JAKARTA, KOMPAS.com — Data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pengeluaran per kapita yang disesuaikan menurut jenis kelamin pada 2025 menunjukkan adanya kesenjangan konsumsi antara laki-laki dan perempuan di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu, tingkat pengeluaran juga memperlihatkan konsentrasi yang kuat di kota-kota besar dan daerah dengan aktivitas ekonomi tinggi.
Secara umum, pengeluaran per kapita laki-laki tercatat lebih tinggi dibandingkan perempuan. Perbedaan ini tampak konsisten baik di tingkat nasional maupun provinsi, serta pada level kabupaten dan kota.
FREEPIK/JCOMP Ilustrasi pengeluaran, belanja.Kondisi tersebut mencerminkan dinamika struktur ekonomi daerah, tingkat urbanisasi, partisipasi tenaga kerja, serta distribusi pendapatan yang belum merata antarwilayah dan antarkelompok gender.
DKI Jakarta dan kawasan industri menonjol
Dikutip dari data BPS, Jumat (13/3/2026), di tingkat provinsi, DKI Jakarta mencatat pengeluaran per kapita tertinggi untuk kedua kelompok gender.
Pengeluaran laki-laki mencapai sekitar Rp 25.088, sementara perempuan sekitar Rp 18.788.
Tingginya angka ini sejalan dengan struktur ekonomi Jakarta yang didominasi sektor jasa, perdagangan, keuangan, serta aktivitas ekonomi formal dengan tingkat pendapatan relatif tinggi.
Selain Jakarta, provinsi dengan pengeluaran per kapita tinggi antara lain Kepulauan Riau dan Kalimantan Timur. Wilayah Kepulauan Riau mencatat pengeluaran laki-laki sekitar Rp 21.996 dan perempuan Rp 13.879.
Sementara di Kalimantan Timur, pengeluaran laki-laki sekitar Rp 21.218 dan perempuan Rp 8.623.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Kerumunan pembeli menyemut di area pakaian wanita, menunjukkan fenomena thrifting tetap menjadi primadona belanja menjelang hari raya, Rabu (11/3/2026).Karakteristik wilayah sebagai pusat industri, perdagangan internasional, dan sektor energi turut mendorong tingkat konsumsi masyarakat.
Di Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta, pengeluaran per kapita perempuan juga tergolong tinggi dibandingkan banyak daerah lain. Bali mencatat pengeluaran perempuan sekitar Rp 14.619, sedangkan DI Yogyakarta sekitar Rp 14.201.
Sektor pariwisata, pendidikan, dan ekonomi kreatif berperan dalam menopang daya beli masyarakat di kedua wilayah tersebut.
Kawasan Timur masih rendah
Sebaliknya, sejumlah provinsi di kawasan timur Indonesia mencatat pengeluaran per kapita yang relatif rendah. Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan pengeluaran laki-laki terendah sekitar Rp 7.909 dan perempuan sekitar Rp 5.099.
Provinsi lain dengan pengeluaran perempuan terendah adalah Papua Tengah, yakni sekitar Rp 4.673. Rendahnya angka ini berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur ekonomi, akses pasar, serta peluang kerja formal.
Di Nusa Tenggara Timur, pengeluaran laki-laki tercatat sekitar Rp 11.927 dan perempuan Rp 8.100. Wilayah ini masih menghadapi tantangan produktivitas ekonomi dan kerentanan terhadap guncangan harga pangan maupun faktor iklim.
Perbedaan antarwilayah tersebut menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh tingkat pembangunan ekonomi daerah.
Kota-kota besar mendominasi konsumsi
Jika dilihat pada level kabupaten dan kota, wilayah perkotaan dengan aktivitas ekonomi tinggi mendominasi daftar daerah dengan pengeluaran per kapita tertinggi.
Kota Jakarta Selatan mencatat pengeluaran laki-laki tertinggi secara nasional, yakni sekitar Rp 30.307, sedangkan perempuan mencapai Rp 25.500. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan bisnis, pusat perkantoran, serta permukiman kelas menengah dan atas.
KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pengeluaran per kapita yang disesuaikan menurut jenis kelamin pada 2025 menunjukkan adanya
kesenjangan konsumsi antara laki-laki dan perempuan di hampir seluru
Kota Jakarta Utara mencatat pengeluaran laki-laki sekitar Rp 28.946 dan perempuan Rp 20.028. Aktivitas logistik dan industri di kawasan pelabuhan turut menopang tingkat konsumsi.
Di luar Pulau Jawa, Kota Bontang di Kalimantan Timur menunjukkan pengeluaran laki-laki tinggi sekitar Rp 28.812, meski pengeluaran perempuan lebih rendah yakni Rp 10.971.
Struktur ekonomi berbasis industri energi dan petrokimia memengaruhi dinamika konsumsi di wilayah tersebut.
Kota Batam juga mencatat pengeluaran tinggi, dengan laki-laki sekitar Rp 28.679 dan perempuan Rp 19.147. Status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan industri ekspor menjadi faktor pendorong utama.
15 daerah dengan pengeluaran per kapita tertinggi 2025
Berikut 15 daerah dengan pengeluaran per kapita laki-laki tertinggi:
1. Kota Jakarta Selatan: laki-laki Rp 30.307, perempuan Rp 25.500
2. Kota Jakarta Utara: laki-laki Rp 28.946, perempuan Rp 20.028
3. Kota Bontang: laki-laki Rp 28.812, perempuan Rp 10.971
4. Kota Batam: laki-laki Rp 28.679, perempuan Rp 19.147
5. Kota Jakarta Barat: laki-laki Rp 26.689, perempuan Rp 21.572
6. Kota Balikpapan: laki-laki Rp 26.449, perempuan Rp 12.968
7. Kota Bandung: laki-laki Rp 25.546, perempuan Rp 18.100
8. Kota Surabaya: laki-laki Rp 25.316, perempuan Rp 18.541
9. Kota Madiun: laki-laki Rp 25.241, perempuan Rp 17.378
10. Provinsi DKI Jakarta: laki-laki Rp 25.088, perempuan Rp 18.788
11. Kota Jakarta Timur: laki-laki Rp 24.837, perempuan Rp 19.357
12. Kota Depok: laki-laki Rp 24.626, perempuan Rp 15.854
13. Kota Tangerang Selatan: laki-laki Rp 24.285, perempuan Rp 16.315
14. Kota Medan: laki-laki Rp 24.201, perempuan Rp 15.339
15. Kota Bekasi: laki-laki Rp 23.919, perempuan Rp 15.767
Sebagian besar daerah dalam daftar ini merupakan kota metropolitan atau kawasan industri dengan tingkat urbanisasi tinggi dan konektivitas ekonomi kuat.
PEXELS/ Marianne Tang Ilustrasi belanja di supermarket. Promo JSM Superindo 27 Februari-1 Maret 2026. Promo JSM Superindo terbaru 2026.Disparitas gender konsisten di hampir semua wilayah
Data pengeluaran per kapita 2025 yang dirilis BPS menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan terjadi hampir di semua daerah, termasuk wilayah dengan tingkat konsumsi tinggi.
Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi angkatan kerja.
Menurut laporan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki mencapai 84,40 persen, sementara perempuan mencapai 56,63 persen.
Selain itu, struktur pekerjaan turut berperan. Laki-laki lebih banyak bekerja di sektor formal dengan tingkat upah relatif tinggi seperti industri pengolahan, konstruksi, transportasi, dan pertambangan.
Sebaliknya, perempuan lebih banyak berada di sektor jasa berupah rendah atau sektor informal.
Dalam konteks rumah tangga, sebagian pengeluaran perempuan juga sering dialokasikan untuk kebutuhan bersama seperti pangan, pendidikan anak, dan kesehatan. Hal ini dapat membuat pengeluaran individual perempuan tampak lebih rendah dalam statistik.
Urbanisasi dan biaya hidup mendorong konsumsi
Urbanisasi menjadi faktor penting dalam menjelaskan tingginya pengeluaran di kota besar. Akses terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, serta pusat perdagangan membuat pola konsumsi masyarakat perkotaan lebih tinggi.
Selain itu, biaya hidup di kota besar cenderung lebih mahal. Harga perumahan, transportasi, serta layanan publik mendorong pengeluaran nominal yang lebih besar.
SHUTTERSTOCK/MINERVA STUDIO Ilustrasi belanja, daya beli masyarakat.Gaya hidup perkotaan yang lebih konsumtif juga meningkatkan belanja non-pangan seperti komunikasi, hiburan, rekreasi, dan layanan digital.
Sebaliknya, daerah berbasis pertanian atau wilayah terpencil menghadapi keterbatasan akses pasar dan kesempatan kerja formal. Kondisi ini berdampak pada rendahnya tingkat pengeluaran per kapita.
Inflasi dan tekanan harga pangan
Perkembangan inflasi dalam beberapa tahun terakhir turut membentuk pola konsumsi masyarakat.
Inflasi tahunan Indonesia pada 2024 berada di kisaran 2,6 persen, dengan komoditas pangan seperti beras, cabai, dan gula menjadi penyumbang utama.
Kenaikan harga pangan biasanya berdampak lebih besar pada kelompok berpendapatan rendah, termasuk perempuan di rumah tangga rentan. Hal ini karena porsi pengeluaran untuk makanan cenderung lebih besar dibandingkan kebutuhan non-pangan.
Di wilayah dengan pendapatan tinggi, dampak inflasi dapat lebih teredam melalui diversifikasi sumber penghasilan dan akses terhadap barang substitusi.
Ketimpangan antarwilayah masih lebar
Selain kesenjangan gender, data pengeluaran per kapita juga menunjukkan ketimpangan antarwilayah yang cukup signifikan.
Provinsi di Jawa, sebagian Sumatera, dan Kalimantan umumnya memiliki tingkat konsumsi lebih tinggi dibandingkan wilayah timur Indonesia. Perbedaan ini berkaitan dengan konsentrasi investasi, aktivitas industri, serta kualitas infrastruktur.
Wilayah dengan konektivitas logistik yang baik cenderung memiliki harga barang lebih stabil dan peluang kerja lebih luas.
UNSPLASH/VIKI MOHAMAD Ilustrasi belanja di supermarket atau pasar swalayan perusahaan ritel. Publik menerapkan No Buy 2025 untuk berhemat akibat PPN 12 persen. Bagaimana cara menerapkan No Buy 2025?Sebaliknya, daerah dengan tantangan geografis menghadapi biaya distribusi tinggi yang memengaruhi daya beli masyarakat.
Konsumsi rumah tangga tetap motor pertumbuhan ekonomi Indonesia
Dalam struktur perekonomian Indonesia, konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari separuh produk domestik bruto. Perubahan pola pengeluaran per kapita menjadi indikator penting dalam membaca dinamika pertumbuhan ekonomi.
Daerah dengan konsumsi tinggi biasanya memiliki aktivitas ekonomi yang lebih dinamis, sementara wilayah dengan konsumsi rendah mencerminkan keterbatasan peluang pendapatan.
Perbedaan pengeluaran per kapita menurut jenis kelamin dan wilayah pada 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi di Indonesia masih terkonsentrasi di kota besar dan kawasan industri, serta diwarnai kesenjangan gender yang relatif konsisten.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang