Bisnis.com, JAKARTA — PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) membukukan pendapatan sebesar Rp650,9 miliar pada kuartal I/2026, meningkat 14,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan Rp567,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Kinerja penjualan yang relatif stabil, ditopang oleh kuatnya permintaan produk residensial. Namun, dibalik pertumbuhan pendapatan, laba perseroan justru mengalami penurunan akibat penyusutan margin penjualan.
Direktur Corporate Finance ASRI Edward Tanuwijaya mengatakan pertumbuhan pendapatan terutama ditopang oleh segmen real estate yang melonjak 20,7% secara tahunan menjadi Rp426,7 miliar.
“Lonjakan signifikan terjadi pada penjualan rumah tapak dan ruko yang meningkat tajam dari Rp72,4 miliar menjadi Rp262,2 miliar,” terangnya kepada Bisnis dikutip, Selasa (5/5/2026).
Segmen apartemen juga mencatatkan pertumbuhan kuat dari Rp3,8 miliar menjadi Rp35,8 miliar, sementara pendapatan dari perkantoran naik dari Rp4,7 miliar menjadi Rp48,7 miliar.
Namun demikian, penjualan lahan yang selama ini menjadi salah satu penopang margin tinggi justru mengalami penurunan drastis, dari Rp272,5 miliar pada kuartal I/2025 menjadi hanya Rp80 miliar pada periode yang sama tahun ini.
Menurunnya kontribusi penjualan lahan yang memiliki margin lebih tinggi mengakibatkan penurunan margin secara keseluruhan.
“Dampaknya, ASRI membukukan laba bersih Rp18,8 miliar pada kuartal I/2026, turun dibanding Rp32,3 miliar pada kuartal I/2025,” lanjutnya.
Sepanjang kuartal I/2026, ASRI mencatat marketing sales sebesar Rp341,2 miliar, tumbuh tipis 1,2% secara kuartalan. Penjualan masih didominasi oleh produk residensial yang menyumbang 80% dari total marketing sales, sementara segmen komersial berkontribusi 20% atau sekitar Rp68,1 miliar.
Secara rinci, proyek Alam Sutera Township menjadi kontributor terbesar dengan penjualan mencapai Rp217,7 miliar atau sekitar 64% dari total marketing sales. Sementara itu, Suvarna Sutera Township menyusul dengan kontribusi Rp55,4 miliar atau sekitar 16%.
Di sisi lain, pendapatan berulang (recurring income) menunjukkan tren positif dengan kenaikan menjadi Rp177,7 miliar dari Rp166,9 miliar. Segmen pariwisata juga relatif stabil dengan pendapatan Rp46,5 miliar, sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp46,3 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Pendapatan Alam Sutera (ASRI) turun 14,5% di 2025 karena waktu serah terima proyek, namun laba bersih melonjak 5,7 kali berkat efisiensi dan refinancing. [355] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja pendapatan emiten properti, PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) mengalami pelemahan sepanjang 2025 dikarenakan waktu serah terima proyek dan pencatatan pengakuan pendapatan.
Direktur Corporate Finance ASRI Edward Tanuwijaya mengatakan sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp2,9 triliun.
Angka ini terdiri dari Rp2,0 triliun dari segmen real estat dan Rp918,3 miliar dari pendapatan berulang atau recurring income, seperti properti investasi dan sektor pariwisata. Kontribusi terbesar dari segmen real estat berasal dari penjualan residensial sebesar Rp1,2 triliun, disusul penjualan komersial senilai Rp829,7 miliar.
Dengan demikian secara keseluruhan pendapatan ASRI tercatat turun 14,5% secara tahunan dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu.
“Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh faktor waktu serah terima proyek serta pengakuan pendapatan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Namun demikian di tengah penurunan pendapatan, perseroan justru berhasil mencatat lonjakan signifikan pada laba bersih berkat efisiensi dan strategi keuangan yang solid.
Meski top line melemah, profitabilitas perusahaan justru membaik. Margin laba kotor meningkat menjadi 53,1%, dari sebelumnya 51,7% pada 2024. Kenaikan ini didorong oleh kontribusi lebih besar dari penjualan lahan (land lot) yang memiliki margin tinggi. Hal ini mencerminkan fleksibilitas ASRI dalam mengelola bauran produk serta disiplin dalam strategi monetisasi.
Yang paling mencolok, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham melonjak sekitar 5,7 kali lipat menjadi Rp313,2 miliar. Kenaikan tajam ini didukung oleh penurunan beban keuangan sekitar 20%.
Penurunan beban bunga tersebut tidak lepas dari aksi refinancing pada kuartal III/2024 dan kuartal III/2025. Langkah ini efektif menekan biaya pinjaman sekaligus memperkuat struktur permodalan perusahaan.
“Ke depan, ASRI menegaskan komitmennya untuk menjaga posisi keuangan yang sehat dan mengoptimalkan struktur modal guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan serta penciptaan nilai jangka panjang,” ujarnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten properti PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) menargetkan total penjualan pemasaran atau marketing sales sebesar Rp2,8 triliun pada 2026.
Direktur Corporate Finance ASRI Edward Tanuwijaya mengatakan target ini didukung oleh kontribusi yang seimbang dari pengembangan hunian dan komersial.
Berdasarkan target tersebut, dia memerinci kontribusi hunian Alam Sutera mencapai sekitar Rp1,6 triliun, hunian Suvarna Sutera sekitar Rp700 miliar, dan unit komersial mencapai sekitar Rp500 miliar.
“Dengan mempertimbangkan ketidakpastian kondisi geopolitik saat ini yang dapat memengaruhi permintaan properti di dalam negeri, kami menetapkan target pertumbuhan marketing sales pada 2026 secara konservatif, yaitu sebesar Rp2,8 triliun,” ujarnya, Senin (19/4/2026).
Sebagai perbandingan, pada 2025, ASRI mencatat total marketing sales sebesar Rp2,44 triliun. Segmen hunian masih menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 70% dari total penjualan, sementara segmen komersial menyumbang sekitar 30%.
Penjualan hunian tapak atau landed house mencapai Rp1,72 triliun. Angka ini terutama didorong oleh proyek Alam Sutera Township sebesar Rp1,34 triliun, diikuti Suvarna Sutera Township sebesar Rp381 miliar.
Permintaan hunian tetap kuat, didukung oleh beragam pilihan produk, harga yang menarik, serta kebutuhan nyata dari konsumen atau end user. Sementara itu, penjualan dari segmen komersial mencapai Rp717 miliar.
Capaian ini didorong oleh permintaan yang solid terhadap unit komersial di kawasan Alam Sutera dan Suvarna Sutera, menunjukkan minat yang terus berlanjut dari pelaku usaha maupun investor.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Pada 2025, PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) mencatat lonjakan laba bersih 467% menjadi Rp313,18 miliar meski pendapatan turun 14,58% menjadi Rp2,93 triliun. [400] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) mampu membukukan laba bersih senilai Rp313,18 miliar pada 2025 atau meningkat sebesar 467,19% secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya di tengah koreksi pendapatan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, laba bersih yang dapat diatribuskikan kepada entitas induk ASRI meningkat 467,15% dari Rp55,22 miliar menjadi Rp313,18 miliar pada 2025.
Sebaliknya penjualan, pendapatan jasa dan usaha lainnya perseroan sebesar 14,58% secara tahunan dari Rp3,43 triliun menjadi Rp2,93 triliun.
Jika dilihat lebih rinci, dari data kinerja ASRI hingga akhir Desember 2025, penyebab penurunan penjualan adalah koreksi pada segmen pendapatan rumah dan ruko sebesar 42% dari Rp1,96 triliun pada 2024 menjadi Rp 1,142 triliun.
Tak hanya itu pendapatan dari pendapatan apartemen dan gedung perkantoran pada 2025 juga menyusut dari senilai Rp144 miliar pada 2024 menjadi sebesar Rp68 miliar pada 2025.
Sisi lain kontribusi pendapatan tanah melonjak 71% dari senilai Rp472 miliar pada 2024 menjadi Rp806 miliar pada 2025. Pendapatan berulang dan lainnya juga meningkat 7% dari tahun 2024 sebesar Rp57 miliar menjadi Rp 918 miliar pada 2025.
Dari sisi marketing sales, ASRI mencatat senilai Rp2,4 triliun pada akhir tahun 2025. Segmen residensial memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp1,7 triliun atau sekitar 71% dari total marketing sales pada 2025.
Rinciannya Alam Sutera township termasuk apartment senilai Rp1,3 triliun, Suvarna Sutera township senilai Rp381 miliar.
Komposisi marketing sales ASRI pada 2025 didominasi oleh penjualan rumah dan tanah residensial sebanyak 67% dan sisanya adalah penjualan produk komersial dan apartemen. Alam Sutera township memberikan kontribusi penjualan terbesar yaitu sebesar 78% yang didukung oleh penjualan Sutera Rasuna. Suvarna Sutera memberikan kontribusi sebesar 22%.
Namun demikian kinerja beban operasional ASRI menurun 6% dari tahun 2024 sebesar Rp536 miliar menjadi Rp502 miliar pada 2025. Dengan demikian laba komprehensif periode perjalan mampu meningkat dari tahun 2024 sebesar Rp 66 miliar menjadi Rp 319 miliar pada 2025.
Dari segi neraca, ASRI membukukan aset sejumlah Rp23,16 triliun pada 2025, naik dari Rp22,02 triliun pada akhir 2024. Demikian juga dengan liabilitas yang naik dari Rp10,68 triliun menjadi Rp11,5 triliun, serta ekuitas yang bertumbuh dari Rp11,33 triliun menjadi Rp11,65 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sebanyak 7.000 liter Eco Enzyme dituang secara bertahap di kawasan Sungai Jeletreng, aliran Sungai Cisadane. Sebanyak 7.000 liter Eco Enzyme dituang secara bertahap... | Halaman Lengkap [318] url asal
TANGERANG - Sebanyak 7.000 liter Eco Enzyme dituang secara bertahap di kawasan Sungai Jeletreng, aliran Sungai Cisadane. Eco Enzyme yang dituangkan diharapkan mampu merevitalisasi ekosistem Sungai Cisadane yang sempat tercemar serta meningkatkan kualitas air yang dimanfaatkan masyarakat untuk kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang digelar, Minggu (8/3/2026) tersebut, dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisal Nurofiq, Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan, perwakilan Kementerian Agama, serta jajaran pemerintah pusat dan daerah. EcoEnzyme yang dituangkan merupakan sumbangan dari The Flavor Bliss Alam Sutera kepada Generasi Muda Buddhis Indonesia (GEMABUDHI) sebagai pelaksana kegiatan.
Eco Enzyme yang digunakan dalam kegiatan ini diproduksi secara mandiri oleh The Flavor Bliss Alam Sutera dengan memanfaatkan limbah sayur dan kulit buah dari kawasan Flavor Bliss dan Pasar 8. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen Alam Sutera dalam mendukung pengelolaan sampah (waste management) sekaligus menciptakan kawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
"Dengan aksi nyata penuangan Ecoenzyme di kawasan sungai Jeletreng aliran Cisadane, diharapkan dapat merevitalisasi ekosistem sungai yang sempat tercemar, serta memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang masih memanfaatkan aliran Sungai Cisadane untuk kehidupan sehari-hari," kata Direktur PT Alam Sutera Realty Tbk, Andre Simandjaja dalam keterangannya dikutip, Selasa (10/3/2026).
Sebelumnya, The Flavor Bliss Alam Sutera juga telah menggandeng Sekolah Santa Laurensia Alam Sutera melalui program Community School – Unity in Action dengan menuangkan 1.000 liter Eco Enzyme ke Sungai Cisadane pada Februari 2026 oleh para siswa tingkat SMA. Khusus kegiatan kali ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai kegiatan penuangan Eco Enzyme terbanyak di satu aliran sungai.
Selain program itu, Alam Sutera Group juga secara konsisten menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), seperti Program Ayo Tanam Pohon, Program Tangerang Langit Biru di Kabupaten Tangerang, Budaya Literasi GWK, donor darah, Alam Sutera Bercerita, bantuan korban bencana alam, hingga program pengelolaan sampah mandiri. Berbagai inisiatif ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.
IDXChannel - PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) diproyeksi mencatatkan kenaikan laba yang signifikan pada 2026 ditopang oleh penjualan lahan serta pendapatan berulang.
Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan laba bersih ASRI akan mencapai Rp35 miliar pada 2025 dan melonjak menjadi Rp202 miliar pada 2026.
Kinerja tersebut selaras dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan perseroan. Di mana ASRI diperkirakan membukukan pendapatan sebesar Rp2,55 triliun pada 2025, turun 25 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan 2024.
Namun, penurunan ini dinilai lebih moderat dibandingkan capaian sembilan bulan 2025, seiring optimisme peningkatan penjualan lahan di segmen real estat menjelang akhir tahun.
Memasuki 2026, pendapatan ASRI diproyeksikan pulih ke level Rp3,15 triliun, hanya sekitar 8 persen di bawah realisasi 2024. Pemulihan ini ditopang oleh kontribusi penjualan land plot yang diperkirakan tumbuh signifikan, didukung oleh strategi peluncuran produk baru dan percepatan penjualan inventori.
"Dengan cadangan lahan yang solid, ekosistem township yang matang, serta potensi pertumbuhan penjualan dan pendapatan berulang, ASRI berada pada posisi yang menarik untuk memanfaatkan pemulihan sektor properti dalam jangka menengah,” tulis analis Phintraco Sekuritas Nurwachidah, Rabu (14/1/2026).
Dari sisi fundamental aset, ASRI memiliki landbank seluas 1.936,5 hektare hingga September 2025. Dengan cadangan lahan tersebut, perseroan memiliki visibilitas pengembangan proyek untuk 15 hingga 20 tahun ke depan.
Landbank ASRI tersebar di kawasan township terintegrasi yang strategis di koridor Jakarta-Tangerang, dengan akses dekat ke jalan tol utama, pusat bisnis Jakarta, serta Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Lokasi yang strategis ini dinilai meningkatkan kualitas pengembangan sekaligus potensi monetisasi proyek. Untuk menjaga keberlanjutan cadangan lahan, ASRI secara konsisten mengalokasikan belanja modal (capex) lahan sekitar Rp150–200 miliar per tahun.
Dari sisi penjualan, ASRI mencatatkan marketing sales sebesar Rp2,1 triliun hingga kuartal III, setara dengan 40 persen dari target penjualan penuh 2025 yang sebesar Rp3,5 triliun.
Kontribusi terbesar berasal dari penjualan rumah tapak dan land plot yang mencapai Rp1,3 triliun, dengan proyek unggulan seperti Sutera Rasuna, The Gramercy, dan Sutera Nexen sebagai penopang utama.
Untuk mengejar target tahunan, ASRI terus mengakselerasi penjualan inventori sekaligus meluncurkan produk baru bertajuk DOMAIN. Perseroan menawarkan 10 unit DOMAIN yang berlokasi strategis dengan aksesibilitas tinggi dan eksposur pasar yang kuat, guna menarik minat konsumen dan investor.
Phintraco Sekuritas menyebutkan, ASRI memiliki ekosistem bisnis yang kuat dengan potensi besar dalam mengoptimalkan pendapatan berulang (recurring income).
Pengembangan dua township utama, yakni Alam Sutera dan Suvarna Sutera, menjadi tulang punggung bisnis perseroan. Di dalam kawasan tersebut, ASRI secara konsisten mengembangkan supercluster dan cluster baru untuk memperkuat ekosistem sekaligus menopang kinerja pemasaran.
Pendapatan berulang juga ditopang oleh berbagai infrastruktur penunjang seperti Mall @Alam Sutera, gedung perkantoran, rumah sakit, hotel, serta area komersial lainnya. Di luar sektor properti, ASRI turut mengelola destinasi wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali yang menarik lebih dari satu juta pengunjung per tahun, sehingga memberikan kontribusi tambahan dari segmen pariwisata.
Berdasarkan proyeksi tersebut, Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi Buy untuk saham ASRI dengan estimasi nilai wajar Rp268 per saham. Target harga ini mencerminkan potensi kenaikan (upside) sekitar 41,05 persen dari posisi saat ini.
Valuasi tersebut didasarkan pada metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan asumsi tingkat pengembalian (required return) sebesar 10,71 persen dan terminal growth rate 1,50 persen.
IDXChannel—Saham ASRI milik siapa? PT Alam Sutra Realty Tbk (ASRI) adalah emiten properti dan real estate, dengan kegiatan usaha di bidang pengembangan dan pembangunan. Perusahaan ini adalah salah satu developer terkemuka di Indonesia.
Melansir laman resmi perseroan (13/1/2026), perusahaan ini didirikan oleh Haryanto Tirtohadiguno pada 1993 dengan nama PT Adhihutama Manunggal. Setahun kemudian, perseroan mulai mengembangkan kawasan hunian perdananya, yakni Alam Sutera.
Kawasan Alam Sutera dibangun di atas lahan seluas 800 hektare di Serpong, Tangerang Selatan. Dalam waktu singkat, 1.100 unit rumah terjual. Tahun-tahun berikutnya perseroan meluncurkan cluster perumahan baru.
ASRI juga mengembangkan apartemen, pusat perbelanjaan, komplek pasar tradisional, dan sebagainya. Usai mengembangkan Alam Sutera, perseroan mendapatkan izin pengembangan seluas 2.600 hektare di Tangerang.
Lahan tersebut menjadi lokasi pengembangan kawasan terpadu atau kota mandiri perseroan yang kedua, yakni Suvarna Sutera. Saat ini Suvarna Sutera telah mengembangkan enam cluster hunian.
Secara total, Alam Sutera memiliki 37 cluster hunian dengan isi 150-300 unit rumah per cluster dan tiga apartemen. ASRI juga mengembangan central business district, gedung perkantoran, mal, properti komersial, dan beberapa cluster perumahan di luar kota mandirinya.
Wilayah operasional pengembangan ASRI berada di Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, dan Bali. Dalam menjalankan bisnis propertinya, perseroan didukung oleh 12 entitas anak dengan kepemilikan langsung.
Lalu saham ASRI milik siapa sekarang? Mengutip data Bursa Efek Indonesia, berikut ini adalah informasi kepemilikan saham di PT Alam Sutera Realty Tbk.
Saham ASRI Milik Siapa? Informasi Kepemilikan Sahamnya
Sesuai laporan bulanan registrasi pemegang efek yang dilaporkan ke Bursa Efek Indonesia, per 31 Desember 2025 ada empat pihak tercatat sebagai pengendali saham ASRI, antara lain:
PT Tangerang Fajar Industria 2,07 miliar saham/10,54 persen
PT Manunggal Prime Development 4,59 miliar saham/23,39 persen
PT Argo Manunggal Land Development 129 juta saham/0,66 persen
Kemudian pemegang saham mayoritas lainnya adalah Maybank Sekuritas Indonesia dengan kepemilikan sebanyak 1,23 miliar saham, atau setara dengan 6,29 persen dari total saham terdaftar.
Adapun masyarakat memiliki saham ASRI sebanyak 8,63 miliar saham, atau setara dengan 43,93 persen dari total saham terdaftar. Kemudian penerima manfaata akhir dari kepemilikan saham ASRI, atau pemilik perusahaan, adalah The Ning King dan Keluarga.
Pada perdagangan Selasa 13 Januari 2026, ASRI diperdagangkan di kisaran Rp187 per saham, naik 5,65 persen dari pembukaan dan masuk dalam deretan saham top gainers harian. Dalam satu tahun terakhir, ASRI mencatatkan pertumbuhan harga sebesar 34,78 persen.
Itulah informasi singkat tentang saham ASRI milik siapa.
Program Spectacular Surprise 2 kategori Silver sejak 28 Oktober 2025 ini diperuntukkan bagi pelanggan yang melakukan pembelanjaan minimal senilai Rp2,4 juta. [300] url asal
PT Electronic City Indoendia selaku pelopor toko ritel modern elektronik, mengumumkan para pemenang program Spectacular Surprise 2 kategori Silver di toko Alam Sutera, Tangerang. Program yang telah berjalan sejak 28 Oktober 2025 ini diperuntukkan bagi pelanggan yang melakukan pembelanjaan minimal senilai Rp2,4 juta.
Melalui program ini, pelanggan akan bisa meraih produk elektronik berupa air fryer, kulkas 1 pintu, handphone, dan TV 32 inch sebanyak masing-masing 25 unit. Program Spectacular Surprise telah diselenggarakan untuk kedua kalinya, dan dipersembahkan khusus untuk member E-Cityzen untuk meningkatkan kenyamanan berbelanja di toko Electronic City.
Direktur Merchandising & Marketing PT Electronic City Indonesia Tbk, Michael Iskandar, menyampaikan bahwa program Spectacular Surprise merupakan wujud apresiasi kepada pelanggan, sekaligus upaya menebarkan semangat baru di awal 2026.
"Selamat kepada seluruh E-Cityzen beruntung yang telah membawa pulang hadiah spesial dari program Spectacular Surprise 2 Kategori Silver persembahan dari Electronic City. Nantikan Spectacular Surprise 2 Kategori Gold dengan hadiah utama mobil dan motor listrik di bulan Maret mendatang," kata Michael.
Acara pengundian Spectacular Surprise dimeriahkan rangkaian promo seperti tebus murah elektronik mulai dari harga Rp49 ribu, voucher diskon belanja Groceries City, diskon 10 persen Restaurant Shabu Kojo, Flash Sale produk elektronik mulai dari harga Rp100 ribu dan potongan langsung Rp100 ribu dari Bank BCA, dan masih banyak lagi.
Adapun para pelanggan dapat menonton acara pengundian secara langsung di toko Alam Sutera, atau lewat Instagram Live di akun resmi @ElectronicCityID mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Nantikan juga pengundian Spectacular Surprise 2 dengan hadiah uama berupa mobil dan motor listrik hingga paket wisata Nusantara ke Sumba, Flores, dan Bali, serta hadiah elektronik lainnya.
Electronic City menyatakan akan selalu memberikan pelayanan dan produk terbaik bag pelanggan, antara lain melalui program Spectacular Surprise sebagai salah satu upaya untuk terus memberikan penawaran terbaik dengan pelayanan premium dan jaminan #PastiOri dan #PastiPromo.
Terminal Blok M ramai penumpang saat tarif Transjakarta Rp1 berlaku pada Tahun Baru 2026, meningkatkan penggunaan transportasi publik di Jakarta. [288] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan penumpang di Terminal Blok M, Jakarta Selatan terpantau meningkat pada Kamis (1/1/2026) seiring penerapan tarif khusus Rp1 untuk layanan Transjakarta dalam rangka perayaan Tahun Baru 2026.
Kebijakan tersebut merupakan perpanjangan program tarif khusus yang diberlakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk moda transportasi publik, meliputi Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta hingga hari ini. Skema tarif ini dinilai mendorong masyarakat untuk memanfaatkan angkutan umum.
Berdasarkan pantauan Bisnis di Terminal Blok M, kawasan Kebayoran Baru, sekitar pukul 17.00 WIB menunjukkan aktivitas penumpang cukup padat. Salah satu rute yang mencatatkan kepadatan signifikan adalah layanan Blok M–Kota yang menjadi koridor utama Transjakarta.
Selain melayani rute dalam kota, Terminal Blok M juga menjadi titik transit bagi trayek Transjabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah penyangga. Di antaranya rute P11 Bogor–Blok M yang melayani kebutuhan mobilitas komuter lintas kota.
Konektivitas antardaerah lainnya disokong oleh rute S61 Alam Sutera–Blok M yang menghubungkan kawasan Tangerang, serta rute T31 PIK 2–Blok M yang melayani penumpang dari kawasan Pantai Indah Kapuk 2.
"Penumpang di rute dalam dan luar kota cukup ramai pada momen Tahun Baru ini, lebih ramai dari biasanya," ujar salah satu petugas Terminal Blok M, Kamis (1/1/2026).
Keberadaan trayek tersebut memperkuat posisi Terminal Blok M sebagai simpul transportasi penting di Jakarta Selatan.
Meski demikian, penerapan tarif Rp1 untuk Transjakarta tidak mencakup layanan Mikrotrans dan Royaltrans yang tetap dikenakan tarif normal. Adapun pengguna Kartu Layanan Gratis (KLG) sebagaimana diatur dalam Pergub DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2025 tetap memperoleh layanan tanpa biaya.
Program tarif khusus ini berlaku sejak 31 Desember 2025 pukul 00.00 WIB hingga 1 Januari 2026 pukul 23.59 WIB, dan diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap penggunaan transportasi publik di Jakarta.
Selama 4 dekade, lanskap properti Indonesia telah diukir oleh tangan-tangan dingin para begawan seperti Ciputra, Eka Tjipta Widjaja hingga tokoh lainnya. [2,468] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Selama 40 tahun atau 4 dekade belakangan, lanskap properti Indonesia telah diukir oleh tangan-tangan dingin para begawan yang tidak hanya membangun gedung, tetapi juga menciptakan kota dan peradaban baru.
Sejumlah nama taipan properti bermunculan, salah satunya, mendiang Ir. Ciputra yang merupakan pendirian Ciputra Group. Bahkan, sosoknya turut dijuluki sebagai "Bapak Properti Indonesia" berkat visinya dalam pengembangan kawasan terintegrasi.
Bersamaan dengannya, muncul kekuatan raksasa seperti Keluarga Widjaja dari Sinarmas Land yang memelopori proyek kota mandiri mega-skala, serta Mochtar Riady, konglomerat Lippo Group yang agresif merambah properti komersial dan residensial di berbagai penjuru negeri.
Bergeser sedikit ke wilayah Jawa Timur, muncul nama Alexander Tedja pendiri Pakuwon Group. Sosoknya dikenal sebagai "Raja Mal" dengan menguasai segmen ritel dan gaya hidup. Di mana, proyek pertamanya dalam pengembangan superblok ikonik yakni Tunjungan Plaza yang digarap pada 1986.
Dinamika pasar terus melahirkan pemain kunci baru, mulai dari Trihatma Kusuma Haliman dengan Agung Podomoro Land sukses menguasai pasar apartemen dan superblok di pusat kota, Soetjipto Nagaria (Summarecon), Harjanto Tirtohadiguno (Alam Sutera) hingga Sugianto Kusuma (Agung Sedayu).
Lebih dari sekadar pengembang raksasa, mereka berhasil menjadikan portofolio properti mereka sebagai aset bangsa bernilai triliunan rupiah yang terus membentuk wajah megapolitan Indonesia.
Berikut profil dan rekam jejak bisnis para tokoh besar properti nasional:
1. Ir. Ciputra (Ciputra Group)
Industri properti Indonesia tidak akan pernah sama tanpa sentuhan visioner dari Ir. Ciputra. Lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah pada 24 Agustus 1931, almarhum yang akrab disapa Pak Ci ini bukan sekadar insinyur arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), melainkan arsitek peradaban yang mengubah lahan kosong menjadi kota-kota terpadu yang hidup dan berkelanjutan.
Kiprah bisnis properti Ir. Ciputra dimulai sejak bangku kuliah di ITB pada 1957. Bersama dua rekan arsiteknya yakni Budi Brasali dan Ismail Sofyan, ia mendirikan biro konsultan arsitektur yang dikenal sebagai PT Daya Cipta. Namun, jiwa entrepreneur-nya tak puas hanya menunggu proyek.
Dirinya bersama temanya tersebut lantar mendirikan PT Pembangunan Jaya (Jaya Group) pada 1961. Titik ini menjadi langkah besar pertamanya, dimana dirinya bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemda DKI).
Seiring perkembangannya, Jaya Group sukses menggarap proyek-proyek monumental yang masih ikonik hingga kini, termasuk Taman Impian Jaya Ancol dan Proyek Senen, menjadikannya tokoh kunci dalam pembangunan ibu kota.
Tahun berganti, pada 1970 Ciputra berkolaborasi dengan tokoh-tokoh bisnis terkemuka lainnya (termasuk Sudono Salim dan Sudwikatmono). Grup ini melahirkan kawasan residensial premium seperti Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai (BSD).
Kemudian, barulah Ciputra Group didirikan secara resmi pada tahun 1981 sebagai perusahaan keluarga.
Chairman Ciputra Group, Ciputra menyampaikan paparan saat menerima kunjungan Tim Bisnis Indonesia, di kediamannya di Jakarta, Senin (14/8). Dalam kesempatan itu Ciputra menyampaikan paparan mengenai filosofi Ciputra Way./JIBI-Dwi Prasetya
Meski demikian, perjalanan bisnis Ciputra tidak selalu mulus. Ujian terberat datang menghantam pada Krisis Moneter (Krismon) 1997/1998. Kala itu, nilai tukar Rupiah terjun bebas, sementara sebagian besar utang proyek properti besar, termasuk yang berada di bawah Jaya Group dan Metropolitan Group, terdenominasi dalam dolar AS.
Utang yang membengkak hingga nyaris mencapai US$100 juta saat itu, membuat banyak unit usaha, termasuk Bank Ciputra, terpaksa ditutup. Pada saat yang bersamaan, Ciputra turut melepas portofolio saham di BSD.
Ir. Ciputra wafat pada 27 November 2019, di usia 88 tahun di Singapura. Saat ini, Grup Ciputra dikelola oleh generasi kedua, di mana putra bungsu Ir. Ciputra yakni Candra Ciputra kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Ciputra Development Tbk. (CTRA). Hingga, hingga Kuartal III/2025 CTRA memiliki total asset mencapai Rp46,19 triliun.
Eka Tjipta Widjaja adalah tokoh di balik lahirnya Sinar Mas Group. Dia dikenal sebagai salah satu pendiri konglomerasi terbesar di Indonesia yang memiliki portofolio sangat terdiversifikasi, mulai dari pulp and paper (APP), agribisnis dan makanan (Sinar Mas Agribusiness), jasa keuangan (Sinar Mas Financial Services), telekomunikasi, hingga properti di bawah bendera Sinar Mas Land.
Eka Tjipta Widjaja sendiri lahir di Quanzhou, Tiongkok pada 3 Oktober 1921. Eka Tjipa wafat di Jakarta pada 26 Januari 2019 atau pada usia 98 tahun.
Kisah Eka Tjipta Widjaja merupakan salah satu cerita sukses imigran yang inspiratif. Dia datang ke Indonesia yang saat itu masih dikenal sebagai Hindia Belanda, pada usia sembilan tahun.
Karier bisnisnya dimulai dari nol, sempat menjadi pedagang keliling di Makassar, menjual biskuit dan makanan kecil. Kegigihan dan semangat wirausahanya memungkinkannya mengumpulkan modal untuk kemudian merambah ke komoditas dan industri yang lebih besar.
Fondasi utama Sinar Mas dibangun melalui komoditas. Pada 1968, dia mengakuisisi perkebunan kelapa sawit dan pabrik minyak kelapa di Sulawesi.
Setelah itu, Eka berekspansi pesat ke sektor pulp and paper yang menjadi pilar pendapatan utama lainnya, yakni Asia Pulp and Paper (APP). Keberhasilan di sektor komoditas dan industri inilah yang memberikan modal besar untuk merambah sektor properti.
Berbeda dengan banyak pengembang lain, Sinar Mas Land dikenal dengan fokusnya pada pengembangan kawasan kota mandiri (township development) berskala sangat besar (mega-skala) dan terintegrasi.
Salah satu proyeknya ikonik besutan Sinar Mas Land yakni pengembangan Bumi Serpong Damai (BSD) City. Dimulai sejak 1989, proyek ini mengubah lahan luas di Tangerang Selatan menjadi sebuah kota mandiri yang lengkap dengan fasilitas residensial, komersial, pendidikan, dan teknologi.
Usai wafat pada 2019, Sinar Mas Group dikelola oleh anak-anak dan cucunya dalam struktur yang terpisah namun terkoordinasi di bawah nama besar Sinar Mas.
Sinar Mas Land sendiri melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) terus menjadi salah satu pengembang properti terbesar, fokus pada pengembangan lanjutan BSD City, ekspansi ke kawasan baru, dan proyek properti high-end di Jakarta.
Eka Tjipta Widjaja - Dokumentasi Sinar Mas
3. Mochtar Riady (Lippo Group)
Mochtar Riady merupakan salah satu arsitek utama di balik industri perbankan dan properti modern Indonesia yang dikenal luas sebagai pendiri Lippo Group.
Visi dan ambisinya yang besar telah membentuk gurita bisnis Lippo yang kini merambah sektor properti, keuangan, ritel, kesehatan, hingga pendidikan.
Pria kelahiran kelahiran Malang, 12 Mei 1929 ini memulai karir bisnisnya sebagai penjaga toko kecil di Jember dan penjual batik di masa muda. Mimpinya yang memang menjadi serang bankir sejak kecil membawanya mendapat julukan “The Magic Man of Bank Marketing”.
Mengutip laman resmi Lippo Group, Mochtar kemudian memulai peruntungannya di Jakarta pada 1954 untuk menjalani mimpi besarnya terjun di dunia perbankan. Tiga Dekade Kemudian di tahun 1980-an dirinya telah mengubah lanskap perbankan dan meletakkan fondasi penting bagi Panin Bank, Lippo Bank, dan BCA yang saat ini menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.
Sukses di Dunia perbankan, pada 1990 Mochtar Riady mulai merambah Bisnis realestate lewat pengembangan Lippo Karawaci. Proyek tersebut menjadi bukti visi besarnya dalam menciptakan kota mandiri (township) dengan fasilitas lengkap, termasuk perumahan, pusat bisnis, mal, dan rumah sakit (Siloam Hospitals).
Bisnis Lippo Group menghadapi ujian terberatnya saat Krisis Moneter 1997/1998 melanda Asia. Badai krisis menyebabkan rush besar-besaran terhadap Bank Lippo dan melumpuhkan sektor properti yang memiliki utang dolar besar.
Saat limbung, pemerintah menginjeksi modal kerja sekitar Rp7 triliun untuk menyehatkan Bank Lippo. Sebagai ganti, Mochtar harus melepas kepemilikan saham mayoritas di perusahaan kesayangannya itu. Sebanyak 59% saham Bank Lippo jatuh ke tangan pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Mochtar Riady saat ini tidak lagi mengurus bisnis secara operasional harian. Estafet kepemimpinan telah diserahkan kepada generasi kedua dan ketiga, dengan James Riady (anak) dan John Riady (cucu) sebagai figur utama yang memimpin gurita bisnis Lippo.
Mochtar Riady./JIBI-Endang Muchtar
4. Alexander Tedja (Pakuwon Group)
Alexander Tedja dikenal sebagai Raja Mal dari Surabaya, reputasi tersebut disematkan berkat keberhasilannya dalam memelopori dan mengembangkan konsep superblok yang merupakan area kawasan terpadu yang menggabungkan pusat perbelanjaan, hotel, kondominium, dan perkantoran sebagai model bisnis utama perusahaannya, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).
Menariknya, Alexander Tedja tidak memulai kariernya di bisnis properti. Dia mengawali kiprahnya sebagai pengusaha di sektor perfilman dan bioskop sejak tahun 1970-an. Rekam jejak awalnya mencakup pendirian beberapa perusahaan, seperti PT ISAE Film (1972) dan PT Menara Mitra Cinema Corp (1977), sebelum akhirnya beralih fokus bisnis.
Titik balik bisnisnya terjadi pada tahun 1982 ketika dia mulai merambah properti dengan mengakuisisi sebidang tanah di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. Di atas lahan ini, pada 20 September 1982, PT Pakuwon Jati didirikan.
Proyek properti pertamanya, Tunjungan Plaza I, diresmikan pada tahun 1986 dan tercatat sebagai pusat perbelanjaan modern pertama di Surabaya. Keberhasilan ini menjadi fondasi bagi proyek-proyek Tunjungan Plaza selanjutnya.
Langkah Alexander Tedja berikutnya adalah menjadi pelopor konsep superblok di Indonesia. Pengembangan Tunjungan City di Surabaya yang mengintegrasikan Tunjungan Plaza I hingga IV, Sheraton Surabaya Hotel & Tower, Menara Mandiri, dan Kondominium Regensi, menegaskan visi Pakuwon sebagai pengembang properti terpadu.
Dalam rangka mendorong ekspansi bisnis perusahaan, Pakuwon Jati mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Oktober 1989. Keputusan tersebut menjadikan PWON salah satu perusahaan properti pertama yang melantai di bursa.
Seperti konglomerasi properti lainnya, Pakuwon Jati turut dihantam oleh Krisis Moneter 1997/1998 yang menyebabkan utang luar negeri perusahaan membengkak dan menyebabkan kerugian pada 1998 hingga 2001.
Akan tetapi, melalui restrukturisasi dan kepercayaan yang kuat, perusahaan berhasil melewati periode sulit tersebut dengan membalikkan kondisi bottom line kembali parkir di zona hijau pada 2002.
Pada 2007, Tedja melebarkan sayapnya ke ibu kota Jakarta. Langkah awal yang agresif adalah mengakuisisi mayoritas saham pengembang superblok Gandaria City. Ekspansi ini kemudian diikuti dengan pengembangan proyek-proyek ikonik yang mendominasi pasar properti Jakarta, seperti Kota Kasablanka di kawasan Central Business District (CBD) Kuningan.
Adapun, hingga Kuartal III/2025 Pakuwon Jati tercatat memiliki total aset mencapai Rp36 triliun. Posisinya meningkat 2% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari posisinya sebelumnya Rp35,37 triliun.
5. Anton Haliman (Agung Podomoro Land)
Anton Haliman mrupakan figur fundamental yang mendirikan PT Agung Podomoro pada tahun 1969. Dirinya memiliki visi untuk menyediakan hunian dan kawasan bisnis di Jakarta.
Berbeda dengan fokus superblok yang dikembangkan saat ini, Agung Podomoro di bawah kepemimpinan Anton Haliman pada masa awal banyak menggarap proyek perumahan di kawasan-kawasan infill di Jakarta, bertujuan membantu penyediaan tempat tinggal bagi warga ibu kota yang terus bertambah.
Fokus utamanya adalah pada proyek perumahan dan ruko (rumah toko) yang terjangkau, menciptakan kantong-kantong pemukiman baru yang terorganisir di pinggiran Jakarta. Reputasi ini menjadi modal sosial yang penting bagi perusahaan di tahun-tahun berikutnya.
Tak jauh berbeda, di masa Orde Baru bisnis properti seringkali menghadapi tantangan regulasi dan birokrasi yang kompleks. Meskipun tidak ada catatan spesifik tentang krisis finansial besar yang menjatuhkan perusahaan pada era Anton Haliman, pertumbuhan bisnis properti selalu diwarnai oleh tantangan permodalan dan fluktuasi ekonomi mikro.
Tongkat kepemimpinan secara bertahap diserahkan kepada putranya, Trihatma Kusuma Haliman pada tahun 1980-an. Serah terima ini terjadi pada periode yang krusial, ketika Jakarta sedang mengalami ledakan pembangunan dan permintaan akan properti vertikal mulai meningkat.
Keputusan Anton Haliman untuk mempercayakan bisnis kepada Trihatma menandai dimulainya era baru, di mana Agung Podomoro beralih dari pengembang perumahan menjadi master developer yang fokus pada superblok dan mixed-use. Di bawah Kepemimpinan Trihatma Paula Agung Podomoro Land resmi melantai di bursa pada 2010.
Hingga Kuartal III/2025, Agung Podomoro Land (APLN) tercatat memiliki total aset mencapai Rp25,69 triliun.
The Ning King merupakan salah satu tokoh properti yang dikenal sukses dalam mengembangkan kawasna Alam Sutera di Tangerang.
Ning King lahir di Bandung, pada 1931. Konglomerat properti pemilik Alam Sutera ini wafat di Singapura, pada 2 November 2025 pada usia 94 tahun.
Latar belakang pendidikannya tak pernah dibuka ke muka publik, tapi satu hal yang pasti, The Ning King berhasil menjadi pebisnis yang sukses.
Dia memulai bisnisnya di usia yang sangat muda. Pada umur 18 tahun pada 1949 The Ning King memulai kiprah bisnisnya membagun Argo Manunggal Group untuk berdagang tekstil. Dia melanjutkan bisnis tekstil milik orang tuanya, PT Daya Manunggal Textile Mfg (Damatex).
Perjalanan membesarkan bisnisnya pun tidak terjadi dalam waktu singkat. Setelah berdagang tekstil, pada 1961, dia baru bisa memulai bisnis membuat pakaian, yang diresmikan sebagai badan usaha pada 1977 sebagai PT Argo Pantes Tbk. (ARGO), pabrik tekstil pertamanya di Salatiga, Jawa Tengah. Mulai 1961 juga, The Ning King memulai usaha peternakan unggas pertamanya, PT Peternakan Ayam Manggis Group di Sukabumi, Jawa Barat.
Di bawah kepemimpinan beliau dan keluarga, kelompok usaha ini berkembang dan berdiversifikasi ke bidang-bidang usaha baru di bidang pertanian seperti induk ternak, induk ternak akhir, ayam petelur komersial dan broiler, serta perkebunan.
Bisnis Ning King semakin berkembang dengan masuk ke industri metal, seperti besi dan baja galvanis dengan mendirikan PT Fumira pada 1970. Empat tahun berikutnya, anak perusahaan pabrik baja didirikan. Perusahaan ini beroperasi di industri peleburan dan penggilingan baja dan memiliki kapasitas produksi yang diperluas dengan beberapa merek ternama.
Pada 1977, PT Argo Pantes (PT AP) mulai meluas dan didirikan pertama kalinya di Jakarta. PT AP merupakan perusahaan tekstil yang mengoperasikan industri tekstil terpadu, meliputi pemintalan, pewarnaan benang, penenunan, penyempurnaan, dan pencetakan. Produk-produknya juga telah diekspor ke lebih dari 40 negara.
Pada 1989, gurita bisnis The Ning King melebar ke industri properti, dan mendirikan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BeFa) sebagai pengembang dan operator kawasan industri kelas dunia terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada 24 Agustus 1989, sebagai salah satu pengembang dan pengelola kawasan industri pertama di Indonesia.
Di tahun yang sama, 1989, sang konglomerat mendirikan PT Jakarta Cakratunggal Steel Mills, sebagai perusahaan milik dalam negeri yang didirikan pada tahun 1989.
Pada 1991, The Ning King mengantar perusahaan pertamanya, Argo Pantes mencatatkan sahamnya sebagai perusahaan terbuka dan melantai di Bursa Efek Jakarta.
Pengusaha Argo Manunggal,The Ning King (batik), dan pengusaha Johannes Archiadi (paling kiri) - Istimewa
Kiprahnya di dunia properti melejit setelah pada 1994, perseroan berhasil mendapatkan izin pembangunan besar di daerah Serpong, dan dimulailah pembangunan PT Alam Sutera.
Dalam waktu 13 tahun, pada 2007, Alam Sutera Reality telah berkembang menjadi kota baru, yang kemudian membawanya menjadi perusahaan terbuka dan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di bawah Alam Sutera, pada 2012 The Ning King juga memperluas portofolionya dengan PT Alam Sutera Tbk. (ASRI) mengakuisisi 90,3% saham PT Garuda Adhimatra Indonesia yang memegang hak atas tanah di Taman Garuda Wisnu Kencana di Bali.
Di tahun yang sama, BeFa memasuki bursa saham dan go public. Sahamnya kini diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BEST.
Kekayaan The Ning King Dilansir Forbes, The Ning King sempat masuk dalam 50 Orang Terkaya di RI pada tahun 2017 dengan kekayaan mencapai US$450 juta atau setara dengan Rp6 triliun (kurs Rp14.000). Salah satu penyumbang terbesar kekayaannya adalah bisnis propertinya.
Mengusung desain modern dan fungsi ruang yang adaptif, DOMAIN hadir untuk menjawab kebutuhan para pelaku usaha yang membutuhkan visibilitas, efisiensi, dan citra... | Halaman Lengkap [761] url asal
TANGERANG - Alam Sutera menutup penghujung tahun 2025 dengan membuat gebrakan baru melalui peluncuran DOMAIN, Business Suites pertama yang hadir di tengah kawasan strategis Downtown Alam Sutera. Mengusung desain modern dan fungsi ruang yang adaptif, DOMAIN hadir untuk menjawab kebutuhan para pelaku usaha yang membutuhkan visibilitas, efisiensi, dan citra bisnis berkelas.
Business Suites ini menawarkan konsep bangunan dengan dua pintu masuk (double frontage) yang mengarah ke sisi barat dan timur serta lokasi strategis tepat di pinggir Jalan Jalur Sutera Boulevard-salah satu koridor tersibuk di utara Alam Sutera dengan jumlah unit yang terbatas.
DOMAIN menjadi kesempatan istimewa bagi pelaku usaha yang ingin memiliki ruang bisnis premium di pusat aktivitas Alam Sutera. Berlokasi tepat di jantung Downtown Alam Sutera, DOMAIN berada dalam area dengan traffic bisnis yang berkembang pesat, serta ekosistem komersial yang terus bertumbuh.
Posisi ini memberikan nilai strategis yang sangat jarang dijumpai, sebuah kombinasi antara aksesibilitas optimal, exposure pasar yang kuat, dan reputasi lingkungan premium. Keunggulan lokasi ini ditopang oleh kemudahan aksesibilitas prima melalui akses tol Jakarta–Merak dan JORR 2, ditambah rencana Future MRT serta Future Fly Over dan dikelilingi oleh fasilitas komersial, bisnis dan edukasi kelas atas.
Dalam radius terdekat, terdapat pusat perbelanjaan dan gaya hidup terkemuka seperti Jakarta Premium Outlets, Mall @Alam Sutera, IKEA, Decathlon serta kawasan Central Living District – ESCALA. Berada di antara flagship store dan destinasi premium dari brand-brand besar tentunya akan menjadi nilai tambah sendiri bagi calon pemilik DOMAIN di mana ruang usahanya akan berdampingan dengan ikon-ikon besar dan ternama.
Lingkungan bisnis DOMAIN juga diperkuat dengan padatnya populasi warga Alam Sutera yang berasal dari enam gedung perkantoran di antaranya Synergy Building dan The Prominence Office Tower, tiga institusi pendidikan tingkat lanjut ternama seperti BINUS, Universitas Bunda Mulia, dan Swiss German University, sepuluh apartemen dan tiga puluh tujuh cluster yang tersebar di seluruh kawasan Alam Sutera.
Dari sisi visibilitas, DOMAIN menghadirkan exposure maksimal berkat posisinya yang sangat strategis. Berada di sebelah tol Jakarta - Merak sehingga terlihat jelas dari arah Jakarta maupun Merak. Sebuah keunggulan yang sangat jarang ditemukan pada proyek komersial sekelasnya.
“DOMAIN adalah interpretasi baru dari ruang komersial premium di Alam Sutera. Lebih dari sekadar tempat usaha, DOMAIN menghadirkan nilai strategis dan prestise bagi setiap pemiliknya," ujar Marketing Director Alam Sutera, Lilia Sukotjo.
"Berada di lokasi paling strategis di Downtown Alam Sutera, DOMAIN kami hadirkan sebagai peluang pertumbuhan bisnis jangka panjang yang sangat menjanjikan. Dengan jumlah unit yang sangat terbatas, kesempatan ini menjadi eksklusif bagi mereka yang ingin mengamankan ruang usaha prestisius,” sambungnya
Lebih dari sekedar business suites, DOMAIN hadirkan fasilitas terbaik di kelasnya. Sebagai ruang komersial empat lantai, DOMAIN dirancang untuk memberikan pengalaman bisnis yang terstruktur dan fleksibel.
Setiap lantai dapat difungsikan sebagai bagian dari perjalanan layanan, mulai dari welcoming area hingga ruang spesialis atau atau dapat disesuaikan untuk kebutuhan masing-masing tenant. Konsep four-stories journey ini memungkinkan pemilik membangun pengaturan ruang yang fleksibel dan nyaman.
Desainnya juga mendukung co-tenancy, dengan jalur masuk dan signage terpisah agar setiap tenant tetap tampil mandiri dan eksklusif, ditambah dengan fasilitas restroom dan private bathroom yang tersedia di setiap lantai menambah kenyamanan staf dan pengunjung dari setiap tenant bisnis.
Lantai dasar tampil sebagai ruang yang paling aktif, cocok untuk retail, showroom atau cafe. Diikuti lantai kedua dan ketiga yang ideal untuk studio, konsultan atau layanan professional, hingga lantai teratas yang menawarkan privasi lebih untuk premium clinic, treatment room atau kantor eksklusif.
Untuk memperkuat kenyamanan dan produktivitas, DOMAIN dibangun dengan desain arsitektur yang mengedepankan efisiensi ruang. High ceiling setinggi 4 meter di lantai dasar dan 3 meter di lantai lainnya memberikan kesan lapang dan memungkinkan integrasi interior yang variatif. Desain column-free memaksimalkan fleksibilitas penataan ruang tanpa hambatan struktur.
Setiap unit dilengkapi private lift berkapasitas sebelas orang, memudahkan pergerakan antar lantai dengan cepat dan nyaman. Terkait parkir dan mobilitas juga telah disiapkan secara apik di DOMAIN Business Suites. Konsep double frontage memungkinkan pengunjung masuk dari dua sisi bangunan.
Tersedia pula 119 slot parkir mobil dan lima puluh enam parkir motor menjadi lebih mudah dan praktis. Selain itu, nantinya akan tersedia fasilitas communal EV charging station sebagai bagian dari komitmen Alam Sutera untuk terus meningkatkan fasilitasnya sesuai gaya hidup masa kini.
Kualitas material juga menjadi fokus utama dalam pembangunan DOMAIN, mulai dari homogeneous tile premium, fasad panel modern, rangka aluminium powder coating, hingga sanitary sekelas TOTO. Seluruh elemen dipilih untuk menghadirkan daya tahan jangka panjang sekaligus tampilan bangunan yang elegan dan profesional.
Menambah nilai eksklusivitasnya, DOMAIN hanya tersedia dalam jumlah sangat terbatas hanya sepuluh unit, menjadikannya peluang yang jarang dan bernilai tinggi bagi para pelaku bisnis visioner.
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank INA Perdana Tbk (BINA) menjalin kerja sama dengan pengembang properti Alam Sutera Group.
Kerja sama ini memperluas akses pembiayaan Kredit Pemilikan Properti (KPP) yang kompetitif dan mudah dijangkau oleh masyarakat.
Kerja sama ini meliputi penyediaan fasilitas KPP Bank INA bagi para pembeli hunian yang dikembangkan oleh Alam Sutera Group.
Dok. Shutterstock Ilustrasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Ini termasuk beberapa proyek terbaru yakni Sutera Rasuna, Alam Sutera 2 di Tangerang, Sutera Nexen di Balaraja, Elevee Residences di kawasan Alam Sutera, serta proyek prestigious, The Gramercy.
“Sektor properti terus menunjukkan potensi pertumbuhan yang kuat, terutama di kawasan penyangga Jakarta. Melalui kerja sama ini, kami ingin menghadirkan solusi pembiayaan yang kompetitif, cepat, mudah dan berorientasi pada kebutuhan konsumen,” ujar Henry Koenaifi, Direktur Utama Bank INA dalam siaran pers, Senin (3/11/2025).
Henry menyatakan, Bank INA kini aktif memperluas layanan pembiayaan properti melalui jaringan 50 kantor cabang di seluruh Indonesia dengan proses aplikasi KPP yang cepat dan transparan.
“Dengan suku bunga mulai dari 2,18 persen p.a fixed satu tahun, kami berharap kerja sama ini menjadi langkah konkret untuk mendukung masyarakat memiliki hunian impian, sekaligus memperkuat kontribusi Bank INA terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Henry.
Sementara itu, Alam Sutera Group menilai kolaborasi ini sebagai langkah sinergis antara sektor finansial dan pengembang untuk memberikan kemudahan bagi konsumen.
“Kami selalu berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, salah satunya melalui kemudahan dalam memiliki hunian impian untuk peningkatan kehidupan dan kesejahteraan," kata Lilia Sukotjo, Direktur Alam Sutera Group.
Menurut Lilia, kerja sama ini adalah dukungan yang dibutuhkan bagi para pembeli yang membutuhkan KPP.
"Kami melihat Bank INA memiliki komitmen dan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan pembiayaan pemilikan rumah serta berharap kolaborasi ini dapat membantu mewujudkan konsumen yang ingin memiliki hunian impian Alam Sutera,” imbuhnya.
Kerja sama ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor properti nasional dengan memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat.
Ini juga sekaligus memperkuat posisi Bank INA sebagai mitra keuangan strategis bagi pengembang besar di Indonesia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang