#30 tag 24jam
Laba Bank Jumbo BBCA, BMRI Cs Merekah, Intermediasi Belum Bergairah
Laba bank besar BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI naik di Q1 2026, namun intermediasi kredit belum optimal. Fokus bergeser ke pengelolaan aset dan efisiensi. [1,452] url asal
#bank-jumbo #laba-bank #intermediasi-bank #pertumbuhan-laba #bank-mandiri #bank-bri #bank-bca #bank-bni #pertumbuhan-kredit #pendapatan-bunga #biaya-dana #likuiditas-bank #aset-bank #fungsi-intermedias
(Bisnis.Com - Finansial) 01/05/26 10:00
v/208390/
Bisnis.com, JAKARTA — Laba bank-bank jumbo tumbuh solid pada kuartal I/2026, namun belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan fungsi intermediasi.
Empat bank kategori KBMI IV yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) kompak mencatatkan kenaikan laba secara tahunan (yoy), dengan pertumbuhan yang bervariasi.
Bank Mandiri membukukan laba Rp16,21 triliun atau tumbuh 11,6% yoy dari Rp14,53 triliun. BRI mencatat laba Rp15,63 triliun atau naik 13,8% yoy dari Rp13,74 triliun.
Sementara itu, BCA mencetak laba Rp14,69 triliun atau meningkat 5,2% yoy dari Rp14,14 triliun, dan BNI membukukan laba Rp5,68 triliun atau tumbuh 5,0% yoy dari Rp5,41 triliun.
Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit menunjukkan pola yang tidak seragam. BRI mencatat ekspansi kredit paling agresif dengan pertumbuhan sekitar 13,9% yoy menjadi Rp1.558 triliun dari Rp1.367 triliun. BNI bahkan mencatat lonjakan lebih tinggi sebesar 20,1% yoy menjadi Rp919 triliun dari Rp765 triliun.
Di sisi lain, BCA mencatat pertumbuhan kredit yang lebih moderat sebesar 5,6% yoy menjadi Rp993 triliun dari Rp941 triliun. Sementara itu, Bank Mandiri justru mengalami kontraksi kredit sekitar 5,9% yoy menjadi Rp1.568 triliun dari Rp1.666 triliun.
Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) juga mencerminkan dinamika tersebut. BRI mencatat kenaikan NII sebesar 11,9% yoy menjadi Rp40,15 triliun dari Rp35,88 triliun, sementara BNI naik 12,1% yoy menjadi Rp11,02 triliun dari Rp9,83 triliun.
Sebaliknya, NII BCA relatif stagnan di Rp21,15 triliun atau hanya naik sekitar 0,04% yoy, sedangkan Bank Mandiri mengalami penurunan sekitar 1,8% yoy menjadi Rp25,04 triliun dari Rp25,50 triliun.
Dari sisi biaya dana, tren efisiensi terlihat pada beberapa bank. Beban bunga BRI turun 9,3% yoy menjadi Rp12,68 triliun, dan Bank Mandiri turun 12,7% yoy menjadi Rp12,32 triliun.
Sebaliknya, BCA mencatat kenaikan beban bunga 7,3% yoy menjadi Rp3,48 triliun, dan BNI naik 15,9% yoy menjadi Rp7,97 triliun.
Likuiditas juga menunjukkan perbedaan tekanan. BCA mencatat dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,3% yoy menjadi Rp1.292 triliun dari Rp1.193 triliun, dengan CASA naik 11,2% yoy menjadi Rp1.089 triliun.
BRI menghimpun DPK Rp1.555 triliun atau tumbuh 9,4% yoy, dengan CASA meningkat 13,2% yoy menjadi Rp1.058 triliun.
BNI mencatat pertumbuhan paling tinggi, dengan DPK melonjak 34,3% yoy menjadi Rp1.100 triliun dari Rp819 triliun, dan CASA naik 26,6% yoy menjadi Rp731 triliun.
Sementara itu, Bank Mandiri mengalami tekanan likuiditas dengan DPK turun 1,1% yoy menjadi Rp1.730 triliun dan CASA turun 4,3% yoy menjadi Rp1.214 triliun.
Dari sisi aset, BRI mencatat pertumbuhan total aset sebesar 7,2% yoy menjadi Rp2.249 triliun, BCA naik 7,0% yoy menjadi Rp1.640 triliun, dan BNI mencatat lonjakan aset sebesar 24,4% yoy menjadi Rp1.426 triliun. Sebaliknya, total aset Bank Mandiri turun tipis sekitar 1,3% yoy menjadi Rp2.432 triliun.
Inefisiensi Fungsi Intermediasi
Melihat kinerja Bank KBMI IV, Direktur Riset Core Indonesia Etika Karyani Suwondo menilai bahwa pertumbuhan laba perbankan, khususnya bank-bank Himbara, perlu dicermati lebih dalam karena terjadi di tengah perlambatan penyaluran kredit.
“Kenaikan laba Himbara di tengah kredit yang melambat menandakan adanya gejala inefisiensi fungsi intermediasi. Laba tersebut kemungkinan besar didorong oleh penempatan dana di instrumen bebas risiko seperti SBN atau SRBI, bukan sektor riil. Tren ini semu; bank terlihat sehat secara profit, namun belum tentu menggerakkan ekonomi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026).
Dia menambahkan, kondisi tersebut juga memperlihatkan perbedaan pendekatan yang cukup kontras dengan BCA. Menurutnya, BCA cenderung lebih skeptis terhadap daya beli dan memilih menjaga likuiditas dibanding memaksakan ekspansi kredit.
“BCA lebih memilih memarkir likuiditas yang melimpah dibanding mendorong kredit ke sektor riil yang sedang berisiko. Sementara Himbara masih membawa mandat penyaluran kredit meski permintaan belum kuat,” jelasnya.
Etika juga menegaskan bahwa BCA sangat disiplin dalam menjaga kualitas aset, meskipun konsekuensinya adalah pertumbuhan laba yang lebih moderat.
“BCA sangat disiplin menjaga kualitas aset, meski itu berarti pertumbuhan laba harus melambat demi menghindari lonjakan NPL di masa depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia melihat adanya pergeseran strategi industri perbankan dari fungsi intermediasi kredit ke pengelolaan aset (asset management).
“Strategi bank saat ini bergeser dari lending menjadi asset management. Dalam kondisi risiko kredit meningkat, bank akan agresif menekan bunga simpanan untuk menjaga margin. Namun, hal ini berisiko membuat nasabah memindahkan dana ke instrumen investasi lain,” katanya.
Menurutnya, tantangan utama ke depan adalah bagaimana bank dapat kembali menyalurkan likuiditas yang menganggur ke sektor produktif sebelum beban bunga dana justru menekan profitabilitas.
“Strategi menjaga momentum sangat bergantung pada kemampuan bank menyalurkan likuiditas ke sektor produktif sebelum beban bunga DPK yang tinggi berbalik menekan laba operasional,” tuturnya.

Margin Tertekan, Pertumbuhan Berpotensi Moderat
Di sisi lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai keberlanjutan pertumbuhan laba bank-bank Himbara masih akan berlanjut, namun dengan kecenderungan melambat.
“Penopangnya masih ada, terutama dari kredit yang mulai pulih dan likuiditas domestik, termasuk penempatan dana pemerintah di perbankan. Namun tekanan juga meningkat dari cost of fund, kompetisi DPK, serta yield SBN yang masih tinggi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026).
Dia menjelaskan, kondisi tersebut diperparah oleh indikator ekonomi riil yang mulai melemah, seperti PMI yang turun mendekati batas ekspansi serta penurunan indeks menabung masyarakat.
“Artinya ruang ekspansi margin semakin sempit dan pertumbuhan laba ke depan berpotensi lebih moderat,” jelasnya.
Rizal juga menilai kinerja bank KBMI IV secara keseluruhan masih solid, tetapi tidak merata. Bank Mandiri dan BRI dinilai unggul karena ekspansi kredit yang agresif serta faktor basis kinerja yang lebih rendah sebelumnya.
Sementara BNI masih berada dalam fase konsolidasi kualitas kredit, dan BCA mencatat pertumbuhan lebih moderat karena strategi konservatif.
“BCA bukan melemah, tetapi memilih menjaga stabilitas dengan likuiditas kuat, CASA tinggi, dan risk appetite yang lebih rendah,” ujarnya.
Menurutnya, strategi perbankan ke depan akan semakin selektif di tengah tekanan likuiditas dan biaya dana. Bank dengan pertumbuhan tinggi berpotensi menghadapi kenaikan biaya kredit jika ekspansi tidak terkendali.
“Ke depan, fokus akan bergeser ke efisiensi, optimalisasi CASA, serta diversifikasi fee-based income. Dalam kondisi seperti ini, bank yang mampu menjaga kualitas aset dan margin, bukan sekadar volume kredit, akan lebih sustain,” katanya.
Program Pemerintah
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, melihat kinerja bank-bank besar, khususnya Himbara, masih menunjukkan daya tahan yang kuat dan bahkan relatif lebih unggul dari sisi pertumbuhan dibandingkan BCA.
Menurutnya, pertumbuhan laba dua digit pada Bank Mandiri dan BRI mencerminkan kuatnya dukungan faktor fundamental, terutama sinergi dengan program pemerintah yang bersifat strategis.
Bank-bank Himbara dinilai menjadi motor utama dalam penyaluran kredit ke sektor prioritas, termasuk pembiayaan infrastruktur dan pengembangan sektor produktif.
Selain itu, penguatan ekosistem digital melalui berbagai layanan transaksi juga dinilai turut menopang pertumbuhan dana murah dan aktivitas bisnis perbankan.
Di sisi lain, transmisi penurunan suku bunga acuan sepanjang 2025 membantu menjaga biaya dana tetap terkendali, sehingga margin bunga tetap terjaga.
“Kinerja bank Himbara relatif lebih baik karena ditopang sinergi dengan program pemerintah, efisiensi biaya dana, serta ekspansi kredit ke sektor produktif dan UMKM,” ujarnya.
Namun demikian, dia mengingatkan bahwa tantangan tetap membayangi, terutama dari faktor eksternal seperti pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya risiko geopolitik global yang dapat berdampak pada profil risiko perbankan.
Lebih lanjut, dia menilai perbedaan kinerja dengan BCA juga dipengaruhi oleh strategi yang lebih konservatif serta efek basis tinggi (high base effect) dari kinerja sebelumnya, sehingga pertumbuhan laba BCA terlihat lebih moderat.
Nafan menyebut ke depan bahwa masing-masing bank dinilai perlu menjaga momentum dengan mengoptimalkan penghimpunan dana murah (CASA) serta tetap selektif dalam penyaluran kredit.
Bank Himbara diperkirakan akan tetap fokus pada sektor produktif dan UMKM, sementara BCA cenderung menggarap segmen korporasi berkualitas tinggi (blue chip) dengan pendekatan yang lebih berhati-hati, tapi tidak menutup mata tetap menyelami sektor UMKM.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Laba Bersih Bank Danamon Naik 35 Persen Jadi Rp 1,1 T di Kuartal 1 2026
PT Bank Danamon mencatat laba bersih Rp 1,1 T di Q1 2026, naik 35%, didorong ekspansi kredit, dana terjaga, kualitas aset membaik, dan transformasi digital. [529] url asal
#laba-danamon-q1-2026 #kredit-bank-danamon #kualitas-aset-bank #transformasi-digital-danamon
(Kompas.com - Money) 30/04/26 09:09
v/207236/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun sepanjang Kuartal I 2026.
Realisasi ini tumbuh 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama Danamon Nobuya Kawasaki mengatakan, pertumbuhan laba bersih tersebut mencerminkan kinerja keuangan yang solid di awal tahun, didorong oleh ekspansi kredit dan penghimpunan dana yang tetap terjaga, serta kualitas aset yang membaik.
"Danamon mengawali tahun 2026 dengan kinerja keuangan yang kuat, dengan mencatatkan pertumbuhan pada penyaluran kredit, penghimpunan dana, serta profitabilitas, serta tetap menjaga kualitas aset dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).
Secara operasional, peningkatan laba bersih ditopang oleh pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar 12 persen (yoy) menjadi Rp 2,6 triliun.
Selain itu, biaya kredit (cost of credit) juga membaik menjadi sebesar 13 persen yoy, sehingga mendorong laba operasional mencapai Rp 1,6 triliun pada periode ini.
Pada sisi penghimpunan dana, Danamon membukukan total rekening giro, rekening tabungan (current account and savings account atau CASA) dan deposito konsolidasian sebesar Rp 176,1 triliun, tumbuh 16 persen (yoy). Dari sisi intermediasi, total kredit dan trade finance Danamon tercatat sebesar Rp 216,2 triliun hingga akhir Maret 2026, tumbuh 9 persen (yoy).
Pertumbuhan ini didorong oleh seluruh lini bisnis, terutama segmen enterprise banking and financial institution yang tumbuh 11 persen, diikuti segmen UMKM tumbuh 9 persen, segmen konsumer tumbuh 7 persen, dan Adira Finance 5 persen.
Secara operasional, peningkatan laba bersih ditopang oleh pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar 12 persen (yoy) menjadi Rp 2,6 triliun.
Selain itu, biaya kredit (cost of credit) juga membaik 13 persen (yoy) sehingga mendorong laba operasional mencapai Rp 1,6 triliun.
Dari sisi intermediasi, total kredit dan trade finance Danamon tercatat sebesar Rp 216,2 triliun hingga akhir Maret 2026, tumbuh 9 persen (yoy). Dia mengungkapkan, pertumbuhan ini didorong oleh seluruh lini bisnis, terutama segmen enterprise banking and financial institution yang tumbuh 11 persen, diikuti SME Banking 9 persen, Consumer Banking 7 persen, dan Adira Finance 5 persen.
Di tengah pertumbuhan tersebut, kualitas aset tetap terjaga.
Rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 8,2 persen atau turun 2,4 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto juga menurun menjadi 1,6 persen, dengan rasio pencadangan (coverage ratio) meningkat menjadi 290,6 persen.
Kinerja positif ini turut didukung oleh aktivitas bisnis di berbagai ekosistem, termasuk otomotif yang mencatat pertumbuhan penyaluran pinjaman sinergi sebesar 36 persen yoy. Selain itu, transaksi digital melalui aplikasi D-Bank PRO dan Danamon Cash Connect juga terus meningkat, masing-masing dari sisi volume dan nilai transaksi.
Dia menuturkan, capaian kinerja Kuartal I 2026 yang positif ini menjadi fondasi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sepanjang tahun ini, seiring strategi perusahaan dalam memperkuat ekosistem bisnis dan transformasi digital.
"Dengan arahan strategis untuk tumbuh bersama sebagai satu grup finansial, Danamon berkomitmen tetap menjadi penyedia solusi finansial yang mendapatkan kepercayaan nasabah, serta terus dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangPerkuat Tata Kelola, Bank Sumsel Babel Lelang Aset di Tiga KPKNL
Bank Sumsel Babel lelang aset di tiga KPKNL untuk optimalkan aset dan dorong ekonomi daerah, dengan pelaksanaan di Pangkalpinang, Lahat, dan Palembang. [332] url asal
#bank-sumsel-babel #lelang-aset #kpknl #tata-kelola-aset #lelang-serentak #aset-produktif #perekonomian-daerah #pengelolaan-aset #good-corporate-governance #transparansi-aset #aset-bank #lelang-kpknl
(Bisnis.Com - Terbaru) 19/04/26 10:02
v/195801/
Bisnis.com, PALEMBANG— Bank Sumsel Babel kembali memperkuat kolaborasi strategis dengan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) melalui penyelenggaraan lelang serentak.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perseroan dalam menerapkan tata kelola aset yang sehat, transparan, dan profesional.
Direktur Keuangan Bank Sumsel Babel, Amrul Muslimin menyampaikan bahwa lelang serentak ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai guna aset sekaligus memperkuat kontribusi terhadap perekonomian daerah.
“Melalui lelang ini, kami ingin memastikan aset yang belum produktif dapat dimanfaatkan kembali secara optimal sehingga mampu memberikan nilai tambah, baik bagi perusahaan maupun masyarakat,” ujar Amrul, dikutip Minggu (19/4/2026).
Adapun pelaksanaan lelang di KPKNL Pangkalpinang dijadwalkan pada 19 Mei 2026, dengan dukungan penuh dari seluruh unit kerja Bank Sumsel Babel di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari agenda serupa yang juga akan digelar di KPKNL Lahat pada 21 Mei 2026 dan KPKNL Palembang pada 3 Juni 2026. Rangkaian tersebut mencerminkan konsistensi Bank dalam mengelola aset secara terbuka, akuntabel, serta berorientasi pada pemanfaatan yang optimal.
Amrul menegaskan bahwa kegiatan ini tidak semata berfokus pada penyelesaian kredit, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong perputaran ekonomi di daerah.
Dengan pengelolaan yang tepat, aset-aset tersebut diharapkan dapat kembali berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi, khususnya di wilayah Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung.
“Selain meningkatkan efisiensi pengelolaan aset, pelaksanaan lelang ini juga merupakan wujud penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) di lingkungan Bank Sumsel Babel,” imbuhnya.
Seluruh proses dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku, dengan pengawasan dari Divisi Manajemen Aset Khusus serta unit terkait lainnya guna memastikan transparansi dan akuntabilitas.
Sebagai bank pembangunan daerah, Lanjut Amrul, Bank Sumsel Babel terus berperan aktif dalam memperkuat sektor keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, perusahaan tidak hanya mengoptimalkan aset, tetapi juga membuka peluang baru bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Bank Sumsel Babel turut mengundang masyarakat serta pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam lelang tersebut.
“Selain menjadi sarana transparansi, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi publik untuk memperoleh aset dengan nilai kompetitif dan legalitas yang terjamin,” ujarnya.
Kinerja Bank Pelat Merah Diramal Tetap Solid pada Kuartal I/2026
Kinerja bank BUMN diprediksi solid di Q1 2026 dengan pertumbuhan kredit dan laba yang kuat, didukung oleh penurunan biaya dana dan ekspansi kredit produktif. [938] url asal
#bank-bumn #kinerja-bank-bumn #pertumbuhan-kredit #laba-bank-bumn #kualitas-aset-bank #bank-mandiri #bank-negara-indonesia #ojk-pertumbuhan-kredit #ekspansi-kredit #likuiditas-bank #risiko-global-bank
(Bisnis.Com - Finansial) 15/04/26 11:15
v/191806/
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja bank-bank BUMN diproyeksikan tetap solid pada tiga bulan pertama tahun ini, utamanya dari sisi pertumbuhan kredit, laba, dan kualitas aset yang tetap terjaga.
Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menyampaikan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) misalnya, masih mencatat pertumbuhan laba dan kredit yang kuat pada Januari–Februari 2026. Pada saat yang sama, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga menunjukkan ekspansi kredit yang agresif di awal tahun.
Di level industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat pertumbuhan kredit bank BUMN pada Februari 2026 sebagai yang tertinggi di kelompok perbankan, dengan kualitas kredit tetap sehat.
“Karena itu, proyeksinya sampai akhir 2026 menurut saya masih positif,” kata Arianto kepada Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Kendati masih positif, dia memperkirakan lajunya akan lebih selektif. Menurutnya, bank-bank BUMN tetap menjadi motor intermediasi hanya saja pertumbuhan ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga margin, likuiditas, dan kualitas kredit di tengah gejolak global.
Hal senada juga disampaikan oleh Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto. Dia menilai, hal ini merupakan kelanjutan momentum pemulihan yang sudah terlihat sejak akhir tahun lalu, didukung oleh pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) dan pemulihan aktivitas ekonomi domestik.
Berdasarkan data Januari–Februari 2026 sebagai proksi kuartal pertama, Myrdal mengungkapkan bahwa laba bersih bank BUMN besar mencatat pertumbuhan yang cukup menarik.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) misalnya naik 17,05% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp7,73 triliun, sementara BMRI tumbuh 16,7% menjadi Rp8,9 triliun. Bahkan secara agregat, sepuluh bank besar termasuk BUMN mencatat kenaikan laba bersih sekitar 23,3% YoY.
Pertumbuhan kredit bank BUMN juga menjadi yang tertinggi di industri, mencapai 12,78% YoY per Februari 2026. Realisasi ini jauh di atas rata-rata industri yang hanya 9,37% YoY.
Menurut Myrdal, terdapat empat faktor yang sangat dominan mendorong kinerja bank-bank pelat merah pada kuartal I/2026. Pertama, penurunan tajam biaya dana akibat transmisi penurunan suku bunga BI Rate sepanjang 2025.
“Ini membuat beban bunga turun signifikan dan mendukung Net Interest Income tetap tumbuh meski Net Interest Margin (NIM) sedikit tertekan,” ujar Myrdal kepada Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Kedua, ekspansi kredit yang solid dan lebih difokuskan pada segmen produktif seperti UMKM, korporasi, serta wholesale banking.
Ketiga, penurunan biaya kredit (cost of credit) yang cukup besar sehingga laba bersih mendapat dorongan ekstra dari perbaikan kualitas aset. Keempat, peningkatan fee-based income dari digital banking dan transaksi konsumen yang mulai pulih.
Sementara itu, dia tidak menampik bahwa faktor yang sedikit menekan kinerja bank BUMN masih ada, tetapi relatif terkendali. Di antaranya adalah kenaikan provisi di satu-dua bank seperti BBNI, karena normalisasi di segmen tertentu, serta persaingan ketat di dana murah yang membuat NIM di beberapa bank berada di kisaran 3,7%–4,4%.
Di sisi lain, Arianto menilai bahwa risiko eksternal seperti volatilitas global dan nilai tukar dapat menahan appetite ekspansi. Di tengah tekanan-tekanan yang membayangi, dia memandang bahwa awal 2026 bukan fase krisis bagi bank BUMN.
“Ini adalah fase di mana bank yang paling efisien, paling kuat CASA-nya, dan paling disiplin mengelola risiko akan tampil paling unggul,” tegas Arianto.
Tetap Optimistis
Kendati belum merilis secara resmi kinerja keuangan kuartal I/2026, sejumlah bank pelat merah meyakini bahwa kinerja perseroan pada periode ini cukup positif, bahkan lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pada Februari 2026, kinerja PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menunjukkan pertumbuhan yang solid di berbagai indikator utama. Pembiayaan tumbuh 14,32% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp323 triliun.
Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI tumbuh 14,76% YoY menjadi Rp366 triliun. Dari sisi profitabilitas, perseroan turut membukukan laba sebesar Rp1,36 triliun, tumbuh sekitar 17% YoY, melanjutkan tren pertumbuhan berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami berharap tren kinerja Perseroan akan terus solid dan positif pada tahun ini,” kata Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo kepada Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Anggoro tidak memungkiri bahwa tantangan yang dipicu oleh kondisi geopolitik global kemungkinan memengaruhi perilaku masyarakat untuk lebih selektif dan berhati-hati.
Namun, BSI tetap optimistis bahwa stimulus dan kebijakan yang diberikan Pemerintah mampu mendorong likuiditas bank, akselerasi pertumbuhan ekonomi di sektor riil. Dia mengharapkan, rangkaian kebijakan itu mampu mendorong peningkatan daya beli masyarakat dan perputaran ekonomi menjadi optimal.
Senada, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) Nixon L.P. Napitupulu mengharapkan kinerja perseroan pada awal 2026 lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sebagai informasi, BTN akan merilis kinerja keuangan kuartal I/2026 pada 15 April 2026.
“Semoga lebih baik, harapannya lebih baik,” kata Nixon saat ditemui di Bekasi, Jawa Barat, Senin (13/4/2026).
Sedikit berbeda dengan BSI dan BTN, PT Bank Syariah Nasional memberi sinyal bahwa kinerja perseroan pada tiga bulan pertama 2026 ditutup dengan capaian positif.
Wakil Direktur Utama BSN Arga M. Nugraha mengatakan, berdasarkan laporan keuangan unaudited, kinerja keuangan ditutup dengan angka yang baik.
“Paling tidak untuk angka yang unaudited ya. Jadi kami tutup dengan angka yang Alhamdulillah baik,” ungkap Arga, Senin (13/4/2026).
Kinerja yang positif itu salah satunya terlihat dari sisi aset perseroan. Dia mengungkapkan, aset BSN mencapai Rp76 triliun hingga kuartal I/2026. Sebagai perbandingan, sebelum resmi berdiri sebagai bank hasil spin-off pada akhir 2025, total aset Unit Usaha Syariah (UUS) BTN mencapai Rp68,36 triliun pada kuartal III/2025.
Meski belum dapat merinci lebih jauh lantaran saat ini laporan kinerja kuartal I/2026 masih dalam proses audit, Arga mengungkapkan bahwa baik dari sisi pertumbuhan maupun kualitas, kinerja perseroan masih cukup baik untuk mendukung proses bisnis keseluruhan BTN, selaku induk BSN.
“Perusahaan masih dalam proses angka audit ya. Namun dari pertumbuhan, dari kualitas, mungkin sekedar sneak preview, saya yakin angka-angka masih baik,” pungkasnya.
Aset Bank Sampoerna pada 2025 capai Rp18,2 triliun, tumbuh 2,69 persen
PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) mencatat total aset sepanjang tahun 2025 mencapai Rp18,2 triliun atau tumbuh sebesar 2,69 persen (year on year/yoy) ... [592] url asal
#bank-sampoerna #kinerja-bank-sampoerna #aset-bank-sampoerna #kredit-umkm #umkm
komposisi penyaluran kredit UMKM mencapai 57,16 persen dari total kredit yang disalurkan per Desember 2025
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) mencatat total aset sepanjang tahun 2025 mencapai Rp18,2 triliun atau tumbuh sebesar 2,69 persen (year on year/yoy) dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini diiringi dengan penguatan di sisi permodalan dengan capital adequacy ratio (CAR) berada di level 29,72 persen. Menurut perseroan, hal ini mencerminkan kesiapan modal untuk pertumbuhan secara berkelanjutan.
Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna Henky Suryaputra dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa perseroan berkomitmen untuk terus memberikan dukungan, baik melalui pembiayaan maupun pendampingan, serta berkolaborasi dengan mitra-mitra strategis guna mendorong pertumbuhan UMKM yang berkelanjutan.
“Komitmen ini tercermin dari komposisi penyaluran kredit UMKM yang mencapai 57,16 persen dari total kredit yang disalurkan per Desember 2025,” kata Henky.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa UMKM mengemban peran strategis dalam keseluruhan ekonomi nasional. Apabila terjadi perlambatan ekonomi yang menggerus pelaku UMKM, dampaknya akan terasa secara menyeluruh.
Oleh karena itu, ujar Henky, Bank Sampoerna terus berupaya untuk memberikan dukungan melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan pada sektor UMKM.
“Situasi ini tentu tidak mudah, terutama di tengah kondisi global dan domestik yang masih dipenuhi tantangan serta perlambatan permintaan di dalam negeri yang tercermin dari moderasi konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan kredit yang lebih terbatas, khususnya pada sektor UMKM,” kata dia.
Perseroan menyampaikan, pihaknya senantiasa menitikberatkan penyaluran kredit yang berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Pada akhir tahun 2025, rasio non-performing loan (NPL) gross dan NPL net Bank Sampoerna masing-masing sebesar 3,79 persen dan 2,28 persen, lebih baik dari posisi akhir 2024.
Demi menyokong penyaluran kredit UMKM, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) naik menjadi Rp13,44 triliun, dengan komposisi dana murah (CASA) mencapai 22,73 persen dibandingkan dengan akhir 2024 yang sebesar 16,12 persen.
Menurut perseroan, peningkatan tersebut berkontribusi untuk memperkuat komposisi rasio dana murah korporasi, yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan nasabah.
CEO Bank Sampoerna Ali Yong mengatakan bahwa adopsi teknologi dalam sistem perbankan menjadi hal yang esensial.
Pihaknya mendukung penguatan digitalisasi sistem korporasi dengan menyediakan infrastruktur yang andal berbasis Bank as a Service (BaaS).
“Dalam menjangkau nasabah dan pelaku UMKM secara lebih luas, kami menyadari tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu, kami terus membuka peluang kolaborasi guna memberikan nilai tambah bagi nasabah hingga ke pelosok negeri,” kata Ali.
Melalui layanan BaaS, Ali mengatakan bahwa saat ini sudah lebih dari 50 perusahaan fintech, multifinance, koperasi, dan institusi keuangan lainnya yang terlibat untuk menjembatani nasabah masuk dalam ekosistem keuangan digital.
Berkat layanan BaaS, aktivitas transaksi digital menunjukkan peningkatan yang signifikan di sepanjang 2025, tecermin dari volume transaksi yang tumbuh 21 persen yoy dari Rp144 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp174 triliun pada Desember 2025.
Sementara itu, frekuensi transaksi juga mengalami lonjakan lebih dari 1.000 persen dari 42 juta transaksi menjadi 643 juta transaksi.
Perseroan menjelaskan, infrastruktur tersebut memberikan peluang bagi para mitra untuk mengembangkan potensi bisnis sekaligus memperkuat ekosistem keuangan yang inklusif.
Selain memperkuat sistem internal, Bank Sampoerna juga secara konsisten menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan bertajuk SampoernaFest.
Dalam dua tahun penyelenggaraannya, acara ini telah memperkenalkan layanan digital Sampoerna Mobile Banking kepada ribuan nasabah baru dan melibatkan 79 mitra UMKM lokal dari berbagai sektor, mulai dari kuliner hingga lifestyle.
Melalui berbagai upaya ini, Ali menyampaikan bahwa Bank Sampoerna terus berkomitmen menyalurkan pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
“Selain itu, melalui kolaborasi dengan mitra strategis, kami berkomitmen untuk menjangkau lebih banyak nasabah dan pelaku UMKM, sekaligus memperkuat ekosistem keuangan berkelanjutan," tutup Ali.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Catat Kinerja Solid di 2025, Aset bank bjb Tembus Rp221,4 Triliun
Kinerja keuangan bank bjb 2025 menunjukkan ketahanan di tengah tantangan ekonomi. Total aset mencapai Rp221,4 triliun, dengan laba bersih Rp1,15 triliun. [399] url asal
#bank-bjb #aset-bank #kinerja-keuangan #laporan-keuangan-2025 #jawa-barat #sani-ikhsan-maulana #nunung-suhartini #hana-dartiwan #kgb-pisan #full-year-fy-2025 #otoritas-jasa-keuangan #p3k #bank-p
(CNN Indonesia - Ekonomi) 16/03/26 15:01
v/166174/
Kinerja keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang masih penuh tantangan.
Stabilitas sistem keuangan nasional hingga akhir 2025 dinilai tetap terjaga dan kondusif bagi sektor perbankan. Kondisi ini ditopang kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif, termasuk penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang membuka ruang pemulihan intermediasi perbankan.
Secara konsolidasi, total aset bank bjb tercatat mencapai Rp221,4 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp140,7 triliun. Dari total kredit tersebut, kontribusi perusahaan anak mencapai Rp28,8 triliun, sedangkan kredit bank only tercatat sebesar Rp111,9 triliun.
Paparan tersebut disampaikan dalam Earning Call Full Year (FY) 2025 bank bjb yang digelar pada Senin (16/3). Kegiatan itu dihadiri Direktur Keuangan bank bjb Hana Dartiwan, Direktur Korporasi dan UMKM Mulyana, Direktur Konsumer dan Ritel Nunung Suhartini, serta Deputy Corporate Secretary Sani Ikhsan Maulana.
Pada segmen bank only, kredit konsumer masih menjadi kontributor utama dengan outstanding mencapai Rp74,8 triliun. Kualitas aset pada segmen ini dinilai tetap terjaga dengan tingkat kredit bermasalah (NPL) yang rendah serta margin yang sehat.
Potensi pertumbuhan juga tetap terbuka seiring peningkatan jumlah pegawai P3K di Jawa Barat dan Banten yang mencapai sekitar 504 ribu orang pada Juni 2025, sehingga memperluas basis pasar payroll bank bjb.
Transformasi digital juga terus dipercepat melalui pengembangan platform KGB Pisan. Sejak memperoleh izin pengembangan layanan dari Otoritas Jasa Keuangan pada November 2025, platform ini mendukung pengajuan kredit baru secara end-to-end digital bagi nasabah payroll bank bjb.
Proses kredit yang sepenuhnya digital turut meningkatkan produktivitas dan skalabilitas bisnis konsumer.
Selain itu bank bjb juga tetap melakukan ekspansi secara terukur pada segmen korporasi dan komersial yang difokuskan pada proyek berbasis ekosistem daerah sehingga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada induk mencapai Rp1,15 triliun. Momentum perbaikan kinerja Triwulan IV juga berlanjut pada awal 2026 dan menjadi indikasi positif bagi pemulihan pertumbuhan laba ke depan.
Tak hanya itu bank bjb juga terus memperkuat sinergi bisnis dalam Kelompok Usaha Bank (KUB), kinerja anak perusahaan memberikan kontribusi aset sebesar Rp42,8 triliun atau sekitar 18 persen dari total aset konsolidasi Grup bjb.
Ke depan, bank bjb akan terus memperkuat sinergi bisnis dan efisiensi operasional melalui skema sharing fee serta kolaborasi produk guna meningkatkan profitabilitas dan daya saing grup secara berkelanjutan.
10 Bank Terbesar di Indonesia dari Sisi Aset: Mandiri Juara, BNI Melonjak
Berikut daftar 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan aset pada laporan keuangan 2025. [1,816] url asal
#bank-terbesar #aset-bank #bank-mandiri #bni-aset #bri-aset #bca-aset #bank-syariah #bank-tabungan-negara #cimb-niaga #ocbc-nisp #bank-danamon #permata-bank #pertumbuhan-aset #ojk-perbankan #kbmi-bank
(Bisnis.Com - Finansial) 03/03/26 08:30
v/152799/
Bisnis.com, JAKARTA — Sederet bank umum membukukan peningkatan aset sepanjang 2025. Lantas siapa saja yang masuk daftar 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan aset?
Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset perbankan per kuartal IV/2025 mencapai Rp13.646,41 triliun, meningkat 9,51% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan kuartal IV/2024 yang sebesar Rp12.460,95 triliun.
Adapun bank umum yang masuk dalam daftar ini merupakan penghuni Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 dan KBMI 4. Untuk diketahui, OJK mengelompokkan bank berdasarkan KBMI. Hal itu tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) No.12/POJK.03/2021 tentang Konsolidasi Bank Umum.
Perincian aturan KBMI yaitu KBMI 1 untuk bank dengan modal inti kurang dari Rp6 triliun, KBMI 2 untuk bank dengan modal inti Rp6 triliun—Rp14 triliun, KBMI 3 untuk bank dengan modal inti Rp14 triliun—Rp70 triliun, dan KBMI 4 untuk bank dengan modal inti lebih dari Rp70 triliun.
OJK mencatat hingga kuartal IV/2025, total aset KBMI 1 mengalami penurunan sebesar 9,55% YoY menjadi Rp1.309,08 triliun dibandingkan kuartal IV/2024 yang mencapai Rp1.447,34 triliun.
Penurunan aset juga terjadi pada KBMI 2 yang menyusut 4,41% YoY, dari Rp1.674,82 triliun pada kuartal IV/2024 menjadi Rp1.600,99 triliun pada kuartal IV/2025.
Sebaliknya, aset KBMI 3 dan KBMI 4 mencatatkan pertumbuhan pada kuartal IV/2025. Otoritas mengungkapkan, total aset KBMI 3 mencapai Rp3.725,44 triliun, meningkat 19,52% YoY dari kuartal IV/2024 sebesar Rp3.117,10 triliun. Aset KBMI 4 juga tercatat tumbuh 12,69% YoY dari kuartal IV/2024 sebesar Rp6.221,68 triliun menjadi Rp7.010,90 triliun pada kuartal IV/2025.

Karyawan melayani nasabah di kantor cabang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) di Jakarta, Selasa (22/7/2025). / Bisnis-Fanny Kusumawardhani
Dari sisi pemain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menempati posisi teratas dalam raihan aset tertinggi, dengan membukukan aset Rp2.829,94 triliun sepanjang 2025.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) memimpin di posisi kedua dengan total aset Rp2.135,37 triliun, diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan aset Rp1.586,82 triliun, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) sebesar Rp1.362,05 triliun, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) dengan total aset mencapai Rp527,79 triliun hingga akhir 2025.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menyusul dengan total aset Rp456,19 triliun, diikuti PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) sebesar Rp372,69 triliun, PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) Rp308,14 triliun, PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) Rp275,71 triliun pada 2025, dan PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Rp268,34 triliun
Apabila menilik dari sisi pertumbuhan, BNI mencatat pertumbuhan aset paling tinggi pada 2025 yakni sebesar 20,52% YoY dibanding 2024. Peringkat selanjutnya ditempati oleh Bank Mandiri yang tumbuh 16,59% YoY, diikuti BTN sebesar 12,39% YoY, BSI 11,64% YoY, dan Bank Danamon yang tumbuh 11,19% YoY.
OCBC NISP berada di urutan selanjutnya dengan pertumbuhan aset 9,66% YoY dibanding tahun sebelumnya, BCA tumbuh sebesar 9,49% YoY, aset BRI naik 7,19% YoY, Permata Bank sebesar 3,58% YoY, dan CIMB Niaga naik 3,46% YoY.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, aset BNI yang tumbuh melesat pada 2025 dibanding bank-bank lainnya dikarenakan ekspansi kredit yang lebih agresif terutama dari segmen produktif dan juga ditopang penguatan pendanaan.
Untuk tahun ini, dia melihat aset bank umum berpotensi tumbuh kendati cukup menantang jika melihat perkembangan situasi global yang dapat mendorong peningkatan harga minyak dan potensi inflasi yang kembali naik.
“Faktor pendorong pertumbuhan [aset bank umum] adalah segmen terkait pangan dan infrastruktur yang masih berpotensi tumbuh di tahun ini,” kata Trioksa kepada Bisnis, Senin (2/3/2026).
Berikut daftar 10 bank dengan aset terbesar di Indonesia:
Bank Mandiri (BMRI)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) berada di posisi puncak dalam raihan aset tertinggi, dengan membukukan aset Rp2.829,94 triliun sepanjang 2025. Realisasi itu meningkat 16,59% YoY dibandingkan Rp2.427,22 triliun pada 2024.
Peningkatan aset bank dengan logo pita emas itu didukung oleh penyaluran kredit yang hingga akhir 2025 mencapai Rp1.849,96 triliun, tumbuh 13,97% YoY dibandingkan tahun sebelumnya Rp1.623,21 triliun.
Dana pihak ketiga (DPK) perseroan juga mengalami pertumbuhan sebesar 23,95% YoY, dari 2024 sebesar Rp1.698,89 triliun menjadi Rp2.105,76 triliun hingga akhir 2025. Sepanjang 2025, bank dengan kode emiten BMRI itu meraup laba bersih konsolidasian sebesar Rp61,34 triliun, naik tipis 0,30% YoY dari perolehan 2024 sebesar Rp61,16 triliun.
BRI (BBRI)
Urutan selanjutnya ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan total aset mencapai Rp2.135,37 triliun, naik 7,19% YoY dibanding 2024 yang sebesar Rp1.992,18 triliun.
Sepanjang 2025, total penyaluran kredit bank spesialis wong cilik itu mencapai Rp1.460,72 triliun, tumbuh 12,51% YoY dari tahun sebelumnya Rp1.298,31 triliun. Terkait pendanaan, BRI membukukan DPK senilai Rp1.466,84 triliun alias naik 7,43% YoY dari 2024 yang sebesar Rp1.365,45 triliun.
Pada periode tersebut, BRI tercatat meraup laba bersih konsolidasian senilai Rp57,13 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan meraih laba bersih Rp60,30 triliun sehingga terjadi koreksi 5,26% YoY.
BCA (BBCA)
Posisi ketiga ditempati oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan perolehan aset sebesar Rp1.586,82 triliun hingga akhir 2025. Raihan itu meningkat 9,49% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp1.449,30 triliun.
Pada 2025, bank swasta terbesar di Indonesia ini membukukan laba bersih konsolidasian senilai Rp57,56 triliun. Raihan itu meningkat 4,94% YoY dibandingkan 2024 yang sebesar Rp54,85 triliun.
Dari sisi intermediasi, total kredit perseroan mencapai Rp979,69 triliun, meningkat 7,53% YoY dari realisasi 2024 yang sebesar Rp911,10 triliun. Pada saat yang sama, DPK BCA tumbuh 10,18% YoY dari Rp1.133,61 triliun pada 2024 menjadi Rp1.249,04 triliun.
BNI (BBNI)
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menduduki posisi keempat dengan total aset sebesar Rp1.362,05 triliun pada 2025. Capaian itu meningkat 20,52% YoY dibandingkan 2024 yang sebesar Rp1.130,12 triliun.
Aset bank yang tumbuh melesat pada 2025 didorong oleh pertumbuhan kredit perseroan sebesar 15,94% YoY menjadi Rp899,53 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp775,87 triliun.
DPK perseroan juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 29,21% YoY menjadi Rp1.040,83 triliun dari 2024 yang sebesar Rp805,51 triliun. Laba bersih konsolidasian tercatat mencapai Rp20,11 triliun, menyusut 7,19% YoY dibandingkan posisi 2024 yang sebesar Rp21,66 triliun.
BTN (BBTN)
Peringkat selanjutnya ditempati oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) dengan total aset mencapai Rp527,79 triliun hingga akhir 2025, meningkat 12,39% YoY dari 2024 sebesar Rp469,61 triliun.
BTN mencatatkan penyaluran kredit senilai Rp345,70 triliun sepanjang 2025, meningkat 10,07% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp314,08 triliun. Pada saat yang sama DPK perseroan tumbuh 12,77% YoY menjadi Rp430,39 triliun hingga akhir 2025.
Bank pelat merah itu juga mencatatkan pertumbuhan pada laba bersih konsolidasian yakni sebesar 16,42% YoY menjadi Rp3,50 triliun hingga akhir 2025. Tahun sebelumnya, BTN membukukan laba bersih senilai Rp3,00 triliun.
BSI (BRIS)
Urutan keenam ditempati oleh PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) dengan total aset pada 2025 sebesar Rp456,19 triliun, tumbuh 11,64% YoY dari 2024 yang senilai Rp408,61 triliun.
Pertumbuhan aset sepanjang 2025 itu didukung oleh penyaluran pembiayaan perseroan yang tumbuh 26,16% YoY dari Rp117,12 triliun pada 2024 menjadi Rp147,76 triliun.
Pada saat yang sama, DPK bank syariah terbesar di Indonesia itu mencapai Rp289,38 triliun, tumbuh 14,37% YoY dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp253,02 triliun. Sepanjang 2025, perseroan membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp7,56 triliun, meningkat 8,02% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp7,00 triliun.
CIMB Niaga (BNGA)
Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) dengan total aset sebesar Rp372,69 triliun sepanjang 2025, meningkat 3,46% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp360,22 triliun.
Laba bersih konsolidasian perseroan tumbuh tipis 0,53% YoY dari 2024 sebesar Rp6,89 triliun menjadi Rp6,93 triliun pada 2025. Dari sisi intermediasi, total kredit CIMB Niaga meningkat 8,87% YoY menjadi Rp182,58 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp167,71 triliun.
Pada saat yang sama, DPK CIMB Niaga meningkat 3,79% YoY dari 2024 sebesar Rp260,63 triliun menjadi sebesar Rp270,52 triliun hingga akhir 2025.
OCBC NISP (NISP)
PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) berada di urutan kedelapan dalam daftar ini dengan total aset mencapai Rp308,14 triliun sepanjang 2025. Perolehan aset tersebut meningkat 9,66% YoY dibandingkan 2024 yang sebesar Rp281,00 triliun.
Kinerja positif juga terlihat dari raihan laba bersih konsolidasian OCBC NISP yang tumbuh 3,92% YoY menjadi Rp5,05 triliun pada 2025. Pada tahun sebelumnya, perseroan meraup laba senilai Rp4,86 triliun.
Sepanjang 2025, kredit yang disalurkan bank dengan kode emiten NISP ini mencapai Rp167,21 triliun, naik 2,03% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp163,89 triliun. Pada saat yang sama, DPK perseroan tumbuh signifikan 18,25% YoY menjadi Rp243,51 triliun hingga akhir 2025.
Bank Danamon (BDMN)
PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) mencatatkan total aset senilai Rp275,71 triliun, menempatkannya sebagai bank dengan aset terbesar kesembilan dalam daftar ini. Total aset tersebut meningkat 11,19% YoY dibandingkan 2024 yang sebesar Rp247,96 triliun.
Salah satu pendorong pertumbuhan aset yakni penyaluran kredit yang tumbuh 10,21% YoY menjadi Rp159,28 triliun hingga akhir 2025. Pada tahun sebelumnya, total kredit Bank Danamon mencapai Rp144,53 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, BDMN membukukan pertumbuhan DPK sebesar 15,76% YoY menjadi Rp174,17 triliun. Sepanjang 2025, Bank Danamon meraup laba bersih konsolidasian senilai Rp4,19 triliun, naik 13,51% YoY dari tahun sebelumnya Rp3,69 triliun.
Permata Bank (BNLI)
PT Bank Permata Tbk. (BNLI) meraup total aset senilai Rp268,34 triliun hingga akhir 2025. Dengan total aset tersebut, Permata Bank berada di posisi kesepuluh dalam daftar ini. Raihan aset itu tumbuh 3,58% YoY dari tahun sebelumnya Rp259,06 triliun.
Sepanjang 2025, perseroan meraup laba bersih senilai Rp3,58 triliun, naik tipis 0,59% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp3,56 triliun. Dari sisi intermediasi, total kredit Permata Bank tumbuh 8,37% YoY menjadi Rp139,48 triliun hingga akhir 2025.
Pada saat yang sama, DPK Permata Bank mencapai Rp192,81 triliun, meningkat 3,93% YoY. Pada 2024, total DPK yang dihimpun perseroan sebesar Rp185,52 triliun.
Bank | Aset 2024 (Triliun) | Aset 2025 (Triliun) | % (YoY) |
|---|---|---|---|
Bank Mandiri | Rp2.427,22 | Rp2.829,94 | 16,59% |
BRI | Rp1.992,18 | Rp2.135,37 | 7,19% |
BCA | Rp1.449,30 | Rp1.586,82 | 9,49% |
BNI | Rp1.130,12 | Rp1.362,05 | 20,52% |
BTN | Rp469,61 | Rp527,79 | 12,39% |
BSI | Rp408,61 | Rp456,19 | 11,64% |
CIMB Niaga | Rp360,22 | Rp372,69 | 3,46% |
OCBC NISP | Rp281,00 | Rp308,14 | 9,66% |
Bank Danamon | Rp247,96 | Rp275,71 | 11,19% |
Permata Bank | Rp259,06 | Rp268,34 | 3,58% |
Aset Bank Jumbo Tembus Ribuan Triliun pada 2025, Mandiri (BMRI) Teratas
Pada 2025, Bank Mandiri memimpin dengan aset Rp2.829,9 triliun, diikuti BRI, BCA, dan BNI. Pertumbuhan aset didorong oleh strategi pembiayaan efektif. [972] url asal
#bank-jumbo #aset-bank #bank-mandiri #bank-terbesar #pertumbuhan-aset #laba-bank #kredit-bank #dana-pihak-ketiga #pendapatan-bunga #bank-bumn #aset-konsolidasi #bank-bri #bank-bca #bank-bni #pertumbuha
(Bisnis.Com - Finansial) 01/03/26 02:00
v/150680/
Bisnis.com, JAKARTA — Empat bank jumbo nasional kompak mencatatkan pertumbuhan total aset secara konsolidasi sepanjang 2025. Dari sisi ukuran neraca, persaingan aset PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) kian mengerucut, dengan salah satu bank BUMN masih memimpin sebagai pemilik aset terbesar.
Berdasarkan laporan posisi keuangan per 31 Desember 2025, total aset konsolidasi Bank Mandiri tercatat mencapai Rp2.829,9 triliun, tumbuh 16,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp2.427,2 triliun. Capaian tersebut menjadikan Bank Mandiri sebagai bank dengan aset terbesar di antara empat bank besar tersebut.
Adapun, BMRI membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp55,78 triliun.
Pada periode yang sama, BMRI membukukan kredit senilai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% YoY. Pada sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat senilai Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.
Realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, di saat pertumbuhan secara industri melambat.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan pertumbuhan yang merata tersebut mencerminkan efektivitas strategi penguatan ekosistem pembiayaan yang dijalankan perseroan.
"Kami terus mendorong pembiayaan yang selektif dan terukur di seluruh segmen, dengan fokus pada sektor produktif yang mendorong ekonomi kerakyatan dan perluasan lapangan kerja. Pendekatan ini memungkinkan Bank Mandiri menjaga momentum pertumbuhan kredit sekaligus memastikan kualitas aset tetap terjaga," ujar Riduan.
Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat senilai Rp106 triliun atau naik 4,38% YoY dengan pendapatan non-bunga senilai Rp48,5 triliun atau naik 14,5% YoY.
Di posisi berikutnya, BRI membukukan total aset konsolidasian sebesar Rp2.135,3 triliun pada akhir 2025, meningkat 7,1% dibandingkan Rp1.992,1 triliun pada tahun sebelumnya.
Sebagaimana diketahui BBRI membukukan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang terbit di Harian Bisnis Indonesia edisi Kamis (26/2/2026), laba tersebut berasal dari pendapatan bunga Rp207,78 triliun, meningkat 4,27% dibandingkan Rp199,27 triliun pada 2024. Sementara, pada tahun sebelumnya, laba bersih BRI mencapai Rp60,3 triliun.
Dari sisi beban bunga, tercatat senilai Rp57,28 triliun atau terdapat kenaikan sebesar 1,20% dari Rp56,61 triliun. Meski demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) senilai Rp150,50 triliun, naik 5,52% dari Rp142,65 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi kualitas aset, beban kerugian penurunan nilai (impairment) meningkat menjadi Rp46,09 triliun, naik 20,8% dibandingkan Rp38,14 triliun pada 2024.
Bank berkapitalisasi jumbo tersebut, tetap menjaga ekspansi fungsi intermediasi sepanjang 2025. Secara konsolidasian, kredit yang diberikan dan pembiayaan syariah tercatat Rp1.517,07 triliun, tumbuh 12,67% dibandingkan posisi 2024 sebesar Rp1.348,2 triliun.
Sementara itu, BCA mencatatkan total aset konsolidasi sebesar Rp1.586,8 triliun per akhir Desember 2025, tumbuh 9,4% secara tahunan dari Rp1.449,3 triliun pada akhir 2024. BBCA membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang 2025.
Selain itu, BCA secara konsolidasian mencatat pertumbuhan kredit 7,7% secara tahunan menjadi Rp993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025.
Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga. BCA juga menyampaikan giro dan CASA naik 13,1% yoy hingga mencapai Rp1.045 triliun.
Terakhir, BNI membukukan total aset konsolidasian sebesar Rp1.362 triliun hingga akhir 2025, meningkat 20,5% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp1.130,1 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, laba bersih BNI secara konsolidasi mencapai Rp20,11 triliun pada Desember 2025, menyusut 7,19% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp21,66 triliun.
Dikutip dari laporan kinerja perseroan yang dipublikasikan, bank dengan logo 46 itu membukukan pendapatan bunga sebesar Rp69,39 triliun, meningkat 4,22% YoY dari tahun sebelumnya Rp66,58 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga juga naik 11,33% YoY menjadi Rp29,06 triliun.
Dengan realisasi tersebut, pendapatan bunga bersih yang diperoleh BNI sepanjang 2025 mencapai Rp40,33 triliun, turun tipis 0,36% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp40,48 triliun.
Beban operasional lainnya tercatat mengalami peningkatan. BNI melaporkan, beban operasional perseroan mencapai Rp16,68 triliun, naik 13,68% YoY dibandingkan tahun lalu Rp14,67 triliun.
Salah satu komponen beban operasional nonbunga yang membengkak yaitu impairment yang naik signifikan 27,52% YoY, dari Rp7,78 triliun menjadi Rp9,92 triliun hingga akhir 2025.
Adapun laba operasional menyusut 8,19% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp26,57 triliun menjadi Rp24,39 triliun sepanjang 2025. Di sisi lain, laba non operasional BNI mencapai Rp1,83 miliar, setelah sebelumnya membukukan rugi sebesar Rp3,79 miliar.
Dari sisi intermediasi, bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibanding tahun lalu. Sepanjang 2024, BNI menyalurkan kredit senilai Rp775,87 triliun.
Kemudian dari sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp805,51 triliun. Pertumbuhan DPK pada periode tersebut utamanya ditopang oleh simpanan giro yang tumbuh 43,75% YoY menjadi Rp439,49 triliun dari sebelumnya Rp305,73 triliun.
Berikut Daftar Bank dengan Aset Terbesar Sepanjang 2025
1. Bank Mandiri dengan total aset Rp2.829,9 triliun
2. BRI dengan total aset Rp2.135,3 triliun
3. BCA dengan total aset Rp1.586,8 triliun
4. BNI dengan total aset Rp1.362 triliun
------------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Kredit Mulai Menggeliat, Bank Mandiri Catat Pertumbuhan 15,62 Persen di Awal Tahun
CASA atau dana murah terjaga di level 73 persen. [384] url asal
#bank-mandiri #kinerja-keuangan #kredit-umkm #pertumbuhan-ekonomi #aset-bank #pendanaan #laba-bersih #intermediasi #ekonomi-kerakyatan #fee-based-income
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Mandiri mencatatkan kinerja solid pada awal 2026 sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan laporan keuangan bulanan (bank only) Januari 2026, realisasi kredit perseroan tumbuh 15,62 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1.511,4 triliun.
Peningkatan penyaluran kredit tersebut turut mendorong pertumbuhan total aset menjadi Rp2.191,9 triliun atau naik 13,96 persen YoY, mencerminkan ekspansi bisnis yang tetap terjaga kualitasnya seiring penguatan fungsi intermediasi di awal tahun.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, pertumbuhan tersebut mempertegas komitmen perseroan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif, termasuk ekosistem UMKM dan pelaku usaha di berbagai daerah. Langkah ini sejalan dengan peran Bank Mandiri sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.
“Pertumbuhan ini menjadi wujud sinergi yang terintegrasi antara strategi bisnis, pengelolaan risiko, dan penguatan ekosistem. Kami memastikan akselerasi yang bertumbuh tetap berjalan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga memberikan nilai tambah bagi ekonomi kerakyatan,” ujar Novita dalam keterangan resminya, Senin (23/2).
Di samping itu, struktur pendanaan juga menunjukkan penguatan yang solid. Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bank only tercatat sebesar Rp1.635,5 triliun atau tumbuh 17,29 persen YoY, sejalan dengan strategi optimalisasi pendanaan dan penguatan basis nasabah.
Adapun, komposisi dana tersebut didominasi dana murah dengan rasio Current Account Saving Account (CASA) terjaga di level 73 persen, sehingga mendukung efisiensi biaya dana sekaligus memperkuat struktur likuiditas perseroan.
Dari sisi kinerja keuangan, laba bersih secara month to date (MTD) tumbuh positif double digit, didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) sebesar 10,2 persen YoY. Kinerja tersebut turut ditopang penurunan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) sebesar 27 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga posisi CoF pada Januari 2026 terjaga pada level 2,06 persen.
Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi mencatatkan pertumbuhan yang solid seiring meningkatnya aktivitas transaksi di berbagai lini bisnis. Fee Based Income (FBI) recurring Bank Mandiri tumbuh 16,1 persen secara YoY, memperkuat struktur pendapatan yang semakin berimbang dan berkelanjutan.
Pertumbuhan tersebut turut mencerminkan peningkatan produktivitas serta efektivitas pengelolaan biaya dalam mendorong kinerja keuangan yang semakin optimal, tercermin dari rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 37,75%, turun 3,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang masih berada di atas 40%.
Aset Bank BRI Melonjak Total jadi 2 Ribu Triliun Lebih
BRI mencatatkan aset secara keseluruhan mencapai Rp2.123 triliun atau naik 8,2 persen dibandingkan tahun 2024 yakni sekitar Rp1.962 triliun. [161] url asal
#bank-bri #aset-bank #hery-gunardi #hery-gunardi #forbes-global-2000-the-world-039-s-largest-companies-2025 #indonesia #melonjak #kelas #aset-bank-bri-melonjak-total #perubahan #dpk #the #person
(CNN Indonesia - Ekonomi) 15/02/26 18:39
v/137560/
PT Bank BRI (Persero) Tbk mencatatkan aset secara keseluruhan mencapai Rp2.123 triliun atau naik 8,2 persen dibandingkan tahun 2024 yakni sekitar Rp1.962 triliun.
Peningkatan nilai aset bank tersebut juga bersamaan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.478 triliun dan kredit sebesar Rp1.438 triliun.
Terkait dengan bisnis keseluruhan, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyatakan, BRI harus terus bertransformasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman.
"Brand idea kita adalah mendukung setiap ambisi nasabah di seluruh Indonesia, dan our brand personality itu sudah terpercaya namun progresif, ambisius namun penuh rasa hormat, aspiratif namun praktis, universal namun personal, dan terakhir adalah kelas dunia namun sangat Indonesia," katanya dalam keterangan resminya.
Tak hanya itu, sepanjang 2025, BRI meraih 163 pengakuan dari berbagai lembaga. Salah satu capaian utama adalah posisi ke-349 dari 2 ribu perusahaan publik terbesar dunia dalam Forbes Global 2000 - The World's Largest Companies 2025, sekaligus menjadi perusahaan publik Indonesia dengan peringkat tertinggi dalam daftar yang sama.
Tarik Ulur Bank KBMI 3 Naik Kelas ke KBMI 4
Sejumlah bank KBMI 3, seperti CIMB Niaga, BTN, dan BSI, berhati-hati naik ke KBMI 4, menimbang modal dan profitabilitas. OJK dorong penambahan bank KBMI 4. [939] url asal
#bank-kbmi-3 #kbmi-4 #ojk-dorongan #modal-inti-bank #cimb-niaga #btn-strategi #bsi-ambisi #bank-besar-indonesia #pertumbuhan-aset-bank #return-on-equity #konsolidasi-perbankan #aturan-kbmi #bank-syaria
(Bisnis.Com - Finansial) 11/02/26 19:29
v/133667/
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank penghuni Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 masih bersikap hati-hati dalam merespons dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar naik kelas ke KBMI 4.
Kendati sama-sama membuka peluang untuk meningkatkan status, sejumlah bank besar memilih untuk menghitung secara cermat kesiapan permodalan, profitabilitas, hingga momentum yang tepat sebelum mengambil langkah tersebut.
Sebagai salah satu bank penghuni KBMI 3, Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan mengatakan bahwa CIMB Niaga selalu menargetkan pertumbuhan bisnis, termasuk dari sisi aset.
Menurutnya jika CIMB Niaga memiliki peluang dan kesempatan, pihaknya siap untuk naik kelas ke KBMI 4. “Jadi jika ada peluang dan kesempatan CIMB Niaga siap, [naik kelas ke KBMI 4]” kata Lani kepada Bisnis, Rabu (11/2/2026).
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) memilih tidak terburu-buru meski memiliki keinginan untuk naik kelas ke KBMI 4. Sebab, perseroan saat ini memprioritaskan menjaga imbal hasil ekuitas (return on equity/ROE) pada kisaran 12%—14% tahun ini.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, penambahan modal secara agresif justru berpotensi menekan ROE dan kurang diminati investor. “Nanti capital banyak juga return-nya malah turun, investor malah enggak suka. Kan modal ini kan hati-hati melihatnya ya. Kalau kita enggak terlalu pengen ekspansi internasional, kayak BTN ngapain, kita liquidity market-nya di Indonesia gede juga,” tutur Nixon dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Tahun 2025, Senin (9/2/2026).
Nixon menuturkan, struktur aset BTN membuat kebutuhan modal perseroan relatif lebih efisien dibanding bank lain, tercermin dari rasio aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) yang lebih rendah.
Dengan karakteristik tersebut, BTN menilai pertumbuhan aset dan kredit masih dapat dilakukan tanpa harus segera menambah modal besar, sehingga kenaikan kelas ke KBMI 4 akan ditempuh secara alami seiring kebutuhan bisnis.
“Jadi, apakah kita akan jadi KBMI 4? Kalau ditanya, pengen, ya pengen pasti, tapi enggak diniatin amat lah. Nanti natural aja tumbuhnya kesana. Ngapain saya minta hari ini modal kita naik, kalau ATMR-nya juga masih rendah,” ungkapnya.
Ambisi BRIS Naik Kelas
Di sisi lain, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Perseroan) Tbk. (BRIS) Anggoro Eko Cahyo menuturkan, keinginan agar BSI naik ke KBMI 4 sebetulnya tidak hanya datang dari manajemen, tetapi juga dari para pemegang saham.
Setelah menyandang status sebagai perusahaan terbuka, Anggoro menyebut bahwa perseroan akan memperkuat skala dan jangkauan bisnisnya agar setara dengan bank-bank besar lainnya.
Namun, Anggoro menyebut bahwa rencana untuk masuk ke KBMI 4 bukan target jangka pendek, melainkan rencana jangka menengah sehingga BSI tidak terburu-buru naik kelas. Meski begitu, mantan Dirut BPJS Ketenagakerjaan ini mengatakan bahwa persiapan ke arah tersebut akan mulai dilakukan paling lambat tahun ini.
“Tentu ini rencana yang sifatnya mid-term ya, bukan short-term, mid-term. Tetapi kami akan mulai persiapkannya paling tidak mulai tahun ini dan tahun depan. Tapi itu menjadi satu goals yang mulai kita set dari sekarang,” tutur Anggoro di sela-sela agenda Milad BSI ke-5 pada Senin (2/2/2026).
Sebelumnya, OJK mengharapkan agar penghuni bank KBMI 4 dapat bertambah dalam beberapa tahun ke depan. Dalam catatan Bisnis, saat ini hanya terdapat empat bank yang memiliki modal inti di atas Rp70 triliun sebagai penghuni KBMI 4.
Keempat bank itu adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae kala itu menuturkan, upaya konsolidasi perbankan tidak hanya dilakukan terhadap bank perekonomian rakyat (BPR) maupun bank pembangunan daerah (BPD), tetapi juga mencakup bank-bank umum.
“KBMI 4 itu kan hanya ada empat bank pada saat ini. Kita harapkan dalam 2—3 tahun ke depan itu sudah akan ada tambahan enam bank yang bergeser dari KBMI 3 menjadi KBMI 4,” katanya dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) OJK di Jakarta, Selasa (11/2/2025).
Untuk diketahui, OJK mengelompokkan bank berdasarkan KBMI. Hal itu tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) No.12/POJK.03/2021 tentang Konsolidasi Bank Umum.
Perincian aturan KBMI yaitu KBMI 1 untuk bank dengan modal inti kurang dari Rp6 triliun, KBMI 2 untuk bank dengan modal inti Rp6 triliun—Rp14 triliun, KBMI 3 untuk bank dengan modal inti Rp14 triliun—Rp70 triliun, dan KBMI 4 untuk bank dengan modal inti lebih dari Rp70 triliun.
Adapun, CIMB Niaga, BTN, dan BSI masuk dalam KBMI 3 dengan modal inti di kisaran Rp14 triliun—Rp70 triliun. Tercatat hingga kuartal III/2025, modal inti CIMB Niaga (bank only) mencapai Rp51,13 triliun, meningkat 10,26% secara tahunan (year on year/YoY) dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp46,37 triliun.
Untuk BTN, modal inti perseroan hingga kuartal III/2025 tercatat sebesar Rp30,63 triliun, tumbuh 5,35% YoY dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp29,07 triliun. Sementara, total modal inti BSI hingga September 2025 mencapai Rp46,20 triliun, meningkat 13,15% YoY dari September 2024 yang sebesar Rp40,83 triliun.
Butuh Waktu
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan memandang bahwa harapan OJK agar jumlah KBMI 4 bertambah dalam beberapa tahun ke depan cukup realistis.
“Cukup realistis namun belum dapat terpenuhi dalam waktu yang singkat,” ujar Trioksa kepada Bisnis, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, kemungkinan butuh waktu 3—5 tahun mendatang bagi bank-bank lain agar bisa naik kelas ke KBMI 4. Kendati begitu, hal ini tentunya sangat tergantung pada komitmen pemegang saham dan pertumbuhan organik laba perusahaan.
Di sisi lain, dia memandang CIMB Niaga, Danamon, Permata Bank, dan Bank Mega paling berpeluang naik ke KBMI 4. Sebab, keempat bank tersebut didukung oleh grup usaha yang besar.
“Dengan bertambahnya [penghuni] KBMI 4, persaingan bank akan semakin menarik, terutama di segmen korporasi,” pungkasnya.
BPR Cirebon Ditutup, Kejari Pastikan Penyidikan Dugaan Korupsi Tak Mandek
Kejari Cirebon terus menyelidiki dugaan korupsi di BPR Cirebon meski izinnya dicabut OJK. Proses hukum tetap berjalan, menunggu audit BPK. [717] url asal
#bpr-cirebon #kejari-cirebon #dugaan-korupsi #ojk-cabut-izin #penegakan-hukum #penyidikan-korupsi #audit-bpk #likuidasi-bpr #lps-penjaminan #aset-bank #dana-nasabah #proses-hukum #kredit-bermasalah #pe
(Bisnis.Com - Terbaru) 11/02/26 10:15
v/132908/
Bisnis.com, CIREBON - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Cirebon memastikan penanganan perkara dugaan tindak pidana korupsi di tubuh Perumda BPR Bank Cirebon tetap berjalan, meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah resmi mencabut izin usaha bank tersebut sejak 9 Februari 2026.
Pencabutan izin dinilai tidak berpengaruh terhadap proses penegakan hukum yang saat ini tengah ditangani kejaksaan.
Kepala Seksi Intelijen Kejari Kota Cirebon Roy Andhika Stevanus Sembiring menegaskan kewenangan kejaksaan dalam menangani perkara pidana berdiri sendiri dan terpisah dari keputusan administratif di sektor jasa keuangan. Oleh karena itu, langkah OJK mencabut izin operasional BPR tidak menghentikan atau menghambat proses hukum yang sedang berlangsung.
“Penegakan hukum merupakan ranah yang berbeda. Pencabutan izin usaha oleh OJK tidak mempengaruhi penanganan perkara pidana yang saat ini ditangani kejaksaan,” ujar Roy, Rabu (11/2/2026).
Ia menyampaikan, perkara dugaan korupsi di Perumda BPR Bank Cirebon hingga kini masih terus berproses. Kejaksaan, kata dia, saat ini tengah menunggu hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai salah satu dasar untuk memperkuat pembuktian dalam penyidikan.
“Penanganan perkaranya masih berjalan. Saat ini kami menunggu hasil audit dari BPK,” katanya.
Roy menjelaskan, Kejari Kota Cirebon juga terus menjalin koordinasi dengan sejumlah pihak terkait guna memastikan proses penyidikan berjalan sesuai ketentuan hukum.
Ia kemudian menegaskan bahwa keputusan OJK terkait pencabutan izin usaha BPR merupakan kebijakan administratif di sektor keuangan yang tidak berkaitan langsung dengan proses pidana.
“Kalau pencabutan izin itu merupakan kewenangan OJK. Sementara proses hukum pidana adalah kewenangan kejaksaan,” ujarnya.
Terkait perkembangan kondisi internal BPR Bank Cirebon pasca pencabutan izin usaha, Roy mengaku belum memantau secara rinci. Termasuk mengenai pengelolaan manajemen maupun administrasi bank daerah tersebut setelah penanganannya beralih ke lembaga terkait sesuai ketentuan perbankan.
Meski demikian, ia memastikan bahwa perkara dugaan tindak pidana korupsi di Perumda BPR Bank Cirebon telah masuk ke tahap penyidikan. Dugaan korupsi tersebut menjadi fokus utama kejaksaan dalam upaya penegakan hukum di sektor perbankan daerah.
“Secara garis besar, perkara ini merupakan dugaan tindak pidana korupsi dan sudah naik ke tahap penyidikan,” kata Roy.
Kejari Kota Cirebon, lanjut dia, berkomitmen untuk menangani perkara tersebut secara profesional, transparan, dan akuntabel. Namun, untuk rincian materi perkara, kejaksaan masih akan berkoordinasi lebih lanjut dengan tim penyidik.
Sebagai informasi, pada Oktober 2025 lalu, Kejari Kota Cirebon sempat mengembalikan dana sekitar Rp3,5 miliar kepada BPR Bank Cirebon. Dana tersebut berasal dari pengembalian bertahap kredit bermasalah milik nasabah yang terungkap dalam proses penyelidikan sejak 2024.
Selain itu, kejaksaan juga menyita dana sekitar Rp1,04 miliar yang merupakan hasil penyelidikan perkara tersebut. Dana itu kini ditempatkan di rekening penitipan sebagai barang bukti guna kepentingan proses hukum yang sedang berjalan.
Diberitakan sebelumnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) resmi mengambil alih penanganan dan proses likuidasi Perumda BPR Bank Cirebon setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usaha bank tersebut. Pencabutan izin ditetapkan melalui Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-12/D.03/2026 tertanggal 9 Februari 2026.
Dalam pengumuman resmi bernomor PENG-7/SEKL/2026, LPS menyatakan akan menjalankan fungsi penjaminan simpanan sekaligus melakukan likuidasi bank milik daerah yang beralamat di Jalan Talang, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.
Sekretaris Lembaga Penjamin Simpanan Jimmy Ardianto menyebutkan, proses awal yang akan dilakukan adalah rekonsiliasi dan verifikasi data simpanan nasabah. Langkah ini bertujuan untuk menentukan simpanan yang layak dibayar maupun tidak layak dibayar sesuai ketentuan perundang-undangan. Proses tersebut dilakukan sebagai bagian dari mekanisme pembayaran klaim penjaminan simpanan kepada nasabah.
Seiring dimulainya likuidasi, seluruh aset dan dokumen milik atau yang dikuasai Perumda BPR Bank Cirebon berada di bawah penguasaan dan pengawasan LPS.
"Ketentuan ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan sebagaimana telah diubah terakhir melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan," tulisnya, Selasa (10/2/2026).
LPS juga menegaskan, setiap pihak dilarang memindahkan, menggunakan, mengambil, merusak, atau mengalihkan aset dan dokumen bank tanpa persetujuan LPS. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Dalam pengumuman itu, LPS mengimbau nasabah dan masyarakat agar tetap tenang serta tidak terprovokasi melakukan tindakan yang dapat mengganggu proses penjaminan dan likuidasi. LPS menekankan bahwa mekanisme penanganan bank telah diatur secara jelas dalam peraturan perundang-undangan.
Sementara itu, bagi nasabah debitur yang masih memiliki kewajiban pembayaran kredit, LPS memastikan bahwa pembayaran tetap dapat dilakukan melalui Tim Likuidasi di Kantor BPR. LPS meminta debitur tetap memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian kredit yang berlaku.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)