Medco Energi memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan produksi migas, mengembangkan proyek gas strategis, dan ekspansi energi terbarukan. [904] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Berawal dari perusahaan kontraktor pengeboran pertama di Indonesia, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) kini telah bertransformasi menjadi salah satu pemain utama di sektor energi nasional.
Dengan portofolio bisnis utama yang beragam, mulai dari minyak dan gas bumi (migas), kelistrikan, hingga pertambangan tembaga dan emas, emiten energi afiliasi Keluarga Panigoro itu turut andil dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Selama hampir 5 dekade beroperasi secara komersial di Indonesia atau tepatnya pada 13 Desember 1980, Medco Energi saat ini memasok sekitar 21% kebutuhan migas nasional.
“Minyak dan gas tetap menjadi tulang punggung utama kami, dengan produksi operasional lebih dari 350.000 barel setara minyak per hari,” kata Direktur dan CEO Medco Energi Roberto Lorato dalam Global Executive Talk bertema The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas pada 50th IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).
Di sisi lain, imbuhnya, gas saat ini menyumbang lebih dari 70% portofolio perusahaan, sejalan dengan posisi sumber energi itu yang dinilai mampu menggantikan batu bara sekaligus mendukung kestabilan energi terbarukan.
“Tugas kami sebenarnya tidak berubah, menyediakan energi dan sumber daya alam yang terjangkau, andal, dan semakin berkelanjutan. Yang berubah adalah tingkat kesulitannya. Karena itu, kami harus tetap fokus pada eksekusi yang sempurna melalui penerapan teknologi maju, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan [artificial intelligence/AI] untuk mengoptimalkan operasi,” ujar Roberto.
Terlebih, Medco juga telah berkomitmen memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan produksi migas hingga 18%, pengembangan proyek gas strategis, ekspansi ketenagalistrikan, dan pertumbuhan energi terbarukan.
Komitmen tersebut disampaikan dalam IPA Convex 2026 yang mengusung tema 50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth, yang menekankan pentingnya kemitraan jangka panjang dalam membangun sektor energi Indonesia dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Kemudian, dalam sesi diskusi bertema MedcoEnergi Today: Value. Focus. Growth, Senior VP Business Support MedcoEnergi, Iwan Prajogi menegaskan bahwa perseroan berada pada posisi yang kuat untuk terus berkontribusi pada kebutuhan energi Indonesia.
Hal itu setidaknya terlihat dari produksi migas Medco yang pada kuartal I/2026 mencapai sebesar 170.000 barel setara minyak per hari (boepd) atau naik sekitar 18% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 156.000 boepd.
“Produksi migas pada Kuartal Pertama 2026 meningkat signifikan dibandingkan total produksi 156.000 boepd pada 2025. Semua proyek pengembangan berjalan sesuai jadwal,” kata Iwan.
Kendati demikian, Iwan menegaskan bahwa keberlanjutan pasokan energi membutuhkan eksekusi proyek yang disiplin, portofolio yang seimbang, serta kemitraan yang kuat antara pelaku industri, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Lima dekade kemitraan energi Indonesia menjadi fondasi penting untuk melangkah ke era pertumbuhan berikutnya. Medco Energi berkomitmen untuk terus mengambil peran melalui pengembangan proyek yang terukur, andal, dan mendukung ketahanan energi nasional,” tuturnya.
Sebagai gambaran, Iwan memaparkan, di Sumatra Selatan pengembangan gas terus berlanjut. Corridor PSC berproduksi penuh di bawah kepemilikan 70%, sementara Sakakemang PSC bergerak menuju FID pada kuartal III/2026 dengan produksi perdana ditargetkan pada 2027.
Sementara itu di Sulawesi, Senoro Phase 2A ditargetkan beroperasi penuh pertengahan tahun ini. Di tingkat regional, Bualuang Phase-1 di Thailand dijadwalkan onstream pada kuartal II/2026. Perusahaan juga memperluas peran strategis melalui operatorship Cendramas PSC di Malaysia yang akan efektif pada September 2026.
Di sektor ketenagalistrikan, Ijen Geothermal bersiap memasuki Phase 2 dengan penambahan 35 MW menuju kapasitas 70 MW. Ekspansi Batam IPP berproses menuju 300 MW, dan Sumbawa Solar PV 26 MWp yang saat ini berada dalam tahap pengkajian potensi ekspansi.
Dengan energi terbarukan kini menyumbang 26% dari total kapasitas terpasang, perseroan berada pada jalur menuju target 30% pada 2030.
Medco Energi menargetkan produksi 165.000—170.000 boepd dan penjualan listrik 4.550 GWh pada 2026. “Semua proyek sudah berjalan, dan melalui pendekatan yang disiplin dan terukur, MedcoEnergi berkomitmen untuk terus berkontribusi pada ketahanan energi nasional sekaligus mendukung transisi energi secara berkelanjutan,” kata Iwan.
Dari sisi keberlanjutan ini Medco Energi meraih peringkat MSCI ESG “AAA” yang menempatkan perseroan dalam kelompok 11% perusahaan global di sektor Oil & Gas Exploration & Production yang meraih peringkat tertinggi dari MSCI.
Memastikan Ketersediaan Gas Bumi
Adapun, Medco Energi kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi domestik melalui penandatanganan sejumlah kesepakatan komersialisasi gas bumi pada ajang IPA Convex ke-50.
Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Medco Energi untuk memastikan ketersediaan pasokan gas bumi bagi pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia.
Untuk Blok Sakakemang, Medco E&P Sakakemang B.V., mewakili mitra KKKS Wilayah Kerja Sakakemang serta sebagai penjual gas bagian negara, menandatangani kerangka Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Atau PGN dan PT Pertamina Patra Niaga.
Volume penjualan gas mencapai total 159 TBTU untuk periode 2027–2037 dengan estimasi nilai sekitar US$1,296 miliar. Pengembangan Lapangan Sakakemang direncanakan terkoneksi dengan Wilayah Kerja (WK) Corridor yang dioperasikan oleh Medco E&P Grissik Ltd. guna mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas domestik yang telah tersedia.
Pada kesempatan yang sama, Medco Energi melalui afiliasinya, Medco E&P Grissik Ltd., mewakili para mitra Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Wilayah Kerja Corridor, juga menandatangani Amandemen Keempat Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PGN.
Amandemen tersebut mencakup perpanjangan penyaluran gas bumi dari Blok Corridor untuk kebutuhan Bahan Bakar Gas (BBG) di wilayah Sumatra Selatan, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat sesuai dengan alokasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar 4 BBtud hingga 2030.
“Rangkaian kesepakatan ini mencerminkan komitmen Medco Energi untuk terus mendukung pemanfaatan gas bumi bagi pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan lapangan, optimalisasi infrastruktur, dan kerja sama dengan berbagai pihak,” kata Ronald Gunawan, Direktur & Chief Operating Officer Medco Energi.
Astrindo Nusantara (BIPI) berencana menjual bisnis batu bara untuk fokus pada energi hijau, memperkuat portofolio berkelanjutan dan investasi energi bersih. [357] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) tengah menjajaki divestasi sejumlah anak usaha di sektor pertambangan batu bara sebagai bagian dari strategi memperkuat portofolio energi berkelanjutan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya perseroan dalam mengoptimalkan portofolio investasi sekaligus mempercepat transformasi menuju bisnis energi yang lebih ramah lingkungan.
Manajemen BIPI menyampaikan saat ini perseroan sedang berdiskusi dengan sejumlah calon pembeli terkait rencana divestasi tersebut. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah jangka panjang, baik dari sisi kinerja keuangan maupun keberlanjutan usaha.
Direktur Utama BIPI Ray Anthony Gerungan mengatakan proses divestasi telah memasuki tahap lanjut. Perseroan juga memastikan seluruh proses akan dilakukan dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.
“Kami memandang aspek ESG bukan hanya sebagai peluang bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari solusi nyata dalam mendukung transisi energi nasional. Ke depan, Perseroan akan terus mengembangkan portofolio energi berkelanjutan yang mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan,” kata Ray dalam keterangan resminya, Senin (20/4/2026)
Selain divestasi, lanjut Ray, BIPI juga membuka peluang untuk memperluas investasi pada sektor energi bersih. Perseroan tengah mengevaluasi sejumlah inisiatif, termasuk pengembangan infrastruktur energi berbasis gas serta proyek-proyek ramah lingkungan lainnya.
Upaya tersebut mencakup pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, pengelolaan limbah berkelanjutan, hingga penerapan teknologi yang mendukung pengurangan emisi karbon.
Langkah ini menegaskan arah strategis Astrindo dalam melakukan diversifikasi bisnis ke sektor energi hijau, sekaligus membangun portofolio energi yang lebih seimbang dan berorientasi jangka panjang.
Ke depan, perseroan menargetkan dapat terus menciptakan nilai bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan melalui strategi bisnis yang adaptif dan berkelanjutan.
"Astrindo berkomitmen untuk terus menciptakan nilai bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya melalui strategi bisnis yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada masa depan," pungkas Ray.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
PGN menghadapi kekurangan 5 kargo LNG untuk kebutuhan domestik 2025. Reformasi internal dan pembangunan infrastruktur gas yang masif dan agresif diperlukan. [578] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat menilai kekurangan sekitar lima kargo gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang bakal dihadapi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk memenuhi kebutuhan domestik tahun depan, seharusnya dapat diantisipasi lebih awal. Antisipasi itu setidaknya dapat dilakukan melalui perencanaan dan manajemen portofolio energi yang lebih adaptif. Praktisi Migas Hadi Ismoyo berpendapat, ketersediaan LNG di pasar global sejatinya masih cukup banyak, terutama di pasar spot. Namun, kemampuan PGN untuk memanfaatkan peluang tersebut sangat bergantung pada kecocokan harga dengan struktur biaya korporasi. “Pasar spot LNG banyak, tinggal harganya masuk apa tidak dalam struktur harga gas PGN,” ujar Hadi kepada Bisnis, Kamis (20/11/2025). Menurutnya, situasi shortfall seperti ini menjadi sinyal kuat bahwa PGN perlu melakukan reformasi internal. Perusahaan dianggap harus lebih efisien, gesit, dan mampu melakukan proyeksi kebutuhan (forecasting) yang lebih presisi agar peristiwa serupa tidak terulang. “PGN harus mereformasi diri agar efisien dan lincah dalam mengantisipasi forecasting gas ke depan,” tegasnya. Di samping itu, Mantan sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) itu juga menekankan perlunya langkah lebih agresif dari pemerintah dan PGN dalam membangun infrastruktur gas nasional. Menurutnya, pembangunan infrastruktur gas harus dilakukan secara menyeluruh,mulai dari hulu hingga hilir. Hadi menyebut, pembangunan Unit Penyimpanan dan Regasifikasi Terapung atau FSRU, terminal gas, jaringan pipa transmisi dan distribusi, hingga infrastruktur virtual pipeline harus dilakukan secara masif untuk memperkuat ketahanan suplai. “Pemerintah dan PGN harus segera membangun infrastruktur gas yang masif dan agresif,” katanya. Lebih lanjut, Hadi menilai bahwa pasokan gas domestik sejatinya masih luas untuk digarap. Sejumlah sumber seperti Bontang, Tangguh Train 3, Kasuri, Indonesia Deepwater Development (IDD), Geng North, Masela, hingga Andaman dapat menjadi penopang utama. “Gas bisa diambil dari Bontang, Tangguh III, Kasuri, IDD, Geng North, Masela, dan Andaman,” ujarnya. Adapun jika pasokan domestik belum mencukupi, opsi impor LNG dari pasar bebas seperti Amerika Serikat dan Timur Tengah masih terbuka lebar. Hadi berpendapat, jika seluruh langkah strategis tersebut telah dijalankan sejak beberapa tahun lalu, kondisi kekurangan pasokan LNG seperti yang dihadapi PGN untuk tahun depan tidak perlu terjadi. “Kalau itu semua dilaksanakan sejak dulu, seharusnya tidak perlu ada shortfall gas,” ujarnya. Kondisi kekurangan LNG untuk PGN pertama kali disampaikan oleh Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (17/11/2025). Dia menyebut, kebutuhan LNG sebanyak 19 kargo untuk tahun depan. Hingga saat ini, perusahaan telah mengamankan 14 kargo LNG. Dia mengatakan, masih terdapat kekurangan lima kargo LNG yang masih dalam proses pembahasan bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan SKK Migas. “Alhamdulillah, saat ini kita sudah mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian ESDM dan juga SKK Migas yang telah memberikan alokasi-alokasi gas,” kata Arief. Dalam hal ini, pihaknya mengaku mendapatkan dukungan pemerintah untuk dapat memperhatikan affordability to pay atau keterjangkauan bayar bagi pelanggan PGN, utamanya industri. Dengan demikian, PGN mengharapkan dukungan dari sisi ketersediaan volume atau pasokan dan dari sisi harga yang dapat diserap oleh para pelanggan. “Yaitu harga yang kompetitif sehingga PGN dapat men-support secara sepenuhnya terkait dengan kebutuhan-kebutuhan gas bumi yang diperlukan oleh seluruh industri yang ada di Indonesia,” jelasnya. Di sisi lain, Arief mengungkap bahwa saat ini PGN telah mengelola 95% dari keseluruhan infrastruktur gas di Indonesia. Terkait pengembangan infrastruktur gas, dia menyebut, PGN butuh dukungan khusus dalam revisi Undang-Undang Migas yang tengah digodok DPR. “Yaitu yang terkait dengan bahwa infrastruktur ini harus dibangun secara terintegrasi dan juga selaras agar terjadi efisiensi dan juga efektivitas dari sisi pembangunannya maupun juga dari sisi utilisasinya,” pungkasnya.
Perusahaan migas global mengubah strategi menghadapi akhir era 'easy energy' dengan fokus pada kemitraan, efisiensi teknologi, dan diversifikasi energi. [68] url asal
Bisnis.com, Ciputat, TANGERANG SELATAN — Perusahaan-perusahaan migas global mulai mengubah strategi bisnis di tengah berakhirnya era energi murah dan mudah (easy energy). Penguatan kemitraan, efisiensi teknologi, hingga diversifikasi portofolio energi menjadi beberapa opsi yang ditempuh.
President and Group CEO Petronas Tengku Muhammad Taufiq mengatakan berakhirnya masa energi murah dan mudah membuat dunia memasuki fase reorganisasi fundamental sistem energi akibat fragmentasi geopolitik, volatilitas ekonomi, dan tekanan transisi energi.