#30 tag 24jam
Tak Disangka! 2 Salat Ini Pahalanya Seperti Ibadah Haji
Ternyata ada salat yang pahalanya sebanding dengan pahala ibadah haji, yakni pahala salat isyraq dan salat Jumat. Kok bisa? Simak alasan dan penjelasannya berikut... | Halaman Lengkap [752] url asal
#haji #salat-jumat #pahala #amalan-setara-pahala-haji-dan-umrah #sholat-isyraq
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/06/26 12:40
v/207326/
Ternyata ada salat yang pahalanya sebanding dengan pahala ibadah haji, yakni pahala salat isyraq dan salat Jumat. Kok bisa? Simak alasan dan penjelasannya berikut ini.Salat Isyraq
Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi dan Bughyatul Mutathawwi’ disebutkan penamaan Salat Isyrâqatau Syurûq atau Thulû’, karena pelaksanaannya berkaitan dengan waktu matahari terbit (mulai memancarkan sinarnya) dan dilaksanakan saat awal waktu dhuha .Salat ini disyariatkan dan memiliki pahala sama dengan pahala haji dan umrah sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Mâlik ra dari Rasûlullâh SAW , beliau bersabda:
"Barangsiapa yang salat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk – dalam riwayat lain: ia menetap di masjid – untuk berzikir kepada Allâh sampai matahari terbit, kemudian ia salat dua raka’at, maka ia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.[HR at-Tirmidzi).
Hadis ini dinilai sebagai hadis hasan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîtsish Shahîhah, IX/189 no.3403, dan Misykatul Mashâbîh, I/212 no.971, dan Shahîhut Targhîb wat Tarhîb, I/111 no.464].
Hadis ini juga dikuatkan dengan adanya hadis:
Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasûlullâh SAW bersabda, “Barangsiapa mengerjakan salat Subuh di masjid secara berjamaah, lalu dia tetap berada di dalam masjid sampai melaksanakan salat sunnah (di waktu) Dhuha, maka (pahala) amalannya itu seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah secara sempurna”. [HR Thabrani)
Hadis Anas bin Mâlik ra di atas menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat salat setelah salat Shubuh berjamaah sembari berzikir kepada Allâh Azza wa Jalla sampai matahari terbit, kemudian melakukan salat dua rakaat.
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin dalam "asy-Syarhul-Mumti’" menjelaskan salat ini dilaksanakan sesaat matahari telah terbit dan agak naik setinggi satu tombak (lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 3/158), atau berkisar 12 hingga 5 menit setelah matahari terbit.
Dahsyatnya Salat Jumat
Dalam Kitab Al-Mawaizh Al-Usfuriyah disebutkan pahala salat Jumat itu sangat dahsyat, bahkan salat Jumat disandingkan seperti Ibadah Haji 4 (empat) kali dalam sebulan.Syekh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury menceritakan kisah seseorang yang berbincang-bincang dengan ahli kubur. Al-Imam az-Zandusiti berkata: "Saya telah mendengar kalau Imam Abu Muhammad bin Abdillah bin Fadhl menyampaikan cerita pada saat beliau mengajar. Beliau bercerita dengan bahasa Persia. Cerita itu berbunyi bahwa diriwayatkan dari Al-Auza'i bahwa ia berkata, suatu hari Maisaroh bin Khunais melewati kuburan-kuburan.
Ia berkata, "Semoga keselamatan tercurahkan atas kalian semua wahai Ahli kubur! Kalian telah mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Semoga Allah merahmati, mengampuni, dan memberkahi kami dan kalian semua pada saat menghadap-Nya, yaitu pada saat kami telah mengalami apa yang telah kalian alami."
Kemudian Allah mengembalikan ruh ke jasad salah satu penghuni kuburan tersebut. Si penghuni kuburan itu menjawab salam Maisaroh dengan perkataan yang fasih: "Beruntung sekali kalian wahai penduduk dunia! Kalian bisa melakukan Haji setiap bulan sebanyak 4 (empat) kali."
"Kemana kami melakukan Haji sebanyak 4 kali di setiap bulan? Semoga Allah merahmatimu," tanya Maisaroh.
Si penghuni kubur itu menjawab: "Berangkat salat Jumat. Apakah kalian tidak tahu kalau salat Jumat adalah seperti ibadah haji yang mabrur dan diterima?"
Maisaroh melanjutkan: "Beritahu kami amalan yang bisa kami senantiasa lakukan!"
" Beristighfarlah! Wahai penduduk dunia! Istighfar adalah sesuatu yang paling bermanfaat di Akhirat," jawab si penghuni kubur.
Kemudian Maisaroh bertanya: "Apa yang membuat anda tidak menjawab salam kami tadi?"
Si penghuni kubur menjawab: "Salam merupakan kebaikan. Sedangkan kebaikan-kebaikan telah diangkat dari kami. Oleh karena itu kebaikan kami tidak akan bertambah dan keburukan kami pun juga tidak akan berkurang."
Si penghuni kuburan melanjutkan: "Kami telah meridhoimu dengan ucapanmu semoga Allah merahmati si fulan yang telah mati; untuk kami. Wahai penduduk dunia!"
Hajinya Orang-orang Fakir
Dalam satu Hadis disebutkan tentang keutamaan Jumat. Berikut bunyi hadisnya:
"Jumat adalah hajinya orang-orang fakir." (Hadis riwayat Al-Qadla'i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas)
Meski hadis ini tergolong lemah sanadnya, tetapi bisa diamalkan karena berkaitan dengan fadhail a'mal (keutamaan amaliyah) dan bukan dalam konteks penetapan hukum.
Syekh Ihsan bin Dakhlan menjelaskan, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju salat Jumat, seperti berangkat menuju tempat Haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-'Ibad)
Keutamaan pahala Jumat disandingkan dengan haji bukan berarti menyimpulkan ibadah haji bisa digantikan dengan Jumat. Bagi orang yang mampu, tetap berkewajiban melaksanakan haji.
Semoga Allah melimpahkan ampunan dan karunia-Nya kepada kita berkat memuliakan Jumat dan menghidupkan ibadah di dalamnya.
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah ini penuh dengan hikmah, ada seseorang yang tidak berhaji namun mendapat pahala ibadah haji. Sebaliknya, mereka yang tengah menjalankan ibadah haji, tetapi... | Halaman Lengkap [607] url asal
#kisah-hikmah #ibadah-haji #pahala #ganjaran-pahala #kisah-haji
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 31/05/26 17:35
v/207812/
Kisah ini penuh dengan hikmah, ada seseorang yang tidak berhaji namun mendapat pahala ibadah haji. Sebaliknya, mereka yang tengah menjalankan ibadah haji, tetapi tidak diterima amalannya. Kok Bisa?Kisah hikmah ini disampaikan Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi, seorang ulama ahli hadis terkemuka, asal Khurasan. Selain ulama dia juga adalah seorang pengusaha sukses yang gemar menjalankanibadah hajidan berjihad di jalan Allah.
Dinukil dari buku "198 Kisah Haji Wali-Wali Allah", karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, dikisahkan, ketika Abdullah bin al-Mubarak akan pergi haji tahun ini, karena tahun berikutnya dia pergi berjihad. "Demikian seterusnya berselang-seling. Itulah kesibukannya selama bertahun-tahun.
Di Makkah, Abdullah bin Al Mubarak juga memulai usaha dagang yang keuntungannya selalu dia bagi-bagikan kepada para muridnya dan fakir miskin di sekitar kota Makkah. Setelah membagi baginya, dia akan menghitung biji kurma yang mereka makan. "Siapa yang paling banyak makan kurma makan diberi hadiah satu dirham olehnya setiap bijinya," katanya.
Pada suatu saat, tibalah waktu musim haji bagi Abdullah bin al-Mubarak rah. Dia berniat menunaikannya, hingga terkumpulan bekal sebesar 500 dinar. Maka diapun berangkat menuju Makkah dan menunaikan haji dengan sebaik mungkin. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Abdullah bin al-Mubarak tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan kedua malaikat itu berdialog di antara mereka. Abdullah mendengar dengan jelas percakapan malaikat itu.
"Berapa jumlah orang yang menunaikan ibadah haji pada tahun ini?" tanya salah satu malaikat.
Malaikat satunya pun menjawab, "Enam ratus ribu."
Lalu malaikat sebelumnya bertanya kembali, "Berapa yang diterima hajinya?"
"Tidak ada yang diterima," jawab malaikat yang satunya.
Abdullah lantas gemetar dan menangis ketika mendengar percakapan dua malaikat itu. Dalam mimpinya, ulama tersebut berpikir, "Semua orang yang ada di sini telah datang dari berbagai penjuru bumi. Dengan kesulitan yang besar dan keletihan semuanya menjadi sia-sia?"
Tak sampai di situ, ternyata dua malaikat itu melanjutkan percakapan. "Kecuali hanya seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Muwaffaq. Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Bahkan berkat dialah ibadah seluruh jamaah haji ini diterima oleh Allah."
Setelah mendengar percakapan tersebut, Abdullah Ibnu Mubarak langsung terbangun. Dirinya memutuskan untuk berangkat ke Damaskus menemui Ali bin Muwaffaq setelah seselai menunaikan ibadah haji. Sesampainya di Damaskus, Abdullah mencari-cari kediaman Muwaffaq hingga akhirnya berhasil dan tiba didepan rumahnya.
Ia mengucapkan salam sambil lalu mengetuk pintu. Lalu dibukakanlah pintu itu dan Abdullah menceritakan perihal mimpinya. Tak disangka, cerita tersebut langsung saja membuat Muwaffaq menangis hingga jatuh pingsan.
Atas permintaan Abdullah, ketika tersadar Muwaffaq menceritakan perihal hajinya. Dirinya bercerita bahwa selama 40 tahun memiliki keinginan untuk melaksanakan ibadah haji. Maka, dari hasil berjualan sepatu telah terkumpul dana sebesar 350 dirham.
Pada saat itu, istrinya yang tengah mengandung mencium aroma sedap dari masakan tetangganya. Sang istri memohon kepada Muwaffaq agar dapat mencicipi masakan tersebut walau hanya sedikit.
Untuk memenuhi keinginan sang istri, pergilah Muwaffaq ke tetangganya di sebelah rumah. Sesampainya Muwaffaq langsung mengutarakan maksud kedatangan dirinya.
Mendengar hal itu tetangganya justru menangis dan berkata, "Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa. Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu," ujarnya sambil tetap menangis.
Cerita tetangga tersebut membuat hati Muwaffaq sedih dan terharu. Dirinya memutuskan kembali ke rumah dan mengambil tabungan hajinya. Lalu diberikan kepada tetangganya yang sangat membutuhkan.
Muwaffaq berkata, "Belanjakan uang ini untuk anakmu." Dalam hati dirinya berkata, "Inilah hajiku."
"Demikian perjalanan hajiku," pungkas Ali Ibnu Muwaffaq kepada Abdullah bin al Mubarak.
Setelah mendengarkan cerita Muwaffaq, Abdullah berkata. "Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku dan Penguasa Kerajaan surga adalah benar keputusan-Nya" ujar Abdullah bin Mubarak membenarkan mimpinya.
Pahala Haji Mabrur: Bebas Dosa, Hilang Fakir, Nilai Jihad Wanita
Ternyata, pahala melaksanakan ibadah haji tidak main-main, karena balasan tertingginya adalah surga. Haji mabrur juga dapat menghapus seluruh dosa, menghilangkan... | Halaman Lengkap [614] url asal
#haji #ibadah-haji #pahala #haji-mabrur #ciri-ciri-haji-mabrur
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/05/26 13:09
v/235658/
Ternyata, pahalamelaksanakan ibadah haji tidak main-main, karena balasan tertingginya adalah surga. Haji mabrur juga dapat menghapus seluruh dosa sehingga seseorang kembali suci seperti baru dilahirkan, menghilangkan kefakiran, dan bernilai jihad bagi wanita.DR KH. Syamsul Yakin MA, Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta menjelaskan, ganjaran pahala haji ini dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wassalam dalam sabdanya: “Dan haji mabrurtidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Haji Mambrur dan Ciri-cirinya
KH Syamsul Yakin memaparkan, haji mabrur adalah haji yang diterima (maqbul). Ciri peraih haji mabrur adalah selalu menebar kebaikan dan perbaikan sepulang melaksanakan ibadah haji.Secara etimologi haji itu berarti menuju. Sedang secara terminologi, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, haji adalah pergi ke Tanah Suci untuk berziarah dengan cara khusus. Syaratnya, kata Syaikh Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib adalah Islam, baligh, berakal, merdeka, ada bekal dan kendaraan, aman dan mampu melakukan perjalanan. Untuk memperoleh haji mabrur tampaknya diperlukan sejumlah kesanggupan (istitha’ah).
Allah SWT mengindiskasikan hal ini, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran/3: 97). Kesanggupan, menurut pengarang Tasfir Jalalain, adalah memiliki perbekalan dan kendaraan.
Namun perbekalan dan kendaraan ini saja dipandang belum cukup, diperlukan kondisi badan yang fit dan prima baik dalam perjalanan, semasa melaksanakan ibadah haji, maupun saat kembali ke tanah air. "Karena itu, ibadah haji sebaiknya dilaksanakan selagi berusia muda agar dapat leluasa melaksanakan seluruh rangkaian rukun dan kewajiban haji secara paripurna,"tutur KH Syamsul Yakin.
Tidak seperti ibadah puasa, salat, dan zakat, ibadah haji adalah gabungan ibadah hati, badan, dan harta karena memerlukan biaya mahal. Oleh karena itu, melaksanakan ibadah haji bagi orang yang berusia muda tampaknya lebih mudah ketimbang orang yang berusia tua. Untuk itu menabung agar bisa beribadah haji selagi muda harus menjadi prioritas.
Beribadah haji selagi muda tidak hanya berefek positif bagi kehidupan pribadi, tapi juga kehidupan sosial. Para haji muda diharapkan berperan aktif di dalam kehidupan masyarakat sebagai role model dan agen perubahan. Harus ada yang menghapus stigma bahwa seorang haji itu adalah orang tua yang lemah secara fisik dan hanya menjalin ibadah vertikal ke langit.
Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menganalogikan pahala haji mabrur setara dengan jihad, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Apakah berarti kami harus berjihad?” Nabi SAW menjawab, “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR. Bukhari). Jihad dengan demikian identik dengan usia yang masih muda dan gagah berani.
Haji, Pralambang Kehidupan setelah Kematian
KH Syamsul Yakin juga menjelaskan, beribadah haji seperti pelaksanaan furgatorio (proses pemurnian) menuju paradiso (surga).Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Barangsiap berhaji ke Baitullah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat fasik maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari).
Jadi sosok peraih haji mabrur secara ideal adalah berusia muda, saleh ritual dan sosial, dan suci. Peraih haji mabrur ini diharapkan mampu merevivalisasi Islam dan masyarakat muslim. Seperti ungkapan Bung Karno, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”
Untuk itu mari kita gelorakan ajakan beribadah haji ini seperti halnya dilakukan oleh Nabi Ibrahim ribuan tahun silam yang diabadikan Al Quran.
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj/22: 27).
Ayat ini lagi-lagi meniscayakan beribadah haji itu dilaksanakan selagi masih muda agar mampu berjalan kaki, mampu berada di dalam kendaraan selama berjam-jam, dan mampu berdesak-desakan dengan saudara sesama muslim yang datang dari negeri yang jauh. Insya Allah “pahala sosial” melakukan ibadah haji di usia muda lebih besar.
Zikir, Amalan Ringan yang Pahalanya Berat di Timbangan Amal
Zikir atau mengingat Allah SWT merupakan amalan yang ringan dilakukan, namun memiliki pahala yang dahsyat yakni dapat memperberat timbangan amal kita di akhirat... | Halaman Lengkap [765] url asal
#zikir #amalan-zikir #keutamaan-zikir #pahala-zikir
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/05/26 09:19
v/199246/
Zikir atau mengingat Allah SWT merupakan amalan yang ringan dilakukan, namun memiliki pahala yang dahsyat yakni dapat memperberat timbangan amal kita di akhirat kelak. Berikut ulasannya.Zikir atau berzikir dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi cara untuk menyucikan hati dan menjaga hubungan spiritual dengan Allah Swt. Berzikir juga membantu umat muslim tetap fokus dan mengingat Allah SWT.
Berzikir bermakna mengingat, mengucapkan, atau memikirkan nama Allah SWT dengan tulus dan khusyuk. Berikut keutamaan dan pahalanya yang penting diketahui:
Pahala dan Keutamaan Zikir
1. Nilainya lebih banyak daripada dunia dan seisinya
Amalan ini ringan dan membutuhkan waktu yang singkat tapi dapat mengalahkan nilai kekayaan dunia dan seisinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Sesungguhnya membaca “Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” [HR. Muslim]2. Pahalanya lebih daripada membebaskan sepuluh budak
Membebaskan seorang budak mengeluarkan biaya yang besar. Dan apalagi membebaskan sepuluh orang budak yang pada zaman ini budak sudah tidak ditemukan lagi. Nah, amalan ini berpahala imbang dengan membebaskan sepuluh orang budak.Dalam hadisnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
“Barang siapa mengucapkan : ‘Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, baginya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu’ dalam sehari seratus kali, maka kalimat itu sebanding dengan pahala memerdekakan sepuluh sahaya dan tertulis baginya seratus kebaikan, terhapus darinya seratus kejelekan dan kalimat itu menjadi pelindung dari syaitan pada hari itu sampai sore harinya. Selain itu, tidak seorang pun yang dapat melebihi pahala yang didapat orang yang mengucapkannya, kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak daripadanya.’
Selanjutnya, Rasulullah bersabda : ‘Barang siapa mengucapkan ‘Mahasuci Allah, serta dengan memuji-Nya’, dalam sehari seratus kali, maka gugurlah dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan.'” (Muttafaqun ‘alaih)
3. Pahalanya memenuhi timbangan amal
Pada hari akhir nanti semua orang akan ditimbang oleh Allah 'Azza wa Jalla akan amal perbuatannya. Apabila lebih berat pahalanya maka ia akan dimasukan ke dalam syurga dan apabila lebih berat dosanya maka ia akan dimasukan ke dalam neraka. Nauudzubillahi min dzaalik.Nah amalan ini ringan tidak susah diamalkan namun berat dalam timbangan. Dari Abu Malik Al-asy’ari radhiyallah‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bersuci itu sebagian dari iman, ucapan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) itu memenuhi timbangan. Ucapan subhanallah (Mahasuci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah), keduanya memenuhi antara langit dan bumi. Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran adalah sinar, Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau hujjah yang menuntutmu. Setiap manusia berbuat, seakan-akan ia menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya sendiri, ada juga yang membinasakan dirinya sendiri.’” (HR. Muslim)
Apabila kita mengucapkannya dengan keyakinan mantap maka tidaklah ringan timbangan kita di hari kiamat kelak.Pada hadis lain: Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Mendatangkan seribu kebaikan dan menghapuskan seribu dosa
Di dunia ini tidak ada yang tidak berdosa. Semua orang mesti pernah melakukan dosa. Dosa itu tidak mudah dihapus di hadapan Allah 'Azza wa Jalla. Misalnya kita harus beristighfar, bertaubat dan lainnya. Tapi dengan zikir ini dosa-dosa bisa terhapus hingga beribu-ribu dosa. Sabda Rasulullah SAW :.
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda, ‘Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu untuk memperoleh seribu kebaikan setiap hari?’ Maka seseorang yang duduk bertanya, ‘Bagaimana seseorang bisa memperoleh seribu kebaikan?’ Beliau menjawab, ‘Ia bertasbih seratus kali, maka akan ditulis untuknya seribu kebaikan, atau dihapus darinya seribu kesalahan.’” (HR. Muslim)
5. Dibalas pohon kurma di syurga
Pohon kurma adalah pohon yang mempunyai banyak barokah didalamnya. Di antaranya dapat menguatkan badan, menyambuhkan berbagai penyakit, dll. Pohon kurma tidak kita temukan di Indonesia melainkan hanya tumbuh di daerah Timur Tengah. Ada cara praktis agar kita dapat menanam pohon kurma yang nantinya akan kita nikmati di dalam syurga.Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan, ‘subhaanallaah wa bihamdih .(Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya), maka ditanamkan untuknya satu pohon kurman di surga.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadis ini hasan)
Wallahu A'lam
Pahala Haji Tak Main-Main: Surga Jadi Balasannya
Pahala melaksanakan ibadah haji tidak main-main, karena balasan tertingginya adalah surga. Haji mabrur juga dapat menghapus seluruh dosa sehingga seseorang kembali... | Halaman Lengkap [612] url asal
#pahala #ibadah-haji #haji #haji-2026 #ganjaran-pahala
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/04/26 11:08
v/207396/
Pahala melaksanakan ibadah hajitidak main-main, karena balasan tertingginya adalah surga. Haji mabrur juga dapat menghapus seluruh dosa sehingga seseorang kembali suci seperti baru dilahirkan, menghilangkan kefakiran, dan bernilai jihad bagi wanita.DR KH. Syamsul Yakin MA, Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta menjelaskan, ganjaran pahalahaji ini dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wassalam dalam sabdanya: “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Haji Mambrur dan Ciri-cirinya
KH Syamsul Yakin memaparkan, haji mabruradalah haji yang diterima (maqbul). Ciri peraih haji mabrur adalah selalu menebar kebaikan dan perbaikan sepulang melaksanakan ibadah haji.Secara etimologi haji itu berarti menuju. Sedang secara terminologi, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, haji adalah pergi ke Tanah Suci untuk berziarah dengan cara khusus. Syaratnya, kata Syaikh Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib adalah Islam, baligh, berakal, merdeka, ada bekal dan kendaraan, aman dan mampu melakukan perjalanan. Untuk memperoleh haji mabrur tampaknya diperlukan sejumlah kesanggupan (istitha’ah).
Allah SWT mengindiskasikan hal ini, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran/3: 97). Kesanggupan, menurut pengarang Tasfir Jalalain, adalah memiliki perbekalan dan kendaraan.
Namun perbekalan dan kendaraan ini saja dipandang belum cukup, diperlukan kondisi badan yang fit dan prima baik dalam perjalanan, semasa melaksanakan ibadah haji, maupun saat kembali ke tanah air. "Karena itu, ibadah haji sebaiknya dilaksanakan selagi berusia muda agar dapat leluasa melaksanakan seluruh rangkaian rukun dan kewajiban haji secara paripurna,"tutur KH Syamsul Yakin.
Tidak seperti ibadah puasa, salat, dan zakat, ibadah haji adalah gabungan ibadah hati, badan, dan harta karena memerlukan biaya mahal. Oleh karena itu, melaksanakan ibadah haji bagi orang yang berusia muda tampaknya lebih mudah ketimbang orang yang berusia tua. Untuk itu menabung agar bisa beribadah haji selagi muda harus menjadi prioritas.
Beribadah haji selagi muda tidak hanya berefek positif bagi kehidupan pribadi, tapi juga kehidupan sosial. Para haji muda diharapkan berperan aktif di dalam kehidupan masyarakat sebagai role model dan agen perubahan. Harus ada yang menghapus stigma bahwa seorang haji itu adalah orang tua yang lemah secara fisik dan hanya menjalin ibadah vertikal ke langit.
Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menganalogikan pahala haji mabrur setara dengan jihad, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Apakah berarti kami harus berjihad?” Nabi SAW menjawab, “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR. Bukhari). Jihad dengan demikian identik dengan usia yang masih muda dan gagah berani.
Haji, Pralambang Kehidupan Setelah Kematian
KH Syamsul Yakin juga menjelaskan, beribadah haji seperti pelaksanaan furgatorio (proses pemurnian) menuju paradiso (surga).Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Barangsiap berhaji ke Baitullah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat fasik maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari).
Jadi sosok peraih haji mabrur secara ideal adalah berusia muda, saleh ritual dan sosial, dan suci. Peraih haji mabrur ini diharapkan mampu merevivalisasi Islam dan masyarakat muslim. Seperti ungkapan Bung Karno, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”
Untuk itu mari kita gelorakan ajakan beribadah haji ini seperti halnya dilakukan oleh Nabi Ibrahim ribuan tahun silam yang diabadikan Al Quran.
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj/22: 27).
Ayat ini lagi-lagi meniscayakan beribadah haji itu dilaksanakan selagi masih muda agar mampu berjalan kaki, mampu berada di dalam kendaraan selama berjam-jam, dan mampu berdesak-desakan dengan saudara sesama muslim yang datang dari negeri yang jauh. Insya Allah “pahala sosial” melakukan ibadah haji di usia muda lebih besar.
Belum Bisa ke Tanah Suci? Ini Amalan Berpahala Setara Haji dan Umrah
Belum bisa ke Tanah Suci? Jangan berkecil hati, bila belum terwujud atau belum dikabulkan, Allah Taala masih menyediakan banyak amalan yang pahalanya senilai dengan... | Halaman Lengkap [462] url asal
#ibadah-haji #haji #haji-2026 #pahala #amalan-setara-pahala-haji-dan-umrah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/04/26 05:15
v/207079/
Belum bisa ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji? Jangan berkecil hati, bila belum terwujud atau belum dikabulkan, Allah Ta'ala masih menyediakan banyak amalanyang pahalanya senilai dengan pahala haji ataupun umrah. Amalan-amalan apa itu?Menurut Ustadz Muhammad Ihsan, dari Dewan konsultasi Bimbingan Islam menjelaskan amalan-amalan yang setara dengan pahala haji dan umrah, yang berdasarkan dalil-dalil hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Di antara amalan tersebut, antara lain:
Amalan yang Pahalanya Setara Haji/Umrah
1. Berzikir tasbih, tahmid, dan takbir setelah setiap salat wajib
Abu Hurairah radhiyallahu'anhu berkata, “Para sahabat yang fakir pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata: Orang-orang kaya bisa mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Mereka mengerjakan salat seperti kami, berpuasa seperti kami, tapi mereka memiliki kelebihan harta untuk berangkat haji, umrah, berjihad dan sedekah.Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW berusaha menghibur hati para sahabat yang tidak sanggup untuk menunaikan ibadah haji, lalu beliau pun menunjukkan sebuah amalan yang sebanding dengan amalan haji, umrah dan berjihad.
2. Pergi ke masjid dengan tujuan menuntut ilmu atau mengajarkan ilmu
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:“Siapa yang pergi ke masjid dengan tujuan mempelajari ilmu atau mengajarkannya, dia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna.” (HR. Thabrani no. 7473, lihat shahih targhi wa tarhib no. 86).
3. Pergi ke masjid untuk melaksanakan salat wajib dalam keadaan bersuci
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda“Siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan sholat wajib, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berhaji.” (HR. Abu Dawud no. 558, lihat shahih targhib dan tarhib no. 320).
4. Pergi ke masjid untuk mengerjakan salat dhuha
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:“Siapa yang keluar dari rumahnya hanya dalam rangka mengerjakan sholat dhuha, maka pahalanya seperti pahala orang yang umrah.” (HR. Abu Dawud no. 558, lihat shahih targhib dan tarhib no. 320).
Ibnu Hajar Al-Haitamy ketika membahas salat dhuha berkata:
“Termasuk sunnah mengerjakan salat dhuha di masjid karena ada hadis yang menunjukkan hal tersebut, sehingga menjadi pengecualian (dari salat sunnah lainnya).” (Asyraful Wasail ila fahmissyamail : 1/408).
5. Salat subuh berjamaah kemudian duduk berzikir sampai terbit matahari, lalu mengerjakan salat dhuha (isyraq).
Dalilnya:“Siapa yang salat shubuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian mengerjakan salat dua rakaat, dia akan mendapatkan pahala haji dan umrah”. Rasulullah ﷺ bersabda: “sempurna, sempurna, sempurna”. (HR. Tirmidzy no. 586, lihat shahih aljami’ no. 6346).
Maksud mengerjakan salat saat matahari terbit adalah ketika matahari sudah setinggi tombak, kira-kira 15 menit dari matahari terbit.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-utsaimin berkata: “Salat isyraq adalah sholat yang dikerjakan saat matahari sudah setinggi tombak, jika dikonversikan ke jam kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Inilah yang dinamakan salat isyraq, dan juga termasuk salat dhuha.” (Majmu’ fatawa wa rasail : 14/305).
Pahala dan Keutamaan Umrah yang Penting Diketahui
Pahala dan keutamaan ibadah umrah penting diketahui umat Muslim. Apa saja pahalanya? Dan bagaimana keutamaannya? Simak ulasannya berikut ini. Pahala dan keutamaan... | Halaman Lengkap [430] url asal
#pahala #umrah #ganjaran-pahala #keutamaan-umrah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/04/26 18:49
v/198244/
Pahala dan keutamaan ibadah umrah penting diketahui umat Muslim. Apa saja pahalanya? Dan bagaimana keutamaannya? Simak ulasannya berikut ini.Dalam Islam, ibadah umrahmendatangkan berbagai pahala bagi pelakunya. Pahala-pahala yang diperoleh dari ibadah umrah begitu utama sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadis. Berikut ini beberapa pahala umrah:
1. Umrah menghapus dosa
Artinya: "Dari sahabat Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Umrah ke umrah merupakan kafarah [dosa] di antara keduanya. Sedangkan haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga,’” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Asbihani).
2. Doa mustajab
Artinya: “Dari sahabat Jabir ra, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya dan mereka meminta kepada-Nya, lalu Allah memberikan permintaan mereka,’” (HR. Al-Bazzar).
3. Pintu ampunan terbuka
Artinya: “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, Allah memenuhi permintaan mereka dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni mereka,’” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
4. Kesehatan di dunia
Artinya, “Dari sahabat Abu Zarr ra, Nabi Muhammad saw bercerita, ‘Nabi Dawud as pernah berdoa, ‘Tuhanku, apa yang didapat hamba-Mu bila mereka mengunjungi-Mu pada rumah-Mu?’ Allah menjawab, ‘Setiap pengunjung memiliki hak atas yang dikunjungi. Wahai Dawud, sungguh mereka berhak mendapatkan kesembuhan di dunia dan ampunan dari-Ku ketika kelak Kujumpai mereka [di akhirat],’’” (HR. At-Thabrani).
5. Terbebas dari hisab
Artinya: “Dari sayyidah Aisyah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Siapa saja yang keluar berhaji atau umrah melalui jalan ini, lalu meninggal di dalamnya, niscaya ia tidak ditampakkan dan tidak dihisab, lalu dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke surga.’ Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh Allah bangga terhadap orang-orang yang thawaf,’” (HR. At-Thabarani, Abu Ya’la, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi).
6. Jaminan masuk surga
Artinya: “Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Sungguh Ka’bah ini merupakan salah satu tiang Islam. Siapa saja yang berhaji mengunjungi Ka‘bah atau berumrah, maka ia menjadi tanggungan Allah. Jika ia meninggal, maka Allah memasukkannya ke surga. Jika Allah mengembalikannya kepada keluarganya, niscaya Allah memulangkannya dengan pahala dan ghanimah,’” (HR. At-Thabrani).
Keutamaan Ibadah Umrah
Selain pahala dan jaminan yang luar biasa, ibadah umrah juga membawa keutamaan bagi orang yang menunaikannya. Berikut ini beberapa keutamaan ibadah umrah:1. Menyucikan jiwa seorang muslim.
2. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
3. Mengingat perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam.
4. Melihat kesabaran dan kedisiplinan.
5. Mendorong diri rela berkorban serta mengutamakan kepentingan orang lain.
6. Mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT.
Benarkah Pahala Puasa Syawal Seperti Pahala Puasa Setahun? Simak Penjelasannya!
Puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal disebut-sebut memiliki pahala disetarakan seperti puasa setahun penuh. Benarkah demikian? Apa saja keistimewaan puasa sunnah... | Halaman Lengkap [511] url asal
#puasa-syawal #keistimewaan-puasa-syawal #pahala-puasa #idulfitri-1447-h
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 25/03/26 05:15
v/170608/
Di awal bulan Syawal, amalan yang paling dianjurkan adalah melaksanakan puasa sunnah selama 6 hari. Bahkan disebutkan bahwa puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal tersebut, disetarakan seperti puasa setahun penuh. Benarkah demikian? Apa saja keistimewaan puasa syawalini?Dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menerangkan tentang maksud “seperti puasa satu tahun penuh” ini. Menurutnya, ulama menjelaskan bahwa satu kebaikan itu diganjar dengan 10 kebaikan. Jika seseorang melakukan puasa Ramadan satu bulan penuh, yakni 30 hari, maka ia sama dengan telah berpuasa 10 bulan.
Sedangkan, puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan puasa selama dua bulan. Oleh sebab itu, maka jika seseorang berpuasa selama Ramadan satu bulan penuh ditambah dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun. (30+6=36, 36×10=360 dan 360 adalah jumlah hari selama satu tahun).
Hal ini sebagaimana disabdakan Nabi Shallallahu alahi wa sallam:
Dari Abu Ayyun Al-Anshari radhiyallahu'anhu, ia menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa berpuasa Ramadhan, kemudian ia mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim)
Sedangkan bagi kaum perempuan, yang masih memiliki qadha’ puasa Ramadan, maka sebaiknya dibayar dulu puasa qadha’nya kemudian dilanjutkan dengan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal. Hal ini disebabkan karena orang yang memiliki qadha’ atau hutang puasa Ramadan, maka sama saja ia belum lengkap melakukan 30 hari puasa.
Padahal, kita dapat dikategorikan puasa selama setahun bila telah menyelesaikan 30 hari puasa di bulan Ramadan dan 6 hari di bulan Syawal. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa diperbolehkan menggabungkan puasa qadha’ Ramadan dengan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal.
Lantas bagaimana dengan hukum melaksanakan puasa Syawal ini? Di kalangan para ulama ternyata berbeda pendapat. Imam Nawawi menerangkan bahwa hadis di atas merupakan dalil yang dipegang oleh madzhabnya Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Daud, serta ulama’-ulama’ yang sepakat dengan mereka tentang kesunahan puasa 6 hari Syawal.
Sedangkan, Imam Malik dan Abu Hanifah berbeda pendapat, yang justru menghukumi makruh puasa 6 hari di bulan Syawal. Imam Malik telah mengungkapkan alasannya di dalam kitabnya yang berjudul' Al-Muwatta’. Beliau berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari ahli ilmu yang menjalankan puasa 6 hari Syawal, maka mereka pun memakruhkannya agar tidak disangka puasa 6 hari Syawal itu berhukum wajib.”
Padahal menurut imam An-Nawawi, jika sunah (hadis Nabi SAW) telah menetapkan (suatu ibadah), maka kita tidak boleh meninggalkannya karena sebagian orang atau mayoritas meninggalkannya. Artinya imam An-Nawawi tidak setuju alasan imam Malik yang meninggalkan puasa 6 hari Syawal dengan alasan karena sebagian ulama’ tidak melakukannya. Sedangkan, di dalam hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tersebut sudah ada dalilnya secara jelas tentang tuntunan puasa 6 hari Syawal.
Adapun alasan mereka memakruhkan puasa 6 hari Syawal karena takut banyak yang menduga puasa tersebut termasuk puasa wajib karena dilakukan setelah puasa Ramadan, imam An-Nawawi menampiknya. Menurut imam An-Nawawi, padahal ada pula puasa Arafah, puasa Asyura, dan puasa-puasa sunah lainnya yang menunjukkan bahwa hanya puasa Ramadan saja yang diwajibkan sedangkan yang lainnya berhukum sunah.
Kumpulan Hadis Tentang Pahala Puasa Ramadan
Ada banyak hadis yang menjelaskan tentang pahala yang dilipatgandakan di Bulan Ramadan. Salah satunya hadis yang menyebut pahala di bulan Ramadan akan meraih 70... | Halaman Lengkap [651] url asal
#hadis-nabi #pahala-puasa-ramadhan #panduan-puasa-ramadan #hadis-puasa-ramadan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/02/26 14:53
v/150411/
Ada banyak hadis Nabi SAWyang menjelaskan tentang pahala yang dilipatgandakandi Bulan Ramadan. Salah satunya hadis yang menyebut pahala di bulan Ramadan akan meraih 70 kali lipatnya.Bunyi hadisnya :
"Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan, barangsiapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan 70 kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan." (HR. Bukhari-Muslim).”
Khusus pahala puasa Ramadan, pelipatgandaannya khusus, karena Allah sendiri yang mengganjar orang-orang yang rela menahan lapar dan haus sepanjang hari karena-Nya.
Diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah, berikut hadisnya :
"Setiap amalan kebaikan anak Adam [manusia] akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah Ta’ala berfirman 'Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi'.” (HR. Bukhari)
Begitu juga dengan hadis berikut:
Dalam sebuah hadis Rasulullah telah bersabda: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)
Makna dari kalimat ‘Puasa untuk-ku’ maksudnya adalah bahwa dia termasuk ibadah yang paling dicintai dan paling mulia di sisi-ku. Selain itu, ada pula makna lain dari hadis tersebut yaitu Rasulullah telah mengatakan jika setiap kebaikan manusia akan dilipat gandakan pahalanya 10 kali lipat bahkan 700 kali lipat. Akan tetapi hal ini berbeda dengan amalan ketika seorang muslim menjalankan ibadah puasa. Pahala puasa tidak bisa dilipatgandakan dengan cara tersebut, melainkan akan dilipatgandakan menjadi tak terhingga oleh Allah.
Hal itu bisa terjadi karena ketika berpuasa manusia akan berusaha untuk meninggalkan segala syahwat karena Allah semata. Begitu pula dengan Allah yang akan selalu memuliakan umat Islam yang berpuasa, sehingga diibaratkan bau mulut orang berpuasa sama saja dengan bau minyak kasturi.
Selain itu, Ibnu Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah di Lathaif Al-Ma’arif pernah mengatakan sebagai berikut:
“Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.”
Pahala puasa Ramadan akan berlipat ganda karena bulan Ramadan merupakan sebuah bulan yang sangat mulia. Selain itu Puasa Ramadan termasuk puasa yang diwajibkan oleh Allah SWT, sehingga siapa saja yang menjalankannya akan mendapat pahala yang berlimpah.
Pahala Lebih dari 1.000 Bulan
Selain puasa wajib, ada amalan sunnah yang sangat dahysat pahalanya di bulan Ramadan yakni adanya Lailatulqadar. Tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti kehadirannya, meskipun ada petunjuk yang menyebutkan waktunya di tanggal ganjil 10 hari terakhir Ramadan.Jika melakukan ibadah tepat pada malam Lailatulqadar, pahalanya diumpamakan lebih baik daripada 1.000 bulan. Oleh sebab itu, 10 hari terakhir Ramadan dianjurkan untuk mendirikan lebih banyak aktivitas bernilai ibadah.
Berikut hadis tentang dilipatgandakan pahala di bulan Ramadan khusus Lailatulqadar, sebagaimana diriwayatkan dari jalur Aisyah.
"Nabi saw. bila memasuki 10 akhir [dari bulan Ramadan]. Beliau mengencangkan sarung beliau, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarga beliau". (HR. Bukhari)
Demikian tentang dalil pelipatgandaan pahala di bulan Ramadan ini. Semoga bermanfaat. Wallahu A'lam
Pahala Puasa Ramadan Hari ke-1 Sampai Hari ke-30, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Pahala puasa Ramadan hari ke-1 sampai ke-30 penting diketahui umat Muslim. Terlebih, tak lama lagi kita akan menyambut bulan istimewa tersebut yang membuat pahala... | Halaman Lengkap [875] url asal
#pahala-puasa #pahala #pahala-puasa-ramadhan #menyambut-ramadan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/02/26 05:15
v/129924/
Pahala puasa Ramadan hari ke-1 sampai ke-30 penting diketahui umat Muslim. Terlebih, tak lama lagi kita akan menyambut bulan istimewa tersebut yang membuat pahala berlipat ganda bagi setiap amal kebaikan.Puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu kewajiban yang harus dikerjakan umat Muslim setiap tahunnya. Selama sebulan penuh, kita akan menjalani ibadah puasa dengan niat yang tulus, menahan diri dari makan dan minum serta hawa nafsu sejak fajar terbit hingga waktu berbuka tiba.
Pada pelaksanaannya, puasa Ramadanmemiliki banyak keutamaan dan pahala puasa yang bisa diraih dari hari pertama sampai terakhir. Hal tersebut pernah dijelaskan dalam kitab Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah. Berikut ini ulasannya.
Pahala Puasa Ramadan Hari ke-1 Sampai ke-30
1. Hari pertama
Sebagai pembuka rangkaian puasa Ramadan, Allah Swt memberikan keutamaan yang cukup besar di hari pertama. Hal ini agar umat Muslim yang menjalankannya bersemangat sampai akhir Ramadan nanti.Pada permulaan puasa, Allah akan mengampuni semua dosa, baik yang dilakukan secara terang-terangan atau sembunyi. Selain itu, Allah juga bakal meninggikan derajat orang yang berpuasa, serta membangun lima puluh ribu kota di surga untuk orang yang berpuasa.
2. Hari kedua
Disajikan dengan pahala melimpah di hari pertama, Allah Swt juga menjanjikan hal serupa pada hari kedua puasa. Allah akan mencatat setiap ibadah orang yang berpuasa dan memberikan pahala yang luar biasa pada orang tersebut.3. Hari ketiga
Pada hari ketiga, Muslim yang berpuasa akan diberikan taman permata yang indah oleh Allah Swt di surga Firdaus. Di atas taman tersebut terdapat dua belas ribu rumah dari cahaya.4. Hari keempat
Lanjut, hari keempat puasa Ramadan. Allah Swt menjanjikan surga khuld bagi orang yang berpuasa dengan ikhlas.5. Hari kelima
Pada hari kelima, Allah Swt memberi orang yang berpuasa hadiah berupa beribu-ribu kota. Setiap kota itu terdapat seribu rumah dan di setiap rumah ada seribu meja makan di surga Al-Ma’wa.Keutamaan lain, Allah menyiapkan rumah bagi para Muslim yang berpuasa di surga. Rumah tersebut dilengkapi hidangan nikmat di meja makan.
6. Hari keenam
Di hari keenam, Allah Swt memberi seratus ribu kota di surga Darussalam. Allah menghadiahkannya bagi orang yang berpuasa dengan ikhlas.7. Hari ketujuh
Pada hari ketujuh, Allah menempatkan orang yang berpuasa di surga Na’im dan memberi hadiah seperti pahala seribu syuhada’.8. Hari kedelapan
Kemudian, hari kedelapan. Allah Swt memberi pahala seperti ganjaran amal enam puluh ribu ahli ibadah bagi orang yang berpuasa.9. Hari kesembilan
Memasuki hari kesembilan, Allah memberi hadiah seperti pahala yang didapat seribu ulama untuk orang yang berpuasa dengan ikhlas dan benar.10. Hari ke-10
Pada hari ke-10, Allah mengabulkan tujuh puluh ribu keinginan yang dipanjatkan orang-orang yang berpuasa pada hari tersebut.11. Hari ke-11
Masuk awal pertengahan, Allah akan mencatat pahala orang yang berpuasa seperti pahala empat kali orang yang haji dan umrah. Masya Allah!12. Hari ke-12
Puasa hari ke-12, Allah Swt akan mengubah keburukan-keburukan yang pernah dilakukan orang berpuasa menjadi kebaikan-kebaikan.13. Hari ke-13
Pada hari ke-13, Allah Swt mencatat pahala orang berpuasa seperti pahala ibadah penduduk Mekkah dan Madinah.14. Hari ke-14
Keutamaan berpuasa di hari ke-14 bulan Ramadan seperti menjalankan ibadah puasa bersama setiap Nabi.15. Hari ke-15
Tepat di pertengahan Ramadan, Allah akan mengabulkan hajat-hajat dunia dan akhirat bagi orang-orang yang berpuasa.16. Hari ke-16
Pada hari ke-16, Allah Swt akan memberi 60 pakaian di hari dibangkitkannya orang yang berpuasa dari kubur.17. Hari ke-17
Masuk hari ke-17 Ramadan, Allah akan mengampuni orang berpuasa dan orang tua hingga kakek dan nenek buyut orang tersebut.18. Hari ke-18
Pada hari ke-18, Allah Swt memerintahkan malaikat agar memohonkan ampun untuk umat Muhammad SAW sampai tahun berikutnya.19. Hari ke-19
Memasuki hari ke-19, orang berpuasa akan mendapat hadiah makanan di surga kelak.20. Hari ke-20
Hari ke-20 Ramadan, Allah Swt menjaga orang-orang yang berpuasa dari setiap setan yang terkutuk.21. Hari ke-21
Memasuki sepuluh hari terakhir, Allah Swt akan menjadikan kuburan orang yang berpuasa lebih lapang. Masyaallah!22. Hari ke-22
Lanjut, di hari ke-22 orang yang berpuasa akan diselamatkan dari keganasan malaikat Munkar dan Nakir.23. Hari ke-23
Pada hari ke-23, orang yang berpuasa akan mendapat pahala seperti memberi makanan kepada setiap anak yatim.24. Hari ke-24
Orang yang berpuasa pada hari itu akan mendapat pahala seperti seribu orang yang sakit.25. Hari ke-25
Pada hari ke 25 Ramadan, orang yang berpuasa diberikan makan dan minum, rasa bahagia, dan keberanian oleh Allah SWT.26. Hari ke-26
Hari ke-26 puasa, Allah SWT memandang hambaNya yang berpuasa dengan kasih sayangNya.27. Hari ke-27 puasa
Masuk hari ke-27, orang yang berpuasa diberikan pahala seperti pahala menolong setiap mukmin dan mukminah.28. Hari ke-28
Pada hari ke-28 ini, Allah memberikan seratus ribu kota di atas cahaya di surga Al-Khuld bagi orang yang menjalankan ibadah puasa.29. Hari ke-29
Allah SWT memberi orang-orang yang berpuasa beribu-ribu kediaman, dimana di setiap kediaman terdapat menara putih.30. Hari ke-30
Di penghujung Ramadan, Allah SWT mencatat orang yang berpuasa pahala setiap harinya.Demikian ulasan mengenai pahala puasa Ramadan hari ke-1 sampai ke-30. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam
Hati-Hati! Beberapa Hal Sepele Ini Dapat Membatalkan Pahala Puasa Ramadan
Hindari lima hal ini saat puasa Ramadan: berdusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat, agar pahala puasa tidak hilang. [773] url asal
#puasa-ramadan #pahala-puasa #membatalkan-pahala #dosa-besar #menjaga-lisan #menjaga-pandangan #menjaga-perilaku #berbohong-saat-puasa #ghibah-saat-puasa #adu-domba #sumpah-palsu #pandangan-syahwat #pu
(Bisnis.Com - Terbaru) 26/02/26 12:04
v/148030/
Bisnis.com, JAKARTA - Bulan Ramadan selalu dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan ampunan bagi umat Islam. Kehadirannya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, serta membersihkan diri lahir dan batin. Namun, tidak sedikit orang yang merugi di bulan suci ini karena melakukan perbuatan yang menggugurkan pahala puasanya.
