JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memiliki cita-cita mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 dan mencapai visi Indonesia Emas pada 2045.
Namun di sisi lain, produktivitas nasional masih menghadapi tantangan adanya ketidaksesuaian keahlian atau skill mismatch di sektor ketenagakerjaan.
Fenomena yang menyoroti keterampian dan tingkat pendidikan pekerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri ini berpotensi menurunkan produktivitas yang pada akhirnya berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi nasional.
M LATIEF/KOMPAS.com Bonus demografi yang konon puncaknya akan kita nikmati pada tahun 2030 tidak akan berarti apa-apa jika tidak didominasi manusia Indonesia dengan kualifikasi khalifah.Ekonom sekligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, potensi nilai ekonomi yang hilang dapat dihitung dengan pendekatan output gap tenaga kerja terdidik.
Rumus sederhananya, jumlah lulusan berpendidikan tinggi yang menganggur atau bekerja di bawah kualifikasi dikalikan dengan produktivitas rata-rata tenaga kerja terdidik, lalu dikoreksi dengan tingkat depresiasi keterampilan dan lama masa tunggu kerja.
Sebagai ilustrasi, ketika terdapat satu juta lulusan perguruan tinggi tidak terserap industri, dan setiap lulusan sebenarnya mampu menghasilkan nilai tambah tahunan setara rata-rata produktivitas pekerja formal terdidik, maka PDB kehilangan output yang seharusnya tercipta dari kerja, konsumsi, pajak, inovasi, dan efek pengganda permintaan.
"Kerugian ini harus dihitung lebih luas daripada upah yang hilang," kata dia kepada Kompas.com, ditulis pada Rabu (17/6/2026).
Pasalnya, penghitungan tersebut juga mengungkapkan potensi negara yang kehilangan Pajak Penghasilan (PPh), iuran jaminan sosial, konsumsi kelas menengah, dan akumulasi pengalaman kerja.
Syafruddin menjabarkan, kajian human capital depreciation menunjukkan keterampilan dapat turun ketika tidak digunakan.
PIXABAY/MUFID MAJNUN Ilustrasi penduduk Indonesia, populasi Indonesia.Sementara itu, Arrazola dan de Hevia memperkirakan depresiasi modal manusia sekitar 1 hingga 1,5 persen per tahun, sedangkan Lentini dan Gimenez menemukan rentang 1 hingga 6 persen lintas sektor.
"Jadi, semakin lama lulusan menganggur, semakin besar output yang hilang, bukan hanya karena mereka tidak bekerja, tetapi karena nilai produktivitas mereka ikut terkikis," ucap dia.
Skill mismatch perpanjang perangkat pendapatan menengah
Skill mismatch yang masif jelas berisiko memperpanjang masa Indonesia masuk dalam perangkap pendapatan menengah (middle income trap).
Hal ini dapat terjadi karena negara dianggap gagal mengubah pendidikan tinggi menjadi produktivitas nasional.
Saat ini, Indonesia sedang berada dalam fase demografi yang sempit yakni penduduk usia produktif besar, tetapi kualitas pekerjaan belum naik secepat jumlah lulusan.
Ketika lulusan perguruan tinggi masuk pengangguran, sektor informal, atau pekerjaan rendah keterampilan, bonus demografi berubah menjadi tekanan sosial.
Syafruddin mengungkapkan, middle income trap terjadi ketika upah naik, tetapi produktivitas tidak cukup tinggi untuk membawa ekonomi naik kelas.
Sementara itu, skill mismatch memperburuk kondisi itu karena pendidikan menghasilkan ijazah, sedangkan industri tidak menyerap keterampilan.
Pada akhirnya, negara akan menanggung paradoks belanja pendidikan meningkat, jumlah sarjana bertambah, tetapi output per pekerja tidak melonjak.
Jika kondisi ini berlanjut, Indonesia dapat kehilangan momentum bonus demografi.
"Tenaga muda terdidik yang seharusnya menjadi mesin inovasi justru mengalami depresiasi keterampilan, frustrasi ekonomi, dan penurunan daya tawar di pasar kerja," kata Syafruddin.
UNSPLASH/SHIVENDU SHUKLA Ilustrasi buruh.Sepertiga pekerja tak bekerja sesuai tingkat pendidikan
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia: Implikasi Bagi Bonus Demografi, yang dirilis pada 31 Oktober 2025 mengungkap pekerja yang bekerja sesuai dengan tingkat pendidikannya baru mencapai 64,64 persen.
Sedangkan sisanya, atau sebanyak 35,36 persen bekerja tidak sesuai tingkat pendidikan mereka.
Sementara itu, sebanyak 22,36 persen pekerja mengalami overeducated dan 13 persen undereducated.
Kondisi ini berarti terdapat 35,36 persen pekerja muda yang tidak berada pada posisi kerja yang sesuai dengan tingkat pendidikan mereka, mencerminkan ketidaksesuaian antara pasokan keterampilan lulusan dengan permintaan riil dunia kerja.
Fenomena ini sejalan dengan teori job-skill mismatch yang menekankan, ketidakselarasan antara pendidikan dan kebutuhan kerja dapat menimbulkan inefisiensi dalam pasar tenaga kerja serta berdampak pada rendahnya produktivitas individu maupun ekonomi secara keseluruhan.
Kasus ini adalah sebuah kondisi struktural di pasar kerja ketika tingkat pendidikan formal yang dimiliki seorang pekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikan yang secara umum dibutuhkan untuk pekerjaannya.
Fenomena ini memiliki dua sisi yakni overeducated (pendidikan berlebih), atau situasi ketika pekerja memiliki kualifikasi lebih tinggi dari yang disyaratkan, dan undereducated (pendidikan kurang), atau saat
kualifikasi pekerja lebih rendah.
Fenomena mismatch pendidikan-pekerjaan di kalangan angkatan kerja muda Indonesia terus menjadi persoalan signifikan yang tidak hanya mempengaruhi kesejahteraan individu tetapi juga produktivitas nasional.
Bukan masalah ketenagakerjaan, tapi produktivitas nasional
PEXELS/FAUXELS Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.Peneliti Ekonomi di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, persoalan skill mismatch tidak bisa dilihat hanya sebagai masalah ketenagakerjaan, melainkan sudah menjadi persoalan produktivitas nasional.
"Ketika jutaan lulusan pendidikan tinggi tidak terserap pada pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya, ekonomi kehilangan potensi output yang seharusnya dapat dihasilkan oleh tenaga kerja tersebut," ucap Yusuf.
Ia menjelaskan, untuk menghitung potensi nilai ekonomi yang hilang, pendekatan yang paling umum adalah membandingkan produktivitas pekerja yang bekerja sesuai kualifikasinya dengan produktivitas pekerja yang menganggur atau bekerja di bawah tingkat keterampilannya.
Secara sederhana, jika seorang lulusan perguruan tinggi memiliki potensi menghasilkan nilai tambah tertentu per tahun, tetapi akhirnya menganggur atau bekerja pada pekerjaan yang tidak memanfaatkan kompetensinya, maka selisih produktivitas tersebut dapat dianggap sebagai output yang hilang.
Dalam skala nasional, kerugian ini dapat dihitung dengan mengalikan jumlah tenaga kerja yang mengalami mismatch dengan rata-rata produktivitas tenaga kerja sektor formal atau sektor yang sesuai dengan tingkat pendidikannya.
"Dampaknya tidak hanya berupa hilangnya output saat ini, tetapi juga hilangnya akumulasi keterampilan, inovasi, dan pendapatan yang seharusnya tercipta dalam jangka panjang," terang dia.
Peluang bonus demografi jadi mesin pertumbuhan
Dari permasalahan itu, Yusuf melihat skill mismatch yang berlangsung secara masif memang berpotensi memperlambat upaya Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah.
"Bonus demografi hanya akan menjadi mesin pertumbuhan apabila penduduk usia produktif mampu bekerja pada sektor yang menghasilkan produktivitas tinggi," ucap dia.
Ia menjelaskan, ketika tenaga kerja terdidik terus menumpuk pada pekerjaan berproduktivitas rendah atau bahkan menganggur, maka bonus demografi berubah menjadi beban demografi.
DOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi Pendidikan. Sebanyak 63 jabatan kepala sekolah untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, hingga saat ini masih mengalami kekosongan.Negara berpotensi kehilangan kesempatan meningkatkan produktivitas, sementara investasi pendidikan yang telah dikeluarkan rumah tangga maupun pemerintah tidak menghasilkan pengembalian ekonomi yang optimal.
"Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan ekonomi cenderung tertahan pada level menengah dan sulit melakukan lompatan menuju negara berpendapatan tinggi," tutur Yusuf.
Dampak tidak langsung dari skill mismatch
Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto menambahkan, secara sederhana, sebenarnya metode yang paling umum digunakan adalah dengan cara menghitung selisih dari upah yang seharusnya diperoleh sesuai tingkat pendidikan terhadap upah aktual yang didapatkan oleh seseorang yang bekerja pada posisi atau bidang yang tidak seharusnya.
Ketika dijumlahkan secara agregat, nantinya akan dapat terlihat bagaimana dampaknya terhadap PDB secara langsung.
"Namun, dampak tidak langsungnya juga masih perlu dihitung," ucap dia.
Pasalnya, turunnya penghasilan dari kategori ini juga akan menurunkan konsumsi rumah tangga dan berbagai hal terkait lainnya yang juga menjadi efek tidak langsungnya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kesempatan kerja dan kebutuhan tenaga tak selaras
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, secara umum Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional untuk penduduk usia kerja atau 15 tahun ke atas di Indonesia pada periode 2017-2024 terus mengalami penurunan, dari 5,56 persen apada 2017 menjadi 4,91 persen pada Februari 2024.
Namun demikian, secara lebih rinci, kondisi tersebut menunjukkan tantangan yang lebih serius.
Pada 2024, TPT pemuda masih berada di level 12,24 persen, lebih dari dua kali lipat TPT nasional.
ANTARA FOTO/Nirza Pencari kerja antre memasuki aula saat Job Fair Kudus 2025 di Gedung Hraha Mustika, Desa Getas Pejaten, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (10/10/2025). Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar bursa kerja yang menghadirkan 20 perusahaan dengan total 1.401 lowongan pekerjaan bagi penyandang disibilitas, lulusan perguruan tinggi dan SMA sebagai upaya penyerapan tenaga kerja serta menekan angka pengangguran.Tren pengangguran pemuda ini bahkan pernah melonjak hingga hampir 15,7 persen pada 2020, beriringan dengan dampak pandemi yang menutup banyak peluang kerja baru.
Perbedaan tajam antara TPT nasional dan TPT pemuda menunjukkan ketidakselarasan antara pertumbuhan kesempatan kerja dengan kebutuhan pemuda.
Pemuda yang baru lulus pendidikan menengah maupun tinggi sering kali menghadapi “jebakan transisi” yakni kesenjangan keterampilan, minimnya pengalaman kerja, hingga keterbatasan akses informasi pasar kerja.
Dengan kata lain, meskipun perekonomian nasional berhasil menekan angka pengangguran secara umum, tantangan utama justru terletak pada penciptaan lapangan kerja yang layak bagi generasi muda.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang