, dan dengan valuasi yang sudah terlalu tinggi, menurut saya kita harus sangat selektif dalam memilih saham AI ke depan," kata Blancato.
Investor saham menerima data ekonomi yang cukup positif pada Rabu, dengan data payroll ADP yang lebih baik dari perkiraan dan data ISM sektor jasa yang juga melampaui ekspektasi.
Namun, data yang kuat tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, sesuatu yang tidak disukai sebagian investor di tengah meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed untuk ketiga kalinya pada Desember.
"Data ADP pagi ini menunjukkan bahwa kita masih berada dalam pasar tenaga kerja yang kuat, dan terkadang kita lupa bahwa pasar tenaga kerja yang kuat berarti ekonomi tidak berada dalam kondisi resesi dan tidak menuju ke sana," kata Blancato.
Dia menambahkan hal itu menjadi sinyal yang sangat bullish bagi kondisi ekonomi AS saat ini.
Pelaku pasar hari ini dihadapkan pada beragam sentimen yang datang baik dari dalam negeri maupun luar.
Dari dalam negeri, pasar masih akan merespon hasil rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 serta perubahan MSCI. Sementara dari eksternal, perkembangan pasar tenaga kerja Amerika Serikat serta ketidakpastian akibat berlanjutnya penutupan pemerintahan menjadi faktor eksternal yang memengaruhi arah sentimen global.
Data-data ekonomi AS menunjukkan ekonomi masih sangat kuat sehingga bisa menurunkan proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed ke depan.
Berikut rangkuman sentimen utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar hari ini:
Ekonomi Tumbuh 5,04% di Kuartal III-2025
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 mencapai 5,04% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 1,43% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq).
Angka ini sedikit melampaui konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga, yakni 5,01% (yoy), sekaligus menandakan daya tahan ekonomi domestik yang masih solid di tengah tekanan eksternal.
Namun, laju pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan kuartal II-2025 yang tumbuh 5,12% (yoy).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan kuartal III-2025 masih didorong oleh konsumsi rumah tangga yang terjaga kuat.
"Sisi domestik kinerja ekonomi ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih terjaga. Indikasi pertama konsumsi per kapita jasa makanan & minuman, serta akomodasi masing-masing tumbuh 5,76% dan 7,49% yoy," ujar Edy.
Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 4,89%, menjadi penopang utama perekonomian nasional. Selain itu, aktivitas transaksi digital dan belanja daring (online) juga menunjukkan kinerja kuat.
BPS mencatat pertumbuhan transaksi online dari peritel dan marketplace mencapai 6,19% (qtq) pada kuartal III-2025, terutama pada kategori personal care, peralatan rumah tangga, pakaian, serta transportasi dan rekreasi.
Plh Direktur Neraca Pengeluaran BPS, Anisa Nuraini, menambahkan nilai total transaksi digital mencapai Rp200 triliun pada kuartal III-2025.
Dari nilai tersebut, kontribusi produk perawatan pribadi (personal care) mencapai 17-18%, diikuti perlengkapan rumah tangga 14%, transportasi 13%, rekreasi 13%, dan pakaian serta sepatu 11-12%.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama ekonomi Indonesia, sementara digitalisasi dan gaya hidup daring turut memperkuat struktur permintaan domestik.
Investasi (PMTB) Tumbuh 5,04%
Salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025 datang dari komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, yang mencatat pertumbuhan sebesar 5,04% (yoy).Meskipun melambat dibandingkan kuartal II-2025 yang tumbuh 6,99% (yoy).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kenaikan investasi terutama disumbang oleh peningkatan pada sektor bangunan, mesin, dan peralatan transportasi, yang menunjukkan berlanjutnya realisasi proyek infrastruktur serta kegiatan ekspansi korporasi di berbagai sektor.
Kontribusi PMTB terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 29,09%, menjadikannya salah satu komponen terbesar setelah konsumsi rumah tangga yang memiliki kontribusi hingga 53,14%.
Kinerja investasi yang solid ini menunjukkan bahwa kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia masih terjaga. BPS juga menyoroti adanya peningkatan aktivitas impor barang modal dan bahan baku, yang menjadi indikasi kuat bahwa aktivitas produksi di dalam negeri mulai meningkat.
Sementara itu, stabilitas harga bahan konstruksi dan dukungan pembiayaan investasi dari perbankan turut menjaga momentum pertumbuhan PMTB sepanjang kuartal berjalan.
Data ADP Tunjukkan Tenaga Kerja AS Masih Tangguh
Pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta di Amerika Serikat menunjukkan peningkatan pada Oktober 2025, memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja belum sepenuhnya mengkhawatirkan.
Laporan dari Automatic Data Processing (ADP) yang dirilis Rabu (5/11/2025) mencatat penambahan 42.000 pekerjaan baru, berbalik arah dari penurunan 29.000 pekerjaan pada September.
Capaian ini juga melampaui ekspektasi konsensus Dow Jones yang memperkirakan pertumbuhan hanya sekitar 22.000 pekerjaan.
ADP menjelaskan, peningkatan terbesar berasal dari sektor perdagangan, transportasi, dan utilitas yang menambah 47.000 pekerjaan, disusul pendidikan dan layanan kesehatan sebesar 26.000 pekerjaan, serta aktivitas keuangan sebanyak 11.000 pekerjaan.
Sebaliknya, beberapa sektor lain justru mengalami penurunan, termasuk informasi (-17.000), jasa profesional dan bisnis (-15.000), serta manufaktur (-3.000) - sektor yang masih tertekan meski adanya kebijakan tarif impor yang digencarkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Menariknya, seluruh penciptaan lapangan kerja bulan lalu berasal dari perusahaan besar yang memiliki lebih dari 250 karyawan, dengan tambahan sekitar 76.000 pekerjaan, sementara usaha kecil justru kehilangan 34.000 posisi.
Kondisi ini dinilai signifikan, mengingat usaha kecil berkontribusi terhadap tiga dari empat lapangan kerja di AS.
"Perusahaan besar membuat berita utama, tetapi usaha kecil yang sebenarnya menjadi motor utama perekrutan tenaga kerja," ujar Nela Richardson, Kepala Ekonom ADP, dikutip CNBC International.
Biasanya, laporan ADP menjadi pembuka bagi data resmi nonfarm payrolls (NFP) dari Bureau of Labor Statistics (BLS). Namun, akibat shutdown pemerintahan AS yang masih berlangsung, BLS menunda publikasi seluruh data ekonomi, termasuk laporan ketenagakerjaan.
Sebelum penundaan itu, pasar memperkirakan data resmi akan menunjukkan penurunan sekitar 60.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran naik ke 4,5%.
Pejabat Federal Reserve (The Fed) kini semakin mencermati kondisi pasar tenaga kerja yang mulai melemah, terutama setelah pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pekan lalu ke kisaran 3,75%-4,00%.
Pasar pun menilai bahwa stabilitas tenaga kerja akan menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya di AS menjelang akhir tahun
Indeks ISM Services PMI AS Naik
Indeks ISM Services naik menjadi 52,4 pada Oktober 2025 dari posisi 50 pada September, melampaui perkiraan 50,8 dan menunjukkan ekspansi sektor jasa terkuat sejak Februari. Aktivitas bisnis (54,3 vs 49,9) dan pesanan baru (56,2 vs 50,4) sama-sama rebound, sementara kontraksi berlanjut pada sektor ketenagakerjaan (48,2 vs 47,2) menunjukkan kurangnya keyakinan terhadap ketahanan ekonomi ke depan.
Indeks juga menunjukkan tidak ada indikasi terjadinya PHK besar-besaran atau pengurangan tenaga kerja, namun penutupan pemerintahan federal disebut beberapa kali memengaruhi aktivitas bisnis dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi PHK di masa mendatang.
Selain itu, indeks pesanan yang masih menumpuk (backlog of orders) melanjutkan tren penurunan selama 3,5 tahun (40,8 vs 47,3), karena perusahaan mampu memenuhi pesanan baru sehingga dapat mengurangi penumpukan. Tekanan harga meningkat (70 vs 69,4) karena perusahaan terus menyebut dampak tarif terhadap harga yang harus dibayar.
Perubahan MSCI
Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil review terbaru atas sejumlah indeks acuan yang menjadi rujukan penting dana institusi dunia.
Evaluasi tersebut mencakup MSCI Global Standard Index, MSCI Global Small Cap Index, serta MSCI Micro Cap Index. Ketiga indeks ini menjadi barometer arus modal asing, karena setiap perubahan komposisi dapat memicu aksi jual-beli besar oleh manajer investasi global.
Perubahan ini efektif berlaku setelah penutupan perdagangan pada 24 November 2025.
Berikut perubahan:
Emiten masuk (inclusion):
• Barito Renewables Energy (BREN)
• Bumi Resources Minerals (BRMS)
Emiten keluar (exclusion):
• Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP)
• Kalbe Farma (KLBF)
Rebalancing MSCI biasa memicu volatilitas di pasar, lantaran saham yang masuk (inclusion) berpotensi menikmati aliran dana asing, sementara saham yang didepak (exclusion) sering menghadapi tekanan jual. Investor ritel dan institusi kini mulai menyiapkan strategi guna mengantisipasi potensi rotasi portofolio dalam beberapa pekan mendatang.
Dengan meningkatnya minat investor asing pada emerging markets, termasuk Indonesia, hasil review ini diprediksi menjadi sentimen penting bagi arah IHSG menjelang akhir tahun.
Huru-hara Whoosh, Bagaimana Dampaknya ke Saham WIKA dan JSMR?
Ramainya pembahasan mengenai beban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) kembali menyeret perhatian pasar terhadap dua emiten pelat merah yang terlibat langsung dalam proyek ini, yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR).
Keduanya merupakan bagian dari konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang memegang 60% saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator resmi proyek Whoosh.
Saham WIKA masih belum diperdagangkan atau masih dalam suspend sejak Februari 2025, setelah tekanan kondisi finansial yang buruk akibat penurunan pendapatan dan tingginya beban utang membuat perseroan mencatat rugi bersih Rp3,21 triliun per September 2025.
Berbeda dengan WIKA, saham JSMR mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat berada dalam tren penurunan sepanjang Oktober.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, harga saham JSMR sempat tertekan dari level 4.070 pada 22 Oktober 2025 menjadi 3.500 pada 4 November 2025, atau turun sekitar 14% dalam dua pekan.
Namun sejak awal November, sahamnya berbalik menguat ke 3.540 pada 5 November 2025, menandai rebound tipis sekitar 1,1% secara harian.
Pemulihan ini didorong oleh optimisme bahwa eksposur finansial JSMR terhadap proyek Whoosh relatif kecil, mengingat bisnis utamanya di jalan tol masih menghasilkan arus kas positif.
Dari laporan keuangan kuartal III-2025, JSMR membukukan pendapatan Rp21,08 triliun, turun 6,1% (yoy), dengan laba bersih Rp2,72 triliun, melemah 17,3% dari tahun sebelumnya.
Meski demikian, arus kas operasi tetap positif dan tumbuh 5,3%, didukung oleh kenaikan pendapatan tol.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Konferensi Pers Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai Indonesia's Shrimp: Back in Business with the US
Penutupan Expo Keuangan dan Seminar Syariah (EKSiS)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar konferensi Pers Operasi Gabungan DJBC-DJP Kemenkeu dan Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara Polri dalam Pengungkapan 87 Kontainer Pelanggaran Ekspor Produk Turunan CPO
Pencatatan Perdana Saham PT Pelayaran Haya Hidup Baru Tbk (PJHB), sebagai perusahaan tercatat ke-24 Tahun 2025 di BEI
- Keputusan Suku bunga Bank Sentral Inggris (BoJ)
- Penjualan Ritel Uni Eropa
- Neraca Dagang Australia
- Laporan Survei Harga Properti Residen TW III-2025 BI
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-Rencana RUPS : ANJT, BPTR
-Cum Dividen Interim : MLPT, BUAH, NSSS, & CNMA
-Distribusi HMETD : BUVA
-Ex Dividen : MARK
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Hari Penentuan! Data PDB Dirilis Saat Dolar Ngamuk, Bisa RI Bertahan?
Pelaku pasar kini menanti rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 yang akan diumumkan hari ini oleh BPS [2,442] url asal
#newsletter #pasar-keuangan #ihsg #rupiah #dolar-as #pertumbuhan-ekonomi #bps #investasi #obligasi #imbal-hasil #sentimen-pasar
(CNBC Indonesia - Research) 04/11/25 16:05
v/27736/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG melemah serta rupiah kembali tertekan dari dolar AS
- Wall Street ambruk berjamaah di tengah kekhawatiran mengenai valuasi saham AI
- Pelaku pasar kini menanti rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025, lonjakan dolar AS juga mesti diwaspadai
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan domestik ditutup variatif pada perdagangan Selasa (4/11/2025). IHSG yang sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa kini terkoreksi, sementara rupiah kembali melemah terhadap dolar AS.
Pasar diharapkan tetap bergerak positif pada perdagangan Rabu (5/11/2025) menjelang rilis resmi data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2025 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini. Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG pada perdagangan kemarin ditutup turun 0,40% atau 33,17 poin ke level 8.241,91, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas 8.275.
Nilai transaksi IHSG tercatat sebeasr Rp19,39 triliun dengan volume 28,52 miliar saham dari 2,34 juta transaksi. Sebanyak 207 saham menguat, 439 melemah, dan 165 stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat Rp15.028,25 triliun.
Sementara itu, investor asing tercatat masih melakukan aksi beli dengan total net buy mencapai Rp305 miliar.
Secara sektoral, pelemahan terbesar terjadi pada sektor properti yang turun 2,01%, disusul bahan baku melemah 1,06%, dan sektor utilitas turun 1,01%.
Di sisi lain, sektor energi justru memimpin penguatan dengan kenaikan 0,96%, diikuti teknologi yang naik 0,71%, dan sektor kesehatan dengan terapresiasi 0,47%.
Dari sisi emiten, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi penopang dikala pelemahan IHSG dengan kontribusi 17,18 indeks poin dan harga sahamnya naik 4,47%. Selain Telkom, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 15,42 poin, dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menyumbang 5,90 indeks poin.
Sementara itu, emiten perbankan plat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) justru menjadi penekan terbesar dengan kontribusi 11,60 indeks poin, kemudian diikuti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan kontribusi pelemahan 10,61 indeks poin dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) 5,74 poin.
Beralih ke mata uang, rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (4/11/2025).
Mengutip data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,27% dan berakhir di level Rp16.695/US$, melanjutkan pelemahan yang sudah terjadi sejak awal pekan.
Rupiah dibuka turun 0,30% ke posisi Rp16.700/US$, dan sempat menyentuh level terlemah di Rp16.733/US$ sebelum akhirnya menutup perdagangan dengan pelemahan yang sedikit berkurang di akhir sesi.
Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan penguatan dolar AS yang masih bertahan dekat level tertingginya dalam tiga bulan terakhir. Penguatan greenback dipicu oleh pandangan yang terpecah di internal The Federal Reserve (The Fed) serta sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Meskipun The Fed telah memangkas suku bunga acuannya pada pekan lalu, Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan bahwa langkah tersebut bisa menjadi pemangkasan terakhir di tahun ini.
Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar mengoreksi ekspektasi mereka terhadap siklus pelonggaran moneter The Fed, sehingga dolar AS kembali diburu sebagai safe haven.
Kondisi pasar global juga turut diliputi sentimen risk-off, di tengah absennya sejumlah data ekonomi resmi AS akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang masih berlangsung.
Selain itu, perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai arah ekonomi AS membuat pelaku pasar semakin berhati-hati, yang pada akhirnya menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau turun 0,44% ke level 6,153%, atau turun 2,7 basis poin (bps). Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield turun berarti harga obligasi naik, hal ini menandakan bahwa investor tampak melakukan aksi beli.
Dari bursa saham AS, Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk di tengah penurunan saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) seperti Palantir, karena investor semakin khawatir tentang valuasi pada saham-saham yang memimpin pasar bullish.
Indeks S&P 500 turun 1,17% dan ditutup di 6.771,55, sementara Nasdaq Composite anjlok 2,04% menjadi 23.348,64. Dow Jones Industrial Average kehilangan 251,44 poin, atau 0,53%, ke 47.085,24.
Saham Palantir turun sekitar 8%, meskipun perusahaan perangkat lunak ini melampaui perkiraan Wall Street untuk kuartal ketiga dan memberikan panduan yang kuat, didorong oleh pertumbuhan bisnis AI-nya.
Saham ini telah naik lebih dari 150% tahun ini dan diperdagangkan pada lebih dari 200 kali laba di masa depan. Artinya, investor pada saham ini dan saham AI lainnya mengharapkan perusahaan terus menaikkan proyeksi laba dan pendapatan secara signifikan agar investor tetap membeli saham tersebut.
Oracle, yang memiliki rasio P/E ke depan lebih dari 33, turun hampir 4%, mengikis hampir 50% kenaikan tahun ini. Pembuat chip AMD, yang nilainya telah lebih dari dua kali lipat tahun ini, kehilangan hampir 4%. Saham AI lainnya seperti Nvidia dan Amazon juga mengalami penurunan.
Kenaikan saham AI telah mendorong rasio harga-laba ke depan S&P 500 ke atas 23, mendekati level tertingginya sejak tahun 2000.
Saham-saham ini telah mengangkat pasar secara keseluruhan ke level baru dalam beberapa bulan terakhir.
Anthony Saglimbene dari Ameriprise mengatakan tanpa adanya koreksi, valuasi mulai menjadi "sangat tinggi.
"Kita belum benar-benar melihat koreksi besar atau tekanan nyata pada saham sejak April. Laba baik, tapi saya rasa investor mulai bertanya pada diri sendiri, berdasarkan laju investasi belanja modal dari beberapa perusahaan Big Tech utama ini," kata Anthony, kepada CNBC International.
Komentar dari CEO Goldman Sachs dan Morgan Stanley menambah hilangnya kepercayaan investor pada hari Selasa.
David Solomon dari Goldman mengatakan kemungkinan akan ada penurunan 10-20% di pasar saham dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.
Selain itu, CEO Morgan Stanley, Ted Pick, mengatakan kita juga harus menyambut kemungkinan terjadinya penurunan 10-15% yang tidak disebabkan oleh semacam efek jurang makro.
"Fundamental masih baik, tapi saya sepenuhnya mengharapkan akan ada periode penurunan kecil," kata Saglimbene.
Pelaku pasar hari ini menanti dengan seksama rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data ini akan berpengaruh pada pergerakan pasar keuangan Tanah Air.
Selain itu, pengumuman tinjauan indeks MSCI yang berpotensi memicu volatilitas pasar saham, serta shutdown pemerintahan Amerika Serikat yang kini menjadi yang terpanjang dalam sejarah, menambah kompleksitas dinamika pasar pada pertengahan pekan ini.
Lonjakan dolar AS juga mesti diwaspadai karena bisa membuat rupiah semakin tertekan.
Berikut rangkuman sentimen utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar hari ini:
Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2025
Pada hari ini, Rabu (5/11/2025) Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi periode Kuartal III-2025.
Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, dari 13 institusi/lembaga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025 mencapai 5,01% (yoy) dan 1,40% (qtq).
Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan capaian kuartal sebelumnya sebesar 5,12% (yoy), namun masih menunjukkan resiliensi permintaan domestik dan stabilitas ekonomi di tengah tekanan eksternal.
Konsensus CNBC Indonesia sedikit lebih pesimistis dibandingkan proyeksi pemerintah.
Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 masih bisa mencapai 5,1%, didorong oleh kinerja ekspor yang tumbuh cepat di tengah berbagai tekanan, termasuk demonstrasi besar pada Agustus lalu.
"Kuartal III kelihatannya akan cukup resilient, sekitar 5%, 5,1%, karena ekspor kita bagus," ujar Febrio Nathan Kacaribu, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai laju pertumbuhan ekonomi kuartal III akan lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2025 yang sebesar 5,12% yoy. Ia menekankan ekspor masih menjadi penopang utama, dengan tren peningkatan yang berlanjut hingga akhir tahun.
"Jadi dengan tren kuartal III akan lebih tinggi dari kuartal II, dan kuartal IV lebih tinggi dari kuartal III," ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (3/11/2025).
Baik BI maupun pemerintah optimistis laju ekonomi akan terus meningkat hingga akhir tahun, di mana Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan kuartal IV-2025 bisa mencapai 5,5%, ditopang stimulus fiskal dan kebijakan moneter longgar yang menjaga likuiditas perekonomian.
Secara historis, dalam 10 tahun terakhir pada pertumbuhan ekonomi di kuartal III cenderung lebih seiring di bawah dari pertumbuhan di kuartal II.
Sejak 2015 hingga 2024, dari total 10 tahun tersebut, sebanyak tujuh kali laporan pertumbuhan ekonomi di kuartal III lebih rendah dibandingkan kuartal II.
Hal ini terjadi akibat di kuartal II biasanya menjadi puncak pertumbuhan ekonomi seiring dengan adanya libur sekolah serta bertepatan dengan musim lebaran yang biasanya meningkatkan konsumsi rumah tangga.
Dan laju pertumbuhan ekonomi akan mengalami perlambatan pada kuartal berikutnya.
Rebalancing MSCI
Pelaku pasar hari ini juga akan mencermati pengumuman tinjauan reguler (index review) MSCI untuk periode November 2025.
Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025 mendatang, dan biasanya menimbulkan periode volatilitas tinggi menjelang implementasi.
Dalam tinjauan kali ini, sejumlah saham Indonesia disebut berpotensi mengalami perubahan posisi dalam indeks MSCI.
Beberapa emiten domestik yang dinilai berpeluang masuk atau naik kelas antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), setelah keduanya diperkirakan telah memenuhi syarat free float dan likuiditas.
Sebaliknya, sejumlah saham disebut berisiko keluar atau diturunkan kelas, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Masuknya saham ke dalam indeks MSCI biasanya mendorong aliran dana asing (foreign inflow) karena banyak dana indeks dan exchange-traded fund (ETF) global yang mereplikasi konstituen MSCI.
Namun sebaliknya, keluarnya saham dari indeks dapat menimbulkan tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global.
Periode antara pengumumanhingga tanggal efektif pada 25 November 2025 mendatang, diperkirakan akan menjadi momen yang cukup dinamis bagi IHSG, terutama bagi saham-saham dengan kapitalisasi besar yang menjadi kandidat perubahan.
Jika terdapat lebih banyak saham besar yang keluar atau turun kelas, sentimen pasar bisa tertekan, dan menjadi salah satu pemicu koreksi IHSG dalam jangka pendek.
Dolar AS Menggila
Indeks dolar AS semakin menggila dan menembus level 100 pada hari ini, Rabu (5/11/2025) pukul 05.36 WIB. Indeks mencapai 100,198 atau posisi tertingginya sejak 19 Mei atau lima bulan lebih.
Indeks yang melonjak menandai besarnya minat investor dalam membeli dolar AS dan meninggalkan instrumen lain. Kondisi ini bisa memicu outflow, terutama dari Emerging Market seperti Indonesia. Nila tukar rupiah pun bisa semakin tertekan.
Shutdown Pemerintah AS Pecahkan Rekor Terpanjang dalam Sejarah
Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mencatatkan sejarah baru pekan ini, setelah penutupan (shutdown) pemerintahan federal memasuki hari ke-36 pada hari ini, Rabu (5/11/2025).
Dengan demikian, shutdown kali ini menjadi yang terpanjang dalam sejarah AS, melampaui rekor sebelumnya selama 35 hari yang terjadi pada Desember 2018 hingga Januari 2019.
Kebuntuan politik antara Presiden Donald Trump dan kongres yang dikuasai Partai Demokrat menjadi penyebab utama berlarutnya penghentian kegiatan pemerintahan ini.
"Saya tidak akan diperas oleh Demokrat. Kami akan terus melakukan voting," tegas Trump dalam wawancaranya dengan CBS "60 Minutes" pada akhir pekan lalu, menolak kemungkinan kompromi jangka pendek.
Dampak shutdown kini semakin terasa di berbagai sektor perekonomian.
Ribuan pegawai pengatur lalu lintas udara (air traffic controller) dan petugas keamanan bandara (TSA) absen bekerja yang menyebabkan penundaan penerbangan di berbagai kota besar AS.
Sementara itu, sekitar 42 juta warga AS yang bergantung pada bantuan pangan federal (SNAP) dipastikan hanya akan menerima setengah dari manfaat bulanan mereka untuk November, menambah tekanan sosial di tengah biaya hidup yang tinggi.
Shutdown kali ini telah menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan mulai dari pelemahan aktivitas bandara hingga keterlambatan distribusi logistik di AS.
Kondisi ini juga menekan kepercayaan bisnis dan konsumen, terutama karena ketidakpastian kapan negosiasi di Capitol Hill akan membuahkan hasil. Sejumlah senator dari kedua partai mengakui frustrasi atas kebuntuan ini, meski ada indikasi bahwa pembicaraan informal di balik layar mulai terjadi.
Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda jelas bahwa pemerintahan Trump siap melakukan kompromi atau membuka kembali layanan federal secara penuh.
kelanjutan shutdown ini menambah tekanan terhadap ekonomi AS yang sebelumnya sudah menghadapi risiko perlambatan akibat ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter.
Investor global kini menanti dampaknya terhadap lapangan kerja, belanja konsumen, dan potensi revisi pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Menteri Kelautan dan Perikanan meluncurkan Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Ikan Skala Kecil di kantor Kementerian KKP, Kota Jakarta Pusat.
Konferensi pers BPS terkait realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan III hingga keadaan ketenagakerjaan di kantor pusat BPS, Kota Jakarta Pusat.
Konferensi pers Menteri Koordinator Bidang Perekonomian terkait realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan III di kantor Kemenko Perekonomian, Kota Jakarta Pusat.
CIO Danantara Indonesia menghadiri Investortrust Economic Outlook 2026 di Ballroom The Ritz-Carlton, Kota Jakarta Selatan.
Press Briefing YouTube Festival di Glass House The Ritz-Carlton Pacific Place, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Country Director Google Indonesia.
KPK mengumumkan status Gubernur Riau dan sembilan orang lain yang terjaring OTT pada tanggal 3 November 2025.
- PMI Manufaktur Singapura
- Penjualan Ritel Singapura
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-Rencana RUPS : PSAB, OLIV, RIGS, AMOR, & BAIK
-DPS HMETD : BUVA
-Cum Dividen Interim : MARK
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Kabar Baik: Ekonomi Memanas di Awal November, Investor Bisa Napas Lega
Pelaku pasar akan mencermati inflasi Oktober yang lebih tinggi dari perkiraan, serta aktivitas manufaktur yang terus melaju di zona ekspansi. [2,916] url asal
#newsletter #pasar-keuangan #ihsg #rupiah #obligasi #investasi #imbal-hasil #dolar-as #ekonomi-indonesia #analisis-pasar #net-buy
(CNBC Indonesia - Research) 03/11/25 16:12
v/26331/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan awal pekan ini, IHSG mencetak rekor baru sementara rupiah justru melemah
- Wall street ditutup beragam
- Pelaku pasar akan mencermati inflasi Oktober yang lebih tinggi dari perkiraan, serta aktivitas manufaktur yang terus melaju di zona ekspansi. Hingga peluncuran indeks S&P Dow Jones Indices dan BEI yang turut menambah optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (3/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli dan mencetak rekor penutupan tertinggi baru, sedangkan rupiah melemah terhadap dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah naik.
Pasar diharapkan tetap bergerak positif pada perdagangan hari ini, Selasa (4/11/2025). Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Para investor juga dapat mengintip agenda serta rilis data ekonomi yang terjadwal untuk hari ini, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, pada halaman 4.
Pada perdagangan kemarin, Senin (3/11/2025), IHSG ditutup menguat 1,36% atau naik 111,21 poin ke level 8.275,08, sekaligus menandai penutupan tertinggi atau level all-time high baru.
Nilai transaksi harian mencapai Rp15,89 triliun dengan volume 23,41 miliar saham dari 2,1 juta kali transaksi. Sebanyak 353 saham menguat, 291 melemah, dan 169 stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG pun naik ke Rp15.080,57 triliun.
Dari sisi foreign flow, Investor asing tercatat kembali melakukan aksi net buy sebesar Rp1,03 triliun yang menunjukkan arus modal asing yang kembali deras ke pasar saham domestik.
Kenaikan IHSG dipimpin oleh sektor utilitas yang melonjak 5,53%, diikuti consumer cyclicals naik 1,86%. Sektor energi menguat 1,69%, dan bahan baku naik 1,40%. Di sisi lain, sektor properti turun paling dalam 2,56%, disusul consumer non-cyclicals turun 0,14% dan sektor kesehatan melemah 0,04%.
Dari sisi emiten, Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi kontributor terbesar terhadap penguatan indeks dengan tambahan 22,86 poin, diikuti Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang naik 16,03 poin dan Barito Pacific Tbk (BRPT) yang bertambah 13,73 poin.
Sementara itu, Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) menjadi penekan utama IHSG dengan total 6,83 indeks poin, disusul Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 3,67 poin, dan Amman Mineral Internasional Tbk berkurang 2,36 poin.
Berali ke mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/11/2025).
Rupiah terdepresiasi 0,15% ke posisi Rp 16.650/US$, menjadi level penutupan terlemah sejak 30 September 2025. Secara intraday, rupiah sempat dibuka menguat di posisi Rp 16.620/US$, namun berbalik melemah hingga akhir sesi.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global, yang kembali mendapat dukungan dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Meskipun The Fed pada pekan lalu memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin, pasar menilai langkah tersebut kemungkinan menjadi pemangkasan terakhir di 2025.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa bank sentral kini akan lebih berhati-hati agar tidak melonggarkan kebijakan terlalu cepat tanpa kejelasan arah ekonomi AS.
Komentar tersebut membuat pasar menilai sikap The Fed masih relatif hawkish, terlebih setelah sejumlah presiden bank sentral regional AS juga menyampaikan keberatan atas pemangkasan suku bunga di pertemuan terakhir.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga pada Desember turun menjadi sekitar 68%, dari sebelumnya lebih dari 80% sebelum rapat FOMC berlangsung. Kondisi ini membuat investor global kembali berburu dolar AS karena imbal hasil aset berbasis dolar dinilai lebih menarik dibandingkan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik 1,33% ke level 6,180%, atau meningkat sekitar 8,1 basis poin (bps) dibandingkan posisi penutupan Jumat (31/10/2025) di 6,099%.
Sebagai informasi, imbal hasil obligasi yang menguat menandakan bahwa para pelaku pasar sedang membuang surat berharga negara (SBN). Begitu pun sebaliknya, imbal hasil obligasi yang melemah menandakan bahwa para pelaku pasar sedang kembali mengumpulkan surat berharga negara (SBN).
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks Nasdaq menguat pada Senin seiring investor semakin masuk ke perdagangan kecerdasan buatan (AI) menyusul sejumlah pengumuman kesepakatan besar.
Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 0,46% dan ditutup di 23.834,72, sementara S&P 500 menguat 0,17% menjadi 6.851,97. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average tertinggal, turun 226,19 poin atau 0,48% menjadi 47.336,68.
Saham "Magnificent Seven" seperti Amazon menopang pasar, dengan naik 4% setelah perusahaan mencapai kesepakatan senilai US$38 miliar dengan OpenAI. Kerja sama ini akan memanfaatkan ratusan ribu unit pemrosesan grafis (GPU) dari Nvidia.
Saham pembuat chip juga mengalami kenaikan pada Senin setelah perusahaan pusat data Iren menandatangani kesepakatan multiyears senilai US$9,7 miliar dengan Microsoft untuk memberikan akses ke GPU Nvidia GB300 bagi perusahaan teknologi megacap tersebut.
Saham Micron Technology naik hampir 5% dan memimpin kenaikan saham chip, sementara Nvidia naik 2%. ETF VanEck Semiconductor (SMH) naik hampir 1%. Saham Iren, sementara itu, melonjak 11%.
Saham Nvidia terus bergerak lebih tinggi setelah pengumuman Microsoft yang menyatakan telah memperoleh lisensi ekspor dari pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengirim chip Nvidia ke Uni Emirat Arab. Perusahaan menambahkan bahwa total investasinya di UEA akan mencapai US$15,2 miliar pada akhir 2029.
Namun, di luar saham teknologi, hanya sedikit saham yang menguat sepanjang hari perdagangan, karena lebih dari 300 saham di S&P 500 ditutup di zona merah.
Pelemahan breadth ini menjadi perhatian pasar, dengan lebih banyak saham di indeks utama turun dibanding naik sepanjang Oktober, meski perdagangan AI mendorong indeks ini naik selama bulan tersebut.
"Pasar sedang memberikan penghargaan kepada pemain kunci AI hari ini. Perusahaan-perusahaan ini memimpin dan menangkap hampir semua nilai di AI," kata Gil Luria, kepala riset teknologi di D.A. Davidson, kepada CNBC.
Dia menambahkan Nvidia, Microsoft, Google, Amazon, serta perusahaan lain seperti Palantir mampu mengamankan infrastruktur yang diperlukan untuk melayani pelanggan mereka dan semuanya melihat titik infleksi positif dalam permintaan.
"Tidak hanya mereka memiliki kas untuk membangun kapasitas AI sendiri, tetapi juga dapat memperluas jangkauan dengan menyewa kapasitas dari neocloud dan penyedia pusat data lainnya."imbuhnya.
Lebih dari 300 perusahaan S&P 500 telah melaporkan hasil kuartal ketiga hingga saat ini. Dari jumlah tersebut, lebih dari 80% melampaui ekspektasi, menurut FactSet. Wall Street akan kedatangan lebih dari 100 perusahaan lagi yang melaporkan minggu ini, termasuk nama terkait AI seperti Palantir dan AMD.
Wall Street mungkin akan mendapat dorongan musiman bulan ini. Data dari Stock Trader's Almanac menunjukkan bahwa S&P 500 rata-rata naik 1,8% pada November, menjadikannya bulan terkuat secara historis untuk indeks tersebut.
Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada awal pekan, IHSG hingga rupiah kini bersiap menghadapi perdagangan hari kedua di pekan ini dengan harapan positif.
Rangkaian hasil rilis data penting mulai dari inflasi Oktober, neraca perdagangan, hingga PMI manufaktur akan menjadi fokus utama pelaku pasar, disusul dengan laporan stabilitas keuangan KSSK serta peluncuran indeks baru oleh BEI dan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI).
Membaiknya infrastruktur hingga masih tingginya neraca dagang bisa menjadi sentimen positif pasar hari ini.
Berikut rangkuman sentimen utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar hari ini:
Inflasi Oktober Naik di Atas Perkiraan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2025 sebesar 0,28% (month-to-month/mtm) dan 2,86% (year-on-year/yoy). Angka ini lebih tinggi dari perkiraan konsensus CNBC Indonesia, yang sebelumnya memproyeksikan inflasi hanya naik 0,02% (mtm) dan 2,6% (yoy).
"Inflasi 0,28% secara bulanan," kata Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers, Senin (3/11/2025).
Kenaikan harga terutama disebabkan oleh penurunan produksi cabai merah yang mencapai level terendah tahun ini, serta kenaikan harga bawang merah di beberapa daerah.
Selain itu, permintaan telur ayam ras juga meningkat seiring dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis oleh pemerintah.
Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi menunjukkan tekanan dari kelompok pangan bergejolak (volatile food) masih terasa, meskipun inflasi inti tetap stabil. Hasil ini akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga jelang akhir tahun.
Surplus Neraca Dagang September Capai US$4,34 Miliar
Selain rilis data Inflasi, BPS turut melaporkan neraca perdagangan Indonesia yang tercatat surplus sebesar US$4,34 miliar pada September 2025.
Capaian ini lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$5,49 miliar, namun memperpanjang tren surplus selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus terjadi karena ekspor mencapai US$24,68 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$20,34 miliar. Hasil ini sejalan bahkan lebih tinggi dari hasil polling CNBC Indonesia yang memperkirakan surplus September berada di kisaran US$3,9-4,0 miliar.
"Surplus ini ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar US$5,99 miliar, terutama berasal dari lemak dan minyak hewan-nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," ujar Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-September 2025 masih surplus US$33,48 miliar, ditopang oleh sektor nonmigas (US$47,20 miliar), sementara sektor migas defisit US$13,72 miliar.
Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi penyumbang surplus terbesar, sedangkan defisit terbesar berasal dari China, Australia, dan Thailand.
PMI Manufaktur RI Oktober Melesat
Aktivitas manufaktur Indonesia kembali mencatat kinerja positif di awal kuartal IV-2025. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia naik ke 51,2 pada Oktober, dari 50,4 di September, menandakan ekspansi yang semakin kuat.
Peningkatan ini memperpanjang tren ekspansi menjadi tiga bulan berturut-turut setelah sebelumnya sempat terkontraksi pada April-Juli 2025.
S&P Global melaporkan bahwa kenaikan pesanan baru dan peningkatan aktivitas pembelian menjadi pendorong utama ekspansi manufaktur, disertai stabilisasi output dan perekrutan tenaga kerja baru.
"Kenaikan pesanan baru bertepatan dengan stabilnya level produksi dan mendorong peningkatan pembelian bahan baku serta perekrutan tenaga kerja," tulis S&P Global dalam laporannya.
Dari sisi harga, pelaku industri mencatat kenaikan beban biaya input tercepat dalam delapan bulan terakhir, dipicu oleh lonjakan harga bahan baku. Peningkatan PMI ini memperkuat optimisme bahwa sektor manufaktur akan tetap menjadi motor pemulihan ekonomi nasional di sisa tahun 2025.
KSSK Pastikan Stabilitas Keuangan RI Terjaga
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan bahwa stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga sepanjang kuartal III-2025, di tengah dinamika dan ketidakpastian global yang masih tinggi.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK, Senin (3/11/2025).
Rapat ini menjadi yang pertama bagi Purbaya sebagai Menteri Keuangan dan Anggito Abimanyu sebagai Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
"Stabilitas sistem keuangan triwulan III-2025 tetap terjaga dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, dengan tetap mewaspadai berbagai risiko global," ujar Purbaya.
KSSK sepakat untuk memperkuat koordinasi antarotoritas dan menjaga sinergi kebijakan antara Kementerian Keuangan, BI, OJK, dan LPS, guna memastikan sistem keuangan tetap stabil sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dari sisi eksternal, Purbaya menyebut The Federal Reserve (The Fed) telah memangkas suku bunga sebesar 25 bps menjadi 3,75%-4,00%, sementara ekonomi global masih dipengaruhi oleh kebijakan tarif impor AS.
Meski demikian, IMF merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,2% di 2025, didukung oleh ekspansi fiskal dan tren penurunan inflasi.
BEI dan S&P Dow Jones Luncurkan Tiga Indeks Baru
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) resmi meluncurkan tiga indeks saham co-branded yang mencakup saham-saham tercatat di BEI.
Peluncuran ini dilakukan pada Senin (3/11/2025) sebagai langkah memperluas eksposur pasar modal Indonesia di kancah global.
Kolaborasi ini mencakup pengembangan, penerbitan, dan distribusi indeks bagi investor domestik maupun global yang mencari peluang di pasar Indonesia melalui pendekatan investasi tematik.
S&P DJI juga akan memanfaatkan jaringan global dan kemampuan pemasarannya untuk mendistribusikan serta memberikan lisensi indeks BEI ke seluruh dunia, memperkuat posisi Indonesia di pasar keuangan internasional.
Belanja Warga RI Membaik
Jelang penutupan akhir bulan Oktober, emiten-emiten terutama dari sektor consumer goods mulai berbondong-bondong merilis kinerja keuangan kuartal III 2025.
Dominan emiten-emiten tersebut mencatatkan performa kinerja yang cukup baik dan bertumbuh, hal ini dapat mencerminkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) akan tumbuh sejalan dengan pertumbuhan industri di sektor consumer goods.
Berdasarkan catatan CNBC Indonesia Research dari delapan emiten consumer goods yang telah merilis kinerja keuangan pada kuartal III 2025, dominan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang cukup baik.
Sementara itu, kinerja penjualan ritel nasional yang menjadi indikator penting untuk melihat bagaimana kondisi daya beli masyarakat telah menunjukkan pemulihan di kuartal III 2025, meski masih sedikit di bawah capaian tahun sebelumnya.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI), pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) rata-rata mencapai 4,7% (yoy) pada periode Juli-September 2025.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal II 2025 yang hanya tumbuh 1,0%, namun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,0% yoy pada kuartal III 2024.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), total penjualan mobil secara wholesales (pabrikan ke dealer) sepanjang Juli-September 2025 tercatat sebanyak 184.726 unit, naik 7,7% dibanding kuartal II-2025 (171.554 unit).
ISM Manufaktur AS Jeblok
Indeks Manufaktur AS ISM Manufacturing PMI turun menjadi 48,7 pada Oktober 2025 dari 49,1 pada September, di bawah perkiraan pasar sebesar 49,5, menandai delapan bulan berturut-turut sektor manufaktur mengalami kontraksi.
Produksi menurun (48,2 vs 51), dan kontraksi juga terlihat pada pesanan baru (49,4 vs 48,9), inventaris (45,8 vs 47,7), serta backlog pesanan (47,9 vs 46,2). Pekerjaan atau employment terus menurun (46 vs 45,3), dengan 67% responden panel menyatakan bahwa pengelolaan jumlah karyawan masih menjadi kebijakan utama di perusahaan mereka, bukan perekrutan baru.
Sementara itu, tekanan harga mereda (58 vs 61,9), dan indeks pengiriman pemasok menunjukkan kinerja pengiriman yang lebih lambat untuk bulan ketiga berturut-turut (54,2 vs 52,6).
Dari enam industri manufaktur terbesar, hanya dua (Produk Makanan, Minuman & Tembakau; serta Peralatan Transportasi) yang mengalami ekspansi pada Oktober.
Revisi Aturan DHE
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 sebagai Perubahan atas Peraturan Pemerintah 36 Tahun 2023 akan mengalami sedikit perubahan dari hasil evaluasi yang dilakukan sejak berlaku pada 1 Maret 2025.
"Yang jelas kelihatannya akan direvisi sedikit," kata Purbaya seusai konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, kebijakan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) selama ini memang tak mampu memperkuat cadangan devisa (cadev) Indonesia.
Permasalahan ini lah yang kemudian membuat Presiden Prabowo Subianto beberapa hari terakhir meminta jajaran menterinya untuk segera mengevaluasi ketentuan DHE yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 sebagai Perubahan atas Peraturan Pemerintah 36 Tahun 2023.
Mulanya, Destry mengungkapkan bahwa kebijakan wajib parkir dolar hasil ekspor di dalam negeri itu telah dipenuhi secara baik oleh para eksportir. Tingkat kepatuhan terhadap ketentuan PP 8/2025 dari para eksportir itu pun ia sebut telah mencapai 95%.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
CEO INSIGHT di Hutan Kota by Plataran, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Perdagangan dan Direktur Utama PLN
Konferensi pers BP Tapera terkait realisasi FLPP di kantor BP Tapera, Menara Mandiri 2, Kota Jakarta Selatan
Public Expose PT Waskita Karya Tbk. (WSKT)
- Inflasi Oktober Korea Selatan
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-Rencana RUPS : ASMR, SMDM, INTA
-Ex HMETD : BUVA
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Siaga 1: RI Tunggu Putusan Purbaya-KSSK di Tengah Hujan Kabar Genting
Pelaku pasar bersiap mencermati sederet rilis data ekonomi penting pada peka ini, mulai dari inflasi, PMI manufaktur, hingga PDB kuartal III-2025. [2,782] url asal
#newsletter #pasar-keuangan #ihsg #rupiah #obligasi #investasi #wall-street #inflasi #pdb #stabilitas-ekonomi #suku-bunga #data-ekonomi #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 02/11/25 16:31
v/24778/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG melemah sementara rupiah justru menguat
- Wall Street masih kompak menguat pada pekan lalu
- Pelaku pasar bersiap mencermati sederet rilis data ekonomi penting pada pekaini, mulai dari inflasi, PMI manufaktur, hingga PDB kuartal III-2025.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air akan kembali dibuka pada perdagangan hari ini, Senin (3/10/2025) yang sekaligus menjadi perdagangan pertama di November 2025.
Sebelumnya, pasar keuangan Tanah Air ditutup bervariasi pada perdagangan terakhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta pasar obligasi pemerintah tercatat melemah, sementara rupiah mampu menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu kembali bergerak di zona positif pada perdagangan awal pekan ini. Selengkapnya mengenai pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup melemah 0,25% atau 20,19 poin ke level 8.163,88 pada perdagangan Jumat (31/10/2025). Sepanjang sesi, IHSG sempat bergerak di kisaran 8.144-8.215 dengan total nilai transaksi sebesar Rp19,18 triliun dan volume 28,09 miliar saham dari 1,98 juta kali transaksi.
Sebanyak 272 saham menguat, 377 melemah, dan 161 stagnan, sementara investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp1,13 triliun di seluruh pasar. Secara mingguan, IHSG terkoreksi 1,30%
Dari sisi sektoral, sektor utilitas menjadi penopang utama dengan kenaikan 0,84%, diikuti teknologi yang naik 0,79% dan konsumer non-siklikal menguat tipis 0,09%.
Sebaliknya, tekanan terbesar datang dari bahan baku terkoreksi 0,83%, properti turun 0,70%, serta energi 0,67%.
Dari sisi emiten, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi kontributor penguatan terbesar dengan tambahan 11,59 indeks poin, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 4,72 poin dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 2,81 poin.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi pemberat utama IHSG dengan penurunan masing-masing 7,03 poin.
Beralih ke nilai tukar, mata uang Garuda berhasil menutup perdagangan di penghujung pekan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Namun, secara akumulatif sepanjang sepekan rupiah tercatat melemah 0,21% terhadap dolar AS, di tengah tren penguatan greenback secara global.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (31/10/2025), rupiah terapresiasi 0,06% ke level Rp16.625/US$. Rupiah sempat menguat sejak awal sesi perdagangan di posisi Rp16.620/US$, namun laju penguatannya mulai terbatas menjelang penutupan.
Penguatan rupiah terjadi di tengah tren global yang masih didominasi oleh pergerakan dolar AS. Kenaikan greenback terjadi setelah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu.
Namun, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell menjadi sorotan utama pasar. Powell menegaskan bahwa peluang pemangkasan lanjutan pada Desember belum dapat dipastikan, terutama di tengah masih berlanjutnya shutdown pemerintahan AS yang menunda publikasi sejumlah data ekonomi penting.
"Jika penutupan pemerintahan terus berlangsung, tidak mudah bagi The Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga," tulis ekonom Jefferies, Mohit Kumar, dalam catatannya.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengurangi proyeksi terhadap pemangkasan lanjutan. Meski begitu, ketahanan rupiah di tengah volatilitas eksternal menunjukkan stabilitas domestik yang masih terjaga menjelang rilis data-data ekonomi di awal November.
Adapun dari pasar obligasi Tanah Air, imbal hasil SBN yang bertenor 10 tahun terpantau naik 0,66% ke level 6,099% pada akhir pekan lalu Jumat (31/10/2025). Secara akumulatif sepanjang sepekan, yield SBN tenor 10 tahun tercatat naik 1,75%. Kenaikan yield tersebut menandakan investor tengah melakukan aksi jual di pasar sekunder, yang menyebabkan harga obligasi turun.
Pasar saham Amerika Serikat (Wall Street) kompak ditutup menguat pada perdagangan Jumat (31/10/2025), yang didorong oleh lonjakan saham-saham teknologi, terutama Amazon. Setelah berhasil membukukan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pasar.
Indeks Nasdaq Composite naik 0,61% ke level 23.724,96, diikuti S&P 500 yang menguat 0,26% ke 6.840,20. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 40,75 poin atau 0,09% ke posisi 47.562,87.
Kenaikan ini didorong oleh saham Amazon yang melesat 9,6% setelah perusahaan e-commerce raksasa itu melaporkan lonjakan pendapatan dari bisnis komputasi awan (AWS) sebesar 20% pada kuartal III-2025, melampaui perkiraan analis Wall Street.
CEO Amazon Andy Jassy mengatakan bahwa layanan AWS saat ini,tumbuh dengan kecepatan yang belum pernah kami lihat sejak 2022, dan permintaan terhadap infrastruktur inti serta layanan AI kami sangat kuat.
Analis juga menilai peningkatan belanja modal di sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi sinyal kuat bagi pertumbuhan jangka panjang.
"Adopsi AI meningkat pesat, sehingga investasi untuk memperluas daya komputasi dan fungsionalitas menjadi sangat layak. Ini akan menjadi metrik penting ke depan, karena kami kini memiliki lebih dari US$600 miliar belanja modal yang sudah dialokasikan untuk tahun depan," ujar Brian Mulberry, Client Portfolio Manager di Zacks Investment Management, dikutip dari CNBC International.
Selain Amazon, saham-saham lain yang terkait AI turut mengalami reli. Palantir Technologies naik 3%, sedangkan Oracle menguat 2,2%. Mulberry menambahkan bahwa, Investor kini akan mencermati bagaimana belanja besar-besaran itu kembali ke perusahaan dalam bentuk penjualan produk berbasis AI.
Dukungan tambahan bagi Nasdaq datang dari Netflix, yang melonjak 2,7% setelah mengumumkan kebijakan stock split 10 banding 1. Sementara itu, Tesla juga menguat 3,7% di tengah rebound saham sektor kendaraan listrik.
Secara mingguan, S&P 500 naik 0,7%, sedangkan Nasdaq dan Dow Jones masing-masing menguat 2,2% dan 0,8%.
Khusus untuk Oktober, S&P 500 melonjak 2,3%, Nasdaq naik 4,7%, dan Dow Jones menanjak 2,5%, mencatatkan kenaikan bulanan keenam beruntun sekaligus rekor pertama sejak 2018.
Memasuki pekan pertama November, pelaku pasar akan mencermati sederet rilis data ekonomi penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Dari domestik, fokus utama akan tertuju pada inflasi Oktober, PMI manufaktur, neraca dagang, serta pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (5/11/2025).
Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pemulihan ekonomi nasional menjelang akhir tahun. Selain itu, data ini juga akan menjadi acuan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan langkah kebijakan moneter pada sisa 2025.
Berikut rangkuman sentimen utama yang akan membentuk arah pergerakan IHSG hingga rupiah sepanjang pekan ini:
Inflasi Oktober RI
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi Oktober 2025 pada hari ini, Senin (3/11/2025).
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari sembilan institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan mengalami inflasi 0,02% (mtm), sementara secara tahunan (yoy) inflasi diperkirakan mencapai 2,6%. Inflasi inti diperkirakan stabil di 2,2%.
Sebagai perbandingan, pada September 2025 inflasi tercatat 0,21% (mtm) dan 2,65% (yoy), dengan inflasi inti 2,19%. Secara historis, inflasi di Oktober cenderung rendah dengan rata-rata 0,07% (mtm) dalam lima tahun terakhir. Artinya, tekanan harga bulan ini berpotensi lebih kecil dari tren biasanya.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan tekanan inflasi menurun karena harga sejumlah komoditas utama terkoreksi, seperti beras (-0,8% mom), bawang merah (-7,6% mom), dan cabai rawit (-6,2% mom).
"Penurunan harga pangan menjadi faktor utama yang menahan inflasi, sementara harga telur masih mencatatkan kenaikan moderat sekitar 2,6% mom," ujarnya kepada CNBC Indonesia.
Ekonom Bank Danamon Hosianna Situmorang menambahkan, inflasi inti berpotensi sedikit menguat karena lonjakan harga emas dan perhiasan.
"Imported inflation dari depresiasi rupiah masih tertahan karena efek pass-through yang lambat dan adanya diskon ritel, sehingga ekspektasi inflasi tetap terjaga," ujarnya kepada CNBC Indonesia.
Neraca Perdagangan RI September
Masih di hari ini juga, BPS juga akan merilis data neraca perdagangan September 2025.
Berdasarkan polling CNBC Indonesia diperkirakan surplus perdagangan akan berada di kisaran US$3,9 miliar, turun dari US$5,49 miliar pada Agustus 2025.
Secara keseluruhan, ekspor diproyeksikan tumbuh 7,22%, sementara impor meningkat 4,95%. Penurunan surplus ini menandakan ekspor yang melandai secara bulanan, sementara impor mulai menguat menjelang akhir tahun.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa meski surplusnya menurun, tren positif masih berlanjut selama 65 bulan berturut-turut.
"Penopang ekspor tetap datang dari hilirisasi, terutama besi dan baja, sementara kenaikan harga minyak sawit mentah juga memberi dorongan tambahan," ujar Josua kepada CNBC Indonesia.
Impor diperkirakan naik karena pelaku usaha mulai mengamankan stok untuk menghadapi Natal dan Tahun Baru, yang secara musiman memang mendorong permintaan barang konsumsi.
"Surplus September berpeluang turun sejalan dengan impor yang mulai menguat, dan faktor persiapan akhir tahun kemungkinan ikut mendukung arus barang masuk,"
tambah Josua.
PMI Manufaktur RI Oktober
Pada hari ini juga, akan ada rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Oktober 2025.
Sebagai catatan, data PMI yang dirilis oleh S&P Global untuk bulan September berada di level 50,4, turun dari 51,5 pada Agustus 2025. Meski menurun, angka ini tetap menunjukkan sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi selama dua bulan berturut-turut.
Sebelumnya, PMI sempat terkontraksi sejak April hingga Juli 2025 di kisaran 46-49, sebelum akhirnya kembali menembus level ekspansif pada Agustus. Kinerja manufaktur yang mulai pulih didorong oleh kenaikan pesanan baru (new orders) dari pasar domestik, meski permintaan ekspor masih melambat.
"Pesanan baru terus tumbuh di akhir kuartal ketiga, meski lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini sebagian besar dikaitkan dengan permintaan pasar domestik yang lebih kuat," tulis S&P Global dalam laporannya.
Perusahaan manufaktur juga mulai meningkatkan pembelian bahan baku dan stok barang jadi untuk mengantisipasi kenaikan permintaan di akhir tahun, di tengah kenaikan biaya input ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Sementara itu, waktu pengiriman bahan baku membaik dan menjadi yang tercepat dalam hampir dua tahun terakhir berkat efisiensi distribusi.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2025
Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2025 pada Rabu (5/11/2025). Data ini akan menjadi indikator penting untuk melihat kinerja perekonomian nasional pada paruh kedua tahun ini.
Dalam laporan terakhir BPS, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 tercatat tumbuh 5,12% (year-on-year/yoy) atau tertinggi sejak kuartal II-2023.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qoq), pertumbuhan mencapai 4,04%, juga tertinggi sejak kuartal III-2022.
Sektor industri pengolahan masih menjadi motor utama pendorong pertumbuhan, dengan kontribusi terbesar terhadap PDB mencapai 18,67%. Industri ini tumbuh 5,68% (yoy), ditopang subsektor makanan dan minuman (mamin), termasuk CPO, minyak goreng, serta produk olahan lainnya.
Secara historis, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III cenderung lebih rendah dibandingkan kuartal II. Dalam 10 tahun terakhir (2015-2024), sebanyak tujuh kali laporan pertumbuhan di kuartal III tercatat lebih rendah dari kuartal sebelumnya.
Hal ini disebabkan karena kuartal II biasanya menjadi puncak aktivitas ekonomi tahunan, yang didorong oleh periode Ramadan dan Lebaran serta libur sekolah yang meningkatkan konsumsi rumah tangga. Setelah momentum itu berlalu, pertumbuhan di kuartal III umumnya mengalami perlambatan musiman.
Cadangan Devisa RI Oktober
Pada akhir pekan Jumat (7/11/2025), Bank Indonesia (BI) akan merilis data cadangan devisa (cadev) periode Oktober 2025. Sebelumnya, berdasarkan data BI, cadev pada akhir September 2025 tercatat sebesar US$148,7 miliar atau lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$150,7 miliar atau mengalami penurunan sekitar US$2 miliar dalam sebulan.
Penurunan tersebut mencerminkan langkah aktif BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan global yang cukup tinggi.
Dengan level tersebut, cadangan devisa masih berada pada tingkat yang aman dan memadai untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian RI. Level tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 impor atau 6,0 bulan impor ditambah dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan masih jauh dia tas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
ISM Manufacturing PMI AS Oktober
Dari eksternal, pada hari ini akan ada rilis data Institute for Supply Management (ISM) Manufacturing PMI Amerika Serikat periode Oktober 2025. Sebelumnya, PMI AS untuk September 2025 tercatat sebesar 49,1 poin, naik dari 48,7 poin di Agustus namun masih berada di zona kontraksi ( kurang dari 50).
Indeks tersebut menunjukkan bahwa sektor manufaktur AS masih dibayangi tantangan meski perlahan menunjukan perbaikan. Menurut data, produksi memperluas menjadi 51,0 poin di September, naik dari 47,8 poin bulan sebelumnya, sementara sub-indikator pesanan baru (new orders) menurun menjadi 48,9 poin dari 51,4 poin.
Dengan latar tersebut, pelaku pasar kini mengamati angka PMI Oktober sebagai sinyal penting apakah sektor manufaktur AS mulai keluar dari fase kontraksi atau justru masih melemah. Jika angka di atas 50 poin tercapai, maka dapat menjadi katalis positif global, jika tetap di bawah 50 maka bisa memperkuat sentimen kehati-hatian di pasar Asia dan domestik.
Konferensi Pers KSSK
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar rapat tiga bulanan sekaligus konferensi pers pada hari ini, Senin (3/11/2025).
Konferensi pers akan dihadiri Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, serta Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.
Rapat KSSK ini adalah yang pertama di mana Purbaya menjabat sebagai Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK di mana sebelumnay dia adalah Ketua LPS.
Anggito juga akan hadir pertama kali sebagai Ketua LPS. Ini juga menjadi rapat pertama sejak pemerintah menyalurkan likuditas senilai Rp 200 triliun kepada bank Himbara.
Menarik disimak apa saja perkembangan terbaru dan kebijakan yang akan disampaikan pemangku kepentingan di bidang keuangan, termasuk efektivitas penyaluran likuiditas hingga pemangkasan bunga secara agresif.
Neraca Perdagangan China
China akan mengumumkan data neraca perdagangan Oktober 2025 pada Jumat (7/11/2025). Data ini sangat penting bagi Indonesia yang menggantungkan sekitar 27% ekspornya ke China.
Sebagai catatan, ekspor China meningkat 8,3% (yoy) menjadi US$ 328,6 miliar pada September 2025, juga merupakan level tertinggi dalam tujuh bulan, melampaui perkiraan kenaikan 6% dan mempercepat pertumbuhan dari revisi 4,3% pada Agustus. Ini menandai laju pengiriman ke luar negeri tercepat sejak Maret, seiring para produsen berhasil menemukan pasar baru di luar Amerika Serikat, sementara kesepakatan tarif dengan Presiden Donald Trump masih belum tercapai.
Impor China melonjak 7,4% (yoy) pada September 2025, mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan sebesar USD 238,1 miliar dan jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 1,5%. Data terbaru ini juga menunjukkan percepatan tajam dari pertumbuhan yang direvisi pada Agustus sebesar 1,2%, sekaligus menjadi kenaikan bulanan keempat berturut-turut dan laju ekspansi tercepat sejak April 2024.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Kota Jakarta Pusat
Coffee Session Danantara Indonesia bersama Managing Director Investment di Pappa Jack, Wisma Danantara Indonesia, Kota Jakarta Selatan. Tema: Proyek Waste to Energy (WtE)
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengadakan Seremoni Peluncuran 3 Indeks Co-brand BEI dengan S&P Dow Jones Indices LLC di Main Hall BEI, Kota Jakarta Selatan
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis sejumlah indikator antara Indeks Harga Konsumen di kantor pusat BPS, Kota Jakarta Pusat
Konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan dengan narasumber antara lain Menteri Keuangan dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan.
Hands-on "Fun to the Max Experience with Redmi Pad 2 Pro" di Perpustakaan Jakarta, PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Kota Jakarta Pusat
- PMI Manufaktur RI Periode Oktober
- Neraca Dagang RI Periode September
- ISM Manufaktur PMI AS
- S&P Global Manufaktur
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Rencana RUPS : ITMG, TOTL, KAEF,
- Cum HMETD : BUVA
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia)
Foto: Fed Watch Tool