Menjalankan puasa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, serta perilaku dari hal-hal yang dilarang. Rasulullah SAW sendiri telah mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga menyebutkan lima perkara yang dapat membatalkan pahala orang yang berpuasa:
خمسٌ يُفطِرن الصّائِم: الغِيبةُ، والنّمِيمةُ، والكذِبُ، والنّظرُ بِالشّهوةِ، واليمِينُ الكاذِبةُ
Artinya: “Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu” (HR Ad-Dailami).
Puasa Ramadan sendiri merupakan perintah wajib bagi umat Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah: 183).
Puasa pada hakikatnya adalah menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang dapat membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat karena Allah SWT. Namun lebih dari itu, puasa juga mengajarkan pengendalian diri dari berbagai perbuatan dosa.
Hal yang harus dihindari karena dapat menggugurkan pahala puasa
1. Berdusta
Berdusta atau berbohong adalah ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam Islam, dusta termasuk dosa besar karena dapat menjadi pintu bagi berbagai kemaksiatan lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan," (H.R. Bukhari).
Artinya, seseorang yang tetap berdusta saat berpuasa, maka puasanya hanya sebatas menahan lapar dan haus tanpa nilai ibadah di sisi Allah SWT.
2. Ghibah
Ghibah berarti membicarakan keburukan orang lain, meskipun apa yang dibicarakan itu benar adanya. Perbuatan ini termasuk perilaku tercela dan diibaratkan dalam Al-Qur’an seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.
Dalam ajaran Islam, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang merusak pahala.
"Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan rafats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, 'Aku sedang puasa, aku sedang puasa'," (H.R. Ibnu Khuzaimah).
Ketika seseorang berghibah saat berpuasa, maka pahala puasanya dapat hilang dan ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata.
3. Adu Domba (Namimah)
Adu domba atau namimah adalah menyebarkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan. Perilaku ini biasanya lahir dari rasa iri, dengki, atau kebencian. Islam dengan tegas melarang perbuatan ini. Rasulullah SAW bersabda:
"Pelaku adu domba tidak akan masuk surga," (H.R. Muslim).
Perbuatan adu domba tidak hanya merusak hubungan antar sesama manusia, tetapi juga menghapus pahala ibadah yang sedang dijalankan.
4. Bersumpah Palsu
Bersumpah palsu berarti mengucapkan sumpah yang tidak sesuai dengan kenyataan, apalagi jika mengatasnamakan Allah SWT. Perbuatan ini termasuk dosa besar dalam Islam. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya [dengan] Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian [pahala] di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak [pula] akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih," (QS. Ali-Imran: 77).
Sumpah palsu dapat menghilangkan keberkahan dan pahala puasa, bahkan mendatangkan ancaman berat di akhirat.
5. Memandang dengan Syahwat
Puasa juga berarti menahan diri dari hawa nafsu atau syahwat. Salah satu pintu masuk syahwat adalah melalui pandangan mata. Karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga pandangan, terutama terhadap lawan jenis yang bukan mahram. Rasulullah SAW bersabda:
"Pandangan merupakan salah satu anak panah iblis," (H.R. Al-Hakim dan Thabrani).
Memandang dengan penuh syahwat dapat merusak kesucian puasa dan menggugurkan pahala ibadah yang sedang dijalankan.
Ramadan adalah bulan untuk melatih ketakwaan dan pengendalian diri. Jangan sampai puasa yang dijalankan seharian penuh hanya berakhir dengan rasa lapar dan dahaga tanpa pahala. Dengan menjaga lisan, hati, dan pandangan, insyaAllah puasa yang dijalankan akan bernilai ibadah sempurna di sisi Allah SWT.
Mari jadikan Ramadan sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, bukan hanya selama satu bulan, tetapi juga pada bulan-bulan setelahnya. Setiap rasa lapar mengingatkan kita pada saudara yang kekurangan, setiap doa yang terucap menjadi penghapus dosa, dan setiap ibadah yang dilakukan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan. Dengan demikian, kita tidak hanya meraih keberkahan Ramadan, tetapi juga keluar darinya sebagai insan yang lebih bersih hati dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Benarkah Pahala Sedekah di Bulan Ramadan 700 Kali Lipat? Begini Penjelasannya
Benarkah bersedekah di bulan Ramadan akan diganjuar pahala 700 kali lipat? Apa dan bagaimana dalil serta penjelasannya? Simak ulasannya berikut ini. Benarkah bersedekah... | Halaman Lengkap [373] url asal
#sedekah #ramadan-2026 #keutamaan-sedekah-di-bulan-ramadhan #pahala-sedekah #panduan-puasa-ramadan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 25/02/26 09:45
v/146612/
Benarkah bersedekah di bulan Ramadanakan diganjuar pahala 700 kali lipat? Apa dan bagaimana dalil serta penjelasannya? Simak ulasannya berikut ini.Seperti diketahui bersedekah di bulan Ramadan memiliki keutamaan luar biasa. Inilah kesempatan terbaik menuai banyak pahala dan ampunan Allah yang Maha luas. Hanya memberi hidangan berbuka kepada orang yang berpuasa kita mendapat ganjaran pahalapuasa orang tersebut. Belum lagi pahala sedekah dilipatgandakan Allah hingga 700 kali lipat.
Selain itu sedekah dapat menggugurkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Juga menjadi amalan memudahkan seseorang masuk surga. Kemudian menjadi penyebab seseorang dijauhkan dari bencana musibah dan disembuhkan dari sakit.
Keutamaan Sedekah di Bulan Ramadan
Keutamaan sedekah di bulan Ramadan merupakan amalan yang sangat dianjurkan sebagaimana riwayat berikut:Artinya: "Dari Anas radhiyallahu 'anhi, sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?' Rasulullah SAW menjawab: "Sedekah di bulan Ramadan." (HR At-Tirmidzi)
Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan dan murah hati. Beliau semakin murah hati di bulan Ramadan. Hal ini diceritakan Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma:
Artinya: "Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur'an. Dan kedermawanan Rasulullah melebihi angin berembus." (HR Al-Bukhari)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya di surga terdapat ruangan yang dalamnya bisa dilihat dari luarnya dan luarnya bisa dilihat dari dalamnya." Lalu para sahabat bertanya: "Untuk siapa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bagi siapa yang baik tutur katanya, memberi makan, kontinyu melaksanakan shiyam (puasa), dan shalat malam di saat manusia tertidur." (HR At-Tirmidzi)
Sedekah memiliki makna yang luas. Tidak hanya dibatasi dalam bentuk uang semata. Memberi makan berbuka untuk orang yang berpuasa meskipun sebiji kurma termasuk sedekah.
Artinya: "Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya." (HR At Tirmidzi 807)
Terkait keutamaan sedekah ini, Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia." (QS. Al-Hadid Ayat 18)
Itulah sekelumit keutamaan sedekah di bulan Ramadan. Saatnya untuk berbagi dan bermurah hati kepada sesama. Wallahu A'lam
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)